Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, May 17, 2016

Anyir di Andir

Andir. Sebuah kawasan antara Jl. Sudirman dan Kebon Jati Bandung dengan pasar yang terkenal sebagai tempat kulakan bagi tukang sayur keliling dan banyak rumah makan. Pasar ini mulai menggeliat sedari malam, tepatnya kurang lebih pukul 20an WIB. Jadi, ketika pagi ini saya dan seorang kawan mencoba mengcapture kehidupannya, semua tinggal sisa-sisa...

Kami berjalan, menyusuri jalan becek khas pasar tradisional. Beragam aroma mulai tercium begitu kami masuk area pasar. Sisa sayur yang membusuk, ikan asin, air buangan, dll. Menyatu begitu saja.

Tak terbayang bagaimana jika menjadi bagian dari pasar ini sehari-hari. Bergumul dengan banyak aspek kehidupan. Berkawan dengan banyak macam manusia.

Memborong untuk menjual kembali. Mengambil keuntungan sebagai penghargaan atas usaha bangun pagi dan berjalan mendekati pembeli. Masihkah tega menawar???




 Seberapa banyak yang kita makan? Ternyata lebih banyak yang terbuang.

 Berjualan bukan hanya mencari rejeki, namun juga merekatkan hati.

Rela terhimpit di ruang sempit.


Membiarkan tangan berkerut karena seharian mencuci ikan.

Mungkin jika tak kunjung dibeli, bisa dipakai sendiri.

Tetap berusaha hingga usia tua. Dibanding berleha-leha yang hanya buat pusing kepala.

Pasar selalu bisa memberikan gambaran kehidupan yang lebih hakiki. Tanpa poles sana sini. Interaksi berjalan secara murni. Tak perlu basa basi. Yang modern boleh saja lebih bersih dan wangi, tapi rak-rak yang tinggi dan berderet itu seakan menunjukkan arogansi. Arogansi pemilik yang terus menerus mengumpulkan harta duniawi. Harga pun dipatok tinggi. Bukan untuk memenuhi keutuhan hidup sehari-hari, tapi menimbun pundi-pundi. Sekarang, masihkah kita menyoal gengsi? Demi berbelanja dengan masih ber-hak tinggi? Bebas kesana sini mendorong troli? Tapi diluar sana pasar tradisional semakin sepi. Pedagang banyak menunggu dibanding melayani...

Ya, anyir di Andir memang tak mudah diterima. Tapi disana, banyak manusia yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya. Mulailah membuka mata. Datangi mereka. Sedikit apapun kita berbelanja, mereka tetap menerima dengan bahagia...

Salam,
NF

No comments:

Post a Comment