Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, December 12, 2015

The "Magic" smell of Ketan Bakar Bandung

Malam hujan di Bandung. Cimahi tepatnya. Jalanan tergenang air menyebabkan sesekali air terciprat diterjang roda mobil-mobil. Bandung sudah metropolis. Makin banyak halaman rumah yang terparkir mobil-mobil keluaran terbaru. Beragam warnanya.

Bapak itu terduduk disamping gerobak dagangannya. Ketan bakar. Ia tak beraktivitas, hanya sekedar duduk seraya menghangatkan badan di dekat arang yang menyala.

“Sepi Pak?” Sapaku mendekat. Turun dari motor, kulepas helm yang sedaritadi mengamankan kepala dari benturan sekaligus mengamankan diri dari tilangan polisi.

Bapak itu tersenyum, sigap berdiri.
“Hujan Neng, pada malas keluar mungkin” Jawabnya singkat. Reflek beliau meratakan nyala bara apinya.

“Mau dibungkus ya Pak”. Kutarik kursi plastik di depan gerobak yang memang disediakan bagi pelanggan yang ingin menikmati ketan bakar di temat.

Gerobak itu simple. Hanya ada satu kotak besi yang difungsikan sebagai tempat pembakaran. Ketan yang sudah siap dibakar tertata rapi dalam kotak. Begitu juga serundeng kelapa dan sambal oncomnya.

Namanya sebutlah Bapak Dadang, lebih Nyunda kalau dipanggil Mang Dadang. Beliau tinggal di sekotak ruko satu lantai yang dipakainya untuk berbagi tinggal dengan saudaranya. Sudah hampir 5 tahun ia berjualan ketan bakar di Cimahi. Siang dan malam. Bayangkan saja dalam 24 jam seharinya, ia harus berkutat dengan aktivitas bakar membakar lebih dari 12 jam. Pagi hari, ia membawa gerobaknya di depan pasar Baros. Jam 7 hingga jam 12 (an). Lalu ia lanjutkan dari pukul 18 hingga pukul 02 dinihari. Kalau cuaca mendukung, dalam artian Cimahi dalam kondisi dingin, Mang dadang mampu menjual hingga 7kg ketan perhari. Namun ketika sepi, 4kg ketan sudah ia syukuri.

Ketan Bakar adalah makanan tradisional. Tidak hanya di Bandung, di beberapa tempat seperti Jogja juga memiliki sajian dengan konsep yang sama. Menjadi ciri jajanan Bandung karena ketan bakar disajikan tidak hanya dengan serundeng kelapa, tapi juga dengan sambel oncom yang gurih. Saya yakin Anda tertarik. Lewatkan jalan Baros ketika siang hari, dan di dekat gerbang tol Baros ketika malam hari. Ketan bakar hangat yang dijajakan si Mang akan Anda jumpai.



“ini Neng ketannya” Mang Dadang memberikan seporsi ketan bakar yang dibungkus plastik mika pesanan saya.

“Masih 4ribu kan Mang?”

“Iya atuh segituen dari dulu...” Ia tersenyu sambil memberikan kembalian seribu kepadaku.

“Hatur nuhun Mang, abi pulang heula...”

“Mangga Neng hati-hati.”

Sepanjang jalan pulang, tak hanya hujan gerimis. Aroma ketan bakar bercampur serundeng yang dibungkus beralas daun pisang membentuk harmoni wewangian yang sedap.


Selamat Malam Cimahi.

No comments:

Post a Comment