Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, August 31, 2016

Pak Ujang dan rambut-rambut panjang

Aku membayangkan, masa tuaku yang kelak tiba
Aku yang menjadi semakin renta
Aku yang melemah berkurang daya
Aku, yang bisa saja menjadi pelupa
atau justru dilupa.

Masih pagi. Pukul tujuh sebentar lagi. Di persimpangan gang itu, riuh orang-orang terburu buru menyiapkan hari. Anak kecil menangis menolak mandi, pekerja kantoran yang sibuk mencari pasangan kaus kaki, atau pedagang bacang yang berteriak mengundang pembeli. Keributan di sana-sini. Tapi pasangan suami istri itu masih saja santai bergurau tentang kucing tetangga yang beranak lagi.

Sudah lebih dari setengah abad usianya. Tapi tanpa bertanya, Kawan bisa salah menduga. Fisiknya masih tegap. Rambut di kepala masih gelap. Bicara pun masih cakap. Dan di pagi itu, dengan setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu, ia telah siap.

Sambil membetulkan letak topi di kepala, ia berpamitan pada istri tercinta. Melangkah meninggalkan rumah seperti pagi-pagi sebelumnya. Menenteng kotak peralatan di boncengan sepeda. Serta sekantong ransum buatan istri ia gantungkan di atas roda. Beberapa kali ia menyapa tetangga sembari menuntun sepeda melewati gang menuju jalan utama. Tujuanya satu. Emperan toko di Jl. Teri yang sudah puluhan tahun menjadi tempatnya mengais rezeki.


Lapak itu sederhana. Tanpa bilik ataupun sekat pembatas. Tanpa papan nama ataupun sekedar penanda. Ada tumpukan perabot kayu yang ia rantai jadi satu. Tertumpuk di sebelah dinding tua. Rupanya, itu sekumpulan kursi dan rak sederhana. Harta berharga bagi Pak Ujang, si tukang cukur tua.

Pak Ujang adalah satu dari sekian banyak tukang cukur yang berdarah Garut. Ia mewarisi keahlian dari sang ayah yang dahulu membuka usaha yang sama. Sudah hampir 50 tahun, emperan di dekat pasar Andir itu menjadi tempatnya mengisi hari. Berjumpa dengan pelanggan yang silih berganti.




Termasuk pagi itu. Satu pelanggan duduk pasrah di depan cermin yang bagian pinggirnya telah pecah. Pak ujang sigap melilitkan kain pelindung di badan pelanggan. Usaha untuk melindungi pelanggan dari potongan-potongan rambut yang berjatuhan.


Paduan bunyi antara gunting dan rambut semakin seru. Tangan tua itu lincah memainkan alat-alat cukur yang tak lagi baru. Matanya pun sibuk mencermati kemana benda tajam itu melaju. Memastikan bahwa karenanya, tak akan ada cerita luka tak sengaja. Atau sekedar sayatan yang mengundang tanya.





“Sepuluh ribu”

Samar kudengar Pak Ujang menjawab tanya pelanggan pertama. Dari jauh kulihat pelanggan itu kini sudah tampil berbeda. Wajah baru yang membuatnya terlihat lebih muda. Sebentar ia mematutkan wajahnya ke depan kaca. Tersenyum. Lantas berdua mereka tertawa. Pelanggan yang berpuas dengan rambut yang berganti gaya. Sedang bagi Pak Ujang, sangat sederhana. Ia bersuka melihat pelanggannya bahagia.

Aku. Sedari pagi sengaja mengamati. Memunculkan kembali banyak memori. Ketika Ia masih muda perkasa. Mengayuh sepeda dengan sesekali membawa anak kecil di belakangnya. Anak kecil yang ketika telah dewasa justru memilih tinggal ratusan kilo dari rumah. Mencari peruntungan dengan berhijrah ke kota sebelah. Anak kecil itu, aku. Putranya.


Sungguh. Ingin kularang Bapak bekerja. Sudah cukup ia merasa capai dan berpeluh setiap harinya. Sedari tahun 60an, ia telah bermain dengan pisau cukurnya. Ketika usianya menginjak dua puluh dua. Artinya kini telah 50an tahun ia berkarya. Mengukir banyak kepala. Ah Bapak tetaplah Bapak. Ia akan merasa tersinggung ketika aku mulai mengajaknya bicara. Tentang kesehatannya. Tentang keselamatannya. Tentang raganya yang tak lagi muda. Terlebih tentang penglihatannya yang semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Namun Ia pernah tegas berkata, bahwa bekerja bukan perihal uang semata. Ia merasa bahagia. Ketika orang lain masih membutuhkannya. Ketika hidupnya masih berguna. Meski hanya lewat lapak cukur sederhana di samping bangunan tua.

