Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, December 17, 2016

Gaung gaung sunyi

Angin hanya berembus pelan. Tak terdengar suara desiran. Pun goyangan rerumputan. Langkah ini ragu untuk dilanjutkan. Tapi hasrat menyuruh tetap jalan ke depan. Maka kunci itu pelan kumasukkan ke lubang pintu. Agak seret dilapis karat.

Pintu telah sempurna terbuka dan aku tengah berdiri menghadap ruangan hampa. Ada dua lemari dengan cermin di bagian pintunya. Sempurna memantulkan bayangan ruang dengan aku tersorot di salah satu retakannya.



"Dari mana saja dek?" suaranya dingin membuatku seketika bergidik. Mirip sekali dengan suara ibu tiap aku pulang terlampau larut.




Lantas sunyi lagi. Kuputar pandang ke sekitar. Kosong. Akupun melangkah jauh ke dalam. Mengabaikan suara2 entah apa yang seketika diam. Mata begitu tekun menjengkal dinding. Di satu titik ada banyak coretan bekas anak kecil belajar menulis, beberapa tapak tangan bekas si empunya rumah, atau bingkaian foto yang tergantung di dinding.

"Cepat lepas sepatunya, ganti baju, cuci tangan trus makan" lanjut suara itu.

Akupun diam. Mencoba menahan keinginan lari ke luar. Beberapa kali malah terdengar suara tawa mirip seperti yang selalu Bapak lakukan ketika ia menonton acara teve. Lalu suara musik keras dari kamar depan sebelah kanan. Mirip dengan musik kesukaan kakakku kala itu.



Kuraba tembok itu lembab. Pertanda air hujan merembes ke dalam. Foto2 di dinding itu satu persatu kuamati lagi. Potret anak kecil bergandengan dengan kakaknya menatap ke arahku. Lalu dari jauh terdengar tapak kaki seseorang berlari mendekat, dan prrrraaaanggg! Sesuatu jatuh dan pecah.
"Ibu kan udah bilang, kalau di dalam rumah jangan lari2an! Kalau vas nya yang pecah bisa beli, kalau kakimu yang patah gimana? Di toko nggak ada yang jual!" suara mirip ibu itu kembali muncul. Di sela suara anak kecil yang menangis kesakitan.



Selewatan. Hanya sepersekian menit suara2 itu bermunculan tanpa urutan. Aku masih berdiri di tengah sebuah kamar. Sembari tersenyum mengolah imaji yang dicipta sepi.




Rumah ini memang tak lagi berpenghuni. Tapi gaung percakapan masa lalunya masih terdengar dan diserap dinding2 lembab. Hidupku pun terpatri di tiap sudutnya. Langkah kaki sedari kecil menapak tiap jengkal lantainya. Pun setiap benda yang tersisa, mereka memantik memori2 yang selama ini dilupa. Hanya karena satu gambar stiker di lemari, rentetan cerita kembali muncul dalam ingatan. Atau hanya karena tapak tangan di dinding, kesedihan di masa itu kembali muncul ke permukaan.

Maka rumah ini tetaplah rumah. Dia tersingkir dimakan usia. Gempa 2005 lalu yang memorak-porandakannya. Ia kini tak lebih dari bangunan yang siap runtuh kapan saja. Meski kisah kehidupan di dalamnya akan kokoh mengarung masa. [NF]


Tuesday, October 11, 2016

Apa kabar kau yang dulu?

Sungguh aku ingin ke lantai atas. Menangisi malam yang terlalu sunyi untuk dilewati. Jalanan depan masih ramai. Tapi entah. Kalut sekali pikiran ini.
.
Aku nggak suka istrimu posting video2 kamu lagi ngelipet bajulah, lagi tidur lah. Nggak pada tempatnya sosmed buat gituan. Privasi! Harusnya dia tau batas privasi!
.
Urung. Ketikan kata2 itu akhirnya kuhapus. Ya. Apa hak ku melarangmu. Bahwa hidupmu sekarang tak sepenuhnya milikku. Ya. Apa hak ku melarangmu. Mungkin saja kau justru bahagia dengan semua itu.
.
Lantas, hai. Apakabar kau yang dulu? Selintas aku teringat terakhir kali kita memadu peluk di depan pusara. Kau tenangkan kalutku. Sempurna menguatkanku.
.
Kau sibuk sekarang??? Bahkan untuk menyapaku kaupun sering lupa. Padahal dulu setiap pagi kau tawari aku kopi. Ah. Maaf. Aku lupa kau telah ada yang punya. Bahwa sekarang, menyapaku adalah nomor ke tiga.
.
Bahkan sengaja pernah kudiamkan. Berminggu kabar darimu tak datang. Sampai akhirnya aku bosan. Aku melanggar ngambek yang sengaja kuciptakan tapi tak tersampaikan. Aku menyapamu duluan.
.
Akupun bingung dengan jalan pikirku sendiri. Apa susahnya menerimamu yang sudah beristri?! Tapi pikir ini terlampau jauh. Tentang aku yang tak lagi jadi prioritasmu. Tentang aku yang tergantikan istrimu. Tentang waktumu. Tawamu. Terlebih bahagiamu. Yang tak lagi mutlak karenaku.



Maka sengaja kukenang foto buram ini. Sesaat sebelum kamu menghalalkan seorang wanita. Ketika kamu masih milikku seutuhnya. Ketika tawamu dapat kunikmati sendiri. Tanpa berbagi dengan orang yang sekarang kau sebut istri.
.
Hai. Kau yang dulu. Kakakku. Aku rindu.

