Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, November 14, 2015

PELAYANAN INFORMASI OBAT “PENGHENTIAN HEROIN PADA WANITA HAMIL”


A.   Latar Belakang
Jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari 3,1 - 3,6 juta orang di tahun 2008 menjadi 3,7 - 4,7 juta orang di tahun 2011 dengan 13%nya adalah pengguna heroin (1). Penggunaan heroin, khususnya pada wanita hamil dapat membahayakan baik ibu maupun janinnya (2,3,4,5). Heroin termasuk senyawa lipofilik yang memiliki berat molekul yang kecil sehingga dengan cepat dapat melintasi placenta dan sawar darah otak (2). Opioid (termasuk heroin) dapat melewati placenta dalam waktu kurang dari 60 menit dan withdrawal pada ibu dan janin dapat terjadi pada 6 – 48 jam dari penggunaan terakhir. Withdrawal pada ibu ditandai seperti gejala influenza maupun anoreksia yang berdampak pada terhambatnya perkembangan janin (3), sedangkan janin yang terpapar opioid dalam kandungan 55–94% mengalami tanda withdrawl dan berisiko terkadi Neonatal Abstinence Syndrome (NAS) (2,3,4,6).
Dari latar belakang tersebut, perlu diketahui bagaimana anjuran terapi bagi wanita hamil yang mengalami ketergantungan narkotika (heroin)) yang aman bagi ibu dan bayinya.

B.    Tinjauan Pustaka
Penanganan keterganungan narkotik telah diatur oleh Food and Drug Administration (FDA). Pada ketergantungan jenis opioid (termasuk heroin), FDA sejak tahun 1990 menganjurkan penanganan menggunakan methadone (2,4). Pada tahun 2002, FDA menambahkan strategi terapi menggunakan Buprenorphine (6) dan Naltrexone, serta detoxifikasi opioid (3). Reseptor opioid terletak di CNS sehingga pada kejadian withdrawal akan ditandai degan rangsangan neurologis seperti tremor, cepat marah, kejang, tonus otot meningkat, dll sedangkan disfungsi pencernaan ditandai dengan menurunnya selera makan, diare, muntah, dehidrasi, penurunan berat badan, meningkatnya produksi keringat, demam dll. Tanda withdrawal pada ketergantungan heroin muncul pada kisaran waktu 24 jam (2).
Masing-masing terapi penanganan ketergantungan tersebut memiliki nilai plus dan minus baik bagi ibu maupun janin. Kajian terhadap keamanan penggunaan beberapa obat tersebut dapat dilihat sebagai berikut;

Methadone
Metadon merupakan standar terapi bagi ibu hamil yang mengalami kecanduan opioid (2,3,4,5,6). Penggunaan metadone dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas serta menstabilkan pertumbuhan janin (6), mempertahanan konsentrasi opioid pada ibu dan janin sehingga menurunkan keinginan menggunakan opioid (3), mencegah stres janin, serta mengantisipasi potensi withdrawal pada bayi yang baru lahir (2).
Metabolisme metadon meningkat pada ibu hamil sehingga diperlukan pemantauan gejala withdrawal untuk segera disesuaikan dosisnya (3). Inisial dose yang dianjurkan antara 0,05-1mgkg setiap 6 jam. Semakin tinggi dosis yang digunakan akan semakin meningkatkan potensi terjadinya withdrawal (2).
Kerugian terapi menggunakan metadon antara lain; memiliki potensi menyebabkan NAS (Neonatan Abstinence Syndrom) (5,7,8) yang ditandai dengan hyperirritability sistem saraf pusat, disfungsi sistem saraf otonom, saluran cerna, dan sistem pernafasan (7).

