Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, September 20, 2016

Pa.

Aku sering lupa kalau ternyata kita sudah beda dunia. Sengaja aku selalu datang menjelang petang. Ketika langit berpendar menyalakan malam. Karna kurasa itulah waktu tersyahdu yang bisa kugunakan untuk mengajakmu "bertemu". Heningnya. Semilir anginnya. Temaram senjanya. Sempurna. Aku bisa berlama mengajakmu bercerita.
.
Selayak sore itu. Kedai bunga di Kota Baru sudah hafal apa yang harus disiapkan ketika aku datang. Sebuket krisan putih tanpa dirangkai. Sesekali aku meminta warna kuning. Biar kamu tak bosan. Terkadang saking baiknya, tukang bunga itu memberikan diskon. Hari itu dia memotong 5000 dari harga asli. Ya. Lumayan.
.
Hai. Aku pulang lagi. Nampak sisa krisan sebelumnya masih ada. Kerontang dihantam terik setiap hari.
Hai. Aku pulang lagi. Rerumputan tampak subur merimbun di gundukan. Biar kucabut sekedar membuat "tempatmu" lebih rapih.
Hai. Ya, aku pulang lagi.
.
"Aku kemarin beli buku2 baru. Lagi diskon di Gramedia. Agak kalap sih. Cuman ya gapapa lah ya. Kapan lagi. Tapi bingung kapan bacanya. Sekarang udah g seintens dulu. Pulang kerja udah capek. Males dibawa mikir berat. Apa karena usia juga ya. Haha."

"Oya kemarin Teman datang ke rumah. Sempet nanyain sih aku udah kesini apa belum. Terus dia banyak cerita tentang kedai kopi, jalan2nya ke karimun jawa, temannya yang meninggal belum lama, dan bapak ibunya yg habis touring ke Malang dengan vespa. Ah akupun ingin. Tapi sekarang udah susah. Kakak udah nikah. Kemana2 jadi sendiri. Ini aja tadi motor tante aku sengaja ambil buat kesana kemari."

"Pohon mangga depan rumah sudah berbunga lagi lho. Haha. Aku jadi inget dulu pohon itu pernah kita ancam mau ditebang. Sengaja menggurat kulit kayunya dengan parang. Biar si pohon merasa terancam dan mau segera berbuah. Haha. Tapi benar dia jadi berbuah. Ternyata itu ada teorinya juga lho di dunia botani. Ada kawan pernah menyebutnya tapi aku lupa. Oya tadi pagi waktu aku di teras, di dahan yang menjorok ke sawah ada bunyi cicit burung kecil. Kayaknya ada sarang pipit. Tapi aku g liat dimana."

"Aquarium kita pecah. G tau kenapa. Kakak g cerita. Kayaknya ada terumbu yang runtuh dan kena kaca. Jadilah nemo2 itu ditaruh di toples2. Aku kawatir mereka g akan tahan lama. Secara g ada aliran oksigen ke sana."

"Seharian tadi aku ngurus SIM. Perpanjangan tapi udah telat 6 bulan. Aku lewat jalur legal lho. Seriusan. Ikut test teori dan praktik. Tapi ujung2nya gagal pas naik motor di angka 8. Jadinya bayar juga. Gapapa wes. Da gimana. Terlalu mepet waktunya kalau harus ngulang praktik lagi."

" Oya, aku sekalian pamit ya. Selasa malam keretaku berangkat jam 20. Mungkin Desember aku baru kesini lagi."
.
Seperti orang gila. Aku antusias bercerita. Bahkan sesekali tertawa. Berbincang pada dimensi yang berbeda. Tapi aku yakin kamupun terduduk takjub seperti biasanya. Mata ikut berbinar menyimak setiap kata.


"Udah maghrib, aku pulang dulu Pa."

Tuesday, September 13, 2016

Srikandi Syar'i







All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Taken at Festival Takbir Bantul

Monday, September 5, 2016

Jangan kau tolak Senin.

Aku bersemangat sekali menulis pagi ini! Setelah hampir seminggu tubuh remuk redam. Flu yang berkolaborasi dengan asam lambung yang meninggi sukses menjadikan akhir pekan berantakan.
.
Kubikel 5x3meter itu sudah terisi tiga orang. Masing2 mengarahkan pandang ke monitor. Bermuka serius. Sepagi ini.
.
Akupun masuk sambil bersalam. Sempat ber haha hihi menyapa tapi sepertinya memang suasana sedang suram. Mereka menyahut sekenanya. Dan aku merasa diacuhkan dengan sempurna.
.
Sambil menguap, seorang kawan masuk ruangan. Menarik tuas dispenser dan mengaduk sesuatu di gelasnya.
"Senin...saatnya kembali ke realita" katanya.
.
Tunggu. Kalimat itu cukup lama menggaung di telinga. Terbawa menuju otak dan menuntut pembahasan yang tak biasa. Cukup sibuk otak ini mendudah kumpulan dokumen dan ingatan apapun yang menyangkut "realita".
.
Sering sudah kudengar perkataan "kembali ke realita". Bukankan itu artinya kembali ke kehidupan nyata. Ke kehidupan yang sebenarnya. Lantas, kenapa senin yang membawa kawan tadi ke kehidupan nyata miliknya? Kemana saja hidupnya?
.
"Ya kehidupan kerja maksudnya Yuy. Weekdays." katanya singkat.
.
Wassap saya segera kalau ternyata saya salah! Setiap kita memiliki kehidupan masing2. Bagi kaum buruh seperti saya, senin hingga jumat adalah bekerja. Pukul 07.30 hingga 16.00. Kalau normal. Bekerja bukan paksaan. Naluriah sahaja. Ketika dirasa masih butuh yang namanya kehidupan, saat itu pula kita butuh berusaha. Berusaha apapun itu. Termasuk di dalamnya adalah bekerja. Tuntutan kerja seberat apapun itu menurut saya adalah suatu risiko yang diambil seseorang atas apa yang telah diputuskannya. Risiko atas pekerjaannya. Sesantai apapun pekerjaan yang seseorang lakukan pasti ada risikonya. Katakanlah presenter jalan2 yang terlihat bahagia. Pasti ada dateline baginya untuk melaporkan. Pasti ada waktu ketika dia dikejar jam tayang. Pasti ada hal darinya yang dikorbankan. Dan ironinya, meskipun dia seorang presenter acara jalan2, pasti diapun butuh jalan2 secara normal.
.
Jadi, ketika kawan mengatakan kembali ke realita. Sungguh saya prihatin mendengarnya. Prihatin mengetahui bahwa realita kehidupan kawan tadi hanya sebatas menjalani risiko2 atas pekerjaannya. Prihatin karena kehidupan kawan yang sesungguhnya adalah sebuah rutinitas bekerja. Prihatin untuk setiap akhir pekannya hanyalah sebuah oase. Fiktif. Tak nyata.
.
"Kembali ke realita." Ketika kawan mengucapnya, saya merasa ia sedang bangun dari mimpi indah dan menolak semua kenyataan di depannya.
.
Jangan pernah menolak Senin kalau masih mengharap datangnya minggu. Malu!
[NF]