Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, December 29, 2015

Just a little agree

For me, it's fine to be different. In any condition. Food, movies, colours, etc. But it's about how we react if something comes and it's not ours.
For example, when I brought a bag. Maybe about a week ago. My friend told me that she dislike every product with that brand. She said the model is too simple, the material is too bad, and the price is too expensive. Bad bag with an expensive prize. I know that she exactly known that my previous bag has the same brand. I was having many bags with that brand. How can she tells me just the way she dislike the brand?
There are so many words to create. So many phrase to say...
So people, it's not about what did you like or dislike. It more than just saying what we are thinking. It's about connecting each others. So please be polite. I don't ask you to lie to your friend, but I order you to react positively.
Bad thing that told by a good word still a bad thing, but if it's told by a bad word then it will be worse thing.
Thankyou for reading. Be nice!


Sunday, December 27, 2015

Bertamu ke rumah Bu Inggit

SIANG ITU TERIK. Namun satu rumah di jalan Inggit Garnasih itu teduh. Dilindungi pohon mangga yang sangat rimbun daunnya. Pantaslah banyak pedagang yang mangkal di depan rumah itu. Gerobak batagor, mie ayam, cireng, bahkan pedagang akik ikut memanfaatkan bayang-bayang pohon mangga itu.



Sepintas rumah itu tak jauh berbeda dengan rumah lainnya. Bandung memang banyak memiliki bangunan kuno. Art deco. Begitu para arsitek bilang. Tanpa bertanya pada orang disekeliling, kuparkirkan saja motorku di deretan gerobak-gerobak tadi. Pintu gerbang terbuka, pertanda siapa saja boleh memasukinya.

Dari arah dalam seseorang menyambutku, tersenyum seraya membukakan pintu utama. Dari nama tag di dadanya aku tahu ia bernama Agus.

Inilah rumah bersejarah itu. Tempat dimana seorang Kusno bertemu cinta pertamanya. Ya, inilah rumah Inggit Garnasih. Rumah pemberian mantan suami Inggit yang dengan ikhlas merelakan Inggit menikah dengan Kusno. Sang proklamator. Presiden pertama negeri ini. Soekarno.


Rumah ini kecil, tapi adem. Bangunannya sangat belanda. Epik. Didalamnya hanya terpajang foto-foto yang mengisahkan perjalanan hidup Inggit garnasih mulai dari kecil hingga ia wafat. Banyak foto bercerita tentang Inggit yang menemani Kusno-nya. Adapula foto pertemuan Inggit dengan Fatmawati. Banyak pula foto mengharukan seperti foto pertemuan Inggit dengan Kusno-nya setelah sekian lama berpisah, dan ketika Inggit menghadiri pemakaman Kusno. Bacalah riwayat Inggit Garnasih, maka kau akan tahu betapa hebatnya perempuan itu.

Pak Agus bercerita, tak banyak orang yang datang ke rumah bersejarah ini. Bahkan pemerintahpun kurang memerhatikan. Biaya untuk perawatan rumah itu datang dari keluarga Ingit. Ya, meskipun Inggit tidak memiliki keturunan, ia pernah mengangkat dua orang anak. Juwami dan Omi. Masih bersumber dari cerita Pak Agus, keluarga sedang mengusulkan Inggit Garnasih sebagai pahlawan. Namun sepertinya masih panjang jalan yang mereka tempuh untuk mewujudkannya. Namun bagi saya, meski tanpa gelar resmi, Inggit adalah seorang pahlawan. Meskipun kiprahnya tak banyak diketahui orang, bahkan tak pernah tersiar, namun berkatnya, seorang Kusno bisa menjadi Soekarno. Sang proklamator.



Tenanglah di barzakh sana bu Inggit... sesekali aku akan datang lagi berkunjung.

Saturday, December 26, 2015

at the end of the day





all pictures are original PHARMATOGRAPHY
Location : Stone garden, Padalarang, West Java

Sunday, December 20, 2015

Bercukuplah


Mr Keating dalam death poet society bilang, naiklah ke tempat yang lebih tinggi maka kau akan temukan cara pandang yang baru. Dan akupun dilantai 4 sekarang. Diterpa angin. Sepoi.

