Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Monday, March 14, 2016

Hidup berdesakan, matipun terancam penggusuran

Setiap mengunjungi sebuah makam, pertanyaan yang kemudian muncul adalah "siapa yang terbaring kaku di bawah nisan?". Mereka yang memang telah mendahului kita memiliki kisah masing-masing dalam hidupnya. Dahulu mereka hidup penuh keramaian, sekarang sendirian dalam ruang 2x1 meter. Terbujur kaku dalam dingin dan perlahan menyatu dengan tanah... Kelak, kita pun akan menyusul. Kapanpun itu.

Di Bandung sedang hangat diperbincangkan tentang rencana pembangunan jalan terusan pasteur. Sesuai perhitungan, jalan ini nantinya dapat memecah kemacetan yang setiap hari terjadi di pusat kota. Isu ini menjadi menarik ketika pembangunan tersebut nantinya mengharuskan sebuah kompleks makam tergusur. Bahkan menjadi menarik bahwa makam yang tergusur tersebut adalah makam seorang tokoh yang berjasa untuk Bandung. Dr. H. A. Rotinsulu, yang namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Khusus Paru di daerah Ciumbeuleuit Bandung.




Banyak hal menarik yang bisa kita temukan di Kompleks Pemakaman Pandu, tempat dimana Dr. H. A. Rotinsulu disemayamkan. Selain bentuk bangunan khas makam warga Tiong Hoa yang epic, kita dapat menemukan makam tokoh tokoh yang namanya pernah bergaung di kota ini.

Prof. Ir. C. P. W. Schoemaker. Arsitek dari banyak bangunan megah di Bandung. Sebut saja Masjid Cipaganti, Gereja Katedral di Jl Merdeka, New Majetic, Hotel Preanger, Societeit Concordia, Villa Isola, dll adalah mahakarya Schoemaker. Beliau juga tercatat sebagai guru besar technische hogeschool te bandoeng atau ITB sekarang.

Makam Laci. Berbentuk seperti laci yang berderet.

Mausoleum Ursone. Mausoleum atau monumen keluarga Ursone, seorang pengusaha susu di daerah Lebang pada tahun 1895an. Keluarga inilah yang mendirikan Lembangsche Melkerij Ursone, sebuah pabrik susu berkualitas tinggi se Hindia Belanda.

Masih banyak makam lain yang sebetulnya menarik untuk diulik baik dari bangunannya maupun sejarah jasad yang bersemayam di dalamnya. Sungguh terlalu egois menurut pola pikir saya apabila kita yang masih hidup ini dengan seenaknya menghilangkan jejak mereka yang telah tiada. Terlebih mereka yang berjasa atas kemudahan dan kebaikan hidup kita sekarang. (NF)


No comments:

Post a Comment