Saturday, October 1, 2016

Orang-orang di jemputan.

"Eh eh eh tau gak sih..." awal kalimat itu yang terlalu sering kudengar. Mengawali pagi dengan bercerita. Banyaknya tentang kehidupan2 orang di sekitar. Tak usah muluk menyoal sifat, bahkan goresan eyeliner yang terlalu tebal pun bisa saja dipergunjingkan.

Jemputan memang menjadi koloni kecil yang memresentasikan sebuah ekosistem. Koloni yang asyik meng-update sosmed. Koloni yang ribut dengan artis korea. Koloni yang hobby belanja. Koloni yang punya taste sosialita. Ah, koloni. Mereka sibuk beramai. Tapi ketika sendiri, mendadak tak punya nyali.

Kursiku berada di baris belakang dari elf merah berkapasitas 20 orang. Dari tempat dudukku, rupa keseharian mereka terekam dengan jelasnya. Siapa2 saja yang datang terlambat. Atau hal sepele tentang siapa duduk di mana. Tak pernah ada aturan baku tentang perkara satu itu, tapi setiap kursi yang ada seperti sudah punya pemilik pribadi.

Suatu pagi obrolan yang terdengar bukan lagi lipstik keluaran terbaru. Atau artis yang mengendorse produk tertentu. Nampak serius beberapa kawan mengamati layar ponsel. Pada satu ketika, salah satu berteriak menyesali suatu hal. "Aaah pokemonnya lepas lagi". Mereka yang sedang kekinian mengadu hasil tangkapan. Memamerkan koleksi dan saling memberi saran. Lalu, apa esensinya???! Itu yang kupertanyakan. Betapa mudahnya mereka terlarut dengan bombastisnya sebuah fenomena.

Lantas, ada masa ketika jalanan tol lengang dan mobil melaju pelan. Jauh ke luar. Pandangan ini mencoba menangkap rerimbunan pohon yang berganti warna seiring musim. Ada pula onggokan sampah di kaki bukit yang tambah menggunung menyaingi bukit di sebelahnya. Ada beberapa rumah yang berganti warna cat tembok. Semuanya tak penting. Tapi tak semua orang-orang di jemputan  menyadari. Bagiku, justru yang tak semua sadar itu menjadi penting. Menjadi tahu disaat yang lain tak tahu. Ya, meskipun tak penting.

Begitu monotonnya kehidupan jemputan dari hari ke minggu ke bulan ke tahun. Kehidupan tol pun juga sama. Yang berbeda hanya jenis dan jumlah mobil yang lalu lalang tiap harinya. Badan mulai punya ritme teratur. Datang, duduk, tidur, sampai. Selalu seperti itu. Bahkan otak mulai termainset melakukan rutinitas teratur tersebut. Ah. Apa beda aku dengan sapi2 di truk itu. Mereka hanya tau naik dan sampai.

Motor putih itu menyusur perbukitan sesuai arahan sistem pemosisian global. Katanya sih jalanan itu menembus Padalarang. Baru sekitar 07.20 ia berbelok ke sebuah pabrik berpagar abu2. Disambut senyuman satpam yang belakangan aku tahu dia berumah di Buah batu.


Terlambat! Harusnya sedari awal aku demikian. Menantang pagi dengan segenap keruwetan jalanan. Bukan perkara debu atau hujan yang jadi persoalan. Hanya soal menjaga kelangsungan hidup otak dan pikiran. Melihat lebih banyak kehidupan. Mengenal lebih banyak orang lewat jalan. Pedagang tahu sumedang yang setiap hari pulang pergi sumedang padalarang. Tukang kue yang anaknya baru saja disunat. Ibu2 nasi kuning yang suatu pagi tiba2 curhat masalah suami. Pedagang batagor. Pak ogah di pertigaan cimareme. Entahlah. Bermotor justru memertemukanku dengan mereka. Berangkat kerja menjadi kesenangan tersendiri setelahnya. Meski berdebu. Meski ketika sampai, parfum tak lagi meninggalkan bau. Ya. Biar saja orang orang di jemputan tetap cantik sepanjang perjalanan terlelap menunggu sampai... (NF)

Tuesday, September 20, 2016

Pa.

Aku sering lupa kalau ternyata kita sudah beda dunia. Sengaja aku selalu datang menjelang petang. Ketika langit berpendar menyalakan malam. Karna kurasa itulah waktu tersyahdu yang bisa kugunakan untuk mengajakmu "bertemu". Heningnya. Semilir anginnya. Temaram senjanya. Sempurna. Aku bisa berlama mengajakmu bercerita.
.
Selayak sore itu. Kedai bunga di Kota Baru sudah hafal apa yang harus disiapkan ketika aku datang. Sebuket krisan putih tanpa dirangkai. Sesekali aku meminta warna kuning. Biar kamu tak bosan. Terkadang saking baiknya, tukang bunga itu memberikan diskon. Hari itu dia memotong 5000 dari harga asli. Ya. Lumayan.
.
Hai. Aku pulang lagi. Nampak sisa krisan sebelumnya masih ada. Kerontang dihantam terik setiap hari.
Hai. Aku pulang lagi. Rerumputan tampak subur merimbun di gundukan. Biar kucabut sekedar membuat "tempatmu" lebih rapih.
Hai. Ya, aku pulang lagi.
.
"Aku kemarin beli buku2 baru. Lagi diskon di Gramedia. Agak kalap sih. Cuman ya gapapa lah ya. Kapan lagi. Tapi bingung kapan bacanya. Sekarang udah g seintens dulu. Pulang kerja udah capek. Males dibawa mikir berat. Apa karena usia juga ya. Haha."

