Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, April 1, 2016

Napak Jejak; Ki Ageng Mangir dan Panembahan Senopati di Yogyakarta

Perjalanan ini diawali dari sebuah desa di ujung selatan Yogyakarta, Mangir.

Mangir pada waktu awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam, merupakan daerah perdikan atau desa yang tidak berkewajiban membayar pajak kepada Raja Mataram.Wilayah Mangir dikuasai oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya, yang pada waktu itu menolak bergabung dengan Mataram. Atas penolakan tersebut, Panembahan senopati berencana menyerang Mangir dengan peperangan, namun atas usulan Ki Juru Martani, penyerangan dilakukan dengan siasat apus karma atau tipu daya halus.

Kegemaran Ki Ageng Mangir terhadap ledhek (ronggeng) menjadi celah bagi Panembahan Senopati untuk melancarkan serangannya.Ia menempatkan putrinya, Sekar Pembayun sebagai umpan. Pembayun diminta menjadi penari ledhek untuk memikat hati Ki Ageng Mangir.

Rombongan ledhek tersebut berjalan menuju desa Mangir dengan berpentas di sepanjang desa yang dilewati.hingga nama ledhek  tersebut dikenal oleh banyak orang. Maka ketika sampai di Mangir, rombongan itupun serta merta ditanggap oleh Ki Ageng Mangir.Kemolekan paras Pembayun yang dibarengi dengan kelenturan gerakan tari dan kemerduan suaranya berhasil memikat Ki Ageng Mangir.

Ki Dalang Sandiguna yang menjadi dalang pertunjukan ledhek tersebut menanggapi ketertarikan Ki Ageng Mangir dengan mengenalkan Pembayun sebagai putrinya yang bernama Waranggana.Merasa rencananya besambut baik, Ki Dalang Sandiguna segera merestui pernikahan Ki Ageng Mangir dan Waranggana yang sejatinya adalah Pembayun putri Mataram.

Hidup sebagai Waranggana, perlahan Pembayun mulai mencintai suaminya terlebih dirinya telah mengandung buah cintanya dengan Ki Ageng Mangir.Namun ketaatan terhadap Ayahnya membuat Pembayun tetap teguh pada misi yang diembannya. Hingga pada suatu ketika ia menyampaikan kebenaran tentang status dirinya.

Secara logika, Ki Ageng Mangir saat itu marah dan kecewa.Namun berkat kelapangan hati serta rasa cintanya terhadap Pembayun, ia menyetujui untuk sowan ke Mataram sebagai menantu menemui mertua yang selama ini menjadi musuh besarnya.

Perjalanan menuju Mataram cukup memakan waktu mengingat jarak Mangir dan Mataram (Kotagede) yang jauh.Maka dalam perjalanan itu, Ki Ageng Mangir singgah di suatu tempat.Di tempat persinggahannya itulah Ki Ageng Mangir mendapat bisikan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kemabli ke Mangir.Dalam suasana hati yang ngemban mentul (bimbang), Ki Ageng Mangir tetap teguh menjalankan niat baiknya untuk sowan kepada mertuanya.Konon, tempat persinggahannya itulah yang sekarang menjadi Bantul yang berakronim ngemban mentul.

Setibanya di Mataram, Ki Ageng Mangir dan Pembayun melakukan sungkem. Dikisahkan, dalam sembahnya kepada Panembahan Senopati itulah riwayat Ki Ageng Mangir berakhir.Kepala Ki Ageng Mangir saat bersembah dibenturkan ke sebuah batu yang menjadi singgasana Panembahan Senopati.Batu tersebut dinamakan Watu Gilang, yang sampai sekarang masih dirawat dengan baik.

Ki Ageng Mangir disemayamkan di Kompleks makan Raja-raja Mataram di Kotagede dengan makam yang terpotong. Sebagian berada di dalam keraton, dan sebagian lain di luar. Ini menandakan bahwa Ki Ageng Mangir dianggap separuh keluarga, dan separuhnya adalah musuh.

Tragisnya kisah cinta Ki Ageng Mangir dan Pembayun menjadi bukti bahwa sedari zaman dahulu pun perasaan yang tulus bisa dijadikan tak tik untuk mendapatkan kekuasaan…

Behind the scene pembangunan Mataram Islam

Ketika seseorang akan membangun sebuah rumah, terlebih istana, bisa dipastikan bahwa ada berbagai tahapan yang dilalui sebagai upaya untuk membuat rumah/ istana tersebut sempurna. Begitu pula yang terjadi pada proses pendirian Kerajaan Mataram Islam.

Danang Sutawijya yang merupakan putra dari Ki Ageng Pamanahan dan diangkat anak juga oleh Hadiwijaya, Bupati Pajang turut serta dalam perlawanan Pajang terhadap pemberontakan Adipati Harya Penangsang.Kemenangan Pajang mengharuskan Hadiwijaya memberikan hadiah kepada Ki Ageng pemanahan dan Danang Sutawijaya.Hadiah itulah yang bakal menjadi Mataram.