Dari rooftop ini semuanya nampak lain. Pandangan lebih luas. Menjangkau radius yang lebih jauh. Di jalan raya, serombongan anak bersorak riuh ditengah kemacetan. Didalam bak truk berhimpitan. Tapi mereka tetap bahagia. Kelihatannya. Seandainya aku ada dalam bak truk yang sama, mungkin akan terlihat beberapa anak yang mengaduh karena kakinya terinjak temannya. Atau yang cemberut karena jalanan macet. Tapi yang kecil kecil itu tertutup. Tersamarkan dari lantai 4 ini. Pars prototo. Begitu kata majas. Sebagian yang berbahagia, tapi terlihat semuanya bahagia.

Atau pemandangan lain, di depan pelataran masjid. Anak kecil berlarian kesana kemari. Dikejar emaknya yang membawa sepiring nasi. Menyuapi si anak. Atau seorang bapak yang menuntun sepeda menyuruh anaknya belajar mengayuh. Si emak dan si bapak terlihat kepayahan. Namun mereka bahagia. Bertulus hati menyuapi anak. Berbahagia mengajari si anak. Terkadang cara pandang tidak selalu sama dengan apa yang dipandang.

Ya, bahagiapun semacam itu. Hal yang dilihat orang lain menyusahkan. Tapi ketika kita menikmatinya, menyukurinya, semua terasa ringan. Tak perlulah banyak baju untuk membangun persepsi orang bahwa seseorang itu modis, stylish, kaya. Tak perlu pula orang punya banyak rumah, dll. Tuhan tau kebutuhan kita. Kitapun harusnya tahu porsi cukupnyanmasing masing. Jadi ketika kita diberi banyak, berarti saat itulah kita harus mencukupkan yang lain.

Bernafas cukup, minum cukup, makan cukup, bekerja cukup, bermain cukup. Berlebihlah dalam urusan dengan Tuhan, karena Dia yang membuat kita cukup.

Friday, December 18, 2015

Prasangka pagi


Pagi ini di tol. Seorang polisi mengendarai sebuat mobil CRV putih. Dengan kaca pintu tebuka. Sepoi angin pasti membuainya. Nyaman. Mungkin bapak itu pun menyalakan radio atau musik lain dr dashbor mobilnya. Kemudian kepalanya sedikit keluar. Ah mungkin bapak ini ingin lebih menikmati pagi yang masih berkabut di daerah padalarang.

Cuh. Iapun meludah keluar mobil. Aku bisa melihat ludah itu terbawa angin menjau dr si polisi. Semua prasangka baikpun seketika terbang bersama ludah tadi. Ia hanya polisi yang ingin meludah di tol. Bukan polisi yang ingin menikmati pagi berkabut di tol.

Cih !

Thursday, December 17, 2015

Batas Dimensi


Sebuah ruangan berbatas dinding. Sebuah gelas berbatas kaca, atau plastik. Dan hidup ini juga berbatas mati. Ada suatu pembatas antara dua ruangan atau dua dimensi yang membedakan satu dan yang lainnya. Yang membuatnya bisa di sebut di dalam gelas ataupun diluar gelas.

Alloh pun sudah membagi kondisi hidup manusia. Ada 4 "ruangan" yang disediakan. Pertama kita berada di sebuah ruang yang kita sekarang menyebutnya sempit, padahal mungkin dulu kita menganggapnya sangat nyaman. Kandungan. Dulu semua dari kita pernah menghuninya. Tak ada yang masih ingat bagaimana kita hidup disana. Tenggelam dalam air ketuban. Terhubung dengan ibu melalui plasenta. Mungkin dulu kita mencoba berkomunikasi dengan ibu melalui tendangan2 kecil, tonjokan2 dari dalam. Kita tak pernah mengingatnya. Lalu ketika masanya tiba, kita akan dipindahkan ke ruang berikutnya. Dunia. Kita hidup hanya dalam lingkupan bola bernama bumi. Atmosfer sebagai batas pada awalnya, namun dengan berkembangnya pemikiran manusia, kita mampu menembus batas itu. Dan ternyata memang benar, atmosfer hanyalah batas bumi. Bukan batas dimensi. Dunia luas tanpa diketahui batas nyatanya. Tapi yang jelas membatasi adalah, kematian. Ruang setelah kematian dan ruang sebelum kematian adalah dua dimensi yang belum bisa ditembus.

