Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, December 29, 2015

Just a little agree

For me, it's fine to be different. In any condition. Food, movies, colours, etc. But it's about how we react if something comes and it's not ours.
For example, when I brought a bag. Maybe about a week ago. My friend told me that she dislike every product with that brand. She said the model is too simple, the material is too bad, and the price is too expensive. Bad bag with an expensive prize. I know that she exactly known that my previous bag has the same brand. I was having many bags with that brand. How can she tells me just the way she dislike the brand?
There are so many words to create. So many phrase to say...
So people, it's not about what did you like or dislike. It more than just saying what we are thinking. It's about connecting each others. So please be polite. I don't ask you to lie to your friend, but I order you to react positively.
Bad thing that told by a good word still a bad thing, but if it's told by a bad word then it will be worse thing.
Thankyou for reading. Be nice!


Sunday, December 27, 2015

Bertamu ke rumah Bu Inggit

SIANG ITU TERIK. Namun satu rumah di jalan Inggit Garnasih itu teduh. Dilindungi pohon mangga yang sangat rimbun daunnya. Pantaslah banyak pedagang yang mangkal di depan rumah itu. Gerobak batagor, mie ayam, cireng, bahkan pedagang akik ikut memanfaatkan bayang-bayang pohon mangga itu.



Sepintas rumah itu tak jauh berbeda dengan rumah lainnya. Bandung memang banyak memiliki bangunan kuno. Art deco. Begitu para arsitek bilang. Tanpa bertanya pada orang disekeliling, kuparkirkan saja motorku di deretan gerobak-gerobak tadi. Pintu gerbang terbuka, pertanda siapa saja boleh memasukinya.

Dari arah dalam seseorang menyambutku, tersenyum seraya membukakan pintu utama. Dari nama tag di dadanya aku tahu ia bernama Agus.

Inilah rumah bersejarah itu. Tempat dimana seorang Kusno bertemu cinta pertamanya. Ya, inilah rumah Inggit Garnasih. Rumah pemberian mantan suami Inggit yang dengan ikhlas merelakan Inggit menikah dengan Kusno. Sang proklamator. Presiden pertama negeri ini. Soekarno.


Rumah ini kecil, tapi adem. Bangunannya sangat belanda. Epik. Didalamnya hanya terpajang foto-foto yang mengisahkan perjalanan hidup Inggit garnasih mulai dari kecil hingga ia wafat. Banyak foto bercerita tentang Inggit yang menemani Kusno-nya. Adapula foto pertemuan Inggit dengan Fatmawati. Banyak pula foto mengharukan seperti foto pertemuan Inggit dengan Kusno-nya setelah sekian lama berpisah, dan ketika Inggit menghadiri pemakaman Kusno. Bacalah riwayat Inggit Garnasih, maka kau akan tahu betapa hebatnya perempuan itu.

Pak Agus bercerita, tak banyak orang yang datang ke rumah bersejarah ini. Bahkan pemerintahpun kurang memerhatikan. Biaya untuk perawatan rumah itu datang dari keluarga Ingit. Ya, meskipun Inggit tidak memiliki keturunan, ia pernah mengangkat dua orang anak. Juwami dan Omi. Masih bersumber dari cerita Pak Agus, keluarga sedang mengusulkan Inggit Garnasih sebagai pahlawan. Namun sepertinya masih panjang jalan yang mereka tempuh untuk mewujudkannya. Namun bagi saya, meski tanpa gelar resmi, Inggit adalah seorang pahlawan. Meskipun kiprahnya tak banyak diketahui orang, bahkan tak pernah tersiar, namun berkatnya, seorang Kusno bisa menjadi Soekarno. Sang proklamator.



Tenanglah di barzakh sana bu Inggit... sesekali aku akan datang lagi berkunjung.

Saturday, December 26, 2015

at the end of the day





all pictures are original PHARMATOGRAPHY
Location : Stone garden, Padalarang, West Java

Sunday, December 20, 2015

Bercukuplah


Mr Keating dalam death poet society bilang, naiklah ke tempat yang lebih tinggi maka kau akan temukan cara pandang yang baru. Dan akupun dilantai 4 sekarang. Diterpa angin. Sepoi.

Dari rooftop ini semuanya nampak lain. Pandangan lebih luas. Menjangkau radius yang lebih jauh. Di jalan raya, serombongan anak bersorak riuh ditengah kemacetan. Didalam bak truk berhimpitan. Tapi mereka tetap bahagia. Kelihatannya. Seandainya aku ada dalam bak truk yang sama, mungkin akan terlihat beberapa anak yang mengaduh karena kakinya terinjak temannya. Atau yang cemberut karena jalanan macet. Tapi yang kecil kecil itu tertutup. Tersamarkan dari lantai 4 ini. Pars prototo. Begitu kata majas. Sebagian yang berbahagia, tapi terlihat semuanya bahagia.

Atau pemandangan lain, di depan pelataran masjid. Anak kecil berlarian kesana kemari. Dikejar emaknya yang membawa sepiring nasi. Menyuapi si anak. Atau seorang bapak yang menuntun sepeda menyuruh anaknya belajar mengayuh. Si emak dan si bapak terlihat kepayahan. Namun mereka bahagia. Bertulus hati menyuapi anak. Berbahagia mengajari si anak. Terkadang cara pandang tidak selalu sama dengan apa yang dipandang.

Ya, bahagiapun semacam itu. Hal yang dilihat orang lain menyusahkan. Tapi ketika kita menikmatinya, menyukurinya, semua terasa ringan. Tak perlulah banyak baju untuk membangun persepsi orang bahwa seseorang itu modis, stylish, kaya. Tak perlu pula orang punya banyak rumah, dll. Tuhan tau kebutuhan kita. Kitapun harusnya tahu porsi cukupnyanmasing masing. Jadi ketika kita diberi banyak, berarti saat itulah kita harus mencukupkan yang lain.

Bernafas cukup, minum cukup, makan cukup, bekerja cukup, bermain cukup. Berlebihlah dalam urusan dengan Tuhan, karena Dia yang membuat kita cukup.

Friday, December 18, 2015

Prasangka pagi


Pagi ini di tol. Seorang polisi mengendarai sebuat mobil CRV putih. Dengan kaca pintu tebuka. Sepoi angin pasti membuainya. Nyaman. Mungkin bapak itu pun menyalakan radio atau musik lain dr dashbor mobilnya. Kemudian kepalanya sedikit keluar. Ah mungkin bapak ini ingin lebih menikmati pagi yang masih berkabut di daerah padalarang.