Kawasan di Selatan Gunung Merapi sepenuhnya diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya menggantikan peranan ayahnya dalam memimpin desa Mataram dengan sebutan Panembahan Senopati.

Keinginan kuat Panembahan Senopati untuk memandirikan Mataram membuatnya sering menepi bertafakur. Dalam pengembaraannya, ia sampai di Hutan Wanalipura (sekarang Gilangharjo) yang didalamnya terdapat mbelik (danau). Dikisahkan di tengah danau tersebut terdapat sebuah gilang (batu) yang kemudian digunakan oleh Panembahan Senopati bertafakur.

Setelah melakukan tafakur, tekat Panembahan Senopati semakin kuat untuk mendirikan kerajaannya di sekitar Wanalipura. Ia bahkan mulai membuka lahan untuk perkampungan, dan telah memberi nama daerah-daerah tersebut dengan nama Kauman, Gandekan, Ketandan, Jetis, dan di sebelah Barat Laut terdapat cikal bakal Masjid. Namun rencana tersebut diurungkan karena di sebelah barat Wanalipura termasuk daerah Wanabaya (daerah Pamerdikan Ki Ageng Wanabaya) dan sebelah timur masuk wilayah Wanadara (daerah kekuasaan Ki Ageng Paker). Maka Sutawijaya menganggap tidaklah pantas mendirikan kerajaan di perbatasan wilayah orang lain. Akhirnya, pembangunan dilakukan di daerah yang sekarang menjadi Kotagede. Itulah mengapa di daerah Kotagede pun memiliki nama perkampungan yang sama seperti di sekitar Wanalipura yang sekarang menjadi daerah Gilangharjo.

Situs Gilanglipuro menyimpan batu tempat Panembahan Senopati bertafakur dalam hal menentukan posisi Kerajaan Mataram. Atas perintah Pakubuwono II, danau di sekitar Gilanglipuro diurug dan didirikan langgar untuk menyimpan Gilanglipuro. Sampai sekarang, tempat itu masih dikeramatkan dan dijadikan tempat nenepi untuk bermunajat.

dan kini…

Sebagai bagian dari Komunitas Aleut, pada kepulangan ke Yogya kali ini saya mencoba untuk menapaki kembali tempat bersejarah yang menjadi saksi megahnya Mataram saat itu.


Menuju ke petilasan Ki Ageng Mangir layaknya kembali ke Yogyakarta puluhan tahun silam. Suasana desa yang masih kental dengan rimbunnya pohon bambu masih dapat kita jumpai. Sepanjang jalan setapak, masih ramah orang menebar senyum tanda permisi. Ya, Yogya sekarang meskipun tergolong berwarga ramah namun hal semacam itu mulai memudar. Tergerus “kemodernan” perilaku.


Gerbang itu berwarna merah bata yang telah pudar. Batu bata yang tersusun rapi, telanjang tanpa lapisan semen, bergaya khas Majapahit mengelilingi sepetak tanah kosong bersemak. Di bagian depan terdapat prasasti yang menandakan tempat ini pernah diresmikan oleh pemerintah daerah setempat, namun sayangnya tidak ada papan penanda yang menerangkan bahwa daerah itu dibawah perlindungan suatu lembaga negara.

Menurut keterangan warga, siang itu sang juru kunci sedang tidak di tempat. Namun saya diizinkan untuk berkeliling dan mengambil foto. Di bagian dalam gerbang, terdapat tiga bangunan inti yang berbentuk tugu.Salah satunya berbentuk semacam lingga dan yoni.

Bisa dikatakan bahwa kondisi bangunan tersebut cukup terawat meskipun di beberapa bagian nampak lumut yang menutupi. Masih terdapat sisa-sisa prosesi pemujaan yang kemungkinan dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu di depan bangunan inti. Tak banyak informasi yang saya dapat, warga hanya mengatakan bahwa ada waktu-waktu tertentu tempat tersebut dikunjungi untuk nenepi atau bertafakur. Tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat semedi lainnya, sekitaran bangunan tersebut dipenuhi dengan tebaran bunga, bekas dupa, dan arang.

Sebagai salah satu tempat bersejarah, petilasan Ki Ageng Mangir termasuk tempat yang kurang mendapatkan promosi. Bahkan petunjuk arah dari jalan utama menuju tempat tersebut tidak tersedia. Padahal lokasi tersebut cukup susah untuk dijangkau.

Tempat kedua masih berada di kawasan Kabupaten Bantul, tepatnya di dusun Gilangharjo, Kecamatan Pandak. Situs Gilanglipuro yang menjadi tempat Panembahan Senopati menentukan tempat untuk kerajaan Mataram.

