Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2016

Pak Ujang dan rambut-rambut panjang

Aku membayangkan, masa tuaku yang kelak tiba Aku yang menjadi semakin renta Aku yang melemah berkurang daya Aku, yang bisa saja menjadi pelupa atau justru dilupa.
Masih pagi. Pukul tujuh sebentar lagi. Di persimpangan gang itu, riuh orang-orang terburu buru menyiapkan hari. Anak kecil menangis menolak mandi, pekerja kantoran yang sibuk mencari pasangan kaus kaki, atau pedagang bacang yang berteriak mengundang pembeli. Keributan di sana-sini. Tapi pasangan suami istri itu masih saja santai bergurau tentang kucing tetangga yang beranak lagi.
Sudah lebih dari setengah abad usianya. Tapi tanpa bertanya, Kawan bisa salah menduga. Fisiknya masih tegap. Rambut di kepala masih gelap. Bicara pun masih cakap. Dan di pagi itu, dengan setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu, ia telah siap.
Sambil membetulkan letak topi di kepala, ia berpamitan pada istri tercinta. Melangkah meninggalkan rumah seperti pagi-pagi sebelumnya. Menenteng kotak peralatan di boncengan sepeda. Serta sekantong …

Banyak protes kurang progress

Orang-orang tetiba marah.
Memaki ini itu tanpa ku tahu apa yang salah.
Orang-orang tetiba berteriak.
Menyoal banyak hal yang mereka anggap tak layak.
Amarah itu beku
Hanya tersulut aliran darah yang membuatnya sedikit membuncah

Ruang menjadi lengang
Suara menghilang
Aku membisu
Kalau saja isi otak kutumpahkan
Kau kan temui banyak kata umpatan
Dari anjing hingga bajingan
Tapi sempurna ku tahan
Demi apa yang kau sebut sebuah “kewibawaan”

Aku benci jadi pengecut
Berlagak baik-baik saja padahal murka
Tapi,
kalian pun!
Samasaja!
Banyak protes kurang progress!!

Lab QC; 26.08.16; 14.53
(NF)

Dilema Si Pemain Rana

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.
Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.
Dan... Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.
Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.
Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalama…

Sehari bersama Alexxx Ari

"Rul, aku pakai motormu aja ya. Aku lupa bawa dompet".

Insiden ketinggalan dompet itu menjadi pembuka obrolan ngalor-ngidul kami. Sepanjang perjalanan menuju Neglawangi.
Namanya, Alexxx Ari. Aslinya Ariyono. Entah bagaimana kisahnya hingga berubah se-macho itu panggilannya. Sosoknya tinggi besar. Template seorang preman. Awal Januari 2016, kala itu. Sebuah komunitas sejarah memertemukan kami di kawasan Braga. Komunitas Aleut!. Komunitas yang mengajak kita menikmati Bandung dengan cara mereka. Cara yang keasyikannya tidak perlu ditanya.

Sumpah! Awal percakapan dengan Alexxx Ari tak berlangsung indah. Tidak, bukan tentang basa basi atau gurauan mencari sensasi. Singkat saja. "Cari aja di KBBI !", katanya. Sewaktu kutanyakan benar tidaknya penulisan kata “konperensi”. Tuhan, sebagai orang Jawa yang perasa, aku sakit hati.

Semenjak kejadian KBBI kala itu, aku sengaja menjaga jarak aman. Alexxx Ari terlihat menyeramkan. Bukan. Mungkin aku saja yang merasa sungkan. Berb…