Cuh. Iapun meludah keluar mobil. Aku bisa melihat ludah itu terbawa angin menjau dr si polisi. Semua prasangka baikpun seketika terbang bersama ludah tadi. Ia hanya polisi yang ingin meludah di tol. Bukan polisi yang ingin menikmati pagi berkabut di tol.

Cih !

Thursday, December 17, 2015

Batas Dimensi


Sebuah ruangan berbatas dinding. Sebuah gelas berbatas kaca, atau plastik. Dan hidup ini juga berbatas mati. Ada suatu pembatas antara dua ruangan atau dua dimensi yang membedakan satu dan yang lainnya. Yang membuatnya bisa di sebut di dalam gelas ataupun diluar gelas.

Alloh pun sudah membagi kondisi hidup manusia. Ada 4 "ruangan" yang disediakan. Pertama kita berada di sebuah ruang yang kita sekarang menyebutnya sempit, padahal mungkin dulu kita menganggapnya sangat nyaman. Kandungan. Dulu semua dari kita pernah menghuninya. Tak ada yang masih ingat bagaimana kita hidup disana. Tenggelam dalam air ketuban. Terhubung dengan ibu melalui plasenta. Mungkin dulu kita mencoba berkomunikasi dengan ibu melalui tendangan2 kecil, tonjokan2 dari dalam. Kita tak pernah mengingatnya. Lalu ketika masanya tiba, kita akan dipindahkan ke ruang berikutnya. Dunia. Kita hidup hanya dalam lingkupan bola bernama bumi. Atmosfer sebagai batas pada awalnya, namun dengan berkembangnya pemikiran manusia, kita mampu menembus batas itu. Dan ternyata memang benar, atmosfer hanyalah batas bumi. Bukan batas dimensi. Dunia luas tanpa diketahui batas nyatanya. Tapi yang jelas membatasi adalah, kematian. Ruang setelah kematian dan ruang sebelum kematian adalah dua dimensi yang belum bisa ditembus.

Diantara dua dunia inilah aku merindu. Mencari banyak celah setelah aku kehilanganmu. Berdoa, berusaha menghayal, banyak hal aku lakukan. Tapi sesekali kebaikan tuhan memang nyata ada. Ia tipiskan batas dimensi itu dan mempertemukan dua makhluk dalam dimensi yang berbeda melalui mimpi... Ya sesekali. Ketika rindu membuncahpun, Tuhan tak selalu mengabulkan...

Sunday, December 13, 2015

Disiplin Membaca

Berapa usiamu sekarang? Saya 25. Katakanlah saya mulai suka membaca ketika SMP dan setidaknya dalam dua buan ada satu buku yang selesai saya baca. Harusnya saya sudah kaya dalam hal kosakata dan kebahasaan. Nyatanya tidak, kebahasa indonesiaan saya segini gini saja. Masih banyak kata berbahasa Indonesia yang saya tak tahu artinya apa. Contohnya, saya baru tahu kalau penyelia itu adalah bahasa Indonesia dari supervisor. Bukankah pada kehidupan bermasyarakat, kita lebih familiar dengan istilah supervisor ibandingkan dengan penyelia?

Membaca seharusnya bukan masalah cepat atau lambatnya menyelesaikan sebuah buku. Bukan masalah sejauh mana kita memahami alur cerita (kalau itu novel). Tapi lebih pada mengayakan kosakata. Mengingat kata. Dan memahami isi itu sendiri.


Beberapa hari yang lalu saya terpukau oleh dua orang. Pertama, seorang ibu yang bolehlah dikatakan tergolong pada usia lanjut. Ia asyik membaca sebuah novel ketika menunggu kereta. Berada beberapa bangku di samping kiri belakang sang ibu, saya menjadi sangat jelas mengamati. Sesekali ia tersenyum, mengernyitkan dahi, dan membalik balik lembaran sebelumnya yang mengisyaratkan ia sedang mengonfirmasi sesuatu. Asyik sekali. Dari ibu itu saya belajar bahwa membaca jangan hanya dijadikan hobi, tapi budaya. Hobi hanya akan dilakukan ketika orang itu suka dan siap, tapi budaya akan dilakukan bahkan tanpa si subjek menyadari bahwa ia hobi membaca.



Yang kedua adalah seorang kakek. Kami bertemu di Gramedia. Kakek itu sedang asyik memilih buku di rak buku obral. Ia sibuk membongkar tumpukan buku yang berantakan. Dari balik kacamatanya ia membaca hampir setiap resume di sampul belakang buku yang ia pegang. Selektif. Hingga pada akhirnya ia jatuhkan pilihan pada satu buku biografi seorang jenderal. Dari kakek itu saya belajar, bahwa tidak semua buku layak untuk dibaca. Karena tidak semua penulis buku itu bisa menulis. Buku adalah barang mahal. Bagaimana tidak, 60 ribuan untuk sebuah novel yang akan habis dibaca kurang dari 24 jam. Mahal bukan?


Kakek dan ibu itu, meskipun sudah berusia lanjut namun tetap menajamkan otaknya. Meluaskan pengetahuan dan pola pikirnya. Saya yakin, mereka suka membaca sedari muda. Karenanya hingga usia lanjutpun kegiatan itu masih ringan mereka lakukan. Ituah disiplin membaca versi saya. Disiplin bukan saja melakukan suatu hal secara teratur, tapi tetap melakukan hal tersebut sampai nanti nanti. Tak tahu kapan berhenti.

Hatur Nuhun

Saturday, December 12, 2015

Kaki Kecil

Aku Muslim. Islam. Agamaku mengajarkan umatnya untuk terus berkembang. Berkembang menjadi manusia lebih baik dalam hal apapun. Agamaku mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu, dalam artian mengambil ilmu dari setiap hal yang dijumpai. Agamaku, bukan agama kolot yang menuntut kekunoan. Agamakupun mengajarkan untuk berkelana, menjangkau belahan bumi lainnya...

Al Mulk. Surat Al Qur'an ini semakin meyakinkanku untuk menjelajah. Bukan untuk tamasya belaka, tapi mengambil ilmu dan rejeki dari tempat lain. Pada ayat ke 15, Ia menyeru umatnya...

Dia (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian daripada rezeki-Nya (rezeki Allah). Dan kepada-Nya (kepada Allah) kamu kembali. 

Maka biarkan kaki ini tetap melangkah. Meninggalkan jejak di berbagai belahan dunia atas izinMu...