Buprenorphine
Buprenorfin efektif mengatasi ketergantungan opioid dan memiliki risiko overdosis yang lebih rendah dibandingkan metadon (7), merupakan terapi lini pertama pada ketergantungan heroin (2), bayi yang ibunya mendapat terapi buprenorfin terbukti memiliki waktu rawat inap yang lebih singkat, terapi pengatasan NAS lebih singkat, dan membutuhkan dosis komulatif morfin yang lebih rendah (2,6). Bobot bayi yang lahir lebih tinggi dibanding pasien yang menerima metadon (6). Penggunaan buprenorphin sebagai terapi dapat meningkatkan kejadian NAS dan SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) (2,3). Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kejadian NAS, namun buprenorfin dapat menurunkan keparahan NAS serta komplikasinya dibandingkan metaon (6).

Terapi lain
Kombinasi terapi opioid dengan clonidin dapat menurunkan jangka waktu terapi dengan tanpa efek samping kardiovaskular (9).
Terapi non farmakologi untuk menunjang terapi obat dapat dilakukan dengan kontrol waktu tidur dan bangun, mengenali tanda stres, mobiitas, stimulasi sensorik (10).
Naltrexon yang digunakan setelah pemberian inisial dosis buprenrphin diyakini dapat mencegah kekambuhan/ relaps (3) namun penelitian lain menunjukkan efeknya justru akan meningkatkan risiko withrawal (4).

C.    Kesimpulan
-          Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan metadon maupun buprenorfin dalam hal terapi pada wanita hamil yang mengalami kecanduan narkotika.
-          Baik metadon maupun buprenorfin sama-sama berpotensi menyebabkan NAS, meskipun pada buprenorfin lebih minimal.
-          Ada baiknya, disamping terapi obat, pasien juga mendapatkan terapi non obat seperti pelatihan yang terkain motorik, sensorik, pengatasan stres, dll.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Anonim, 2011, Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2011 (Kerugian Sosial dan Ekonomi), Badan Narkotika National Indonesia.
2.       Hudak, M., Tan, R., 2012, Neonatal Drug Withdrawal, Pediatrics DOI:10-1542, American Academi of Pediatric.
3.       Bhuvaneswar, C., Chang, G., Epstein, L., Stern, T., 2008, Cocaine and Opioid Use During Pregnancy: Prevalence and Management, Prim Care Companion J Clin Psychiatry 2008;10(1).
4.       Jones, H., Martin P., Heil, S., Stine, S., Kaltenbach, K., Selby, P., Coyle, M., O’Grady, K., Arria, A., and Fischer, G., 2008, Treatment of Opioid Dependent Pregnant Women: Clinical and Research Issues, Journal of Substance Abuse Treatment 35(3): 245–259.
5.       Brunet, B., Barnes, A., Choo, R., Mura, P., Jones, H., Huestis, M., 2010, Monitoring Pregnant Women’s Illicit Opiate and Cocaine Use With Sweat Testing, Journal of Therapeutic Drug Monitoring 32(1): 40–49.
6.       Pritham, U., Paul, J., Hayes, M., 2012, Opioid Dependency in Pregnancy and Length of Stay for Neonatal Abstinence Syndrome, Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing 41(2): 180–190.
7.       Jones, H., Kaltenbach, K., Heil, S., Stine, S., Coyle, M., Arria, A., O’Grady, K., Selby, P., Martin, P., Fischer, G., 2010, Neonatal Abstinence Syndrome after Methadone or Buprenorphine Exposure, New England Journal of Medicines 363;24.
8.       Velez, M., Jansson, M., 2008, The Opioid dependent mother and newborn dyad: nonpharmacologic care, Journal of Addiction Medicine 1; 2(3): 113–120.

9.       Agthe, A., Kim, G., Mathias,K., Hendrix, C., Valdez, R., Jansson,L., Lewis, T., Yaster, M., and Estelle B., 2009, Clonidine as an Adjunct Therapy to Opioids for Neonatal Abstinence Syndrome: A Randomized, Controlled Trial, Pediatrics DOI: 10.1542, American Academi of Pediatric.

No comments:

Post a Comment