Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Monday, November 30, 2015

Please atulah, be a good traveller !

Hai. Baru kemaren saya posting tentang kebun bunga di "dusun Bambu" Lembang, eh beberapa hari ini ada keributan di sosial media tentang rusaknya sebuah kebun bunga di daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Penyebabnya? Ya apalagi selain hama "selfie" para ABG gahol.
Fenomena sosial sih menurut saya. Yang mana subjeknya ada si pembuat dan si penikmat. Mirip lah kayak resto, ada koki dan ada pembeli. Tapi di kasus ini pembelinya brutal, modal dikit pengen dapetnya yang maksimal. Jadilah kerusakan itu terjadi.
Jadi ceritanya gini, adalah bapak Sukadi yang awalnya iseng nanem bunga Amirilis di pekaragan rumahnya. Bunga jenis ini g keliatan kalau pas musim kemarau, tapi begitu musim hujan tiba..... Look at this...

(Picture by Google)

Macam di Belanda kan? Ya siapa yang g pengen kesana? Siapa pula yang g pengen mengabadikan momen di tempat seperti ini? manusiawi kan ketika datang dan berfoto? TAPI yang terjadi adalah..

(Picture by Google)

mereka datang. Awalnya satu orang. Menyusul puluhan. Kemudian lebih dan lebih banyak lagi. Untuk memenuhi kebutuhan sosial media, memenuhi kebutuhan pose, memenuhi kebutuhan frame di kamera mereka, dengan sadar mereka merusak taman Sukadi. Miris. Mereka yang ber smartphone ternyata tidaklah cukup smart untuk berfikir bahwa yang mereka lakukan adalah perusakan. Bahkan ada di beberpa postingan yang mengatakan bahwa "terserah pengunjung mau berfoto seperti apa, itu hak mereka" atau beranggapan bahwa "dengan membayar 5000 rupiah untuk uang masuk, mereka berhak menikmati kebun bunga itu semaksimal mungkin".

Oh c'mon guys let's be smart!

Di Bandung, banyak juga kebun bunga. Sebut saja di cihideung, begonia, dusun bambu dll. Dan karena semua dikelola pihak swasta untuk urusan komersil jadi semua tetap terpelihara dengan baik. Mungkin itu bedanya dengan taman bapak Sukadi. Walaupun begitu, tetap saja mental si pengunjung juga menentukan. Boleh kok mengexplore sesuatu, tapi harus bener. Yuk ah aku kasih tips buat bisa tetep eksis tapi tetep juga menjaga alam dalam kasus ini kebun bunga.

1.  Ajak temen kamu. Karena susah kalo dilakuin sendiri.
2. Duduklah di pinggir bunga2 yang lagi bermekaran. Dipinggir       ya, bunganya jangan di dudukin.
3. Ambil posisi setengah rebahan. Inget, jangan sampai rebahan.     Cukup dorong badan ke belakang kira2 30-45° lah.
4. Merem. Biar keliatan lagi tiduran.
5. Suruh temen kamu ambil foto dari atas.
6. Ulangi bila perlu.

Serius guys, itu cara ampuh! Liat aja hasilnya di postingan saya sebelumnya tentang dusun bambu. Atau kalau mau liat bedanya...nih.


(Atas: foto dengan merusak. Bawah: foto dengan trik. Hasilnya mirip kan?)

Kecean mana coba? So, travell isn't just about having fun. Tapi tentang sebuah pendewasaan pemikiran dengan cara melihat lebih banyak, mendengar ebih banyak, dan berfikir tentang hal yang lebih banyak... 

Thanks,
Warm Regard.

Saturday, November 14, 2015

PELAYANAN INFORMASI OBAT “PENGHENTIAN HEROIN PADA WANITA HAMIL”


A.   Latar Belakang
Jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari 3,1 - 3,6 juta orang di tahun 2008 menjadi 3,7 - 4,7 juta orang di tahun 2011 dengan 13%nya adalah pengguna heroin (1). Penggunaan heroin, khususnya pada wanita hamil dapat membahayakan baik ibu maupun janinnya (2,3,4,5). Heroin termasuk senyawa lipofilik yang memiliki berat molekul yang kecil sehingga dengan cepat dapat melintasi placenta dan sawar darah otak (2). Opioid (termasuk heroin) dapat melewati placenta dalam waktu kurang dari 60 menit dan withdrawal pada ibu dan janin dapat terjadi pada 6 – 48 jam dari penggunaan terakhir. Withdrawal pada ibu ditandai seperti gejala influenza maupun anoreksia yang berdampak pada terhambatnya perkembangan janin (3), sedangkan janin yang terpapar opioid dalam kandungan 55–94% mengalami tanda withdrawl dan berisiko terkadi Neonatal Abstinence Syndrome (NAS) (2,3,4,6).
Dari latar belakang tersebut, perlu diketahui bagaimana anjuran terapi bagi wanita hamil yang mengalami ketergantungan narkotika (heroin)) yang aman bagi ibu dan bayinya.