Diantara dua dunia inilah aku merindu. Mencari banyak celah setelah aku kehilanganmu. Berdoa, berusaha menghayal, banyak hal aku lakukan. Tapi sesekali kebaikan tuhan memang nyata ada. Ia tipiskan batas dimensi itu dan mempertemukan dua makhluk dalam dimensi yang berbeda melalui mimpi... Ya sesekali. Ketika rindu membuncahpun, Tuhan tak selalu mengabulkan...

Sunday, December 13, 2015

Disiplin Membaca

Berapa usiamu sekarang? Saya 25. Katakanlah saya mulai suka membaca ketika SMP dan setidaknya dalam dua buan ada satu buku yang selesai saya baca. Harusnya saya sudah kaya dalam hal kosakata dan kebahasaan. Nyatanya tidak, kebahasa indonesiaan saya segini gini saja. Masih banyak kata berbahasa Indonesia yang saya tak tahu artinya apa. Contohnya, saya baru tahu kalau penyelia itu adalah bahasa Indonesia dari supervisor. Bukankah pada kehidupan bermasyarakat, kita lebih familiar dengan istilah supervisor ibandingkan dengan penyelia?

Membaca seharusnya bukan masalah cepat atau lambatnya menyelesaikan sebuah buku. Bukan masalah sejauh mana kita memahami alur cerita (kalau itu novel). Tapi lebih pada mengayakan kosakata. Mengingat kata. Dan memahami isi itu sendiri.


Beberapa hari yang lalu saya terpukau oleh dua orang. Pertama, seorang ibu yang bolehlah dikatakan tergolong pada usia lanjut. Ia asyik membaca sebuah novel ketika menunggu kereta. Berada beberapa bangku di samping kiri belakang sang ibu, saya menjadi sangat jelas mengamati. Sesekali ia tersenyum, mengernyitkan dahi, dan membalik balik lembaran sebelumnya yang mengisyaratkan ia sedang mengonfirmasi sesuatu. Asyik sekali. Dari ibu itu saya belajar bahwa membaca jangan hanya dijadikan hobi, tapi budaya. Hobi hanya akan dilakukan ketika orang itu suka dan siap, tapi budaya akan dilakukan bahkan tanpa si subjek menyadari bahwa ia hobi membaca.



Yang kedua adalah seorang kakek. Kami bertemu di Gramedia. Kakek itu sedang asyik memilih buku di rak buku obral. Ia sibuk membongkar tumpukan buku yang berantakan. Dari balik kacamatanya ia membaca hampir setiap resume di sampul belakang buku yang ia pegang. Selektif. Hingga pada akhirnya ia jatuhkan pilihan pada satu buku biografi seorang jenderal. Dari kakek itu saya belajar, bahwa tidak semua buku layak untuk dibaca. Karena tidak semua penulis buku itu bisa menulis. Buku adalah barang mahal. Bagaimana tidak, 60 ribuan untuk sebuah novel yang akan habis dibaca kurang dari 24 jam. Mahal bukan?


Kakek dan ibu itu, meskipun sudah berusia lanjut namun tetap menajamkan otaknya. Meluaskan pengetahuan dan pola pikirnya. Saya yakin, mereka suka membaca sedari muda. Karenanya hingga usia lanjutpun kegiatan itu masih ringan mereka lakukan. Ituah disiplin membaca versi saya. Disiplin bukan saja melakukan suatu hal secara teratur, tapi tetap melakukan hal tersebut sampai nanti nanti. Tak tahu kapan berhenti.

Hatur Nuhun

Saturday, December 12, 2015

Kaki Kecil

Aku Muslim. Islam. Agamaku mengajarkan umatnya untuk terus berkembang. Berkembang menjadi manusia lebih baik dalam hal apapun. Agamaku mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu, dalam artian mengambil ilmu dari setiap hal yang dijumpai. Agamaku, bukan agama kolot yang menuntut kekunoan. Agamakupun mengajarkan untuk berkelana, menjangkau belahan bumi lainnya...

