Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, July 8, 2014

Ujian Komprehensif bidang Industri

Tanggal 5 kemarin saya menjalani ujian komprehensif apoteker bidang industri. Saya mendapat penguji senior yang sekarang bekerja untuk Sanbe Farma. Beliau, Bapak Purwadi. Penguji lainnya adalah dosen senior farmasi UGM yang sudah akrab dengan kampus kami, Bapak Mufrod.

Bagaimana rasanya? Tidak terlalu biasa saja, namun juga tidak bisa dibilang biasa. Saya dan teman-teman satu kelompok pernah memrediksikan ini sebelumnya.

Sesuai list absensi, saya berada di urutan 7 dari 8 mahasiswa yang mengantri diuji beliau berdua. Kampus menjadwalkan mahasiswa harus datang pukul 08.00. Maka konsekuensinya saya harus berangkat satu jam lebih awal dari ketentuan. 30Km bukan jarak yang cepat untuk dilalui.

Kurang lebih pukul 12.50, giliran saya tiba. Tak apa, menunggu dalam waktu lama untuk sekedar “diremehkan” penguji juga sebuah proses.

Kursi biru itu tepat berada di tengah meja. Menghadap dua kursi lain yang telah sempurna menjalankan tugasnya. Dalam konflik antara jantung yang semakin derap dan usaha mengingat setiap materi, satu penguji tersenyum memersilahkan saya duduk. Sempat saya berfikir andai ujian komprehensif dibuat menarik. Misal dengan format diskusi di alam terbuka, bukan di dalam ruangan yang tersetting mengintimidasi. Dari nama ruangannya pun sudah membuat mental ngeri, Ruang Sidang. Bukankah Sidang selama ini terkonotasikan dengan pengadilan, kriminal, dosa dan hukuman? Mental inipun juga tambah terbebani dengan ketentuan lain, baju setelan hitam putih. Lengkap sudah. Baju yang menunjukkan seserang berada dalam kuasa orang lain. Sebagai contoh, pegawai baru disebuah toko, apotek, supermarket, dll mereka mengenakan baju hitam putih sebagai penanda. Mahasiswa baru pun demikian. Sehingga baju hitam putih bukan menjadi penambah kepercayaan diri. Buktinya? Banyak teman datang mengenakan jaket, sweeter, atau sekedar cardigan untuk menutupi.

Well, what if. . .
Bagaimana jika, saya imajinasikan ujian komprehensif dilakukan di alam terbuka, tidak perlu jauh-jauh semisal di halaman depan gedung kuliah kami, dibawah pohon matoa yang rindang, atau di tangga depan lab kami, di halaman syare Mart yang rindang, di bangku taman herbal, atau dimana sajalah. Mahasiswa datang dengan pakaian sesuai ketentuan kampus dan sesuai kenyamanan mereka, ada yang datang dengan warna kuning, pink, atau hitam. Tentu mereka lebih tau mana yang akan meambah kepercayaan diri mereka. Kepercayan diri yang akan menyamankan hati dan pikiran, mengamankan jiwa dari gejolak berlebihan. Mahasiswa dan penguji duduk bersama, mahasiswa bercerita, penguji menjalankan tugasnya dengan bertanya, diselingi bercanda, dibuai semilir angin, sesekali kupu-kupu atau capung hinggap. Aahhh pasti menyenangkan.

Back to reality, memasuki ruangan sidang dengan denting jam yang tak tik tuk beraturan, yang mampu saya ingat adalah;

Pak mufrod sempat mencoba menghiangkan ketegangan dengan bercanda mengira saya bersaudara dengan mahasiswa sebelumnya. Kami memang memiliki fisik yang hampir sama, besar. Pak mufrod menanyakan semua singkatan yang ia temukan, HVAC? AHU? PPIC? HEPA? MRP? OOS? Dan lain sebagainya. Bisa? Yaaaa sebagian besar saya tahu. Setelahnya, beliau banyak menanyakan perihal regulasi di PPIC, beda ranah kerja QC dan QA, tugas QA dan QC dari proses awal hingga sebuah produk dinyatakan release, konsep mutu yang dibangun dalam produk, water system, dan yang mendetail perihal kualifikasi alat filling kapsul yang menjadi tugas khusus saya ketika praktik.

Berbeda dengan pembawaan pak mufrod yang terkesan merilekskan, Pak Purwadi adalah tipikal yang menuntut kami untuk tahu mendetil terkait hal yang beliau pertanyakan. Beliau sangat ideal dalam memaknai ujian komprehensif yang pada tujuan awalnya adalah untuk mengevaluasi hasil studi mahasiswa dari awal kuliah hingga akhir profesi. Ya, seperti itulah.

Bahasa yang beliau pergunakan adalah murni yang tertera di CPOB, ini bukti beliau sangat expert dalam bidang ini. Beliau tidak menerima jawaban seperti raw material, QC, atau QA. Versi beliau yang harus kita ikuti adalah bahan awal, pengawas mutu, dan penjamin mutu. Begitulah. Kami lama membahas tentang prosedur pemilihan vendor bahan baku, pengujian sample, audit mutu, dan yang menarik adalah ketika beliau memberikan pertanyaan “apa pentingnya personalia”. Kami cukup lama membahasnya. Saya coba bawa Pak Purwadi ke alam imajinasi saya dimana ruang produksi berisi robot semua, semua alat sudah automatic. Meskipun produksi dilakukan seperti itu, namun selama produk tersebut digunakan oleh manusia maka tetap membutuhkan manusia untuk menilai layak tidaknya hasil produksi tersebut digunakan. Peran itulah yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Daaaannn saya rasa itu jawaban terkeren yang saya miliki diantara jawaban atas pertanyaan teoritis pak purwadi yang hanya bisa saya jawab sekenanya.

Pada intinya adalah, bukan siapa yang menguji kita, namun seberapa serius kita memersiapkan. Saya menaruh hormat kepada beliau berdua, karena dalam ke”senior”an beliau berdua masih berkenan untuk berbagi dengan calon apoteker yang ilmunya masiiihhh sangaaattt terbatas ini. Bergbagi dengan cara masing-masing, mendidik dengan metode masing-masing, dan tentunya mendoakan dengan tulus untuk generasi apoteker baru yang akan dilahirkan.


Terimakasih pak pur... pak mufrod... anggukan dan senyuman bapak diakhir percakapan kita menjadi energi buat saya. Energi yang kita tahu tak akan dapat musnah, hanya wujudnya berubah suatu saat...

No comments:

Post a Comment