Maka kubiarkan saja sedari pagi ia pergi. Dan pulang menjelang sore hari. Sekedar memuaskan hati. Terlebih membuatnya merasa masih mampu memberi nafkah pada istri. Masih mampu berdikari. Tanpa menggantungkan hidup pada anak-anaknya sendiri.



Pada akhirnya, anakmu ini hanya bisa berdoa
untuk kesehatan
untuk keberuntungan
untuk keselamatan
untuk kebahagiaan
bagimu
lahir dan batin...






[Tulisan ini dibuat tidak berdasarkan pengakuan langsung dari Putra Pak Ujang, namun lebih pada apa yang saya rasakan dan simpulkan dari obrolan dengan keluarga Pak Ujang.] [NF]

Friday, August 26, 2016

Banyak protes kurang progress


Orang-orang tetiba marah.
Memaki ini itu tanpa ku tahu apa yang salah.
Orang-orang tetiba berteriak.
Menyoal banyak hal yang mereka anggap tak layak.
Amarah itu beku
Hanya tersulut aliran darah yang membuatnya sedikit membuncah

Ruang menjadi lengang
Suara menghilang
Aku membisu
Kalau saja isi otak kutumpahkan
Kau kan temui banyak kata umpatan
Dari anjing hingga bajingan
Tapi sempurna ku tahan
Demi apa yang kau sebut sebuah “kewibawaan”

Aku benci jadi pengecut
Berlagak baik-baik saja padahal murka
Tapi,
kalian pun!
Samasaja!
Banyak protes kurang progress!!

Lab QC; 26.08.16; 14.53
(NF)

Tuesday, August 23, 2016

Dilema Si Pemain Rana

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.

Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.

Dan...
Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.

Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.

Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalaman terguyur hujan. Sesekali menanjak. Sesekali melompat. Sesekali memanjat.

Sebuah goa menganga di bawah tebing. Papan penanda menyebutnya "Sanghyang Poek". Goa dengan panjang sekitar 400m itu gelap dan licin. Penuh stalaktit dan stalakmit. Beberapa masih meneteskan air tanda proses pembentukan masih berlangsung. Bentuknya bermacam. Tebayang waktu yang dibutuhkan bagi air untuk menetes dan membentuk satu gugusan bebatuan baru. Tak hanya meruncing, beberapa bahkan berkilau. Membuat kami pasrah terpukau.

Mulut goa di ujung lainnya membawa kami ke jalur yang lebih ganas. Berjalan melawan arus sungai dengan hamparan bebatuan yang makin edan. Beberapa sisi bahkan tajam. Sesekali kami berhenti. Mengambil nafas untuk bekal melangkah lagi. Atau mengulurkan tangan untuk memberi kekuatan. Atau menjabat erat untuk menyalurkan semangat. Entahlah, yang pasti kami tetap melawan arus.

Mata ini sudah banyak merekam. Tapi kamera di tangan masih bungkam. Diafragma didiamkan menganga. Hanya sesekali saja telunjuk ini menyentuh rana. Padahal tepat di depan mata, seorang kawan terpeleset. Sungguh indah ketika karenanya, air menjadi terciprat. Muka penuh sebalnya akhirnya mengumpat. Harusnya dalam rima ini aku tuliskan "keparat!". Tapi apa daya, hanya "anjiiiiirrrrr" yang kawan itu ingat. Menyedihkan, karena semua itu terlewat.

Bukan tak beralasan kamera itu hanya dibiarkan menggantung di leher. Bahkan setelahnya ia sempurna masuk kembali dalam tas. Medan terlalu keras! Sudah beberapa kali ayunannya terantuk batu. Mengguratkan sedikit tanda di sebelah lensa. Masih untung bukan tercemplung. Hanya tergores. Ter-go-res. Oke cukup.

Dalam dunia per-foto-an, momen menarik bisa dikejar, ditunggu, atau bahkan diciptakan. Tapi kau tahu kawan, yang spontan itu lebih memuaskan. Ada masa dimana kita bahagia karena dapat mengungkap sebuah cerita. Terlebih mengabadikan apa yang orang lain tak punya kenangannya. Tak lihat, tak dengar, dan tak rasa. Kepuasan yang sebagian orang menyebutnya "berbangga". Padahal yang semacam itu hanya soal waktu yang berkompromi dengan keberuntungan. Bukan teknik atau jenis kamera yang digunakan.

