Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Gaung gaung sunyi

Angin hanya berembus pelan. Tak terdengar suara desiran. Pun goyangan rerumputan. Langkah ini ragu untuk dilanjutkan. Tapi hasrat menyuruh tetap jalan ke depan. Maka kunci itu pelan kumasukkan ke lubang pintu. Agak seret dilapis karat.
Pintu telah sempurna terbuka dan aku tengah berdiri menghadap ruangan hampa. Ada dua lemari dengan cermin di bagian pintunya. Sempurna memantulkan bayangan ruang dengan aku tersorot di salah satu retakannya.


"Dari mana saja dek?" suaranya dingin membuatku seketika bergidik. Mirip sekali dengan suara ibu tiap aku pulang terlampau larut.



Lantas sunyi lagi. Kuputar pandang ke sekitar. Kosong. Akupun melangkah jauh ke dalam. Mengabaikan suara2 entah apa yang seketika diam. Mata begitu tekun menjengkal dinding. Di satu titik ada banyak coretan bekas anak kecil belajar menulis, beberapa tapak tangan bekas si empunya rumah, atau bingkaian foto yang tergantung di dinding.
"Cepat lepas sepatunya, ganti baju, cuci tangan trus makan" lanjut sua…

Apa kabar kau yang dulu?

Sungguh aku ingin ke lantai atas. Menangisi malam yang terlalu sunyi untuk dilewati. Jalanan depan masih ramai. Tapi entah. Kalut sekali pikiran ini.
. Aku nggak suka istrimu posting video2 kamu lagi ngelipet bajulah, lagi tidur lah. Nggak pada tempatnya sosmed buat gituan. Privasi! Harusnya dia tau batas privasi! . Urung. Ketikan kata2 itu akhirnya kuhapus. Ya. Apa hak ku melarangmu. Bahwa hidupmu sekarang tak sepenuhnya milikku. Ya. Apa hak ku melarangmu. Mungkin saja kau justru bahagia dengan semua itu. . Lantas, hai. Apakabar kau yang dulu? Selintas aku teringat terakhir kali kita memadu peluk di depan pusara. Kau tenangkan kalutku. Sempurna menguatkanku. . Kau sibuk sekarang??? Bahkan untuk menyapaku kaupun sering lupa. Padahal dulu setiap pagi kau tawari aku kopi. Ah. Maaf. Aku lupa kau telah ada yang punya. Bahwa sekarang, menyapaku adalah nomor ke tiga. . Bahkan sengaja pernah kudiamkan. Berminggu kabar darimu tak datang. Sampai akhirnya aku bosan. Aku melanggar ngambek yang s…

Orang-orang di jemputan.

"Eh eh eh tau gak sih..." awal kalimat itu yang terlalu sering kudengar. Mengawali pagi dengan bercerita. Banyaknya tentang kehidupan2 orang di sekitar. Tak usah muluk menyoal sifat, bahkan goresan eyeliner yang terlalu tebal pun bisa saja dipergunjingkan.
Jemputan memang menjadi koloni kecil yang memresentasikan sebuah ekosistem. Koloni yang asyik meng-update sosmed. Koloni yang ribut dengan artis korea. Koloni yang hobby belanja. Koloni yang punya taste sosialita. Ah, koloni. Mereka sibuk beramai. Tapi ketika sendiri, mendadak tak punya nyali.
Kursiku berada di baris belakang dari elf merah berkapasitas 20 orang. Dari tempat dudukku, rupa keseharian mereka terekam dengan jelasnya. Siapa2 saja yang datang terlambat. Atau hal sepele tentang siapa duduk di mana. Tak pernah ada aturan baku tentang perkara satu itu, tapi setiap kursi yang ada seperti sudah punya pemilik pribadi.
Suatu pagi obrolan yang terdengar bukan lagi lipstik keluaran terbaru. Atau artis yang mengendorse …

Pa.

Aku sering lupa kalau ternyata kita sudah beda dunia. Sengaja aku selalu datang menjelang petang. Ketika langit berpendar menyalakan malam. Karna kurasa itulah waktu tersyahdu yang bisa kugunakan untuk mengajakmu "bertemu". Heningnya. Semilir anginnya. Temaram senjanya. Sempurna. Aku bisa berlama mengajakmu bercerita. . Selayak sore itu. Kedai bunga di Kota Baru sudah hafal apa yang harus disiapkan ketika aku datang. Sebuket krisan putih tanpa dirangkai. Sesekali aku meminta warna kuning. Biar kamu tak bosan. Terkadang saking baiknya, tukang bunga itu memberikan diskon. Hari itu dia memotong 5000 dari harga asli. Ya. Lumayan. . Hai. Aku pulang lagi. Nampak sisa krisan sebelumnya masih ada. Kerontang dihantam terik setiap hari. Hai. Aku pulang lagi. Rerumputan tampak subur merimbun di gundukan. Biar kucabut sekadar membuat "tempatmu" lebih rapih. Hai. Ya, aku pulang lagi. . "Aku kemarin beli buku2 baru. Lagi diskon di Gramedia. Agak kalap sih. Cuman ya gapapa …

Srikandi Syar'i

All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Taken at Festival Takbir Bantul

Jangan kau tolak Senin.