"Oya kemarin Teman datang ke rumah. Sempet nanyain sih aku udah kesini apa belum. Terus dia banyak cerita tentang kedai kopi, jalan2nya ke karimun jawa, temannya yang meninggal belum lama, dan bapak ibunya yg habis touring ke Malang dengan vespa. Ah akupun ingin. Tapi sekarang udah susah. Kakak udah nikah. Kemana2 jadi sendiri. Ini aja tadi motor tante aku sengaja ambil buat kesana kemari."

"Pohon mangga depan rumah sudah berbunga lagi lho. Haha. Aku jadi inget dulu pohon itu pernah kita ancam mau ditebang. Sengaja menggurat kulit kayunya dengan parang. Biar si pohon merasa terancam dan mau segera berbuah. Haha. Tapi benar dia jadi berbuah. Ternyata itu ada teorinya juga lho di dunia botani. Ada kawan pernah menyebutnya tapi aku lupa. Oya tadi pagi waktu aku di teras, di dahan yang menjorok ke sawah ada bunyi cicit burung kecil. Kayaknya ada sarang pipit. Tapi aku g liat dimana."

"Aquarium kita pecah. G tau kenapa. Kakak g cerita. Kayaknya ada terumbu yang runtuh dan kena kaca. Jadilah nemo2 itu ditaruh di toples2. Aku kawatir mereka g akan tahan lama. Secara g ada aliran oksigen ke sana."

"Seharian tadi aku ngurus SIM. Perpanjangan tapi udah telat 6 bulan. Aku lewat jalur legal lho. Seriusan. Ikut test teori dan praktik. Tapi ujung2nya gagal pas naik motor di angka 8. Jadinya bayar juga. Gapapa wes. Da gimana. Terlalu mepet waktunya kalau harus ngulang praktik lagi."

" Oya, aku sekalian pamit ya. Selasa malam keretaku berangkat jam 20. Mungkin Desember aku baru kesini lagi."
.
Seperti orang gila. Aku antusias bercerita. Bahkan sesekali tertawa. Berbincang pada dimensi yang berbeda. Tapi aku yakin kamupun terduduk takjub seperti biasanya. Mata ikut berbinar menyimak setiap kata.


"Udah maghrib, aku pulang dulu Pa."

Tuesday, September 13, 2016

Srikandi Syar'i







All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Taken at Festival Takbir Bantul

Monday, September 5, 2016

Jangan kau tolak Senin.

Aku bersemangat sekali menulis pagi ini! Setelah hampir seminggu tubuh remuk redam. Flu yang berkolaborasi dengan asam lambung yang meninggi sukses menjadikan akhir pekan berantakan.
.
Kubikel 5x3meter itu sudah terisi tiga orang. Masing2 mengarahkan pandang ke monitor. Bermuka serius. Sepagi ini.
.
Akupun masuk sambil bersalam. Sempat ber haha hihi menyapa tapi sepertinya memang suasana sedang suram. Mereka menyahut sekenanya. Dan aku merasa diacuhkan dengan sempurna.
.
Sambil menguap, seorang kawan masuk ruangan. Menarik tuas dispenser dan mengaduk sesuatu di gelasnya.
"Senin...saatnya kembali ke realita" katanya.
.
Tunggu. Kalimat itu cukup lama menggaung di telinga. Terbawa menuju otak dan menuntut pembahasan yang tak biasa. Cukup sibuk otak ini mendudah kumpulan dokumen dan ingatan apapun yang menyangkut "realita".
.
Sering sudah kudengar perkataan "kembali ke realita". Bukankan itu artinya kembali ke kehidupan nyata. Ke kehidupan yang sebenarnya. Lantas, kenapa senin yang membawa kawan tadi ke kehidupan nyata miliknya? Kemana saja hidupnya?
.
"Ya kehidupan kerja maksudnya Yuy. Weekdays." katanya singkat.
.
Wassap saya segera kalau ternyata saya salah! Setiap kita memiliki kehidupan masing2. Bagi kaum buruh seperti saya, senin hingga jumat adalah bekerja. Pukul 07.30 hingga 16.00. Kalau normal. Bekerja bukan paksaan. Naluriah sahaja. Ketika dirasa masih butuh yang namanya kehidupan, saat itu pula kita butuh berusaha. Berusaha apapun itu. Termasuk di dalamnya adalah bekerja. Tuntutan kerja seberat apapun itu menurut saya adalah suatu risiko yang diambil seseorang atas apa yang telah diputuskannya. Risiko atas pekerjaannya. Sesantai apapun pekerjaan yang seseorang lakukan pasti ada risikonya. Katakanlah presenter jalan2 yang terlihat bahagia. Pasti ada dateline baginya untuk melaporkan. Pasti ada waktu ketika dia dikejar jam tayang. Pasti ada hal darinya yang dikorbankan. Dan ironinya, meskipun dia seorang presenter acara jalan2, pasti diapun butuh jalan2 secara normal.
.
Jadi, ketika kawan mengatakan kembali ke realita. Sungguh saya prihatin mendengarnya. Prihatin mengetahui bahwa realita kehidupan kawan tadi hanya sebatas menjalani risiko2 atas pekerjaannya. Prihatin karena kehidupan kawan yang sesungguhnya adalah sebuah rutinitas bekerja. Prihatin untuk setiap akhir pekannya hanyalah sebuah oase. Fiktif. Tak nyata.
.
"Kembali ke realita." Ketika kawan mengucapnya, saya merasa ia sedang bangun dari mimpi indah dan menolak semua kenyataan di depannya.
.
Jangan pernah menolak Senin kalau masih mengharap datangnya minggu. Malu!
[NF]

