Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, December 6, 2015

Ngaleut !

Hai. Dibandung itu ada yang namanya komunitas Aleut. Aleut itu bahasa sunda yang artinya berjalan beriringan (kata teman saya yang orang sunda). NNah kerennya si komunitas ini, mereka berjalan beriringan untuk mencari situs-situs bersejarah yang ada di bandung. Ngulik-ngulik tempat bersejarah dari yang sudah terkenal sampai yang sudah mau ditergusur.
Honestly, aku belum pernah ikutan event yang diadain komunitas ini. (Tapi asli pengen banget ikutan). But....kalau mencari situs bersejarah di Bandung, proudy I say...sering! Salah satunya ya nyari rumahnya bu Inggit. Bisa baca disini.
Tapi siang itu beda. Selain  panas banget, juga macet. Awalnya cuma mau ke pasar baru cari kain buat kado temen. Pulangnya, biasa lah mblayang dulu. Eh ternyata nemu plang tulisan penjara banceuy. Langsunglah itu motor berbelok dan parkir.
Penjara Banceuy adalah tempat dimana Soekarno ditahan sebelum akhirnya beliau membacakan pledoi terkenanya, Indonesia Menggugat. Di banceuy itulah Pledoi itu ia rumuskan. amun sayangnya, tempat yang sebegitu bersejarahnya, telah tergusur oleh modernitas. Banceuy tinggal nama jalan. Dan hanya menyisakan Sel sang proklamator diapit tingginya gedung perumahan toko.
(Ridwan Kamil, pada awal kepemimpinannya memugar banceuy menjadi lebih enak dilihat. Ia letakkan patung si Bung untuk menegaskan bahwa Banceuy adalah bagian dari sejarah.)

Sayangnya, orang yang diamanahi untuk menjaga "situs"  Banceuy sedang tidak ditempat. Gerbang ditutup dan hanya bisa menyaksikan dari jauh. Tak apa, si Bung pasti tau aku datang. 

Seseorang di emper toko itu bilang, "Coba neng ke belakang, lewat gerbang belakang." Aku turuti saja perkataan orang itu. Berjalan memutar, dan kutemukan realita lain.

(Banceuy dari belakang)

Boleh lah kamu bilang aku berlebihan. Tapi Bandung yang kamu bilang metropolis itu hanya penampakannya saja. Jauuuhhhh di dasar intinya sungguh berbeda. Gedung bertingkat sebagai simbol kemajuan kota, nyatanya tidak semua fungsional. Ketika awal dibangunnya dinilai strategis, banyak orang berbondong menyewa. Setelah sekian lama, dirasa ada yang lebih strategis dan menguntungkan, berbondong pula orang meninggalkan. Menyisakan kompleks pencakar langit yang kosong, jauh dari estetika kota yang modern. Ujung-ujungnya, kalau bangunan itu didiamkan hanya akan berlumut dan menjadi bangunan tua yang akan banyak dicari fotografer untuk mengambil frame vintage.

Sisi lain Bandung bukan hanya dari gedung ruko di sekitar banceuy yang mulai menua, tapi juga dari kehidupan rakyatnya. Betul bahwa index kebahagaan kota tinggi. Angka yang menunjukkan bahwa warga bahagia. Bahkan Pidi Baiq, si Novelis bandung itupun bilang bahwa Tuhan sedang "tersenyum" ketika menciptakan bumi parahyangan ini. Namun, Bandung bukan lagi sekedar deretan distro yang diparkiri mobil-mobil mewah, Bandung bukan sekedar lembang dengan banyak destinsi wisatanya, Bandung juga bukan hanya cafe cafe Braga yang berkelas. Bandung juga adalah gang-gang sempit, adalah juga deretan gerobak Batagor nasi goreng dan kwetiau...
Itulah hiruk pikuk kota. Ketidakseimbangan membuat bumi ini tetap berputar. Tapi dalam ketidakseimbangan itu, ada hati yang harus lebih peka. Bukan mengasihani, tapi untuk lebih bersyukur dengan kehidupan yang Gusti Alloh berikan...

Hatur Nuhun.

No comments:

Post a Comment