Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, September 11, 2015

Me, Bandung and Bosscha

Hello Mr. Bosscha. Before I live in this city, (the same city that u always fall in love with) I always called your Bosscha name with boss-sya sound.

Let me tell u something Mr. Bosscha.
Bandung is like a dreamland of me. At the old time, I told my friend that one day I'll live here. Here in Bandung. Now I'm here. Breathe it's air everyday inside my lung. Drink it's water everyday. Spend the night, days, weeks, year....here in Bandung. I don't feel any regret being far from home (the most comfortable place in the world) because this is my dreamland...


Don't worry Mr Bosscha, because you are part of my dream. I heard your name since i was a child. I wonder someday I'll come to your place. Not just the observatory, but I'll come to the heart of bosscha. The Malabar tea plant...and your wonderful house...



So, thank you so much for you Mr. Bosscha. Thank you for kept Bandung, thank you for your kindness, thank you for become part of my dream.


Thank you for everything you've done for Bandung...
R.I.P Mr Bosscha.

Idealisme Campuran

Menyoal idealisme tidak selalu berkaitan dengan kepemimpinan, partai atau segala sesuatu yang berbau politik. Idealisme adalah hati nurani. Ketika sesuatu telah ditetapkan menjadi aturan, maka sesuatu itu telah menempati posisi ideal. Maka nantinya tegantung pada subjek dari aturan itu untuk menaati atau mengingkari. Filternya ada pada diri sendiri. Nah, pada filter itulah idealisme mengambil peran. Menarik ulur hati nurani untuk setia pada aturan atau mengingkarinya demi entah apapun itu.
Hari ini tepat setahun saya disumpah atasnama Alloh menjadi seorang apoteker. Apoteker. Profesi yang tidak dipahami oleh semua kalangan. Profesi yang masih penuh dengan konflik kepentingan. Profesi yang menghabiskan banyak biaya studi namun masih berupah minim. Profesi yang memiliki 5 Bab dengan 15 pasal pada kode etiknya. 5 BAB dan 15 pasal itulah idealisme Apoteker. Hati nurani.
Hari ini, pertanyaan besar itu muncul kembali. Pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang senior di dewan legislatif kampus.
Sampai kapankan idealisme yang kalian punya akan bertahan?
Ya. Sampai kapan. Miris memikirkannya. Orang bilang ikuti sistem yang ada baru bisa mengubah. Tapi bukankan itu sama saja membunuh idealisme ketika sistem yang ada tidaklah seideal yang kita inginkan. Orang bilang, cari power (kedudukan) dulu baru kita bisa mengidealkan sistem itu. Semudah itukah mendapatkan power ditengah sistem yang tidak ideal? Jangan-jangan power itupun didapat dengan mengesampingkan idealisme.
Maka asahlah hati nurani itu, kawan. Kita pasti pernah dan sering mengingkarinya. Tapi jangan biarkan ia tumpul dan lambat laun berkarat dan menjadi rombengan. Berdirilah. Berjalanlah. Maju dengan sepenuh hati. Idealis bukan berarti kolot dan tak fleksibel. Idealis versi saya adalah mampu menempatkan diri dengan tetap membawa hati nurani. Memperluas makna dari setiap pasal pada kode etik yang telah menjadi rule model Apoteker di negri ini. Mungkin dengan cara itu, idealisme versi saya tetap terasah. Biarlah si idealis lain menentang. Mengatai itu tetap saja tak sesuai. Aaah topik ini terlalu menyebalkan untuk dibahas.
Sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak manusia lainnya. I hope, that’s the reason why My Lord made me as an Apothecary. Be gratheful. Be meaningful.

Bandung, 11 September 2015