Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Monday, August 8, 2016

Sehari bersama Alexxx Ari

"Rul, aku pakai motormu aja ya. Aku lupa bawa dompet".

Insiden ketinggalan dompet itu menjadi pembuka obrolan ngalor-ngidul kami. Sepanjang perjalanan menuju Neglawangi.

Namanya, Alexxx Ari. Aslinya Ariyono. Entah bagaimana kisahnya hingga berubah se-macho itu panggilannya. Sosoknya tinggi besar. Template seorang preman. Awal Januari 2016, kala itu. Sebuah komunitas sejarah memertemukan kami di kawasan Braga. Komunitas Aleut!. Komunitas yang mengajak kita menikmati Bandung dengan cara mereka. Cara yang keasyikannya tidak perlu ditanya.

Sumpah! Awal percakapan dengan Alexxx Ari tak berlangsung indah. Tidak, bukan tentang basa basi atau gurauan mencari sensasi. Singkat saja. "Cari aja di KBBI !", katanya. Sewaktu kutanyakan benar tidaknya penulisan kata “konperensi”. Tuhan, sebagai orang Jawa yang perasa, aku sakit hati.

Semenjak kejadian KBBI kala itu, aku sengaja menjaga jarak aman. Alexxx Ari terlihat menyeramkan. Bukan. Mungkin aku saja yang merasa sungkan. Berbincang dengan orang yang melahap buku selayaknya makanan. Namun ketakutan itu memudar perlahan. Perlahan... Seiring semakin seringnya kami berinteraksi di Solontongan.

Maka di sepanjang jalan menuju Neglawangi, tak heran kalau kami bertukar obrolan. Terkadang hal tak pentingpun kami omongkan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Bicara seperlunya. Langsung pada inti. Ia hampir selalu menerangkan posisi keberadaan kami. Jalan apa. Desa apa. Kecamatan apa. Gunung apa. Sungai apa. Bahkan mendetil tentang bagaimana muasalnya. Terkadang saking padatnya yang ia sampaikan, aku hanya menyambung dengan "ya ya ya". Sedang ia terus bercerita.

"Emang harus dijalani, da gimana kalo udah butuh mah". Begitu tanggapannya, ketika kuceritakan hiruk-pikuk kerjaan yang kujalani sekarang. Alexxx Ari sambil berfokus ke jalanan yang mulai menikung naik turun pun mulai berkisah lagi. Sejatinya ia pun tak selalu nyaman dengan pekerjaannya. Bahkan pada awalnya ia tak juga paham pekerjaan macam apa yang sedang ia lamar. Ia hanya mengikuti alur meskipun sempat pula ingin mundur. Tapi toh takdir membuatnya diterima. Membuatnya menjadi seorang pekerja. Berdinas dengan setelan celana kain dan kemeja. Berlama duduk mengamati deretan angka.

Jalanan semakin brutal. Semakin jauh, semakin besar bebatuan yang menggantikan aspal. Kami serombongan telah paham benar bahwa medan kali ini akan memungkinkan motor kami terbanting-banting. Jalanan khas perkebunan teh telah beberapa kali kami lalui, namun yang satu ini berbeda. Telah berkilo-kilo meter kami meninggalkan apa yang layak disebut jalan. Berganti dengan tatanan bebatuan yang menghampar panjang. Bebatuan! Bukan sekedar kerikil dan kerakal. Alexxx Ari dengan segenap konsentrasinya mencoba menjaga keseimbangan. Berkali-kali ku dengar ia mendesis geram ketika motor terantuk batu, atau sekedar menggeleng-gelangkan kepala ketika bebatuan semakin rapat dan tak ada bagian jalan yang lebih baik untuk lewat.

Menjelang maghrib kami masih saja menekuni bebatuan. Beberapa kali aku harus turun karena motor yang oleng atau menanjak. Bayangkan saja, dengan kondisi jalan yang seperti itu kami masih harus menghadapi tanjakan dan turunan. Lalu terasa sesuatu yang berbeda pada motor kami. Alexxx Ari menurunkan kecepatan dan menepi. Benar saja. Ada yang patah pada standard motor kami, membuatnya terseret dan berbunyi. Di daerah entah itu, di pinggir hutan, disaat semesta semakin meredup, Alexxx Ari menghela napas. Terlihat ia sudah jengah dengan jalanan yang entah di mana ujungnya. Jengah dengan bebatuan yang semakin menggila. Namun sepertinya ia cukup sombong untuk mau mengakuinya. Meskipun kami hanya berdua. Kawan di depan kami telah jauh entah sampai di mana. Sedang yang di belakang pun belum terdengar deru motor mereka bersuara.