Wednesday, August 31, 2016

Pak Ujang dan rambut-rambut panjang

Aku membayangkan, masa tuaku yang kelak tiba
Aku yang menjadi semakin renta
Aku yang melemah berkurang daya
Aku, yang bisa saja menjadi pelupa
atau justru dilupa.

Masih pagi. Pukul tujuh sebentar lagi. Di persimpangan gang itu, riuh orang-orang terburu buru menyiapkan hari. Anak kecil menangis menolak mandi, pekerja kantoran yang sibuk mencari pasangan kaus kaki, atau pedagang bacang yang berteriak mengundang pembeli. Keributan di sana-sini. Tapi pasangan suami istri itu masih saja santai bergurau tentang kucing tetangga yang beranak lagi.

Sudah lebih dari setengah abad usianya. Tapi tanpa bertanya, Kawan bisa salah menduga. Fisiknya masih tegap. Rambut di kepala masih gelap. Bicara pun masih cakap. Dan di pagi itu, dengan setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu, ia telah siap.

Sambil membetulkan letak topi di kepala, ia berpamitan pada istri tercinta. Melangkah meninggalkan rumah seperti pagi-pagi sebelumnya. Menenteng kotak peralatan di boncengan sepeda. Serta sekantong ransum buatan istri ia gantungkan di atas roda. Beberapa kali ia menyapa tetangga sembari menuntun sepeda melewati gang menuju jalan utama. Tujuanya satu. Emperan toko di Jl. Teri yang sudah puluhan tahun menjadi tempatnya mengais rezeki.


Lapak itu sederhana. Tanpa bilik ataupun sekat pembatas. Tanpa papan nama ataupun sekedar penanda. Ada tumpukan perabot kayu yang ia rantai jadi satu. Tertumpuk di sebelah dinding tua. Rupanya, itu sekumpulan kursi dan rak sederhana. Harta berharga bagi Pak Ujang, si tukang cukur tua.

Pak Ujang adalah satu dari sekian banyak tukang cukur yang berdarah Garut. Ia mewarisi keahlian dari sang ayah yang dahulu membuka usaha yang sama. Sudah hampir 50 tahun, emperan di dekat pasar Andir itu menjadi tempatnya mengisi hari. Berjumpa dengan pelanggan yang silih berganti.




Termasuk pagi itu. Satu pelanggan duduk pasrah di depan cermin yang bagian pinggirnya telah pecah. Pak ujang sigap melilitkan kain pelindung di badan pelanggan. Usaha untuk melindungi pelanggan dari potongan-potongan rambut yang berjatuhan.


Paduan bunyi antara gunting dan rambut semakin seru. Tangan tua itu lincah memainkan alat-alat cukur yang tak lagi baru. Matanya pun sibuk mencermati kemana benda tajam itu melaju. Memastikan bahwa karenanya, tak akan ada cerita luka tak sengaja. Atau sekedar sayatan yang mengundang tanya.





“Sepuluh ribu”

Samar kudengar Pak Ujang menjawab tanya pelanggan pertama. Dari jauh kulihat pelanggan itu kini sudah tampil berbeda. Wajah baru yang membuatnya terlihat lebih muda. Sebentar ia mematutkan wajahnya ke depan kaca. Tersenyum. Lantas berdua mereka tertawa. Pelanggan yang berpuas dengan rambut yang berganti gaya. Sedang bagi Pak Ujang, sangat sederhana. Ia bersuka melihat pelanggannya bahagia.

Aku. Sedari pagi sengaja mengamati. Memunculkan kembali banyak memori. Ketika Ia masih muda perkasa. Mengayuh sepeda dengan sesekali membawa anak kecil di belakangnya. Anak kecil yang ketika telah dewasa justru memilih tinggal ratusan kilo dari rumah. Mencari peruntungan dengan berhijrah ke kota sebelah. Anak kecil itu, aku. Putranya.


Sungguh. Ingin kularang Bapak bekerja. Sudah cukup ia merasa capai dan berpeluh setiap harinya. Sedari tahun 60an, ia telah bermain dengan pisau cukurnya. Ketika usianya menginjak dua puluh dua. Artinya kini telah 50an tahun ia berkarya. Mengukir banyak kepala. Ah Bapak tetaplah Bapak. Ia akan merasa tersinggung ketika aku mulai mengajaknya bicara. Tentang kesehatannya. Tentang keselamatannya. Tentang raganya yang tak lagi muda. Terlebih tentang penglihatannya yang semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Namun Ia pernah tegas berkata, bahwa bekerja bukan perihal uang semata. Ia merasa bahagia. Ketika orang lain masih membutuhkannya. Ketika hidupnya masih berguna. Meski hanya lewat lapak cukur sederhana di samping bangunan tua.

