Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, April 20, 2014

Apa hebatnya seorang kakak?!

Kakak saya, dia tergolong cerewet untuk ukuran pria. Segala macam diatur, diberi SOP. Ia akan pergi kemudian sms panjang lebar ketika ribut dengan saya. Ketika kecil, kakaksaya sering mengatai saya kemayu, manja, galak, dll. Kesal? Tentu saja. Tapi kekesalan itu seketika sirna ketika kami bersama menerbangkan layang-layang di sawah yang barusaja dipanen, bermain petak umpet bersama anak tetangga, atau sekedar diajak main oleh bapak dan ibu nonton sirkus di alun-alun.

Kami sering pula cek-cok. Hal sepele sampai hal gede pernah kami perdebatkan. Dulu saya merasa kakak saya malu punya adik seperti saya. Ketika di depan teman lain, tak jarang kakak saya acuh, terkesan tak peduli ada ataupun tak adanya saya. Bahkan ia meminta pindah sekolah jika saya masuk ke SD yang sama dengannya dulu.

Lalu, kenapa saya begitu teramat menyayanginya?

Bukan hanya meng-iya-kan takdir bahwa ia adalah kakak saya, tapi cara Tuhan mendidik saya lewatnya. Kami seimbang dalam banyak hal. Ketika saya dibawah, ia mampu mengangkat saya, dan ketika saya berlebihan dia akan segera menyeimbangkan. Tak melulu soal materi, segala hal ia sering lakukan.

Lantas, apa hebatnya seorang kakak?!

Dari kacamata saya, kakak adalah pelindung. Dari awal titah kehidupannya, ia diberi missi untuk melindungi adiknya. Awal titah kehidupannya? Bisa apa dia? 

Oke, let’s think about this.

Rahim ibu, ia mencobanya terlebih dahulu. Ketika rahim tak kuat, maka ia gugur. Ia “pertaruhkan nyawa” untuk memastikan bahwa rahim wanita yang kelak ia panggil ibu cukup kuat sehingga kelahiranya menjadi bukti. Maka setelah ia lahir, jika ada janin lain yang kelak tumbuh di rahim yang telah ia coba sebelumnya, bisa dipastikan hidup. Janin lain itulah, sang adik.

Kehamian pertama, seorang ibu belum tahu apa saja yang harus dan jangan dimakan, supplemen apa saja yang baik untuk perkembangan bayinya, atau sekedar treatment khusus apa yang bisa si ibu lakukan untuk bayi di kandungannya. Bagaimana seorang ibu menyelesaikan semuanya? Coba-coba. Di Apotek tempat saya dulu bekerja, banyak ibu muda yang “coba-coba” supplement kehamilan. Pertanyaannya, siapa yang menjadi obyek percobaannya? Tentunya si janin anak pertama. Ketika treatment coba-coba itu hasilnya baik, janin itu akan lahir baik. Ketika treatment coba-coba itu keliru, wallohu a’lam... ya, janin pertama itu kembali “bertaruh nyawa”. Maka ketika ia terbukti lahir selamat dan tumbuh baik, banyak ibu akan mengulang treatment yang sama kepada janin berikutnya. Janin berikutnya itulah, sang adik.

Kelahiran pertama, apa yang terfikir di benak ibu? Sakit. Ia pasti akan berfikir banyak tentang kesakitan itu. Meskipun ia mendapat penjelasan dari banyak ibu lainnya tentang hilangnya rasa sakit setelah mendengar tangis pertama sang bayi, tetap saja fikiran tentang rasa sakit itu tak hilang. Bagaimana bisa hilang dan menjadi tenang kalau ia sendiri belum merasakannya. Janin pertama itupun kembali “bertaruh nyawa” ketika tiba masa dia harus menjadi manusia. Ini bukan kali pertama bagi janin itu, namun pertaruhan di tahap ini adalah yang menentukan. Ia harus mampu “mendobrak pintu keluar”. Memang ia tidak sendiri, sang ibupun turut membantu dan bertaruh. “pintu” yang tak selebar telapak tangan itu harus bisa dilewati kepala dan seluruh badan utuh bayi pertama. Hidupnya si bayi pertama menjadi bukti bahwa ibu itu mampu berjuang untuk melahirkan. Seluruh fikiran kesakitan di awal akan langsung hilang. Lalu dengan mudah ia akan berfikir, “O, begini rasanya melahirkan”. Maka suatu ketika jika ada janin lain siap untuk dilahirkan dari rahimnya, ibu itu telah 100% siap, dan janin lain itupun tak perlu “mendobrak”, ia cukup lewat. Janin lain itulah, sang adik.

Masih banyak hal lain yang seorang kakak (sadar ataupun tidak) rela mencoba dengan bertaruh nyawa demi adiknya. Anak pertama yang lahir pada kondisi keluarga yang masih belum stabil, ia diharuskan rela untuk ikut berpayah hidup sedang anak kedua dan seterusnya, tak perlu lagi berpayah karena kondisi keluarga yang sudah lebih baik. Maka bagaimana bisa saya membenci kakak saya, sebawel apapun ia. Ketika kami berselisih pendapat, saya selalu mencoba mengingat pemikiran saya diatas. Untuk banyak hal, ini sangat efektif. Saya ingin melebihkannya, saya ingin meninggikannya, saya ingin... *sayapun terisak. Kakak, hidup saya saat ini (sadar ataupun tidak) adalah hasil dari perjuanganmu “mendidik” ibu untuk dapat menjadi ibu seutuhnya...


Maka untuk anda anak pertama, berbahagialah karena Tuhan menitahkan anda ke dunia dengan “missi” besarNya. “Missi” yang tidak dimiliki anak kedua, ketiga, dan seterusnya... (Nurul)

Monday, April 14, 2014

welcome PKPA (late post)

Jadi, ceritanya sejak bulan januari kemarin saya sudah memulai praktik kefarmasian. PKPA, atau praktik kerja profesi apoteker. Diawali dengan 10 hari di puskesmas Umbulharjo II, dilanjutkan dengan 2 bulan di Apotik WIPA, dan mulai April hingga Mei nanti, saya resmi berpraktik di PKU Muhammadiyah Jogjakarta.
Mungkin tidak sekarang saya tuliskan, beberapa dateline masih menanti.