Aku bersemangat sekali menulis pagi ini! Setelah hampir seminggu tubuh remuk redam. Flu yang berkolaborasi dengan asam lambung yang meninggi sukses menjadikan akhir pekan berantakan. . Kubikel 5x3meter itu sudah terisi tiga orang. Masing2 mengarahkan pandang ke monitor. Bermuka serius. Sepagi ini. . Akupun masuk sambil bersalam. Sempat ber haha hihi menyapa tapi sepertinya memang suasana sedang suram. Mereka menyahut sekenanya. Dan aku merasa diacuhkan dengan sempurna. . Sambil menguap, seorang kawan masuk ruangan. Menarik tuas dispenser dan mengaduk sesuatu di gelasnya. "Senin...saatnya kembali ke realita" katanya. . Tunggu. Kalimat itu cukup lama menggaung di telinga. Terbawa menuju otak dan menuntut pembahasan yang tak biasa. Cukup sibuk otak ini mendudah kumpulan dokumen dan ingatan apapun yang menyangkut "realita". . Sering sudah kudengar perkataan "kembali ke realita". Bukankan itu artinya kembali ke kehidupan nyata. Ke kehidupan yang sebenarnya. L…

Pak Ujang dan rambut-rambut panjang

Aku membayangkan, masa tuaku yang kelak tiba Aku yang menjadi semakin renta Aku yang melemah berkurang daya Aku, yang bisa saja menjadi pelupa atau justru dilupa.
Masih pagi. Pukul tujuh sebentar lagi. Di persimpangan gang itu, riuh orang-orang terburu buru menyiapkan hari. Anak kecil menangis menolak mandi, pekerja kantoran yang sibuk mencari pasangan kaus kaki, atau pedagang bacang yang berteriak mengundang pembeli. Keributan di sana-sini. Tapi pasangan suami istri itu masih saja santai bergurau tentang kucing tetangga yang beranak lagi.
Sudah lebih dari setengah abad usianya. Tapi tanpa bertanya, Kawan bisa salah menduga. Fisiknya masih tegap. Rambut di kepala masih gelap. Bicara pun masih cakap. Dan di pagi itu, dengan setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu, ia telah siap.
Sambil membetulkan letak topi di kepala, ia berpamitan pada istri tercinta. Melangkah meninggalkan rumah seperti pagi-pagi sebelumnya. Menenteng kotak peralatan di boncengan sepeda. Serta sekantong …

Banyak protes kurang progress

Orang-orang tetiba marah.
Memaki ini itu tanpa ku tahu apa yang salah.
Orang-orang tetiba berteriak.
Menyoal banyak hal yang mereka anggap tak layak.
Amarah itu beku
Hanya tersulut aliran darah yang membuatnya sedikit membuncah

Ruang menjadi lengang
Suara menghilang
Aku membisu
Kalau saja isi otak kutumpahkan
Kau kan temui banyak kata umpatan
Dari anjing hingga bajingan
Tapi sempurna ku tahan
Demi apa yang kau sebut sebuah “kewibawaan”

Aku benci jadi pengecut
Berlagak baik-baik saja padahal murka
Tapi,
kalian pun!
Samasaja!
Banyak protes kurang progress!!

Lab QC; 26.08.16; 14.53
(NF)

Dilema Si Pemain Rana

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.
Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.
Dan... Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.
Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.
Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalama…

Sehari bersama Alexxx Ari

"Rul, aku pakai motormu aja ya. Aku lupa bawa dompet".

Insiden ketinggalan dompet itu menjadi pembuka obrolan ngalor-ngidul kami. Sepanjang perjalanan menuju Neglawangi.
Namanya, Alexxx Ari. Aslinya Ariyono. Entah bagaimana kisahnya hingga berubah se-macho itu panggilannya. Sosoknya tinggi besar. Template seorang preman. Awal Januari 2016, kala itu. Sebuah komunitas sejarah memertemukan kami di kawasan Braga. Komunitas Aleut!. Komunitas yang mengajak kita menikmati Bandung dengan cara mereka. Cara yang keasyikannya tidak perlu ditanya.

