Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2016

Turning 26 y.o

Pagi tadi, dua pesan whatsapp masuk. Menyelamati. Mendoakan. Dan aku sepenuh hati mengamini. Aku rasa berbeda di tahun ini. Tak banyak orang ingat. Biarlah. Pergantian usia bukan sesuatu yang harus diumumkan. Kenyataannya aku juga tak mengingat kapan teman temanku dilahirkan. Selama ini mungkin hanya reminder di facebook atau akun sosial media lain dan terus latah ikut mengucapkan.
26 bukan usia muda lagi. 26 bukan waktunya main main lagi. 26 harus lebih terarah. 26 harus lebih menata kehidupan mendatang. 26 saatnya membentuk kehidupan.
Tak banyak yang kuminta pada Tuhan. Kesehatan. Kesuksesan. Kemapanan. Kebahagiaan.
Ia Maha Adil. Aku percaya itu. Ketika Ia telah memgambil orang yang menyayangiku, Ia pasti akan datangkan seseorang lain yang juga akan menyayangiku hingga akhir hayatnya...amin.
Im 26 y.o now. I'll try my best to become what I realy want.

Let's ngaleut with Komunitas Aleut

Bandung itu surganya sejarah. Banyak sekali peristiwa yang berdampak entah baik atau buruk bagi negeri ini terjadi di Bandung. Bahkan menurut sebuah sumber, Bandung masuk kota dengan bangunan Artdeco terbanyak melebihi paris yang notabene rumah bagi artdeco. Bangunan masa kolonial itu tersebar di seantero Bandung. Baik yang terawat maupun terbengkalai, kesemuanya memiliki keanggunan tersendiri. Memiliki kisahnya sendiri. Menjadi bukti bahwa pada saatnya dulu, para penjajah negeri ini merasa betah berada di Bandung dan beraktivitas di bumi parahyangan ini.
Memang tak mudah mengulik setiap kisah dibalik sebuah bangunan. Umumnya kita hanya akan membahas siapa arsitekturnya, kapan berdirinya, dan apa fungsinya kala itu. Jarang yang akan mengulik dan menyambung sejarahkan dengan bangunan lain, terlebih mendetil pada pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Adalah komunitas Aleut. Perkumpulan penikmat warisan jaman dulu yang rajin mengulik episode demi episode kejadian yang terjadi di Bandung…

Hei. I miss u.

Terkadang rindu tak perlu mencapai klimaksnya.
Biarkan saja ia berjalan sewajarnya.
Menghantam tiap dinding hati.
Menjalar perlahan melalui vena arteri.
Terus beredar keseluruh ujung pembuluh.
Berdifusi lewat alveoli.
Semua dirasa sendiri.
Karena klimaks dari sebuah rindu,
adalah bertemu.