Dan...
Pada titik itu aku dilema!

Inginnya menangkap peristiwa. Tapi apadaya semua hanya mungkin direkam mata.

Ya, biarkan saja lah. Toh perjalanan sudah terlalu mainstream untuk selalu diabadikan. Biar sesekali otak yang bekerja. Sibuk menyimpan kenangannya.

(NF)

Monday, August 8, 2016

Sehari bersama Alexxx Ari

"Rul, aku pakai motormu aja ya. Aku lupa bawa dompet".

Insiden ketinggalan dompet itu menjadi pembuka obrolan ngalor-ngidul kami. Sepanjang perjalanan menuju Neglawangi.

Namanya, Alexxx Ari. Aslinya Ariyono. Entah bagaimana kisahnya hingga berubah se-macho itu panggilannya. Sosoknya tinggi besar. Template seorang preman. Awal Januari 2016, kala itu. Sebuah komunitas sejarah memertemukan kami di kawasan Braga. Komunitas Aleut!. Komunitas yang mengajak kita menikmati Bandung dengan cara mereka. Cara yang keasyikannya tidak perlu ditanya.

Sumpah! Awal percakapan dengan Alexxx Ari tak berlangsung indah. Tidak, bukan tentang basa basi atau gurauan mencari sensasi. Singkat saja. "Cari aja di KBBI !", katanya. Sewaktu kutanyakan benar tidaknya penulisan kata “konperensi”. Tuhan, sebagai orang Jawa yang perasa, aku sakit hati.

Semenjak kejadian KBBI kala itu, aku sengaja menjaga jarak aman. Alexxx Ari terlihat menyeramkan. Bukan. Mungkin aku saja yang merasa sungkan. Berbincang dengan orang yang melahap buku selayaknya makanan. Namun ketakutan itu memudar perlahan. Perlahan... Seiring semakin seringnya kami berinteraksi di Solontongan.

Maka di sepanjang jalan menuju Neglawangi, tak heran kalau kami bertukar obrolan. Terkadang hal tak pentingpun kami omongkan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Bicara seperlunya. Langsung pada inti. Ia hampir selalu menerangkan posisi keberadaan kami. Jalan apa. Desa apa. Kecamatan apa. Gunung apa. Sungai apa. Bahkan mendetil tentang bagaimana muasalnya. Terkadang saking padatnya yang ia sampaikan, aku hanya menyambung dengan "ya ya ya". Sedang ia terus bercerita.

"Emang harus dijalani, da gimana kalo udah butuh mah". Begitu tanggapannya, ketika kuceritakan hiruk-pikuk kerjaan yang kujalani sekarang. Alexxx Ari sambil berfokus ke jalanan yang mulai menikung naik turun pun mulai berkisah lagi. Sejatinya ia pun tak selalu nyaman dengan pekerjaannya. Bahkan pada awalnya ia tak juga paham pekerjaan macam apa yang sedang ia lamar. Ia hanya mengikuti alur meskipun sempat pula ingin mundur. Tapi toh takdir membuatnya diterima. Membuatnya menjadi seorang pekerja. Berdinas dengan setelan celana kain dan kemeja. Berlama duduk mengamati deretan angka.

Jalanan semakin brutal. Semakin jauh, semakin besar bebatuan yang menggantikan aspal. Kami serombongan telah paham benar bahwa medan kali ini akan memungkinkan motor kami terbanting-banting. Jalanan khas perkebunan teh telah beberapa kali kami lalui, namun yang satu ini berbeda. Telah berkilo-kilo meter kami meninggalkan apa yang layak disebut jalan. Berganti dengan tatanan bebatuan yang menghampar panjang. Bebatuan! Bukan sekedar kerikil dan kerakal. Alexxx Ari dengan segenap konsentrasinya mencoba menjaga keseimbangan. Berkali-kali ku dengar ia mendesis geram ketika motor terantuk batu, atau sekedar menggeleng-gelangkan kepala ketika bebatuan semakin rapat dan tak ada bagian jalan yang lebih baik untuk lewat.