Sumpah! Awal percakapan dengan Alexxx Ari tak berlangsung indah. Tidak, bukan tentang basa basi atau gurauan mencari sensasi. Singkat saja. "Cari aja di KBBI !", katanya. Sewaktu kutanyakan benar tidaknya penulisan kata “konperensi”. Tuhan, sebagai orang Jawa yang perasa, aku sakit hati.

Semenjak kejadian KBBI kala itu, aku sengaja menjaga jarak aman. Alexxx Ari terlihat menyeramkan. Bukan. Mungkin aku saja yang merasa sungkan. Berb…

Tiba giliranmu.

Belum hilang benar letih perjalanan 27jam mudik lebaran dari yogya ke bandung kemarin, namun kali ini aku harus pulang lagi. Harus. Lagi. Tak peduli berapa miligram kafein yang tertelan demi otot dan otak yang tetap singkron. Tuhan, aku harus pulang dengan segenap kewarasan. Untuknya. Yang ada di antara 5 tahun. . Ya, di antara 5 tahun itu dia rela menanti. Tumbuh dalam kesendirian. Bermain. Berlari. Berbincang. Sendiri. Lama. . Mungkin dahulu di pelataran surga kami pun berlari. Atau sekedar mendaki mencari mentari. Dan tentu saja kamipun saling berjanji. Mengukur waktu yang tepat untuk bertemu kembali. Sesaat ketika putusan Tuhan memilihnya untuk pergi. . Dan Tuhan sepakat, 5 tahun. Sungguh aku tak ingat bagaimana dan seperti apa. Tapi mungkin kala itu, bahkan sebelum dapat mengeja kata, aku dapat merasa duka. Duka karena sendiri. Duka karena sepi. Ditinggalkan... . Aku yang masih di surga dan ia yang telah tertitah ke alam raya. Satuan jarak apa yang bisa menggambarkan jauhnya? Ki…

Warisan Munada

Jumat dinihari di penghujung tahun 1845, pasar Ciguriang di kompleks kepatihan terbakar. Bukan kebakaran biasa, karena ada perencanaan yang tidak sederhana dari persekongkolan yang melibatkan sebuah nama...Munada. . . 1989. Di lokasi yang sama, kobaran api menghabiskan bangunan yang menggantikan pasar Ciguriang, pusat belanja King's.  . . 1992. Kebakaran kembali menghabiskan bangunan pusat belanja King's yang justru membuatnya dibangun lebih luas setelah kejadian.  . . 2014. Media kembali mengabarkan kebakaran di pusat belanja King's. Kebakaran kali ini dikatakan sebagai yang terparah karena perlu 20jam untuk menjinakkan api. 

Bekas Kings Mall yang terbakar mulai dibongkar untuk dibangun kembali 
2016. Pagi di bulan Mei. Bersama Komunitas Aleut mengisahkan kembali huru-hara Munada. Tentang konflik yang terjadi dizamannya. Konflik yang tidak jauh dari seputar harta, tahta, dan wanita. Terlepas dari versi cerita mana yang benar, tapi karenanya Bandung memiliki Pasar Baru yan…

Anyir di Andir

Andir. Sebuah kawasan antara Jl. Sudirman dan Kebon Jati Bandung dengan pasar yang terkenal sebagai tempat kulakan bagi tukang sayur keliling dan banyak rumah makan. Pasar ini mulai menggeliat sedari malam, tepatnya kurang lebih pukul 20an WIB. Jadi, ketika pagi ini saya dan seorang kawan mencoba mengcapture kehidupannya, semua tinggal sisa-sisa...
Kami berjalan, menyusuri jalan becek khas pasar tradisional. Beragam aroma mulai tercium begitu kami masuk area pasar. Sisa sayur yang membusuk, ikan asin, air buangan, dll. Menyatu begitu saja.
Tak terbayang bagaimana jika menjadi bagian dari pasar ini sehari-hari. Bergumul dengan banyak aspek kehidupan. Berkawan dengan banyak macam manusia.
Memborong untuk menjual kembali. Mengambil keuntungan sebagai penghargaan atas usaha bangun pagi dan berjalan mendekati pembeli. Masihkah tega menawar???



 Seberapa banyak yang kita makan? Ternyata lebih banyak yang terbuang.
 Berjualan bukan hanya mencari rejeki, namun juga merekatkan hati.
Rela terhi…