Al Mulk. Surat Al Qur'an ini semakin meyakinkanku untuk menjelajah. Bukan untuk tamasya belaka, tapi mengambil ilmu dan rejeki dari tempat lain. Pada ayat ke 15, Ia menyeru umatnya...

Dia (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian daripada rezeki-Nya (rezeki Allah). Dan kepada-Nya (kepada Allah) kamu kembali. 

Maka biarkan kaki ini tetap melangkah. Meninggalkan jejak di berbagai belahan dunia atas izinMu...

Thankyou for always stand me up. Terimakasih selalu menopangku.

a day at "Kota Tua"













All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Location : Kota Tua, Jakarta

The "Magic" smell of Ketan Bakar Bandung

Malam hujan di Bandung. Cimahi tepatnya. Jalanan tergenang air menyebabkan sesekali air terciprat diterjang roda mobil-mobil. Bandung sudah metropolis. Makin banyak halaman rumah yang terparkir mobil-mobil keluaran terbaru. Beragam warnanya.

Bapak itu terduduk disamping gerobak dagangannya. Ketan bakar. Ia tak beraktivitas, hanya sekedar duduk seraya menghangatkan badan di dekat arang yang menyala.

“Sepi Pak?” Sapaku mendekat. Turun dari motor, kulepas helm yang sedaritadi mengamankan kepala dari benturan sekaligus mengamankan diri dari tilangan polisi.

Bapak itu tersenyum, sigap berdiri.
“Hujan Neng, pada malas keluar mungkin” Jawabnya singkat. Reflek beliau meratakan nyala bara apinya.

“Mau dibungkus ya Pak”. Kutarik kursi plastik di depan gerobak yang memang disediakan bagi pelanggan yang ingin menikmati ketan bakar di temat.

Gerobak itu simple. Hanya ada satu kotak besi yang difungsikan sebagai tempat pembakaran. Ketan yang sudah siap dibakar tertata rapi dalam kotak. Begitu juga serundeng kelapa dan sambal oncomnya.

Namanya sebutlah Bapak Dadang, lebih Nyunda kalau dipanggil Mang Dadang. Beliau tinggal di sekotak ruko satu lantai yang dipakainya untuk berbagi tinggal dengan saudaranya. Sudah hampir 5 tahun ia berjualan ketan bakar di Cimahi. Siang dan malam. Bayangkan saja dalam 24 jam seharinya, ia harus berkutat dengan aktivitas bakar membakar lebih dari 12 jam. Pagi hari, ia membawa gerobaknya di depan pasar Baros. Jam 7 hingga jam 12 (an). Lalu ia lanjutkan dari pukul 18 hingga pukul 02 dinihari. Kalau cuaca mendukung, dalam artian Cimahi dalam kondisi dingin, Mang dadang mampu menjual hingga 7kg ketan perhari. Namun ketika sepi, 4kg ketan sudah ia syukuri.

Ketan Bakar adalah makanan tradisional. Tidak hanya di Bandung, di beberapa tempat seperti Jogja juga memiliki sajian dengan konsep yang sama. Menjadi ciri jajanan Bandung karena ketan bakar disajikan tidak hanya dengan serundeng kelapa, tapi juga dengan sambel oncom yang gurih. Saya yakin Anda tertarik. Lewatkan jalan Baros ketika siang hari, dan di dekat gerbang tol Baros ketika malam hari. Ketan bakar hangat yang dijajakan si Mang akan Anda jumpai.



“ini Neng ketannya” Mang Dadang memberikan seporsi ketan bakar yang dibungkus plastik mika pesanan saya.

“Masih 4ribu kan Mang?”

“Iya atuh segituen dari dulu...” Ia tersenyu sambil memberikan kembalian seribu kepadaku.

“Hatur nuhun Mang, abi pulang heula...”

“Mangga Neng hati-hati.”

Sepanjang jalan pulang, tak hanya hujan gerimis. Aroma ketan bakar bercampur serundeng yang dibungkus beralas daun pisang membentuk harmoni wewangian yang sedap.