Thankyou for always stand me up. Terimakasih selalu menopangku.

a day at "Kota Tua"













All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Location : Kota Tua, Jakarta

The "Magic" smell of Ketan Bakar Bandung

Malam hujan di Bandung. Cimahi tepatnya. Jalanan tergenang air menyebabkan sesekali air terciprat diterjang roda mobil-mobil. Bandung sudah metropolis. Makin banyak halaman rumah yang terparkir mobil-mobil keluaran terbaru. Beragam warnanya.

Bapak itu terduduk disamping gerobak dagangannya. Ketan bakar. Ia tak beraktivitas, hanya sekedar duduk seraya menghangatkan badan di dekat arang yang menyala.

“Sepi Pak?” Sapaku mendekat. Turun dari motor, kulepas helm yang sedaritadi mengamankan kepala dari benturan sekaligus mengamankan diri dari tilangan polisi.

Bapak itu tersenyum, sigap berdiri.
“Hujan Neng, pada malas keluar mungkin” Jawabnya singkat. Reflek beliau meratakan nyala bara apinya.

“Mau dibungkus ya Pak”. Kutarik kursi plastik di depan gerobak yang memang disediakan bagi pelanggan yang ingin menikmati ketan bakar di temat.

Gerobak itu simple. Hanya ada satu kotak besi yang difungsikan sebagai tempat pembakaran. Ketan yang sudah siap dibakar tertata rapi dalam kotak. Begitu juga serundeng kelapa dan sambal oncomnya.

Namanya sebutlah Bapak Dadang, lebih Nyunda kalau dipanggil Mang Dadang. Beliau tinggal di sekotak ruko satu lantai yang dipakainya untuk berbagi tinggal dengan saudaranya. Sudah hampir 5 tahun ia berjualan ketan bakar di Cimahi. Siang dan malam. Bayangkan saja dalam 24 jam seharinya, ia harus berkutat dengan aktivitas bakar membakar lebih dari 12 jam. Pagi hari, ia membawa gerobaknya di depan pasar Baros. Jam 7 hingga jam 12 (an). Lalu ia lanjutkan dari pukul 18 hingga pukul 02 dinihari. Kalau cuaca mendukung, dalam artian Cimahi dalam kondisi dingin, Mang dadang mampu menjual hingga 7kg ketan perhari. Namun ketika sepi, 4kg ketan sudah ia syukuri.

Ketan Bakar adalah makanan tradisional. Tidak hanya di Bandung, di beberapa tempat seperti Jogja juga memiliki sajian dengan konsep yang sama. Menjadi ciri jajanan Bandung karena ketan bakar disajikan tidak hanya dengan serundeng kelapa, tapi juga dengan sambel oncom yang gurih. Saya yakin Anda tertarik. Lewatkan jalan Baros ketika siang hari, dan di dekat gerbang tol Baros ketika malam hari. Ketan bakar hangat yang dijajakan si Mang akan Anda jumpai.



“ini Neng ketannya” Mang Dadang memberikan seporsi ketan bakar yang dibungkus plastik mika pesanan saya.

“Masih 4ribu kan Mang?”

“Iya atuh segituen dari dulu...” Ia tersenyu sambil memberikan kembalian seribu kepadaku.

“Hatur nuhun Mang, abi pulang heula...”

“Mangga Neng hati-hati.”

Sepanjang jalan pulang, tak hanya hujan gerimis. Aroma ketan bakar bercampur serundeng yang dibungkus beralas daun pisang membentuk harmoni wewangian yang sedap.


Selamat Malam Cimahi.

Sunday, December 6, 2015

Ngaleut !

Hai. Dibandung itu ada yang namanya komunitas Aleut. Aleut itu bahasa sunda yang artinya berjalan beriringan (kata teman saya yang orang sunda). NNah kerennya si komunitas ini, mereka berjalan beriringan untuk mencari situs-situs bersejarah yang ada di bandung. Ngulik-ngulik tempat bersejarah dari yang sudah terkenal sampai yang sudah mau ditergusur.
Honestly, aku belum pernah ikutan event yang diadain komunitas ini. (Tapi asli pengen banget ikutan). But....kalau mencari situs bersejarah di Bandung, proudy I say...sering! Salah satunya ya nyari rumahnya bu Inggit. Bisa baca disini.
Tapi siang itu beda. Selain  panas banget, juga macet. Awalnya cuma mau ke pasar baru cari kain buat kado temen. Pulangnya, biasa lah mblayang dulu. Eh ternyata nemu plang tulisan penjara banceuy. Langsunglah itu motor berbelok dan parkir.
Penjara Banceuy adalah tempat dimana Soekarno ditahan sebelum akhirnya beliau membacakan pledoi terkenanya, Indonesia Menggugat. Di banceuy itulah Pledoi itu ia rumuskan. amun sayangnya, tempat yang sebegitu bersejarahnya, telah tergusur oleh modernitas. Banceuy tinggal nama jalan. Dan hanya menyisakan Sel sang proklamator diapit tingginya gedung perumahan toko.
(Ridwan Kamil, pada awal kepemimpinannya memugar banceuy menjadi lebih enak dilihat. Ia letakkan patung si Bung untuk menegaskan bahwa Banceuy adalah bagian dari sejarah.)

Sayangnya, orang yang diamanahi untuk menjaga "situs"  Banceuy sedang tidak ditempat. Gerbang ditutup dan hanya bisa menyaksikan dari jauh. Tak apa, si Bung pasti tau aku datang. 

Seseorang di emper toko itu bilang, "Coba neng ke belakang, lewat gerbang belakang." Aku turuti saja perkataan orang itu. Berjalan memutar, dan kutemukan realita lain.

(Banceuy dari belakang)

Boleh lah kamu bilang aku berlebihan. Tapi Bandung yang kamu bilang metropolis itu hanya penampakannya saja. Jauuuhhhh di dasar intinya sungguh berbeda. Gedung bertingkat sebagai simbol kemajuan kota, nyatanya tidak semua fungsional. Ketika awal dibangunnya dinilai strategis, banyak orang berbondong menyewa. Setelah sekian lama, dirasa ada yang lebih strategis dan menguntungkan, berbondong pula orang meninggalkan. Menyisakan kompleks pencakar langit yang kosong, jauh dari estetika kota yang modern. Ujung-ujungnya, kalau bangunan itu didiamkan hanya akan berlumut dan menjadi bangunan tua yang akan banyak dicari fotografer untuk mengambil frame vintage.

