Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, October 11, 2016

Apa kabar kau yang dulu?

Sungguh aku ingin ke lantai atas. Menangisi malam yang terlalu sunyi untuk dilewati. Jalanan depan masih ramai. Tapi entah. Kalut sekali pikiran ini.
.
Aku nggak suka istrimu posting video2 kamu lagi ngelipet bajulah, lagi tidur lah. Nggak pada tempatnya sosmed buat gituan. Privasi! Harusnya dia tau batas privasi!
.
Urung. Ketikan kata2 itu akhirnya kuhapus. Ya. Apa hak ku melarangmu. Bahwa hidupmu sekarang tak sepenuhnya milikku. Ya. Apa hak ku melarangmu. Mungkin saja kau justru bahagia dengan semua itu.
.
Lantas, hai. Apakabar kau yang dulu? Selintas aku teringat terakhir kali kita memadu peluk di depan pusara. Kau tenangkan kalutku. Sempurna menguatkanku.
.
Kau sibuk sekarang??? Bahkan untuk menyapaku kaupun sering lupa. Padahal dulu setiap pagi kau tawari aku kopi. Ah. Maaf. Aku lupa kau telah ada yang punya. Bahwa sekarang, menyapaku adalah nomor ke tiga.
.
Bahkan sengaja pernah kudiamkan. Berminggu kabar darimu tak datang. Sampai akhirnya aku bosan. Aku melanggar ngambek yang sengaja kuciptakan tapi tak tersampaikan. Aku menyapamu duluan.
.
Akupun bingung dengan jalan pikirku sendiri. Apa susahnya menerimamu yang sudah beristri?! Tapi pikir ini terlampau jauh. Tentang aku yang tak lagi jadi prioritasmu. Tentang aku yang tergantikan istrimu. Tentang waktumu. Tawamu. Terlebih bahagiamu. Yang tak lagi mutlak karenaku.



Maka sengaja kukenang foto buram ini. Sesaat sebelum kamu menghalalkan seorang wanita. Ketika kamu masih milikku seutuhnya. Ketika tawamu dapat kunikmati sendiri. Tanpa berbagi dengan orang yang sekarang kau sebut istri.
.
Hai. Kau yang dulu. Kakakku. Aku rindu.

Saturday, October 1, 2016

Orang-orang di jemputan.

"Eh eh eh tau gak sih..." awal kalimat itu yang terlalu sering kudengar. Mengawali pagi dengan bercerita. Banyaknya tentang kehidupan2 orang di sekitar. Tak usah muluk menyoal sifat, bahkan goresan eyeliner yang terlalu tebal pun bisa saja dipergunjingkan.

Jemputan memang menjadi koloni kecil yang memresentasikan sebuah ekosistem. Koloni yang asyik meng-update sosmed. Koloni yang ribut dengan artis korea. Koloni yang hobby belanja. Koloni yang punya taste sosialita. Ah, koloni. Mereka sibuk beramai. Tapi ketika sendiri, mendadak tak punya nyali.

Kursiku berada di baris belakang dari elf merah berkapasitas 20 orang. Dari tempat dudukku, rupa keseharian mereka terekam dengan jelasnya. Siapa2 saja yang datang terlambat. Atau hal sepele tentang siapa duduk di mana. Tak pernah ada aturan baku tentang perkara satu itu, tapi setiap kursi yang ada seperti sudah punya pemilik pribadi.

Suatu pagi obrolan yang terdengar bukan lagi lipstik keluaran terbaru. Atau artis yang mengendorse produk tertentu. Nampak serius beberapa kawan mengamati layar ponsel. Pada satu ketika, salah satu berteriak menyesali suatu hal. "Aaah pokemonnya lepas lagi". Mereka yang sedang kekinian mengadu hasil tangkapan. Memamerkan koleksi dan saling memberi saran. Lalu, apa esensinya???! Itu yang kupertanyakan. Betapa mudahnya mereka terlarut dengan bombastisnya sebuah fenomena.

Lantas, ada masa ketika jalanan tol lengang dan mobil melaju pelan. Jauh ke luar. Pandangan ini mencoba menangkap rerimbunan pohon yang berganti warna seiring musim. Ada pula onggokan sampah di kaki bukit yang tambah menggunung menyaingi bukit di sebelahnya. Ada beberapa rumah yang berganti warna cat tembok. Semuanya tak penting. Tapi tak semua orang-orang di jemputan  menyadari. Bagiku, justru yang tak semua sadar itu menjadi penting. Menjadi tahu disaat yang lain tak tahu. Ya, meskipun tak penting.

Begitu monotonnya kehidupan jemputan dari hari ke minggu ke bulan ke tahun. Kehidupan tol pun juga sama. Yang berbeda hanya jenis dan jumlah mobil yang lalu lalang tiap harinya. Badan mulai punya ritme teratur. Datang, duduk, tidur, sampai. Selalu seperti itu. Bahkan otak mulai termainset melakukan rutinitas teratur tersebut. Ah. Apa beda aku dengan sapi2 di truk itu. Mereka hanya tau naik dan sampai.

Motor putih itu menyusur perbukitan sesuai arahan sistem pemosisian global. Katanya sih jalanan itu menembus Padalarang. Baru sekitar 07.20 ia berbelok ke sebuah pabrik berpagar abu2. Disambut senyuman satpam yang belakangan aku tahu dia berumah di Buah batu.


Terlambat! Harusnya sedari awal aku demikian. Menantang pagi dengan segenap keruwetan jalanan. Bukan perkara debu atau hujan yang jadi persoalan. Hanya soal menjaga kelangsungan hidup otak dan pikiran. Melihat lebih banyak kehidupan. Mengenal lebih banyak orang lewat jalan. Pedagang tahu sumedang yang setiap hari pulang pergi sumedang padalarang. Tukang kue yang anaknya baru saja disunat. Ibu2 nasi kuning yang suatu pagi tiba2 curhat masalah suami. Pedagang batagor. Pak ogah di pertigaan cimareme. Entahlah. Bermotor justru memertemukanku dengan mereka. Berangkat kerja menjadi kesenangan tersendiri setelahnya. Meski berdebu. Meski ketika sampai, parfum tak lagi meninggalkan bau. Ya. Biar saja orang orang di jemputan tetap cantik sepanjang perjalanan terlelap menunggu sampai... (NF)