Maka kubiarkan saja sedari pagi ia pergi. Dan pulang menjelang sore hari. Sekedar memuaskan hati. Terlebih membuatnya merasa masih mampu memberi nafkah pada istri. Masih mampu berdikari. Tanpa menggantungkan hidup pada anak-anaknya sendiri.



Pada akhirnya, anakmu ini hanya bisa berdoa
untuk kesehatan
untuk keberuntungan
untuk keselamatan
untuk kebahagiaan
bagimu
lahir dan batin...






[Tulisan ini dibuat tidak berdasarkan pengakuan langsung dari Putra Pak Ujang, namun lebih pada apa yang saya rasakan dan simpulkan dari obrolan dengan keluarga Pak Ujang.] [NF]

Friday, August 26, 2016

Banyak protes kurang progress


Orang-orang tetiba marah.
Memaki ini itu tanpa ku tahu apa yang salah.
Orang-orang tetiba berteriak.
Menyoal banyak hal yang mereka anggap tak layak.
Amarah itu beku
Hanya tersulut aliran darah yang membuatnya sedikit membuncah

Ruang menjadi lengang
Suara menghilang
Aku membisu
Kalau saja isi otak kutumpahkan
Kau kan temui banyak kata umpatan
Dari anjing hingga bajingan
Tapi sempurna ku tahan
Demi apa yang kau sebut sebuah “kewibawaan”

Aku benci jadi pengecut
Berlagak baik-baik saja padahal murka
Tapi,
kalian pun!
Samasaja!
Banyak protes kurang progress!!

Lab QC; 26.08.16; 14.53
(NF)

Tuesday, August 23, 2016

Dilema Si Pemain Rana

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.

Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.

Dan...
Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.

Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.

Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalaman terguyur hujan. Sesekali menanjak. Sesekali melompat. Sesekali memanjat.

Sebuah goa menganga di bawah tebing. Papan penanda menyebutnya "Sanghyang Poek". Goa dengan panjang sekitar 400m itu gelap dan licin. Penuh stalaktit dan stalakmit. Beberapa masih meneteskan air tanda proses pembentukan masih berlangsung. Bentuknya bermacam. Tebayang waktu yang dibutuhkan bagi air untuk menetes dan membentuk satu gugusan bebatuan baru. Tak hanya meruncing, beberapa bahkan berkilau. Membuat kami pasrah terpukau.

Mulut goa di ujung lainnya membawa kami ke jalur yang lebih ganas. Berjalan melawan arus sungai dengan hamparan bebatuan yang makin edan. Beberapa sisi bahkan tajam. Sesekali kami berhenti. Mengambil nafas untuk bekal melangkah lagi. Atau mengulurkan tangan untuk memberi kekuatan. Atau menjabat erat untuk menyalurkan semangat. Entahlah, yang pasti kami tetap melawan arus.

Mata ini sudah banyak merekam. Tapi kamera di tangan masih bungkam. Diafragma didiamkan menganga. Hanya sesekali saja telunjuk ini menyentuh rana. Padahal tepat di depan mata, seorang kawan terpeleset. Sungguh indah ketika karenanya, air menjadi terciprat. Muka penuh sebalnya akhirnya mengumpat. Harusnya dalam rima ini aku tuliskan "keparat!". Tapi apa daya, hanya "anjiiiiirrrrr" yang kawan itu ingat. Menyedihkan, karena semua itu terlewat.

Bukan tak beralasan kamera itu hanya dibiarkan menggantung di leher. Bahkan setelahnya ia sempurna masuk kembali dalam tas. Medan terlalu keras! Sudah beberapa kali ayunannya terantuk batu. Mengguratkan sedikit tanda di sebelah lensa. Masih untung bukan tercemplung. Hanya tergores. Ter-go-res. Oke cukup.

Dalam dunia per-foto-an, momen menarik bisa dikejar, ditunggu, atau bahkan diciptakan. Tapi kau tahu kawan, yang spontan itu lebih memuaskan. Ada masa dimana kita bahagia karena dapat mengungkap sebuah cerita. Terlebih mengabadikan apa yang orang lain tak punya kenangannya. Tak lihat, tak dengar, dan tak rasa. Kepuasan yang sebagian orang menyebutnya "berbangga". Padahal yang semacam itu hanya soal waktu yang berkompromi dengan keberuntungan. Bukan teknik atau jenis kamera yang digunakan.

Dan...
Pada titik itu aku dilema!

Inginnya menangkap peristiwa. Tapi apadaya semua hanya mungkin direkam mata.

Ya, biarkan saja lah. Toh perjalanan sudah terlalu mainstream untuk selalu diabadikan. Biar sesekali otak yang bekerja. Sibuk menyimpan kenangannya.

(NF)

Monday, August 8, 2016

Sehari bersama Alexxx Ari

"Rul, aku pakai motormu aja ya. Aku lupa bawa dompet".

Insiden ketinggalan dompet itu menjadi pembuka obrolan ngalor-ngidul kami. Sepanjang perjalanan menuju Neglawangi.

Namanya, Alexxx Ari. Aslinya Ariyono. Entah bagaimana kisahnya hingga berubah se-macho itu panggilannya. Sosoknya tinggi besar. Template seorang preman. Awal Januari 2016, kala itu. Sebuah komunitas sejarah memertemukan kami di kawasan Braga. Komunitas Aleut!. Komunitas yang mengajak kita menikmati Bandung dengan cara mereka. Cara yang keasyikannya tidak perlu ditanya.