B.    Tinjauan Pustaka
Penanganan keterganungan narkotik telah diatur oleh Food and Drug Administration (FDA). Pada ketergantungan jenis opioid (termasuk heroin), FDA sejak tahun 1990 menganjurkan penanganan menggunakan methadone (2,4). Pada tahun 2002, FDA menambahkan strategi terapi menggunakan Buprenorphine (6) dan Naltrexone, serta detoxifikasi opioid (3). Reseptor opioid terletak di CNS sehingga pada kejadian withdrawal akan ditandai degan rangsangan neurologis seperti tremor, cepat marah, kejang, tonus otot meningkat, dll sedangkan disfungsi pencernaan ditandai dengan menurunnya selera makan, diare, muntah, dehidrasi, penurunan berat badan, meningkatnya produksi keringat, demam dll. Tanda withdrawal pada ketergantungan heroin muncul pada kisaran waktu 24 jam (2).
Masing-masing terapi penanganan ketergantungan tersebut memiliki nilai plus dan minus baik bagi ibu maupun janin. Kajian terhadap keamanan penggunaan beberapa obat tersebut dapat dilihat sebagai berikut;

Methadone
Metadon merupakan standar terapi bagi ibu hamil yang mengalami kecanduan opioid (2,3,4,5,6). Penggunaan metadone dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas serta menstabilkan pertumbuhan janin (6), mempertahanan konsentrasi opioid pada ibu dan janin sehingga menurunkan keinginan menggunakan opioid (3), mencegah stres janin, serta mengantisipasi potensi withdrawal pada bayi yang baru lahir (2).
Metabolisme metadon meningkat pada ibu hamil sehingga diperlukan pemantauan gejala withdrawal untuk segera disesuaikan dosisnya (3). Inisial dose yang dianjurkan antara 0,05-1mgkg setiap 6 jam. Semakin tinggi dosis yang digunakan akan semakin meningkatkan potensi terjadinya withdrawal (2).
Kerugian terapi menggunakan metadon antara lain; memiliki potensi menyebabkan NAS (Neonatan Abstinence Syndrom) (5,7,8) yang ditandai dengan hyperirritability sistem saraf pusat, disfungsi sistem saraf otonom, saluran cerna, dan sistem pernafasan (7).

Buprenorphine
Buprenorfin efektif mengatasi ketergantungan opioid dan memiliki risiko overdosis yang lebih rendah dibandingkan metadon (7), merupakan terapi lini pertama pada ketergantungan heroin (2), bayi yang ibunya mendapat terapi buprenorfin terbukti memiliki waktu rawat inap yang lebih singkat, terapi pengatasan NAS lebih singkat, dan membutuhkan dosis komulatif morfin yang lebih rendah (2,6). Bobot bayi yang lahir lebih tinggi dibanding pasien yang menerima metadon (6). Penggunaan buprenorphin sebagai terapi dapat meningkatkan kejadian NAS dan SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) (2,3). Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kejadian NAS, namun buprenorfin dapat menurunkan keparahan NAS serta komplikasinya dibandingkan metaon (6).

Terapi lain
Kombinasi terapi opioid dengan clonidin dapat menurunkan jangka waktu terapi dengan tanpa efek samping kardiovaskular (9).
Terapi non farmakologi untuk menunjang terapi obat dapat dilakukan dengan kontrol waktu tidur dan bangun, mengenali tanda stres, mobiitas, stimulasi sensorik (10).
Naltrexon yang digunakan setelah pemberian inisial dosis buprenrphin diyakini dapat mencegah kekambuhan/ relaps (3) namun penelitian lain menunjukkan efeknya justru akan meningkatkan risiko withrawal (4).

