Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, July 15, 2016

Tiba giliranmu.

Belum hilang benar letih perjalanan 27jam mudik lebaran dari yogya ke bandung kemarin, namun kali ini aku harus pulang lagi. Harus. Lagi. Tak peduli berapa miligram kafein yang tertelan demi otot dan otak yang tetap singkron. Tuhan, aku harus pulang dengan segenap kewarasan. Untuknya. Yang ada di antara 5 tahun.
.
Ya, di antara 5 tahun itu dia rela menanti. Tumbuh dalam kesendirian. Bermain. Berlari. Berbincang. Sendiri. Lama.
.
Mungkin dahulu di pelataran surga kami pun berlari. Atau sekedar mendaki mencari mentari. Dan tentu saja kamipun saling berjanji. Mengukur waktu yang tepat untuk bertemu kembali. Sesaat ketika putusan Tuhan memilihnya untuk pergi.
.
Dan Tuhan sepakat, 5 tahun. Sungguh aku tak ingat bagaimana dan seperti apa. Tapi mungkin kala itu, bahkan sebelum dapat mengeja kata, aku dapat merasa duka. Duka karena sendiri. Duka karena sepi. Ditinggalkan...
.
Aku yang masih di surga dan ia yang telah tertitah ke alam raya. Satuan jarak apa yang bisa menggambarkan jauhnya? Kiranya serumit itu pula rasa kehilangan itu. Rasa ketakutan itu. Sudah kukatakan, aku lupa. Atau bahkan tak pernah mengingatnya. Karena 5 tahun di bumi hanyalah sekejap mata di surga. 1 hari yang ditukar 1000 tahun bumi. Tuhan yang Maha Baik mungkin merasa iba. Maka ia segera menjejalkanku ke rahim bunda untuk mengejar kepergiannya.
.
Aku tak tahu apa yang menghiburmu di sela 5 tahun itu. Bumi yang lambat dengan putaran waktunya. Maaf telah membuatmu sendiri. Terimakasih untuk kesabaran menanti. Aku datang kala itu. Ingin segera memelukmu. Tapi ternyata raga tak kuasa. Aku menjadi lemah. Aku menjadi payah. Harus tengkurap, merangkak, dan merambat sebelum berlari. Berkata pun tak kuasa. Teriakan rindu hanya berhasil menjadi tangis jerit pilu.
.
.
Kita tahu. Banyak masa. Banyak ruang dan rupa. Kita seakan merajai dunia. Berjalan. Berlari. Bertualang. Sepedaan. Motoran. Tersesat. Takjub. Terobsesi dengan kata "jauh". Terbahak. Tersedan. Menangis. Bergaya hingga mati gaya. Tidur di kasur hingga di tenda. Bercita cita. Dan yang lainnya.
"Aku pilot dan kamu co pilot nya!"
Itu katamu. Itu mantraku.
.
Kini, tiba giliranmu.
Kembali "meninggalkan"ku. Aku takut. Sungguh. Menjadi sendiri lagi. Menjadi sepi lagi. Menjadi yang ditinggalkan lagi.
.
Tapi ternyata,
Kau pergi bukan meninggalkan. Tapi menjemput serpihan rusukmu yang terselip di tubuh seorang perempuan. Membawanya pulang dan menjadikannya kawan. Kawan hidup yang kan ikut menemaniku menjagamu. Menemaniku menyayangimu. Bahkan melebihiku.
.
Dearest; My first best friend. My first boy friend. My pilot. My captain. My one and only brother. Barokalloh. Aku patah hati. Tapi bahagia setengah mati.
.
.
.
Lodaya malam. 13 Juli 2016. 23.44 WIB.
NF

No comments:

Post a Comment