Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, March 23, 2016

STOP ACTING LIKE PRIMITIVE PEOPLE !

Manusia merupakan salah satu komponen dari sebuah lingkungan hidup. Menariknya, dari sekian banyak komponen itu, manusialah yang menduduki strata tertinggi diantara komponen lainnya. Daya pikir. Disitulah letak pembeda yang nyata menjadi penanda bahwa manusia diharuskan memiliki kehidupan yang lebih tertata.

Kemajuan daya pikir manusia sudah terlihat sejak zaman pra sejarah. Kehidupan yang sepenuhnya mengandalkan alam membuat mereka secara tidak langsung merumuskan pola kehidupan yang berpindah-pindah lokasi sesuai dengan ketersediaan makanan di area tempat mereka tinggal. Kehidupan yang tidak lepas dari aktivitas berburu juga berdampak pada perkembangan daya pikir mereka. Sebagai manusia visual, mereka mulai mencatat berbagai peristiwa dan informasi melalui simbol dan gambar di tempat-tempat yang sering mereka temui seperti dinding goa, batu, dan yang lainnya. Hal semacam itu saat ini dapat kita temui di daerah Mentanduro, Sulawesi Tenggara.

Lantas apa hubungannya dengan vandalisme?

Secara etimologi, vandalisme berasal dari bahasa Latin vandalas atau vandalius. Di Indonesia, vandalisme berasal dari kata dasar vandal yang berarti merusak dan mendapat akhiran -isme sehingga bermakna perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya); atau perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.

Selain berupa sanksi sosial dari masyarakat terhadap pelaku vandalisme, sejauh ini tidak ada aturan khusus yang melarang tindakan tersebut. Hanya saja disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal 489 ayat (1) bahwa; kenakalan terhadap orang atau barang yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian atau kesusahan, diancam dengan pidana denda paling banyak dua ratus dua puluh lima rupiah, atau sejumlah Rp 250.000 setelah disesuaikan dengan peraturan Mahkamah Agung. Kenakalan dalam hal ini diartikan semua perbuatan orang, berlawanan dengan ketertiban umum, ditujukan pada orang, binatang dan barang yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian atau kesusahan, yang tidak dapat dikenakan salah satu pasal khusus dalam KUHP.

Ketika saya bersama Komunitas Aleut mengunjungi hutan kota Babakan Siliwangi pada Minggu, 20 Maret 2016 lalu, aksi vandalisme dari tangan-tangan tak bertanggung jawab itu nyata terpampang. Dihampir semua papan kayu yang terpasang di jembatan gantung tak luput dari ukiran-ukiran liar. Hal serupa juga terjadi di besi pembatas di sepanjang jembatan, coretan menggunakan tipe-x maupun spidol menjadi bukti bahwa seseorang merasa perlu diakui bahwa dirinya pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Kini hutan kota dengan luas 3.8 hektar yang telah mendapat pengakuan sebagai hutan kota pertama di Indonesia sejak September 2011 itu terkesan kumuh. Tak hanya akibat banyaknya coretan liar, namun juga akibat banyaknya sampah berserakan yang seakan tidak ada upaya pembersihan. Padahal dari hutan kota itulah Bandung dapat meresapkan guyuran air hujan dan mendapat supply oksigen yang memadai.

Selain merusak, sudah jelas bahwa aksi corat-coret di fasilitas publik tersebut sangat mengganggu. Sayangnya, sejauh ini hal tersebut seakan hanya didiamkan saja tanpa penyelesaian yang tuntas. Sama saja dengan menunggu dinding penuh dengan pilox yang kemudian baru dicat ulang. Jika dihubungkan dengan pengantar tulisan ini, manusia pra sejarah dengan manusia kekinian memiliki satu kesamaan yaitu eksistensi. Bedanya, manusia zaman pra sejarah mencatatkan sebuah peristiwa pada media yang tepat karena memang tidak terdapat media lain yang bisa digunakan. Sedangkan manusia kekinian dengan segala kemodernannya masih saja menganggap dinding, batu, kayu, dan sebagainya adalah media yang tepat untuk menunjukkan eksistensi.

Are u smarter than your smartphone?

Yuk mulai berubah. Sudah banyak media yang mampu mewadahi segala bentuk eksistensi sekarang ini. Sebut saja, Facebook, Twitter, Blog, Instagram, dan segenap social media lainnya. jika digunakan sesuai koridornya, social media bukan hanya menciptakan eksistensi, namun juga dapat memunculkan value lain dari penggunanya.

Stop acting like primitive people! Vandalism is not cool at all!

Salam,
NF


No comments:

Post a Comment