Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Monday, September 5, 2016

Jangan kau tolak Senin.

Aku bersemangat sekali menulis pagi ini! Setelah hampir seminggu tubuh remuk redam. Flu yang berkolaborasi dengan asam lambung yang meninggi sukses menjadikan akhir pekan berantakan.
.
Kubikel 5x3meter itu sudah terisi tiga orang. Masing2 mengarahkan pandang ke monitor. Bermuka serius. Sepagi ini.
.
Akupun masuk sambil bersalam. Sempat ber haha hihi menyapa tapi sepertinya memang suasana sedang suram. Mereka menyahut sekenanya. Dan aku merasa diacuhkan dengan sempurna.
.
Sambil menguap, seorang kawan masuk ruangan. Menarik tuas dispenser dan mengaduk sesuatu di gelasnya.
"Senin...saatnya kembali ke realita" katanya.
.
Tunggu. Kalimat itu cukup lama menggaung di telinga. Terbawa menuju otak dan menuntut pembahasan yang tak biasa. Cukup sibuk otak ini mendudah kumpulan dokumen dan ingatan apapun yang menyangkut "realita".
.
Sering sudah kudengar perkataan "kembali ke realita". Bukankan itu artinya kembali ke kehidupan nyata. Ke kehidupan yang sebenarnya. Lantas, kenapa senin yang membawa kawan tadi ke kehidupan nyata miliknya? Kemana saja hidupnya?
.
"Ya kehidupan kerja maksudnya Yuy. Weekdays." katanya singkat.
.
Wassap saya segera kalau ternyata saya salah! Setiap kita memiliki kehidupan masing2. Bagi kaum buruh seperti saya, senin hingga jumat adalah bekerja. Pukul 07.30 hingga 16.00. Kalau normal. Bekerja bukan paksaan. Naluriah sahaja. Ketika dirasa masih butuh yang namanya kehidupan, saat itu pula kita butuh berusaha. Berusaha apapun itu. Termasuk di dalamnya adalah bekerja. Tuntutan kerja seberat apapun itu menurut saya adalah suatu risiko yang diambil seseorang atas apa yang telah diputuskannya. Risiko atas pekerjaannya. Sesantai apapun pekerjaan yang seseorang lakukan pasti ada risikonya. Katakanlah presenter jalan2 yang terlihat bahagia. Pasti ada dateline baginya untuk melaporkan. Pasti ada waktu ketika dia dikejar jam tayang. Pasti ada hal darinya yang dikorbankan. Dan ironinya, meskipun dia seorang presenter acara jalan2, pasti diapun butuh jalan2 secara normal.
.
Jadi, ketika kawan mengatakan kembali ke realita. Sungguh saya prihatin mendengarnya. Prihatin mengetahui bahwa realita kehidupan kawan tadi hanya sebatas menjalani risiko2 atas pekerjaannya. Prihatin karena kehidupan kawan yang sesungguhnya adalah sebuah rutinitas bekerja. Prihatin untuk setiap akhir pekannya hanyalah sebuah oase. Fiktif. Tak nyata.
.
"Kembali ke realita." Ketika kawan mengucapnya, saya merasa ia sedang bangun dari mimpi indah dan menolak semua kenyataan di depannya.
.
Jangan pernah menolak Senin kalau masih mengharap datangnya minggu. Malu!
[NF]

No comments:

Post a Comment