Tidak jauh berbeda dengan petilasan Ki Ageng Mangir, Situs Gilanglipuro saat inipun difungsikan untuk nenepi orang-orang yang memiliki hajat. Bangunan utama Gilanglipuro berupa langgar yang menyimpan batu Gilanglipuro. Bangunan utama tersebut dikelilingi benteng putih setinggi +1.5 meter dengan pintu gapura khas Jawa. Lagi-lagi saya kurang beruntung karena tidak dapat bertemu dengan sang juru kunci yang sedang bekerja di kelurahan. Informasi dari warga sekitar, juru kunci Situs Gilanglipuro merupakan orang yang dipilih dari Keraton Yogyakarta.
Berbeda dengan pengunjung petilasan Ki Ageng Mangir yang datang tanpa jadwal tertentu, di lokasi ini terdapat jadwal doa dan dzikir setiap malam Rabu Legi, namun juga tidak melarang warga yang datang setiap waktunya.

Dari segi lokasi, Situs Gilanglipuro termasuk mudah diakses karena telah tersedia petunjuk arah menuju lokasi melalui Jalan Samas. Meskipun demikian, sejauh ini pengunjung situs ini hanya mereka-mereka yang berkepentingan untuk nenepi dan bertirakat. Belum ada upaya pemerintah daerah untuk mengenalkan situs bersejarah ini ke masyarakat luas dan menjadikannya salah satu destinasi wisata.
Lokasi ketiga berada di perbatasan Bantul dan kota Yogyakarta, yaitu di Kotagede. Daerah yang menjadi pilihan Panembahan Senopati untuk mendirikan istananya. Ketika mengunjugi Kotagede, jangan berharap Anda akan menemukan megahnya keraton Mataram karena bangunan keraton sudah tidak tersisa. Yang ada sekarang hanyalah kompleks pemakaman Raja-raja Mataram, Masjid Gede, dan Sendang Seliran.

Memasuki kompleks Makam Makam Raja Mataram, Anda akan mendapati ornament-ornamen khas Hindu di gerbang menuju masjid. Sesuatu yang berseberangan namun dapat berharmoni. Juru kunci keputren yang saya temui menceritakan, ketika gempa Mei 2006 terjadi, kompleks masjid dan pemakaman Mataram rusak parah. Beberapa dinding retak, pagar runtuh, dan pilar masjid yang miring ke arah Timur. Perbaikan dilakukan dengan cepat sehingga pada September 2007 pemugaran telah rampung dilakukan.

Ada aturan khusus bagi Anda yang ingin masuk ke lokasi makam, yaitu harus mengenakan pakaian adat yang dapat disewa di sekretariat pengelola makam dengan membayar Rp 15.000. Untuk pria, mengenakan peranakan, kain jarik, dan blankon dan perempuan mengenakan kain jarik, kemben dan dilarang mengenakan jilbab. Karena tidak memungkinkan untuk memasuki kompleks makam, saya pun hanya berfokus pada Sendang Seliran yang terdapat di sisi barat kompleks makam.

Terdapat dua sendang yang masih aktif digunakan hingga sekarang, yaitu sendang Kakung untuk pria, dan sendang Putri untuk wanita. Kedua sendang tersebut masih digunakan hingga sekarang, terlihat dari adanya beberapa alat mandi di dalam sendang. Masih menurut juru kunci keputren, air di sendang putri berasal dari sumber air di bawah pohon beringin di depan makam sedangkan sumber air sendang kakung berasal dari bawah makam. Air di kedua sendang ini sangat jernih dan di dalamnya terdapat banyak ikan bahkan kura-kura yang dipelihara oleh pengelola makam sejak zaman dahulu.
Kondisi kompleks makam dan masjid gede Mataram jauh berbeda dengan petilasan Ki Ageng Mangir dan Situs Gilanglipuro. Entah karena lokasinya yang lebih kota dibanding dua situs lainnya, atau lebih dekatnya area kompleks makam dan masjid Mataram ini dengan keraton Yogyakarta yang menjadikannya tetap terawat dan mendapat banyak kunjungan dari wisatawan.

Ya, entahlah…

Situs, petilasan, atau apalah namanya memang hanyalah bekas. Keberlangsungan keberadaannya tergantung besar kecilnya manfaat yang diberikan dari tempat itu kepada masyarakat. Jika petilasan Ki Ageng Mangir dan situs Gilanglipuro tidak dikeramatkan dan dijadikan tempat bertirakat, mungkin keduanya telah dihilangkan. Terkubur jauh di perut bumi. Menemui kembali jasad-jasad yang pernah menyatu dengannya...

Sekarang,
ketika kembali menapaki kejayaan masa lampau,
manusia modern hanya bisa terpukau…

Salam,
NF

Referensi:
http://www.yogyalagi.com/2015/10/wisata-petilasan-ki-ageng-mangir-bantul.html
http://www.tribunnews.com/travel/2015/09/13/petilasan-ki-ageng-mangir-di-wonoboyo-bantul-semerbak-misteri-keturunan-raja-brawijaya
http://digilib.uin-suka.ac.id/15812/1/10520003_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf
dan keterangan lisan maupun tertulis yang tertera pada poster di lokasi