Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, December 27, 2015

Bertamu ke rumah Bu Inggit

SIANG ITU TERIK. Namun satu rumah di jalan Inggit Garnasih itu teduh. Dilindungi pohon mangga yang sangat rimbun daunnya. Pantaslah banyak pedagang yang mangkal di depan rumah itu. Gerobak batagor, mie ayam, cireng, bahkan pedagang akik ikut memanfaatkan bayang-bayang pohon mangga itu.



Sepintas rumah itu tak jauh berbeda dengan rumah lainnya. Bandung memang banyak memiliki bangunan kuno. Art deco. Begitu para arsitek bilang. Tanpa bertanya pada orang disekeliling, kuparkirkan saja motorku di deretan gerobak-gerobak tadi. Pintu gerbang terbuka, pertanda siapa saja boleh memasukinya.

Dari arah dalam seseorang menyambutku, tersenyum seraya membukakan pintu utama. Dari nama tag di dadanya aku tahu ia bernama Agus.

Inilah rumah bersejarah itu. Tempat dimana seorang Kusno bertemu cinta pertamanya. Ya, inilah rumah Inggit Garnasih. Rumah pemberian mantan suami Inggit yang dengan ikhlas merelakan Inggit menikah dengan Kusno. Sang proklamator. Presiden pertama negeri ini. Soekarno.


Rumah ini kecil, tapi adem. Bangunannya sangat belanda. Epik. Didalamnya hanya terpajang foto-foto yang mengisahkan perjalanan hidup Inggit garnasih mulai dari kecil hingga ia wafat. Banyak foto bercerita tentang Inggit yang menemani Kusno-nya. Adapula foto pertemuan Inggit dengan Fatmawati. Banyak pula foto mengharukan seperti foto pertemuan Inggit dengan Kusno-nya setelah sekian lama berpisah, dan ketika Inggit menghadiri pemakaman Kusno. Bacalah riwayat Inggit Garnasih, maka kau akan tahu betapa hebatnya perempuan itu.

Pak Agus bercerita, tak banyak orang yang datang ke rumah bersejarah ini. Bahkan pemerintahpun kurang memerhatikan. Biaya untuk perawatan rumah itu datang dari keluarga Ingit. Ya, meskipun Inggit tidak memiliki keturunan, ia pernah mengangkat dua orang anak. Juwami dan Omi. Masih bersumber dari cerita Pak Agus, keluarga sedang mengusulkan Inggit Garnasih sebagai pahlawan. Namun sepertinya masih panjang jalan yang mereka tempuh untuk mewujudkannya. Namun bagi saya, meski tanpa gelar resmi, Inggit adalah seorang pahlawan. Meskipun kiprahnya tak banyak diketahui orang, bahkan tak pernah tersiar, namun berkatnya, seorang Kusno bisa menjadi Soekarno. Sang proklamator.



Tenanglah di barzakh sana bu Inggit... sesekali aku akan datang lagi berkunjung.

No comments:

Post a Comment