Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, January 10, 2016

Let's ngaleut with Komunitas Aleut

Bandung itu surganya sejarah. Banyak sekali peristiwa yang berdampak entah baik atau buruk bagi negeri ini terjadi di Bandung. Bahkan menurut sebuah sumber, Bandung masuk kota dengan bangunan Artdeco terbanyak melebihi paris yang notabene rumah bagi artdeco. Bangunan masa kolonial itu tersebar di seantero Bandung. Baik yang terawat maupun terbengkalai, kesemuanya memiliki keanggunan tersendiri. Memiliki kisahnya sendiri. Menjadi bukti bahwa pada saatnya dulu, para penjajah negeri ini merasa betah berada di Bandung dan beraktivitas di bumi parahyangan ini.

Memang tak mudah mengulik setiap kisah dibalik sebuah bangunan. Umumnya kita hanya akan membahas siapa arsitekturnya, kapan berdirinya, dan apa fungsinya kala itu. Jarang yang akan mengulik dan menyambung sejarahkan dengan bangunan lain, terlebih mendetil pada pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.

Adalah komunitas Aleut. Perkumpulan penikmat warisan jaman dulu yang rajin mengulik episode demi episode kejadian yang terjadi di Bandung. Hari ini, saya resmi menjadi bagian darinya.



Ngaleut. Begitu mereka menyebut kegiatan yang rutin selama 9 tahun dilakukan setiap minggu pagi. Inti dari kegiatan ini adalah jalan jalan (dan banyak jajan juga sebenarnya). Setiap minggunya akan ditentukan kemana dan akan ngapain saja selama kegiatan. Ketika satu tema sudah ditentuan, maka akan ada beberapa destinasi yang menjadi fokus pembicaraan. From place to place yang menjadi tema saat itu dilalui dengan berjalan (jika memungkinkan). Tidak melulu pada satu kawasan, terkadang jarak satu tempat ke tempat lain cukup jauh.

Sejauh yang saya kenal, komunitas ini disesepuhi oleh pak alex dan digiatkan oleh beberapa anak muda yang selalu mengordinir setiap kegiatan. Masing masing penggiat tersebut diamanahi satu penjelasan terhadap tema yang ditentukan. Mereka membaca, melakukan kajian referensi, dan mengumpulkan evidence. Jadi bisa dipastikan, apa yang mereka informasikan itu tidak hanya bersumber pada “katanya”.

Seperti sang ini, kami ngaleut jejak preangerplanters di seputaran asia afrika. Dimulai dari titik 0Km empat deandles menancapkan tongkatnya, berlanjut ke grand hotel preanger, savoy homann hotel, gedung merdeka, warenhuis de vries, Denish bank, gedung PLN, dan bekas kandang kuda di banceuy. Banyak hal ha yang luput dari pengetahuan awam menjadi terkuak. Siapa yang menyangka bahwa dahulu savoy homan hanyalah bangunan dengan dinding bambu beratapkan jerami? Bahwa ada jalan bawah tanah yang menghubungkan antara gedung merdeka dan de vries. Bahwa teh yang kita minum sehari hari hanyalah grade 3 sedangkan grade 1 dan 2 diexpor ke manca negara dengan tidak menutup kemungkinan akan kembali ke Indonesia dengan nama asing dan harga yang fantastis. Bahwa salah satu white tea termalah di dunia dihasilkan dari perkebunan teh di Bandung. Bahwa Indonesia termasuk negara penghasil teh terbesar di dunia namun konsumsi teh di negeri ini diperingkat bawah.  Bahwa kota kembang bukan berati kota yang banyak bunga, namun kota dengan gadis molek nan cantik yang banyak melayani bangsa kolonial dulu. Bahwa kebaya model dada terbuka adalah kebaya para pelacur jaman dulu. Bahwa Jl Banceuy No. 1 itu teretak pada bekas kandang kuda yang mengartikan bahwa nama banceuy memang berkaitan erat dengan kuda. Bahwa terdapat sumur kembar di daerah alun alun yang menjadi cikal bakal ditentukannya lokasi pendopo dan alun alun kota jaman dahulu. Bahwa bosscha tidak hanya membangun observatorium namun juga bank, sitem listrik, sistem telekomunikasi, perkebunan teh, dan banyak hal lainnya. Bahwa grand preanger turun pamor dari bintang 5 menjadi bintang 4. Bahwa savoy homann sekarang dibawah Bank Indonesia. Bahwa dialog sunda memiliki 7 huruf fokal a,i,u,e,o,eu,e (denga coret atas). Bahwa kata konperensi dalam Museum Konperensi Asia Afrika adalah sesuai dengan KBBI.

Dan bahwa berjalan bersama itu lebih menyenangkan dibanding berjalan sendirian.

Ini yang pertama, yakinlah akan ada ngaleut ngaleut selanjutnya!


No comments:

Post a Comment