Sisi lain Bandung bukan hanya dari gedung ruko di sekitar banceuy yang mulai menua, tapi juga dari kehidupan rakyatnya. Betul bahwa index kebahagaan kota tinggi. Angka yang menunjukkan bahwa warga bahagia. Bahkan Pidi Baiq, si Novelis bandung itupun bilang bahwa Tuhan sedang "tersenyum" ketika menciptakan bumi parahyangan ini. Namun, Bandung bukan lagi sekedar deretan distro yang diparkiri mobil-mobil mewah, Bandung bukan sekedar lembang dengan banyak destinsi wisatanya, Bandung juga bukan hanya cafe cafe Braga yang berkelas. Bandung juga adalah gang-gang sempit, adalah juga deretan gerobak Batagor nasi goreng dan kwetiau...
Itulah hiruk pikuk kota. Ketidakseimbangan membuat bumi ini tetap berputar. Tapi dalam ketidakseimbangan itu, ada hati yang harus lebih peka. Bukan mengasihani, tapi untuk lebih bersyukur dengan kehidupan yang Gusti Alloh berikan...

Hatur Nuhun.

Monday, November 30, 2015

Please atulah, be a good traveller !

Hai. Baru kemaren saya posting tentang kebun bunga di "dusun Bambu" Lembang, eh beberapa hari ini ada keributan di sosial media tentang rusaknya sebuah kebun bunga di daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Penyebabnya? Ya apalagi selain hama "selfie" para ABG gahol.
Fenomena sosial sih menurut saya. Yang mana subjeknya ada si pembuat dan si penikmat. Mirip lah kayak resto, ada koki dan ada pembeli. Tapi di kasus ini pembelinya brutal, modal dikit pengen dapetnya yang maksimal. Jadilah kerusakan itu terjadi.
Jadi ceritanya gini, adalah bapak Sukadi yang awalnya iseng nanem bunga Amirilis di pekaragan rumahnya. Bunga jenis ini g keliatan kalau pas musim kemarau, tapi begitu musim hujan tiba..... Look at this...

(Picture by Google)

Macam di Belanda kan? Ya siapa yang g pengen kesana? Siapa pula yang g pengen mengabadikan momen di tempat seperti ini? manusiawi kan ketika datang dan berfoto? TAPI yang terjadi adalah..

(Picture by Google)

mereka datang. Awalnya satu orang. Menyusul puluhan. Kemudian lebih dan lebih banyak lagi. Untuk memenuhi kebutuhan sosial media, memenuhi kebutuhan pose, memenuhi kebutuhan frame di kamera mereka, dengan sadar mereka merusak taman Sukadi. Miris. Mereka yang ber smartphone ternyata tidaklah cukup smart untuk berfikir bahwa yang mereka lakukan adalah perusakan. Bahkan ada di beberpa postingan yang mengatakan bahwa "terserah pengunjung mau berfoto seperti apa, itu hak mereka" atau beranggapan bahwa "dengan membayar 5000 rupiah untuk uang masuk, mereka berhak menikmati kebun bunga itu semaksimal mungkin".

Oh c'mon guys let's be smart!

Di Bandung, banyak juga kebun bunga. Sebut saja di cihideung, begonia, dusun bambu dll. Dan karena semua dikelola pihak swasta untuk urusan komersil jadi semua tetap terpelihara dengan baik. Mungkin itu bedanya dengan taman bapak Sukadi. Walaupun begitu, tetap saja mental si pengunjung juga menentukan. Boleh kok mengexplore sesuatu, tapi harus bener. Yuk ah aku kasih tips buat bisa tetep eksis tapi tetep juga menjaga alam dalam kasus ini kebun bunga.

1.  Ajak temen kamu. Karena susah kalo dilakuin sendiri.
2. Duduklah di pinggir bunga2 yang lagi bermekaran. Dipinggir       ya, bunganya jangan di dudukin.
3. Ambil posisi setengah rebahan. Inget, jangan sampai rebahan.     Cukup dorong badan ke belakang kira2 30-45° lah.
4. Merem. Biar keliatan lagi tiduran.
5. Suruh temen kamu ambil foto dari atas.
6. Ulangi bila perlu.

Serius guys, itu cara ampuh! Liat aja hasilnya di postingan saya sebelumnya tentang dusun bambu. Atau kalau mau liat bedanya...nih.


(Atas: foto dengan merusak. Bawah: foto dengan trik. Hasilnya mirip kan?)

Kecean mana coba? So, travell isn't just about having fun. Tapi tentang sebuah pendewasaan pemikiran dengan cara melihat lebih banyak, mendengar ebih banyak, dan berfikir tentang hal yang lebih banyak... 

Thanks,
Warm Regard.

Saturday, November 14, 2015

PELAYANAN INFORMASI OBAT “PENGHENTIAN HEROIN PADA WANITA HAMIL”


A.   Latar Belakang
Jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari 3,1 - 3,6 juta orang di tahun 2008 menjadi 3,7 - 4,7 juta orang di tahun 2011 dengan 13%nya adalah pengguna heroin (1). Penggunaan heroin, khususnya pada wanita hamil dapat membahayakan baik ibu maupun janinnya (2,3,4,5). Heroin termasuk senyawa lipofilik yang memiliki berat molekul yang kecil sehingga dengan cepat dapat melintasi placenta dan sawar darah otak (2). Opioid (termasuk heroin) dapat melewati placenta dalam waktu kurang dari 60 menit dan withdrawal pada ibu dan janin dapat terjadi pada 6 – 48 jam dari penggunaan terakhir. Withdrawal pada ibu ditandai seperti gejala influenza maupun anoreksia yang berdampak pada terhambatnya perkembangan janin (3), sedangkan janin yang terpapar opioid dalam kandungan 55–94% mengalami tanda withdrawl dan berisiko terkadi Neonatal Abstinence Syndrome (NAS) (2,3,4,6).
Dari latar belakang tersebut, perlu diketahui bagaimana anjuran terapi bagi wanita hamil yang mengalami ketergantungan narkotika (heroin)) yang aman bagi ibu dan bayinya.