Selamat Malam Cimahi.

Sunday, December 6, 2015

Ngaleut !

Hai. Dibandung itu ada yang namanya komunitas Aleut. Aleut itu bahasa sunda yang artinya berjalan beriringan (kata teman saya yang orang sunda). NNah kerennya si komunitas ini, mereka berjalan beriringan untuk mencari situs-situs bersejarah yang ada di bandung. Ngulik-ngulik tempat bersejarah dari yang sudah terkenal sampai yang sudah mau ditergusur.
Honestly, aku belum pernah ikutan event yang diadain komunitas ini. (Tapi asli pengen banget ikutan). But....kalau mencari situs bersejarah di Bandung, proudy I say...sering! Salah satunya ya nyari rumahnya bu Inggit. Bisa baca disini.
Tapi siang itu beda. Selain  panas banget, juga macet. Awalnya cuma mau ke pasar baru cari kain buat kado temen. Pulangnya, biasa lah mblayang dulu. Eh ternyata nemu plang tulisan penjara banceuy. Langsunglah itu motor berbelok dan parkir.
Penjara Banceuy adalah tempat dimana Soekarno ditahan sebelum akhirnya beliau membacakan pledoi terkenanya, Indonesia Menggugat. Di banceuy itulah Pledoi itu ia rumuskan. amun sayangnya, tempat yang sebegitu bersejarahnya, telah tergusur oleh modernitas. Banceuy tinggal nama jalan. Dan hanya menyisakan Sel sang proklamator diapit tingginya gedung perumahan toko.
(Ridwan Kamil, pada awal kepemimpinannya memugar banceuy menjadi lebih enak dilihat. Ia letakkan patung si Bung untuk menegaskan bahwa Banceuy adalah bagian dari sejarah.)

Sayangnya, orang yang diamanahi untuk menjaga "situs"  Banceuy sedang tidak ditempat. Gerbang ditutup dan hanya bisa menyaksikan dari jauh. Tak apa, si Bung pasti tau aku datang. 

Seseorang di emper toko itu bilang, "Coba neng ke belakang, lewat gerbang belakang." Aku turuti saja perkataan orang itu. Berjalan memutar, dan kutemukan realita lain.

(Banceuy dari belakang)

Boleh lah kamu bilang aku berlebihan. Tapi Bandung yang kamu bilang metropolis itu hanya penampakannya saja. Jauuuhhhh di dasar intinya sungguh berbeda. Gedung bertingkat sebagai simbol kemajuan kota, nyatanya tidak semua fungsional. Ketika awal dibangunnya dinilai strategis, banyak orang berbondong menyewa. Setelah sekian lama, dirasa ada yang lebih strategis dan menguntungkan, berbondong pula orang meninggalkan. Menyisakan kompleks pencakar langit yang kosong, jauh dari estetika kota yang modern. Ujung-ujungnya, kalau bangunan itu didiamkan hanya akan berlumut dan menjadi bangunan tua yang akan banyak dicari fotografer untuk mengambil frame vintage.

Sisi lain Bandung bukan hanya dari gedung ruko di sekitar banceuy yang mulai menua, tapi juga dari kehidupan rakyatnya. Betul bahwa index kebahagaan kota tinggi. Angka yang menunjukkan bahwa warga bahagia. Bahkan Pidi Baiq, si Novelis bandung itupun bilang bahwa Tuhan sedang "tersenyum" ketika menciptakan bumi parahyangan ini. Namun, Bandung bukan lagi sekedar deretan distro yang diparkiri mobil-mobil mewah, Bandung bukan sekedar lembang dengan banyak destinsi wisatanya, Bandung juga bukan hanya cafe cafe Braga yang berkelas. Bandung juga adalah gang-gang sempit, adalah juga deretan gerobak Batagor nasi goreng dan kwetiau...
Itulah hiruk pikuk kota. Ketidakseimbangan membuat bumi ini tetap berputar. Tapi dalam ketidakseimbangan itu, ada hati yang harus lebih peka. Bukan mengasihani, tapi untuk lebih bersyukur dengan kehidupan yang Gusti Alloh berikan...

Hatur Nuhun.