Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Thursday, May 19, 2016

Warisan Munada

Jumat dinihari di penghujung tahun 1845, pasar Ciguriang di kompleks kepatihan terbakar. Bukan kebakaran biasa, karena ada perencanaan yang tidak sederhana dari persekongkolan yang melibatkan sebuah nama...Munada.
.
.
1989. Di lokasi yang sama, kobaran api menghabiskan bangunan yang menggantikan pasar Ciguriang, pusat belanja King's. 
.
.
1992. Kebakaran kembali menghabiskan bangunan pusat belanja King's yang justru membuatnya dibangun lebih luas setelah kejadian. 
.
.
2014. Media kembali mengabarkan kebakaran di pusat belanja King's. Kebakaran kali ini dikatakan sebagai yang terparah karena perlu 20jam untuk menjinakkan api. 


Bekas Kings Mall yang terbakar mulai dibongkar untuk dibangun kembali 

2016. Pagi di bulan Mei. Bersama Komunitas Aleut mengisahkan kembali huru-hara Munada. Tentang konflik yang terjadi dizamannya. Konflik yang tidak jauh dari seputar harta, tahta, dan wanita. Terlepas dari versi cerita mana yang benar, tapi karenanya Bandung memiliki Pasar Baru yang hingga hari ini menjadi rujukan belanja. Warga lokal maupun mancanegara. Dan ditahun ini bekas bangunan King's kembali diproyekkan. Dihancurkan untuk kembali didirikan.
.
Apa kata Munada?
Ya, apa kata Munada ketika ia tahu pasar yang ia bakar dahulu pun terbakar pula secara berkala di tahun-tahun berikutnya?
Dan apa pula doa Munada di sana, ketika tahun ini bangunan baru akan didirikan kembali di tempat ia dahulu menjalankan aksinya? 
Mungkin dia tersenyum dan berlalu tanpa bicara...
.
.

Tuesday, May 17, 2016

Anyir di Andir

Andir. Sebuah kawasan antara Jl. Sudirman dan Kebon Jati Bandung dengan pasar yang terkenal sebagai tempat kulakan bagi tukang sayur keliling dan banyak rumah makan. Pasar ini mulai menggeliat sedari malam, tepatnya kurang lebih pukul 20an WIB. Jadi, ketika pagi ini saya dan seorang kawan mencoba mengcapture kehidupannya, semua tinggal sisa-sisa...

Kami berjalan, menyusuri jalan becek khas pasar tradisional. Beragam aroma mulai tercium begitu kami masuk area pasar. Sisa sayur yang membusuk, ikan asin, air buangan, dll. Menyatu begitu saja.

Tak terbayang bagaimana jika menjadi bagian dari pasar ini sehari-hari. Bergumul dengan banyak aspek kehidupan. Berkawan dengan banyak macam manusia.

Memborong untuk menjual kembali. Mengambil keuntungan sebagai penghargaan atas usaha bangun pagi dan berjalan mendekati pembeli. Masihkah tega menawar???




 Seberapa banyak yang kita makan? Ternyata lebih banyak yang terbuang.

 Berjualan bukan hanya mencari rejeki, namun juga merekatkan hati.

Rela terhimpit di ruang sempit.


Membiarkan tangan berkerut karena seharian mencuci ikan.

Mungkin jika tak kunjung dibeli, bisa dipakai sendiri.

Tetap berusaha hingga usia tua. Dibanding berleha-leha yang hanya buat pusing kepala.

Pasar selalu bisa memberikan gambaran kehidupan yang lebih hakiki. Tanpa poles sana sini. Interaksi berjalan secara murni. Tak perlu basa basi. Yang modern boleh saja lebih bersih dan wangi, tapi rak-rak yang tinggi dan berderet itu seakan menunjukkan arogansi. Arogansi pemilik yang terus menerus mengumpulkan harta duniawi. Harga pun dipatok tinggi. Bukan untuk memenuhi keutuhan hidup sehari-hari, tapi menimbun pundi-pundi. Sekarang, masihkah kita menyoal gengsi? Demi berbelanja dengan masih ber-hak tinggi? Bebas kesana sini mendorong troli? Tapi diluar sana pasar tradisional semakin sepi. Pedagang banyak menunggu dibanding melayani...

Ya, anyir di Andir memang tak mudah diterima. Tapi disana, banyak manusia yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya. Mulailah membuka mata. Datangi mereka. Sedikit apapun kita berbelanja, mereka tetap menerima dengan bahagia...

Salam,
NF