Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2018

Pantai tak Instagramable di Lombok yang sangat humble; Menjejak Sasak bagian 2

07.55 waktu Praya. Aku punya dua hari untuk sendiri menjelajah kota ini. Inginnya berjalan kaki seperti yang sering aku lakukan di Bandung. Tapi Praya menuju pusat kota Mataram tak mungkin ditempuh dengaan cara itu. Maka malam sebelumnya, telah tersewa sebuah motor matic 110CC dengan tarif 75ribu per 24 jam. Ya, meskipun kata orang Lombok itu kemahalan.

Tiga kali motor itu dipacu mengeliligi bandara. Bukan, bukan karena bingung jalan ke luar lewt mana. Tapi bandara ini asri meski tumbuhannya banyak yang sedang meranggas. Berbeda dengan Adisucipto, Sukarno Hatta, Ngurah Rai, atau Husein Sastranegara. Mungkin karena masih baru sehingga belum semua lahan terisi sesuai maket yang direncanakan.
Oya, meskipun ada saja rasa bahwa berwisata semacam ini harus lekat dengan ke luar dari zona nyaman, tapi urusan kebersihan badan harus juga diperhatikan. Jangan sungkan untuk mandi di masjid, pom bensin, atau stasiun. Dengan catatan, perhatikan keamanannya. Untuk kawasan bandara di Praya, ada satu ma…

intuisi

Andai kaupun akhirnya pergi dari kota iniApa yang bisa menangguhkanmu?Andai pulangmu tak berarti sekejap waktuApa yang bisa menjemputmu?...Kita begitu diamSorot mata terasa dalamDegup menderammeletup enggan meredam...[NF]

Dari Bandung ke Soekarno Hatta; Menjejak Sasak bagian 1

Apa ketakutan terbesarku? Sendirian. Meskipun tidak menyukai keramaian, sendiri adalah ancaman. Meskipun hakikat manusia adalah sendiri, tapi tetap saja sendiri itu...

Booked! Tiba tiba saja. Tiket pesawat telah dipesan dan dibayar. Setelahnya, aku baru berpikir. Lombok itu jauh. Dan rabu sepulang kerja, aku menuju ke sana. X Trans pukul 23.03 yang membawaku menuju soekarno hatta, ditebus dengan harga 145 ribu. Sebanding dengan lihainya sopir memutar kemudi dan sebotol air mineral. Hanya butuh empat jam untuk sampai di terminal 1A untuk penerbangan domestik.
Aku heran dengan orang orang jaman sekarang yang berpenampilan modern. Segalanya ingin dikenakan. Ibu ibu mengantre check in dengan lima jari terpasang cincin. Ibu lainnya berpakaian gamis panjang motif bunga-bunga menjuntai menyapu lantai. Keanehan yang paling mencolok adalah barang bawaan. Banyak dari para pengantre check in itu yang kerepotan membawa berkotak-kotak kardus. Hingga sesekali troli mereka mendorong kakiku. Aku yang…