B.    Tinjauan Pustaka
Penanganan keterganungan narkotik telah diatur oleh Food and Drug Administration (FDA). Pada ketergantungan jenis opioid (termasuk heroin), FDA sejak tahun 1990 menganjurkan penanganan menggunakan methadone (2,4). Pada tahun 2002, FDA menambahkan strategi terapi menggunakan Buprenorphine (6) dan Naltrexone, serta detoxifikasi opioid (3). Reseptor opioid terletak di CNS sehingga pada kejadian withdrawal akan ditandai degan rangsangan neurologis seperti tremor, cepat marah, kejang, tonus otot meningkat, dll sedangkan disfungsi pencernaan ditandai dengan menurunnya selera makan, diare, muntah, dehidrasi, penurunan berat badan, meningkatnya produksi keringat, demam dll. Tanda withdrawal pada ketergantungan heroin muncul pada kisaran waktu 24 jam (2).
Masing-masing terapi penanganan ketergantungan tersebut memiliki nilai plus dan minus baik bagi ibu maupun janin. Kajian terhadap keamanan penggunaan beberapa obat tersebut dapat dilihat sebagai berikut;

Methadone
Metadon merupakan standar terapi bagi ibu hamil yang mengalami kecanduan opioid (2,3,4,5,6). Penggunaan metadone dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas serta menstabilkan pertumbuhan janin (6), mempertahanan konsentrasi opioid pada ibu dan janin sehingga menurunkan keinginan menggunakan opioid (3), mencegah stres janin, serta mengantisipasi potensi withdrawal pada bayi yang baru lahir (2).
Metabolisme metadon meningkat pada ibu hamil sehingga diperlukan pemantauan gejala withdrawal untuk segera disesuaikan dosisnya (3). Inisial dose yang dianjurkan antara 0,05-1mgkg setiap 6 jam. Semakin tinggi dosis yang digunakan akan semakin meningkatkan potensi terjadinya withdrawal (2).
Kerugian terapi menggunakan metadon antara lain; memiliki potensi menyebabkan NAS (Neonatan Abstinence Syndrom) (5,7,8) yang ditandai dengan hyperirritability sistem saraf pusat, disfungsi sistem saraf otonom, saluran cerna, dan sistem pernafasan (7).

Buprenorphine
Buprenorfin efektif mengatasi ketergantungan opioid dan memiliki risiko overdosis yang lebih rendah dibandingkan metadon (7), merupakan terapi lini pertama pada ketergantungan heroin (2), bayi yang ibunya mendapat terapi buprenorfin terbukti memiliki waktu rawat inap yang lebih singkat, terapi pengatasan NAS lebih singkat, dan membutuhkan dosis komulatif morfin yang lebih rendah (2,6). Bobot bayi yang lahir lebih tinggi dibanding pasien yang menerima metadon (6). Penggunaan buprenorphin sebagai terapi dapat meningkatkan kejadian NAS dan SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) (2,3). Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kejadian NAS, namun buprenorfin dapat menurunkan keparahan NAS serta komplikasinya dibandingkan metaon (6).

Terapi lain
Kombinasi terapi opioid dengan clonidin dapat menurunkan jangka waktu terapi dengan tanpa efek samping kardiovaskular (9).
Terapi non farmakologi untuk menunjang terapi obat dapat dilakukan dengan kontrol waktu tidur dan bangun, mengenali tanda stres, mobiitas, stimulasi sensorik (10).
Naltrexon yang digunakan setelah pemberian inisial dosis buprenrphin diyakini dapat mencegah kekambuhan/ relaps (3) namun penelitian lain menunjukkan efeknya justru akan meningkatkan risiko withrawal (4).

C.    Kesimpulan
-          Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan metadon maupun buprenorfin dalam hal terapi pada wanita hamil yang mengalami kecanduan narkotika.
-          Baik metadon maupun buprenorfin sama-sama berpotensi menyebabkan NAS, meskipun pada buprenorfin lebih minimal.
-          Ada baiknya, disamping terapi obat, pasien juga mendapatkan terapi non obat seperti pelatihan yang terkain motorik, sensorik, pengatasan stres, dll.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Anonim, 2011, Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2011 (Kerugian Sosial dan Ekonomi), Badan Narkotika National Indonesia.
2.       Hudak, M., Tan, R., 2012, Neonatal Drug Withdrawal, Pediatrics DOI:10-1542, American Academi of Pediatric.
3.       Bhuvaneswar, C., Chang, G., Epstein, L., Stern, T., 2008, Cocaine and Opioid Use During Pregnancy: Prevalence and Management, Prim Care Companion J Clin Psychiatry 2008;10(1).
4.       Jones, H., Martin P., Heil, S., Stine, S., Kaltenbach, K., Selby, P., Coyle, M., O’Grady, K., Arria, A., and Fischer, G., 2008, Treatment of Opioid Dependent Pregnant Women: Clinical and Research Issues, Journal of Substance Abuse Treatment 35(3): 245–259.
5.       Brunet, B., Barnes, A., Choo, R., Mura, P., Jones, H., Huestis, M., 2010, Monitoring Pregnant Women’s Illicit Opiate and Cocaine Use With Sweat Testing, Journal of Therapeutic Drug Monitoring 32(1): 40–49.
6.       Pritham, U., Paul, J., Hayes, M., 2012, Opioid Dependency in Pregnancy and Length of Stay for Neonatal Abstinence Syndrome, Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing 41(2): 180–190.
7.       Jones, H., Kaltenbach, K., Heil, S., Stine, S., Coyle, M., Arria, A., O’Grady, K., Selby, P., Martin, P., Fischer, G., 2010, Neonatal Abstinence Syndrome after Methadone or Buprenorphine Exposure, New England Journal of Medicines 363;24.
8.       Velez, M., Jansson, M., 2008, The Opioid dependent mother and newborn dyad: nonpharmacologic care, Journal of Addiction Medicine 1; 2(3): 113–120.

9.       Agthe, A., Kim, G., Mathias,K., Hendrix, C., Valdez, R., Jansson,L., Lewis, T., Yaster, M., and Estelle B., 2009, Clonidine as an Adjunct Therapy to Opioids for Neonatal Abstinence Syndrome: A Randomized, Controlled Trial, Pediatrics DOI: 10.1542, American Academi of Pediatric.

went to Dusun Bambu

Kalau ditanya tempat mana di Bandung yang asyik buat pepotoan di alam, pasti bayak. Tapi kalau ditanya tempat yang banyak bunganya, aku bisa kasih tau salah satunya adalah di Dusun Bambu. Tidak seperti namanya, dusun bambu bukan hamparan kebun yang isinya pohon bambu. Ada sih bambu tapi di pintu masuknya saja... :)
Penasaran?



Pertama datang kita disuruh ngantri, untuk naik semacam angkot yang akan membawa kita ke taman bunga. Bentuk angkotnya akan jadi surprise sendiri buat kamu nanti.

