Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, December 13, 2015

Disiplin Membaca

Berapa usiamu sekarang? Saya 25. Katakanlah saya mulai suka membaca ketika SMP dan setidaknya dalam dua buan ada satu buku yang selesai saya baca. Harusnya saya sudah kaya dalam hal kosakata dan kebahasaan. Nyatanya tidak, kebahasa indonesiaan saya segini gini saja. Masih banyak kata berbahasa Indonesia yang saya tak tahu artinya apa. Contohnya, saya baru tahu kalau penyelia itu adalah bahasa Indonesia dari supervisor. Bukankah pada kehidupan bermasyarakat, kita lebih familiar dengan istilah supervisor ibandingkan dengan penyelia?

Membaca seharusnya bukan masalah cepat atau lambatnya menyelesaikan sebuah buku. Bukan masalah sejauh mana kita memahami alur cerita (kalau itu novel). Tapi lebih pada mengayakan kosakata. Mengingat kata. Dan memahami isi itu sendiri.


Beberapa hari yang lalu saya terpukau oleh dua orang. Pertama, seorang ibu yang bolehlah dikatakan tergolong pada usia lanjut. Ia asyik membaca sebuah novel ketika menunggu kereta. Berada beberapa bangku di samping kiri belakang sang ibu, saya menjadi sangat jelas mengamati. Sesekali ia tersenyum, mengernyitkan dahi, dan membalik balik lembaran sebelumnya yang mengisyaratkan ia sedang mengonfirmasi sesuatu. Asyik sekali. Dari ibu itu saya belajar bahwa membaca jangan hanya dijadikan hobi, tapi budaya. Hobi hanya akan dilakukan ketika orang itu suka dan siap, tapi budaya akan dilakukan bahkan tanpa si subjek menyadari bahwa ia hobi membaca.



Yang kedua adalah seorang kakek. Kami bertemu di Gramedia. Kakek itu sedang asyik memilih buku di rak buku obral. Ia sibuk membongkar tumpukan buku yang berantakan. Dari balik kacamatanya ia membaca hampir setiap resume di sampul belakang buku yang ia pegang. Selektif. Hingga pada akhirnya ia jatuhkan pilihan pada satu buku biografi seorang jenderal. Dari kakek itu saya belajar, bahwa tidak semua buku layak untuk dibaca. Karena tidak semua penulis buku itu bisa menulis. Buku adalah barang mahal. Bagaimana tidak, 60 ribuan untuk sebuah novel yang akan habis dibaca kurang dari 24 jam. Mahal bukan?


Kakek dan ibu itu, meskipun sudah berusia lanjut namun tetap menajamkan otaknya. Meluaskan pengetahuan dan pola pikirnya. Saya yakin, mereka suka membaca sedari muda. Karenanya hingga usia lanjutpun kegiatan itu masih ringan mereka lakukan. Ituah disiplin membaca versi saya. Disiplin bukan saja melakukan suatu hal secara teratur, tapi tetap melakukan hal tersebut sampai nanti nanti. Tak tahu kapan berhenti.

Hatur Nuhun

No comments:

Post a Comment