Sumpah! Awal percakapan dengan Alexxx Ari tak berlangsung indah. Tidak, bukan tentang basa basi atau gurauan mencari sensasi. Singkat saja. "Cari aja di KBBI !", katanya. Sewaktu kutanyakan benar tidaknya penulisan kata “konperensi”. Tuhan, sebagai orang Jawa yang perasa, aku sakit hati.

Semenjak kejadian KBBI kala itu, aku sengaja menjaga jarak aman. Alexxx Ari terlihat menyeramkan. Bukan. Mungkin aku saja yang merasa sungkan. Berbincang dengan orang yang melahap buku selayaknya makanan. Namun ketakutan itu memudar perlahan. Perlahan... Seiring semakin seringnya kami berinteraksi di Solontongan.

Maka di sepanjang jalan menuju Neglawangi, tak heran kalau kami bertukar obrolan. Terkadang hal tak pentingpun kami omongkan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Bicara seperlunya. Langsung pada inti. Ia hampir selalu menerangkan posisi keberadaan kami. Jalan apa. Desa apa. Kecamatan apa. Gunung apa. Sungai apa. Bahkan mendetil tentang bagaimana muasalnya. Terkadang saking padatnya yang ia sampaikan, aku hanya menyambung dengan "ya ya ya". Sedang ia terus bercerita.

"Emang harus dijalani, da gimana kalo udah butuh mah". Begitu tanggapannya, ketika kuceritakan hiruk-pikuk kerjaan yang kujalani sekarang. Alexxx Ari sambil berfokus ke jalanan yang mulai menikung naik turun pun mulai berkisah lagi. Sejatinya ia pun tak selalu nyaman dengan pekerjaannya. Bahkan pada awalnya ia tak juga paham pekerjaan macam apa yang sedang ia lamar. Ia hanya mengikuti alur meskipun sempat pula ingin mundur. Tapi toh takdir membuatnya diterima. Membuatnya menjadi seorang pekerja. Berdinas dengan setelan celana kain dan kemeja. Berlama duduk mengamati deretan angka.

Jalanan semakin brutal. Semakin jauh, semakin besar bebatuan yang menggantikan aspal. Kami serombongan telah paham benar bahwa medan kali ini akan memungkinkan motor kami terbanting-banting. Jalanan khas perkebunan teh telah beberapa kali kami lalui, namun yang satu ini berbeda. Telah berkilo-kilo meter kami meninggalkan apa yang layak disebut jalan. Berganti dengan tatanan bebatuan yang menghampar panjang. Bebatuan! Bukan sekedar kerikil dan kerakal. Alexxx Ari dengan segenap konsentrasinya mencoba menjaga keseimbangan. Berkali-kali ku dengar ia mendesis geram ketika motor terantuk batu, atau sekedar menggeleng-gelangkan kepala ketika bebatuan semakin rapat dan tak ada bagian jalan yang lebih baik untuk lewat.

Menjelang maghrib kami masih saja menekuni bebatuan. Beberapa kali aku harus turun karena motor yang oleng atau menanjak. Bayangkan saja, dengan kondisi jalan yang seperti itu kami masih harus menghadapi tanjakan dan turunan. Lalu terasa sesuatu yang berbeda pada motor kami. Alexxx Ari menurunkan kecepatan dan menepi. Benar saja. Ada yang patah pada standard motor kami, membuatnya terseret dan berbunyi. Di daerah entah itu, di pinggir hutan, disaat semesta semakin meredup, Alexxx Ari menghela napas. Terlihat ia sudah jengah dengan jalanan yang entah di mana ujungnya. Jengah dengan bebatuan yang semakin menggila. Namun sepertinya ia cukup sombong untuk mau mengakuinya. Meskipun kami hanya berdua. Kawan di depan kami telah jauh entah sampai di mana. Sedang yang di belakang pun belum terdengar deru motor mereka bersuara.

Hai Alexxx Ari. Sesungguhnya aku tak enak hati. Membiarkanmu berjuang sendiri. Menguras energi dan konsentrasi sedari pagi. Sedang aku hanya bisa duduk dan bersorak menyemangati. Atau sesekali memukul-mukul bahu dan punggungmu demi mengurangi sedikit nyeri.

Bahkan untuk menyerah pun kami tak kuasa. Bukan karena kami sok kuat, tapi memang tak ada pilihan lainnya. Menyerah tidak akan mendatangkan helikopter untuk menjemput, atau truk yang segera mengangkut kami menuju Bandung. Ya, menyerah tidak akan mendatangkan kebaikan apapun. “Ini mah yang disebut mencari kebaikan di antara keburukan”. Alexxx Ari masih sempat berkelakar setelah memutuskan mengikat standard yang patah dengan tali masker yang dipakainya. Ia sejatinya sedang mengendorkan ketegangan yang nyatanya justru semakin menebarkan teror; malam akan segera datang! Sedang perjalanan masih panjang.