Here is it... some view of Dusun Bambu...





Location : Jl. Kolonel Masturi KM 11, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat 40551
All pictures are original PHARMATOGRAPHY

Monday, November 2, 2015

Watch out your order !

Hiburan malam ini adalah...dikerjain mas2 gigle b*x. Aku kasih tau satu hal guys, good service sebuah resto itu adalah kecakapan pramusaji dalam melayani pesanan konsumen, g peduli sesimpel apapun makanan itu. Ceritanya malam ini di gigle b*x aku cuma pesen yang namanya aglio olio. Dari bersebelas, aku order duluan. Tapi datangnya terakhir. Oke fine, gapapa kalau mas pramusajinya bisa jelasin kenapa itu makanan simple datangnya lama. Masalahnya itu mas cuma senyam senyum aja dan g ada niatan buat menjelaskan. Itu satu. Kedua, ketika semua makanan sudah dateng, dan pesenan aku keluar...dia hanya bawa satu piring tanpa nampan. Oke g masalah mungkin bagi beberapa orang, tapi plis atulah sopan dikit. Menyajikan dengan langsung bawa piringnya untuk sebuah resto semacam gilgle b*x menurut aku tidak sopan. Ketiga, aglio olio yang dateng tanpa diberi sendok dan garpu. Sampai aku bilang ke masnya, ini makanan boleh dimakan?

Sorry to say, menurut aku bukan masalah apa yang pelanggan pesan. Mau itu mahal atau murah. Tapi komitmen untuk menyajikan yang terbaik itu yang perlu di kedepankan. Untuk urusan itu, aku rasa managemen gigle b*x perlu mentraining ulang pramusaji mereka.


Sunday, November 1, 2015

Nge- Budjang di Bandung

Di Bandung itu, kalau anda di tanya "Apa enaknya ngebudjang?" Jawab saja happy happy aja. Apalagi kalau Ngebudjangnya ramean sama yang lain. Jangan salah, di Bandung sekarang ini makin banyak orang suka ngebudjang !



Adalah Baso Boedjangan. Yang mulai ngehits sekitar awal tahun 2015 (entah pastinya kapan). Dulunya cuma ada di Dipati Ukur, tapi sekarang sudah ada 2 cabang lagi (setau saya sih) di Padjajaran dan Cibabat. Urusan rasa, baso ini kaya. Untuk urusan harga, cek aja...


Cukup worth it lah...
So, Why don't u try?

Tuesday, October 20, 2015

Hard dream




Aku sudah ikhlas. Sudah sejak awal aku ikhlas. Tapi sungguh ini butuh kekuatan besar untuk menghalau rasa ingin selalu bersedih. Bagaimana tidak, antara aku dan kau seperti tak ada jarak. Kita berteman dari kecil. Lebih lekat dengan status ayah dan anak. Banyak hal kita lakukan bersama. Banyak hal pula kita sukai bersama.

Buku. Aku tetap membelinya. Idealnya katamu adalah sebulan sekali. Ya, kata katamu selalu terngiang.. "satu bulan satu buku". Tapi pernah kubenci pula buku. Melihatnya pun ku tak mau lagi. Perlahan. Perlahan. Aku kembali menggemarinya. Meski ketika berada di toko buku. Hampir semua ingatan tentangmu muncul satu persatu. Bagaimana ini, ditempat yang berarti justru menjadi tempat yang memicu kesedihan kehilanganmu lagi. Bumerang bagiku. Sungguh.

Hati ini mulai tertata. Menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya. Mengamini kodrat iradat Alloh bagi umatnya. Tapi kadang aku merindu pula. Sekuat tenaga mengingatnya. Setulus hati memohon untuk memimpikannya. Namun tetap tak selalu bersua. Ayah, aku yakin kaupun juga sedang berusaha. Memasuki dimensi lain. Mencari celah antar dua dunia. Untuk sekedar menengok gadis kecilmu ini. Memastikan aku disini baik baik saja...

Sunday, October 11, 2015

Toward the top



Puncak. Sesuatu yang tinggi. Sesuatu yang menjadi pentokan dari semua penjuru. Tempat dambaan bagi semua yang pernah berusaha.

Ketika kita bicara tentang puncak dalam konteks kehidupan, orang akan mengasumsikannya dengan sebuah kesuksesan karir ataupun kemapanan spiritual maupun finansial. Dalam hal spiritual, awam akan menganggap seseorang mencapai puncak ketika seseorang pergi haji (misalnya). Sedangkan dalam hal finansial, semua akan terarah pada simbolisasi. Materi. Harta. Kekayaan.

Puncak. Terserah definisi mana yang dianut, membutuhkan usaha untuk mencapainya. Untuk mencapai "lantai atas", kita butuh menaiki "tangga". Fisik tangga bermacam macam. Bambu, kayu, besi, atau beton. Semua bisa digunakan. Kalau dianalogikan bahwa materi yang digunakan adalah tingkatan usaha, maka jadilah beton. Ia kokoh, tak peduli seberapa keras pijakan bebannya. Namun untuk membuatnya butuh dana dan waktu yang lebih dibanding yang lain.

Stair and books. Yes, that are two different things that that will take you toward the top.

Friday, September 11, 2015

Me, Bandung and Bosscha

Hello Mr. Bosscha. Before I live in this city, (the same city that u always fall in love with) I always called your Bosscha name with boss-sya sound.

Let me tell u something Mr. Bosscha.
Bandung is like a dreamland of me. At the old time, I told my friend that one day I'll live here. Here in Bandung. Now I'm here. Breathe it's air everyday inside my lung. Drink it's water everyday. Spend the night, days, weeks, year....here in Bandung. I don't feel any regret being far from home (the most comfortable place in the world) because this is my dreamland...


Don't worry Mr Bosscha, because you are part of my dream. I heard your name since i was a child. I wonder someday I'll come to your place. Not just the observatory, but I'll come to the heart of bosscha. The Malabar tea plant...and your wonderful house...



So, thank you so much for you Mr. Bosscha. Thank you for kept Bandung, thank you for your kindness, thank you for become part of my dream.


Thank you for everything you've done for Bandung...
R.I.P Mr Bosscha.

