Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, June 21, 2015

Am i weird Dad?

Dad, why i feel different than the others. I dont like party, a lot of people, or something like that. I love being alone. Stuck with a lot of books. Wearing old t shirt and jeans. Dancing with silence, quite, and peace. Feel the wind. Breath the air. Smell the ground. Thats it. Is it weird dad??

Wednesday, June 3, 2015

Surat terbuka untuk Bapak di sana.

Assalamualaikum...Bapak...

Bapak, aku bukan satu2nya orang yang merasa memilikimu pak. Aku baru tahu itu belum lama. Saat banyak orang tetiba kaget seakan tak percaya dengan kabar yang baru saja mereka dengar. Saat tawaku seketika berubah menjadi diam seribu kata. Saat telfon dari kakak telah ditutup dan aku masih saja menekannya erat di telinga. Saat itu, saat Alloh memanggilmu untuk pulang. Pulang kepadaNya. Pemilik kita sesungguhnya.

Bapak, sawah disamping rumah sudah berganti padi lagi. Bukankah  kita sering bercakap disela semilir angin yang mengantukkan. Berapa buku yang kita tuntaskan bersama disana ya Pak? Berapa topik yang pernah kita diskusikan Pak? atau berapa piring mie godhog kesukaan kita yang kita santap habis di malam hari? Aah kita pun sering mesra bercakap tentang bulan yang sedang purnama atau bintang2 yang sedang menampakkan kemegahan langit dengan hamparannya. Bapak ingat suara katak dan jangkrik yang waktu itu? Bapak bilang katak itu predator bagi jangkrik. Tapi di sawah, suara keduanya sangat harmoni. Bahkan diteras itu bapak pernah "memarahi" seorang yang terlambat mengantarku pulang. Ia yang beralasan mengajakku membeli novel yang nyatanya kami juga pergi nonton. Ah Bapak, pria itu sudah entah apa kabarnya. Maaf pak mungkin aku tak pandai "menjaganya". Atau, orang yang kata bapak baik dan bapak menyukainya itu yang justru tak pandai "menjagaku".

Bapak, teras itu akan tetap sama. Berpilar abu2 dan berkeramik hitam. Teduh dibawah bayang2 pohon mangga. Namu semuanya sudah terasa lain pak. Celotehanku tak lagi tersampaikan ke orang yang sama..

Bapak, hari itu akupun pulang. Semua seakan telah terskenario dengan indah. Aku yang memang sedang berada di jalan dengan teman2. Pesawat bandung jogja yang tiba2 ada penerbangan. Ya, akhirnya aku merasakan naik pesawat pak. Setelah mendengar cerita bapak sebelumnya tentang bagaimana rasanya dipesawat dari jakarta ke makkah. Betapa wahainya pak... at the end of ur time, u teach me how to flying high... Bahkan diakhir usiamu pak, engkau masih memberiku ilmu...

Bapak, aku memang menangis. Menanyai Tuhan tentang berbagai kekalutan. Tapi semuanya berakhir pada satu kesimpulan, TUGASMU TELAH SELESAI. Alloh mengutusmu menjadi Bapakku. Bapak yang menuntunku menuju jalan yang seharusnya. Bapak yang membekaliku dengan banyak ilmu dan cerita tentang kehidupan. Bapak yang mengantarku ke sebuah gerbang kehidupan. Ya, hanya mengantar tanpa ikut menikmati kehidupan di dalam gerbang...

Bapak, malam itu aku menemanimu. Disaat banyak orang dirumah sibuk menyiapkan tenda dan banyak hal lainnya. Aku melihatmu sendiri di sudut ruangan. Benar pak, aku pengecut karena tak berani menyingkap kain hijau itu. Aku hanya mampu duduk di sebelahmu. Kita hanya berdua seperti dulu. Ya, persis berdua di ruang tamu.. Aku ingin dengar ceritamu pak. Tentang bagaimana wujud malaikat pencabut nyawa itu. Bagaimana ia datang. Bagaimana ia melakukan tugasnya kepadamu pak. Dulu bapak pernah bercerita semuanya tentang apa yang ada dibuku, samakah itu pak? Ah, aku tau itu mustahil kau ceritakan. Cukuplah aku disampingmu pak..dalam diam pun aku mau pak. Bukankan kita juga sering melakukannya, duduk bersama dalan diam tenggelam  dalam bacaan masing2...

Bapak, banyak sekali orang yang juga sayang padamu. Banyak melebihi perkiraanku. Itu kenyataan yang baru aku tahu. Mereka teman2mu kah? teman yang jadi saudara kah? kenalan darimanakah? sifat pendiammu ternyata disukai olah banyak orang. mereka yang datang bahkan menangis. kenapa pak? aku kira hanya aku yang merasa kehilangan. ternyata banyak sekali orang yang merasakannya juga. aku kira hanya aku yang merasa ditinggalkan. ternyata lebih banyak lagi yang akan merindukanmu pak. ada yang bercerita padaku pak, engkau kawan yang baik. ada pula yang mengatakan, engkau guru yang baik. seseorang lain datang dan bilang engkau sahabatnya yang terbaik. Apa bapak sempat melihat deretan parkir kendaraan mereka? kata tetangga ada banyak mobil motor bahkan bus. Apa bapak melihat siapa saja yang datang? kata tetangga tamu tak terhitung. aku tak sempat melakukan semua pengecekan itu pak. aku hanya ingin khidmat mengantarmu. kekagumanku tentang orang yang menyayangimu bertambah pak, dengan masih ada sajanya tamu yang datang ke rumah. masih saja mereka2 itu menyampaikan rasa belasungkawa meskipun itu sudah 40hari berlalu. aku tak tahu siapa mereka pak, tapi mereka menyayangimu...

Bapak, hari itu kami mengikhlaskanmu. Aku masih ingat bagaimana Bapak diusung menjauh dari rumah. Dibalik kain hijau itu Bapak pasti melihat satu persatu saudara yang datang. Bapak melihat aku tidak? Aku yang berbaju hitam sedang diapit erat oleh mbak nur dan mbak riris. Aku yang mereka sangka akan pingsan ketika kau diberangkatkan. Nyatanya tidak kan Pak? Aku tahu aku kuat pak. Aku tahu kau percaya itu Pak. Maka akupun ikut Bapak. Tepat dibelakang Bapak. Menapaki jalan terakhir kita beriringan. Menuju peristirahatanmu. Ya, aku mengantarmu untuk beristirahat dengan tenang. Menepi dari hingar bingar duniawi. Mendekat...lebih dekat dengan Sang Illahirobbi.

Bapak, selamanya kami menyayangimu. Tak peduli fisikmu telah menjadi satu dengan bumi. Tapi denyut nadimu, nafasmu, serta semangatmu telah tertitiskan pada kami. Anakmu Pak. Tenanglah disana. Di alam yang akupun memercayai itu ada. Tenanglah disana, ditempat yang Alloh sediakan khusus untuk Bapak. Tempat yang aku bayangkan bagai sebuah kamar dengan koleksi buku2 bapak. Dengan sebuah meja dan kursi tempat bapak biasa membaca dan menuliskan materi dakwah. Atau disebuah teras berpilar abu2 dengan lantai keramik hitam yang dinaungi bayang2 pohon mangga. Ditempat yang aku tak tau itu dimana...berbahagialah pak. Berbahagialah melihat aku tumbuh menjaadi perempuan mandiri yang dewasa. Berbahagialah pak... karena kami menyayangimu seutuhnya. Sepenuhnya..

dari anak perempuanmu yang rindu usapan tanganmu di kepala.