Hai Alexxx Ari. Sesungguhnya aku tak enak hati. Membiarkanmu berjuang sendiri. Menguras energi dan konsentrasi sedari pagi. Sedang aku hanya bisa duduk dan bersorak menyemangati. Atau sesekali memukul-mukul bahu dan punggungmu demi mengurangi sedikit nyeri.

Bahkan untuk menyerah pun kami tak kuasa. Bukan karena kami sok kuat, tapi memang tak ada pilihan lainnya. Menyerah tidak akan mendatangkan helikopter untuk menjemput, atau truk yang segera mengangkut kami menuju Bandung. Ya, menyerah tidak akan mendatangkan kebaikan apapun. “Ini mah yang disebut mencari kebaikan di antara keburukan”. Alexxx Ari masih sempat berkelakar setelah memutuskan mengikat standard yang patah dengan tali masker yang dipakainya. Ia sejatinya sedang mengendorkan ketegangan yang nyatanya justru semakin menebarkan teror; malam akan segera datang! Sedang perjalanan masih panjang.

Benar saja, gelap semakin pekat. Jarak motor kami jaga rapat. Tak ada lagi istilah saling mendahului. Semua patuh dan semakin cermat memilih bagian jalan untuk dilewati. Jangan dikira perjalanan selanjutnya berjalan mulus. Masih ada saja cerita ban-ban yang bocor, pijakan motor yang patah, atau penutup mesin yang pecah dan harus diikat sehingga kami perlu berhenti dan menunggu. Disela waktu-waktu menunggu itu, masing-masing dari kami (aku yakin) dibuat takjub dengan milyaran bintang yang terhampar. Angkasa seakan lebih megah. Lebih indah. Mungkin Dia sedang menghibur lahir dan batin kami yang sudah sangat lelah...

Lewat tengah malam, terlihat Alexxx Ari semakin gelisah. Berkali-kali ia menanyakan perkara jam. Laju motor pun semakin ia buru. Telebih ketika jalanan berbatu itu telah tersambung ke jalanan aspal yang mulus. Di tengah aktivitas mengebutnya itu ia kembali mengajak bicara. “Setengah empat aku harus masuk kerja”. Gusti, kantukku hilang seketika! Pekerjaan macam apa yang mengharuskan pekerjanya datang bahkan sebelum azan subuh berkumandang?! Lantas tertuturlah sebuah cerita. Tentang hari Senin seorang Alexxx Ari yang lain dibanding yang orang lain punya. Menjadi ujung tombak berjalannya bisnis tempat ia bekerja. Memantau perubahan suatu index atau kurs atau apalah itu yang tiap senin terjadi di sepertiga malam terakhir.

Aku yakin kala itu kantuk pun melanda Alexxx Ari. Aku yakin pula badannya pegal-pegal tak karuan. Mengendarai motor sedari minggu pagi hingga senin dini hari, dengan aku di belakangnya, dengan ratusan kilometer jarak tempuh, dengan puluhan kilo jalanan brutal berbatu lengkap dengan segala cobaan di perjalanan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Ketus dia berpamitan, “Rul, hati-hati kalau pulang. Aku duluan.” Iapun berlalu dari Solotongan ketika jam menunjukkan 02.30-an. Wajahnya datar. Tapi aku yakin hati dan pikirannya penuh dengan kekalutan.

Senin, 27 Juni 2016. 03.33 WIB
Message to: Komunitas Aleut!
Lapor. Nyampek. Alhamdulillah... Selamat tiduur.

Leuwigajah 174 masih senyap. Kubiarkan mata ini sebentar terlelap. Maafkan keegoisan pesanku Alexxx Ari, sungguh aku tak bermaksud menyinggung soal kantukmu. Aku tahu, di balik wajah yang terlihat sangar dan tak bersahabat, tersimpan ketulusan dari rasa persaudaraan yang kuat. Terimakasih, Alexxx Ari. Kamu hebat!
(NF)

No comments:

Post a Comment