Idealisme Campuran

Menyoal idealisme tidak selalu berkaitan dengan kepemimpinan, partai atau segala sesuatu yang berbau politik. Idealisme adalah hati nurani. Ketika sesuatu telah ditetapkan menjadi aturan, maka sesuatu itu telah menempati posisi ideal. Maka nantinya tegantung pada subjek dari aturan itu untuk menaati atau mengingkari. Filternya ada pada diri sendiri. Nah, pada filter itulah idealisme mengambil peran. Menarik ulur hati nurani untuk setia pada aturan atau mengingkarinya demi entah apapun itu.
Hari ini tepat setahun saya disumpah atasnama Alloh menjadi seorang apoteker. Apoteker. Profesi yang tidak dipahami oleh semua kalangan. Profesi yang masih penuh dengan konflik kepentingan. Profesi yang menghabiskan banyak biaya studi namun masih berupah minim. Profesi yang memiliki 5 Bab dengan 15 pasal pada kode etiknya. 5 BAB dan 15 pasal itulah idealisme Apoteker. Hati nurani.
Hari ini, pertanyaan besar itu muncul kembali. Pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang senior di dewan legislatif kampus.
Sampai kapankan idealisme yang kalian punya akan bertahan?
Ya. Sampai kapan. Miris memikirkannya. Orang bilang ikuti sistem yang ada baru bisa mengubah. Tapi bukankan itu sama saja membunuh idealisme ketika sistem yang ada tidaklah seideal yang kita inginkan. Orang bilang, cari power (kedudukan) dulu baru kita bisa mengidealkan sistem itu. Semudah itukah mendapatkan power ditengah sistem yang tidak ideal? Jangan-jangan power itupun didapat dengan mengesampingkan idealisme.
Maka asahlah hati nurani itu, kawan. Kita pasti pernah dan sering mengingkarinya. Tapi jangan biarkan ia tumpul dan lambat laun berkarat dan menjadi rombengan. Berdirilah. Berjalanlah. Maju dengan sepenuh hati. Idealis bukan berarti kolot dan tak fleksibel. Idealis versi saya adalah mampu menempatkan diri dengan tetap membawa hati nurani. Memperluas makna dari setiap pasal pada kode etik yang telah menjadi rule model Apoteker di negri ini. Mungkin dengan cara itu, idealisme versi saya tetap terasah. Biarlah si idealis lain menentang. Mengatai itu tetap saja tak sesuai. Aaah topik ini terlalu menyebalkan untuk dibahas.
Sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak manusia lainnya. I hope, that’s the reason why My Lord made me as an Apothecary. Be gratheful. Be meaningful.

Bandung, 11 September 2015


Thursday, July 9, 2015

Dear boss !

If u have any partners, talk to them


Not just acting without permition !

Sunday, June 21, 2015

Am i weird Dad?

Dad, why i feel different than the others. I dont like party, a lot of people, or something like that. I love being alone. Stuck with a lot of books. Wearing old t shirt and jeans. Dancing with silence, quite, and peace. Feel the wind. Breath the air. Smell the ground. Thats it. Is it weird dad??

Wednesday, June 3, 2015

Surat terbuka untuk Bapak di sana.

Assalamualaikum...Bapak...

Bapak, aku bukan satu2nya orang yang merasa memilikimu pak. Aku baru tahu itu belum lama. Saat banyak orang tetiba kaget seakan tak percaya dengan kabar yang baru saja mereka dengar. Saat tawaku seketika berubah menjadi diam seribu kata. Saat telfon dari kakak telah ditutup dan aku masih saja menekannya erat di telinga. Saat itu, saat Alloh memanggilmu untuk pulang. Pulang kepadaNya. Pemilik kita sesungguhnya.

Bapak, sawah disamping rumah sudah berganti padi lagi. Bukankah  kita sering bercakap disela semilir angin yang mengantukkan. Berapa buku yang kita tuntaskan bersama disana ya Pak? Berapa topik yang pernah kita diskusikan Pak? atau berapa piring mie godhog kesukaan kita yang kita santap habis di malam hari? Aah kita pun sering mesra bercakap tentang bulan yang sedang purnama atau bintang2 yang sedang menampakkan kemegahan langit dengan hamparannya. Bapak ingat suara katak dan jangkrik yang waktu itu? Bapak bilang katak itu predator bagi jangkrik. Tapi di sawah, suara keduanya sangat harmoni. Bahkan diteras itu bapak pernah "memarahi" seorang yang terlambat mengantarku pulang. Ia yang beralasan mengajakku membeli novel yang nyatanya kami juga pergi nonton. Ah Bapak, pria itu sudah entah apa kabarnya. Maaf pak mungkin aku tak pandai "menjaganya". Atau, orang yang kata bapak baik dan bapak menyukainya itu yang justru tak pandai "menjagaku".

Bapak, teras itu akan tetap sama. Berpilar abu2 dan berkeramik hitam. Teduh dibawah bayang2 pohon mangga. Namu semuanya sudah terasa lain pak. Celotehanku tak lagi tersampaikan ke orang yang sama..

Bapak, hari itu akupun pulang. Semua seakan telah terskenario dengan indah. Aku yang memang sedang berada di jalan dengan teman2. Pesawat bandung jogja yang tiba2 ada penerbangan. Ya, akhirnya aku merasakan naik pesawat pak. Setelah mendengar cerita bapak sebelumnya tentang bagaimana rasanya dipesawat dari jakarta ke makkah. Betapa wahainya pak... at the end of ur time, u teach me how to flying high... Bahkan diakhir usiamu pak, engkau masih memberiku ilmu...

Bapak, aku memang menangis. Menanyai Tuhan tentang berbagai kekalutan. Tapi semuanya berakhir pada satu kesimpulan, TUGASMU TELAH SELESAI. Alloh mengutusmu menjadi Bapakku. Bapak yang menuntunku menuju jalan yang seharusnya. Bapak yang membekaliku dengan banyak ilmu dan cerita tentang kehidupan. Bapak yang mengantarku ke sebuah gerbang kehidupan. Ya, hanya mengantar tanpa ikut menikmati kehidupan di dalam gerbang...

Bapak, malam itu aku menemanimu. Disaat banyak orang dirumah sibuk menyiapkan tenda dan banyak hal lainnya. Aku melihatmu sendiri di sudut ruangan. Benar pak, aku pengecut karena tak berani menyingkap kain hijau itu. Aku hanya mampu duduk di sebelahmu. Kita hanya berdua seperti dulu. Ya, persis berdua di ruang tamu.. Aku ingin dengar ceritamu pak. Tentang bagaimana wujud malaikat pencabut nyawa itu. Bagaimana ia datang. Bagaimana ia melakukan tugasnya kepadamu pak. Dulu bapak pernah bercerita semuanya tentang apa yang ada dibuku, samakah itu pak? Ah, aku tau itu mustahil kau ceritakan. Cukuplah aku disampingmu pak..dalam diam pun aku mau pak. Bukankan kita juga sering melakukannya, duduk bersama dalan diam tenggelam  dalam bacaan masing2...