C.    Kesimpulan
-          Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan metadon maupun buprenorfin dalam hal terapi pada wanita hamil yang mengalami kecanduan narkotika.
-          Baik metadon maupun buprenorfin sama-sama berpotensi menyebabkan NAS, meskipun pada buprenorfin lebih minimal.
-          Ada baiknya, disamping terapi obat, pasien juga mendapatkan terapi non obat seperti pelatihan yang terkain motorik, sensorik, pengatasan stres, dll.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Anonim, 2011, Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2011 (Kerugian Sosial dan Ekonomi), Badan Narkotika National Indonesia.
2.       Hudak, M., Tan, R., 2012, Neonatal Drug Withdrawal, Pediatrics DOI:10-1542, American Academi of Pediatric.
3.       Bhuvaneswar, C., Chang, G., Epstein, L., Stern, T., 2008, Cocaine and Opioid Use During Pregnancy: Prevalence and Management, Prim Care Companion J Clin Psychiatry 2008;10(1).
4.       Jones, H., Martin P., Heil, S., Stine, S., Kaltenbach, K., Selby, P., Coyle, M., O’Grady, K., Arria, A., and Fischer, G., 2008, Treatment of Opioid Dependent Pregnant Women: Clinical and Research Issues, Journal of Substance Abuse Treatment 35(3): 245–259.
5.       Brunet, B., Barnes, A., Choo, R., Mura, P., Jones, H., Huestis, M., 2010, Monitoring Pregnant Women’s Illicit Opiate and Cocaine Use With Sweat Testing, Journal of Therapeutic Drug Monitoring 32(1): 40–49.
6.       Pritham, U., Paul, J., Hayes, M., 2012, Opioid Dependency in Pregnancy and Length of Stay for Neonatal Abstinence Syndrome, Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing 41(2): 180–190.
7.       Jones, H., Kaltenbach, K., Heil, S., Stine, S., Coyle, M., Arria, A., O’Grady, K., Selby, P., Martin, P., Fischer, G., 2010, Neonatal Abstinence Syndrome after Methadone or Buprenorphine Exposure, New England Journal of Medicines 363;24.
8.       Velez, M., Jansson, M., 2008, The Opioid dependent mother and newborn dyad: nonpharmacologic care, Journal of Addiction Medicine 1; 2(3): 113–120.

9.       Agthe, A., Kim, G., Mathias,K., Hendrix, C., Valdez, R., Jansson,L., Lewis, T., Yaster, M., and Estelle B., 2009, Clonidine as an Adjunct Therapy to Opioids for Neonatal Abstinence Syndrome: A Randomized, Controlled Trial, Pediatrics DOI: 10.1542, American Academi of Pediatric.

went to Dusun Bambu

Kalau ditanya tempat mana di Bandung yang asyik buat pepotoan di alam, pasti bayak. Tapi kalau ditanya tempat yang banyak bunganya, aku bisa kasih tau salah satunya adalah di Dusun Bambu. Tidak seperti namanya, dusun bambu bukan hamparan kebun yang isinya pohon bambu. Ada sih bambu tapi di pintu masuknya saja... :)
Penasaran?



Pertama datang kita disuruh ngantri, untuk naik semacam angkot yang akan membawa kita ke taman bunga. Bentuk angkotnya akan jadi surprise sendiri buat kamu nanti.

Here is it... some view of Dusun Bambu...





Location : Jl. Kolonel Masturi KM 11, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat 40551
All pictures are original PHARMATOGRAPHY

Monday, November 2, 2015

Watch out your order !

Hiburan malam ini adalah...dikerjain mas2 gigle b*x. Aku kasih tau satu hal guys, good service sebuah resto itu adalah kecakapan pramusaji dalam melayani pesanan konsumen, g peduli sesimpel apapun makanan itu. Ceritanya malam ini di gigle b*x aku cuma pesen yang namanya aglio olio. Dari bersebelas, aku order duluan. Tapi datangnya terakhir. Oke fine, gapapa kalau mas pramusajinya bisa jelasin kenapa itu makanan simple datangnya lama. Masalahnya itu mas cuma senyam senyum aja dan g ada niatan buat menjelaskan. Itu satu. Kedua, ketika semua makanan sudah dateng, dan pesenan aku keluar...dia hanya bawa satu piring tanpa nampan. Oke g masalah mungkin bagi beberapa orang, tapi plis atulah sopan dikit. Menyajikan dengan langsung bawa piringnya untuk sebuah resto semacam gilgle b*x menurut aku tidak sopan. Ketiga, aglio olio yang dateng tanpa diberi sendok dan garpu. Sampai aku bilang ke masnya, ini makanan boleh dimakan?

Sorry to say, menurut aku bukan masalah apa yang pelanggan pesan. Mau itu mahal atau murah. Tapi komitmen untuk menyajikan yang terbaik itu yang perlu di kedepankan. Untuk urusan itu, aku rasa managemen gigle b*x perlu mentraining ulang pramusaji mereka.


Sunday, November 1, 2015

Nge- Budjang di Bandung

Di Bandung itu, kalau anda di tanya "Apa enaknya ngebudjang?" Jawab saja happy happy aja. Apalagi kalau Ngebudjangnya ramean sama yang lain. Jangan salah, di Bandung sekarang ini makin banyak orang suka ngebudjang !



Adalah Baso Boedjangan. Yang mulai ngehits sekitar awal tahun 2015 (entah pastinya kapan). Dulunya cuma ada di Dipati Ukur, tapi sekarang sudah ada 2 cabang lagi (setau saya sih) di Padjajaran dan Cibabat. Urusan rasa, baso ini kaya. Untuk urusan harga, cek aja...


Cukup worth it lah...
So, Why don't u try?