Menjelang maghrib kami masih saja menekuni bebatuan. Beberapa kali aku harus turun karena motor yang oleng atau menanjak. Bayangkan saja, dengan kondisi jalan yang seperti itu kami masih harus menghadapi tanjakan dan turunan. Lalu terasa sesuatu yang berbeda pada motor kami. Alexxx Ari menurunkan kecepatan dan menepi. Benar saja. Ada yang patah pada standard motor kami, membuatnya terseret dan berbunyi. Di daerah entah itu, di pinggir hutan, disaat semesta semakin meredup, Alexxx Ari menghela napas. Terlihat ia sudah jengah dengan jalanan yang entah di mana ujungnya. Jengah dengan bebatuan yang semakin menggila. Namun sepertinya ia cukup sombong untuk mau mengakuinya. Meskipun kami hanya berdua. Kawan di depan kami telah jauh entah sampai di mana. Sedang yang di belakang pun belum terdengar deru motor mereka bersuara.

Hai Alexxx Ari. Sesungguhnya aku tak enak hati. Membiarkanmu berjuang sendiri. Menguras energi dan konsentrasi sedari pagi. Sedang aku hanya bisa duduk dan bersorak menyemangati. Atau sesekali memukul-mukul bahu dan punggungmu demi mengurangi sedikit nyeri.

Bahkan untuk menyerah pun kami tak kuasa. Bukan karena kami sok kuat, tapi memang tak ada pilihan lainnya. Menyerah tidak akan mendatangkan helikopter untuk menjemput, atau truk yang segera mengangkut kami menuju Bandung. Ya, menyerah tidak akan mendatangkan kebaikan apapun. “Ini mah yang disebut mencari kebaikan di antara keburukan”. Alexxx Ari masih sempat berkelakar setelah memutuskan mengikat standard yang patah dengan tali masker yang dipakainya. Ia sejatinya sedang mengendorkan ketegangan yang nyatanya justru semakin menebarkan teror; malam akan segera datang! Sedang perjalanan masih panjang.

Benar saja, gelap semakin pekat. Jarak motor kami jaga rapat. Tak ada lagi istilah saling mendahului. Semua patuh dan semakin cermat memilih bagian jalan untuk dilewati. Jangan dikira perjalanan selanjutnya berjalan mulus. Masih ada saja cerita ban-ban yang bocor, pijakan motor yang patah, atau penutup mesin yang pecah dan harus diikat sehingga kami perlu berhenti dan menunggu. Disela waktu-waktu menunggu itu, masing-masing dari kami (aku yakin) dibuat takjub dengan milyaran bintang yang terhampar. Angkasa seakan lebih megah. Lebih indah. Mungkin Dia sedang menghibur lahir dan batin kami yang sudah sangat lelah...

Lewat tengah malam, terlihat Alexxx Ari semakin gelisah. Berkali-kali ia menanyakan perkara jam. Laju motor pun semakin ia buru. Telebih ketika jalanan berbatu itu telah tersambung ke jalanan aspal yang mulus. Di tengah aktivitas mengebutnya itu ia kembali mengajak bicara. “Setengah empat aku harus masuk kerja”. Gusti, kantukku hilang seketika! Pekerjaan macam apa yang mengharuskan pekerjanya datang bahkan sebelum azan subuh berkumandang?! Lantas tertuturlah sebuah cerita. Tentang hari Senin seorang Alexxx Ari yang lain dibanding yang orang lain punya. Menjadi ujung tombak berjalannya bisnis tempat ia bekerja. Memantau perubahan suatu index atau kurs atau apalah itu yang tiap senin terjadi di sepertiga malam terakhir.

Aku yakin kala itu kantuk pun melanda Alexxx Ari. Aku yakin pula badannya pegal-pegal tak karuan. Mengendarai motor sedari minggu pagi hingga senin dini hari, dengan aku di belakangnya, dengan ratusan kilometer jarak tempuh, dengan puluhan kilo jalanan brutal berbatu lengkap dengan segala cobaan di perjalanan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Ketus dia berpamitan, “Rul, hati-hati kalau pulang. Aku duluan.” Iapun berlalu dari Solotongan ketika jam menunjukkan 02.30-an. Wajahnya datar. Tapi aku yakin hati dan pikirannya penuh dengan kekalutan.

Senin, 27 Juni 2016. 03.33 WIB
Message to: Komunitas Aleut!
Lapor. Nyampek. Alhamdulillah... Selamat tiduur.

Leuwigajah 174 masih senyap. Kubiarkan mata ini sebentar terlelap. Maafkan keegoisan pesanku Alexxx Ari, sungguh aku tak bermaksud menyinggung soal kantukmu. Aku tahu, di balik wajah yang terlihat sangar dan tak bersahabat, tersimpan ketulusan dari rasa persaudaraan yang kuat. Terimakasih, Alexxx Ari. Kamu hebat!
(NF)