Bapak, banyak sekali orang yang juga sayang padamu. Banyak melebihi perkiraanku. Itu kenyataan yang baru aku tahu. Mereka teman2mu kah? teman yang jadi saudara kah? kenalan darimanakah? sifat pendiammu ternyata disukai olah banyak orang. mereka yang datang bahkan menangis. kenapa pak? aku kira hanya aku yang merasa kehilangan. ternyata banyak sekali orang yang merasakannya juga. aku kira hanya aku yang merasa ditinggalkan. ternyata lebih banyak lagi yang akan merindukanmu pak. ada yang bercerita padaku pak, engkau kawan yang baik. ada pula yang mengatakan, engkau guru yang baik. seseorang lain datang dan bilang engkau sahabatnya yang terbaik. Apa bapak sempat melihat deretan parkir kendaraan mereka? kata tetangga ada banyak mobil motor bahkan bus. Apa bapak melihat siapa saja yang datang? kata tetangga tamu tak terhitung. aku tak sempat melakukan semua pengecekan itu pak. aku hanya ingin khidmat mengantarmu. kekagumanku tentang orang yang menyayangimu bertambah pak, dengan masih ada sajanya tamu yang datang ke rumah. masih saja mereka2 itu menyampaikan rasa belasungkawa meskipun itu sudah 40hari berlalu. aku tak tahu siapa mereka pak, tapi mereka menyayangimu...

Bapak, hari itu kami mengikhlaskanmu. Aku masih ingat bagaimana Bapak diusung menjauh dari rumah. Dibalik kain hijau itu Bapak pasti melihat satu persatu saudara yang datang. Bapak melihat aku tidak? Aku yang berbaju hitam sedang diapit erat oleh mbak nur dan mbak riris. Aku yang mereka sangka akan pingsan ketika kau diberangkatkan. Nyatanya tidak kan Pak? Aku tahu aku kuat pak. Aku tahu kau percaya itu Pak. Maka akupun ikut Bapak. Tepat dibelakang Bapak. Menapaki jalan terakhir kita beriringan. Menuju peristirahatanmu. Ya, aku mengantarmu untuk beristirahat dengan tenang. Menepi dari hingar bingar duniawi. Mendekat...lebih dekat dengan Sang Illahirobbi.

Bapak, selamanya kami menyayangimu. Tak peduli fisikmu telah menjadi satu dengan bumi. Tapi denyut nadimu, nafasmu, serta semangatmu telah tertitiskan pada kami. Anakmu Pak. Tenanglah disana. Di alam yang akupun memercayai itu ada. Tenanglah disana, ditempat yang Alloh sediakan khusus untuk Bapak. Tempat yang aku bayangkan bagai sebuah kamar dengan koleksi buku2 bapak. Dengan sebuah meja dan kursi tempat bapak biasa membaca dan menuliskan materi dakwah. Atau disebuah teras berpilar abu2 dengan lantai keramik hitam yang dinaungi bayang2 pohon mangga. Ditempat yang aku tak tau itu dimana...berbahagialah pak. Berbahagialah melihat aku tumbuh menjaadi perempuan mandiri yang dewasa. Berbahagialah pak... karena kami menyayangimu seutuhnya. Sepenuhnya..

dari anak perempuanmu yang rindu usapan tanganmu di kepala.

Sunday, March 15, 2015

Manis ?

Ketika khrisna pabicara asyik menyemai rindu melalui kicauannya, aku hanya termangu memahami setip konotasi yang ia gunakan. Tersenyum beberapa kali karena membenarkan apa yang juga dia rasakan.
Rindu bukan hal sederhana. Ia bahkan tak semudah pengucapan rangkaian konsonan dan vokalnya. Rindu adalah komplikasi dari ribuan kilometer jarak, ratusan jam waktu yang dibungkus indah dan diikat kuat oleh perasaan.
Pernah aku katakan pada bapak dan ibu pada kepulangan pertamaku. Sombong kukatakan, “Lebaran baru pulang”. Namun nyata tekat itu goyah. Meski sejak awal aku jejalkan pertahanan yang kuat, kukokohkan hati untuk tetap tegar mengahadapi kenyataan merantau.
Ya, mana ada merantu yang enak. Begitu kata seorang teman. Merantau itu mencoba mencicipi hidup. Manis atau pahitnya tergantung “si juru masak (kita)” dalam menjalani. Ada yang berpura bahagia, ada yang terus meratapi nasib, ada yang mencoba bersyukur, dan ada pula yang memang bersyukur.
Karena ketika kehidupan diluar rumah telah kita cicip manis, maka yang di dalam rumah tak akan ragu lagi dirasa. Rumah. Home. Terserah bagaimana orang mengartikannya, tapi bagiku itu adalah kenyamanan yang tiada duanya.

Missing my own room, missing my home. Especialy the people. 

Sunday, February 8, 2015

Perfect enemy

We live in the same city
May be we breathe the same air
Walk in the same road
Out to the same mall

But why dont u come?

Just take a look at me
Making sure that i'm here
That we are near
Oh dear...
May be u better dissapear

Thursday, January 15, 2015

Tentang merantau

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, 'kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam

tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Imam Syafi'i dalam Novel Negeri 5 Menara

Sunday, January 11, 2015

Walk to remember

One day when you realized, it's not just a walk.
Its a walk to remember...

Saturday, January 10, 2015

Make it "in relationship"

It's almost 4 month i've been living in Bandung. And....today become my first "date" with this city. I take a long walk to make a relationship between my feet and the ground. Because when i make a step, it must be printed on the ground. So, the more i walk, the more i've been related to this city...

Thursday, January 1, 2015

Hello 2015 !

Today's like a new book with 365 blank page. So, whats your plan?
Bandung, here I'm right now for about the following three years because I've signed the contract. I think I should control my self (especially emotional control) become stronger because living far from home. Yeah, it's not easy guys.
So, I planned to enjoy what Alloh gives to me. Straight on His way. Doing everything with fun.
Maybe it's better to say that I'm here not just for a job, I'm here for travel. Is there any things better than three years travel???!!!

Live in a dream land
Place with a lot of history

Welcome 2015...and thanks for give the best experience for me in 2014.