Benar saja, gelap semakin pekat. Jarak motor kami jaga rapat. Tak ada lagi istilah saling mendahului. Semua patuh dan semakin cermat memilih bagian jalan untuk dilewati. Jangan dikira perjalanan selanjutnya berjalan mulus. Masih ada saja cerita ban-ban yang bocor, pijakan motor yang patah, atau penutup mesin yang pecah dan harus diikat sehingga kami perlu berhenti dan menunggu. Disela waktu-waktu menunggu itu, masing-masing dari kami (aku yakin) dibuat takjub dengan milyaran bintang yang terhampar. Angkasa seakan lebih megah. Lebih indah. Mungkin Dia sedang menghibur lahir dan batin kami yang sudah sangat lelah...

Lewat tengah malam, terlihat Alexxx Ari semakin gelisah. Berkali-kali ia menanyakan perkara jam. Laju motor pun semakin ia buru. Telebih ketika jalanan berbatu itu telah tersambung ke jalanan aspal yang mulus. Di tengah aktivitas mengebutnya itu ia kembali mengajak bicara. “Setengah empat aku harus masuk kerja”. Gusti, kantukku hilang seketika! Pekerjaan macam apa yang mengharuskan pekerjanya datang bahkan sebelum azan subuh berkumandang?! Lantas tertuturlah sebuah cerita. Tentang hari Senin seorang Alexxx Ari yang lain dibanding yang orang lain punya. Menjadi ujung tombak berjalannya bisnis tempat ia bekerja. Memantau perubahan suatu index atau kurs atau apalah itu yang tiap senin terjadi di sepertiga malam terakhir.

Aku yakin kala itu kantuk pun melanda Alexxx Ari. Aku yakin pula badannya pegal-pegal tak karuan. Mengendarai motor sedari minggu pagi hingga senin dini hari, dengan aku di belakangnya, dengan ratusan kilometer jarak tempuh, dengan puluhan kilo jalanan brutal berbatu lengkap dengan segala cobaan di perjalanan. Tapi Alexxx Ari tetaplah Alexxx Ari. Ketus dia berpamitan, “Rul, hati-hati kalau pulang. Aku duluan.” Iapun berlalu dari Solotongan ketika jam menunjukkan 02.30-an. Wajahnya datar. Tapi aku yakin hati dan pikirannya penuh dengan kekalutan.

Senin, 27 Juni 2016. 03.33 WIB
Message to: Komunitas Aleut!
Lapor. Nyampek. Alhamdulillah... Selamat tiduur.

Leuwigajah 174 masih senyap. Kubiarkan mata ini sebentar terlelap. Maafkan keegoisan pesanku Alexxx Ari, sungguh aku tak bermaksud menyinggung soal kantukmu. Aku tahu, di balik wajah yang terlihat sangar dan tak bersahabat, tersimpan ketulusan dari rasa persaudaraan yang kuat. Terimakasih, Alexxx Ari. Kamu hebat!
(NF)

Friday, July 15, 2016

Tiba giliranmu.

Belum hilang benar letih perjalanan 27jam mudik lebaran dari yogya ke bandung kemarin, namun kali ini aku harus pulang lagi. Harus. Lagi. Tak peduli berapa miligram kafein yang tertelan demi otot dan otak yang tetap singkron. Tuhan, aku harus pulang dengan segenap kewarasan. Untuknya. Yang ada di antara 5 tahun.
.
Ya, di antara 5 tahun itu dia rela menanti. Tumbuh dalam kesendirian. Bermain. Berlari. Berbincang. Sendiri. Lama.
.
Mungkin dahulu di pelataran surga kami pun berlari. Atau sekedar mendaki mencari mentari. Dan tentu saja kamipun saling berjanji. Mengukur waktu yang tepat untuk bertemu kembali. Sesaat ketika putusan Tuhan memilihnya untuk pergi.
.
Dan Tuhan sepakat, 5 tahun. Sungguh aku tak ingat bagaimana dan seperti apa. Tapi mungkin kala itu, bahkan sebelum dapat mengeja kata, aku dapat merasa duka. Duka karena sendiri. Duka karena sepi. Ditinggalkan...
.
Aku yang masih di surga dan ia yang telah tertitah ke alam raya. Satuan jarak apa yang bisa menggambarkan jauhnya? Kiranya serumit itu pula rasa kehilangan itu. Rasa ketakutan itu. Sudah kukatakan, aku lupa. Atau bahkan tak pernah mengingatnya. Karena 5 tahun di bumi hanyalah sekejap mata di surga. 1 hari yang ditukar 1000 tahun bumi. Tuhan yang Maha Baik mungkin merasa iba. Maka ia segera menjejalkanku ke rahim bunda untuk mengejar kepergiannya.
.
Aku tak tahu apa yang menghiburmu di sela 5 tahun itu. Bumi yang lambat dengan putaran waktunya. Maaf telah membuatmu sendiri. Terimakasih untuk kesabaran menanti. Aku datang kala itu. Ingin segera memelukmu. Tapi ternyata raga tak kuasa. Aku menjadi lemah. Aku menjadi payah. Harus tengkurap, merangkak, dan merambat sebelum berlari. Berkata pun tak kuasa. Teriakan rindu hanya berhasil menjadi tangis jerit pilu.
.
.
Kita tahu. Banyak masa. Banyak ruang dan rupa. Kita seakan merajai dunia. Berjalan. Berlari. Bertualang. Sepedaan. Motoran. Tersesat. Takjub. Terobsesi dengan kata "jauh". Terbahak. Tersedan. Menangis. Bergaya hingga mati gaya. Tidur di kasur hingga di tenda. Bercita cita. Dan yang lainnya.
"Aku pilot dan kamu co pilot nya!"
Itu katamu. Itu mantraku.
.
Kini, tiba giliranmu.
Kembali "meninggalkan"ku. Aku takut. Sungguh. Menjadi sendiri lagi. Menjadi sepi lagi. Menjadi yang ditinggalkan lagi.
.
Tapi ternyata,
Kau pergi bukan meninggalkan. Tapi menjemput serpihan rusukmu yang terselip di tubuh seorang perempuan. Membawanya pulang dan menjadikannya kawan. Kawan hidup yang kan ikut menemaniku menjagamu. Menemaniku menyayangimu. Bahkan melebihiku.
.
Dearest; My first best friend. My first boy friend. My pilot. My captain. My one and only brother. Barokalloh. Aku patah hati. Tapi bahagia setengah mati.
.
.
.
Lodaya malam. 13 Juli 2016. 23.44 WIB.
NF

Thursday, May 19, 2016

Warisan Munada

Jumat dinihari di penghujung tahun 1845, pasar Ciguriang di kompleks kepatihan terbakar. Bukan kebakaran biasa, karena ada perencanaan yang tidak sederhana dari persekongkolan yang melibatkan sebuah nama...Munada.
.
.
1989. Di lokasi yang sama, kobaran api menghabiskan bangunan yang menggantikan pasar Ciguriang, pusat belanja King's. 
.
.
1992. Kebakaran kembali menghabiskan bangunan pusat belanja King's yang justru membuatnya dibangun lebih luas setelah kejadian. 
.
.
2014. Media kembali mengabarkan kebakaran di pusat belanja King's. Kebakaran kali ini dikatakan sebagai yang terparah karena perlu 20jam untuk menjinakkan api. 


Bekas Kings Mall yang terbakar mulai dibongkar untuk dibangun kembali 

2016. Pagi di bulan Mei. Bersama Komunitas Aleut mengisahkan kembali huru-hara Munada. Tentang konflik yang terjadi dizamannya. Konflik yang tidak jauh dari seputar harta, tahta, dan wanita. Terlepas dari versi cerita mana yang benar, tapi karenanya Bandung memiliki Pasar Baru yang hingga hari ini menjadi rujukan belanja. Warga lokal maupun mancanegara. Dan ditahun ini bekas bangunan King's kembali diproyekkan. Dihancurkan untuk kembali didirikan.
.
Apa kata Munada?
Ya, apa kata Munada ketika ia tahu pasar yang ia bakar dahulu pun terbakar pula secara berkala di tahun-tahun berikutnya?
Dan apa pula doa Munada di sana, ketika tahun ini bangunan baru akan didirikan kembali di tempat ia dahulu menjalankan aksinya? 
Mungkin dia tersenyum dan berlalu tanpa bicara...
.
.

Tuesday, May 17, 2016

Anyir di Andir

Andir. Sebuah kawasan antara Jl. Sudirman dan Kebon Jati Bandung dengan pasar yang terkenal sebagai tempat kulakan bagi tukang sayur keliling dan banyak rumah makan. Pasar ini mulai menggeliat sedari malam, tepatnya kurang lebih pukul 20an WIB. Jadi, ketika pagi ini saya dan seorang kawan mencoba mengcapture kehidupannya, semua tinggal sisa-sisa...

Kami berjalan, menyusuri jalan becek khas pasar tradisional. Beragam aroma mulai tercium begitu kami masuk area pasar. Sisa sayur yang membusuk, ikan asin, air buangan, dll. Menyatu begitu saja.

Tak terbayang bagaimana jika menjadi bagian dari pasar ini sehari-hari. Bergumul dengan banyak aspek kehidupan. Berkawan dengan banyak macam manusia.

Memborong untuk menjual kembali. Mengambil keuntungan sebagai penghargaan atas usaha bangun pagi dan berjalan mendekati pembeli. Masihkah tega menawar???




 Seberapa banyak yang kita makan? Ternyata lebih banyak yang terbuang.

 Berjualan bukan hanya mencari rejeki, namun juga merekatkan hati.

Rela terhimpit di ruang sempit.


Membiarkan tangan berkerut karena seharian mencuci ikan.

Mungkin jika tak kunjung dibeli, bisa dipakai sendiri.

Tetap berusaha hingga usia tua. Dibanding berleha-leha yang hanya buat pusing kepala.

Pasar selalu bisa memberikan gambaran kehidupan yang lebih hakiki. Tanpa poles sana sini. Interaksi berjalan secara murni. Tak perlu basa basi. Yang modern boleh saja lebih bersih dan wangi, tapi rak-rak yang tinggi dan berderet itu seakan menunjukkan arogansi. Arogansi pemilik yang terus menerus mengumpulkan harta duniawi. Harga pun dipatok tinggi. Bukan untuk memenuhi keutuhan hidup sehari-hari, tapi menimbun pundi-pundi. Sekarang, masihkah kita menyoal gengsi? Demi berbelanja dengan masih ber-hak tinggi? Bebas kesana sini mendorong troli? Tapi diluar sana pasar tradisional semakin sepi. Pedagang banyak menunggu dibanding melayani...

Ya, anyir di Andir memang tak mudah diterima. Tapi disana, banyak manusia yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya. Mulailah membuka mata. Datangi mereka. Sedikit apapun kita berbelanja, mereka tetap menerima dengan bahagia...

Salam,
NF