Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, March 16, 2014

Mengenal Ibu Inggit

Bagi anda yang belum atau tidak familiar dengan nama tersebut, mari saya perkenalkan dengan beliau. Ibu Inggit Garnasih. Istri kedua Ir. Soekarno yang merupakan cinta pertamanya. The real first lady. Dalam hal ini saya lebih suka menyebutnya Ir Soekarno daripada presiden Soekarno karena menurut saya ketika menceritakan sosok ibu inggit, akan sedikit menyakitkan hati jika harus membahas kepresidenan beliau.

  
berbagai sumber

Saya mengenal ibu Inggit lewat program TV Menolak Lupa yang ditayangkan oleh Metro TV. Mencermati kisah ibu Inggit yang begitu mengesankan, sayapun melanjutkannya dengan googling. Banyak sekali cerita ibu inggit yang bisa dibaca di Internet, dari asal muasalnya, kesetiaannya, dan yang paling penting adalah, perjuangan beliau. Hingga pada akhirnya, terbelilah sebuah novel yang ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan ibu Inggit sebelum beliau wafat pada 13 April 1984 pada usia 96 tahun. Adalah Ramadhan K. H novelist yang menulis novel tersebut. Saya sempat membaca karya beliau sebelumnya, Rojan Revolusi. Namun karena buku milik bapak saya tersebut sudah “buluk” dan kumal maka saya tidak selesai membacanya. Buku tentang ibu Inggit tersebut berjudul, Soekarno: kuantar ke gerbang.
Bentang Pustaka
Mengapa “kuantar ke gerbang”? karena Ibu Inggit hanya mengantar, tidak ikut masuk apalagi menikmati apa yang ada di area setelah gerbang. Padahal yang kita tahu, gerbang adalah sebuah batas pertahanan untuk mencegah sesuatu yang buruh masuk ke dalam. Gerbang membatasi sebuah rumah mewah dengan lingkungan yang dapat mengancam ketentraman dalam gerbang. Gerbang membatasi kenyamanan dengan jalan terjal dan berbatu. Gerbang menjadi batas Ibu Inggit dengan prinsip yang ia pegang teguh. Prinsip seorang perempuan yang hebatnya tak goyah dengan iming-iming kehidupan di dalam gerbang.
Singkatnya, Ir Soekarno ketika berkuliah di ITB tinggal (kos) di rumah Ibu Inggit dan suaminya yag ia panggil Kang Uci. Saat itu memang hubungan antara kang uci dengan ibu inggit renggang. Sifat keibuan dan welas asih ibu inggit rupanya mampu membuat Soekarno jatuh hati. Meskipun kala itu soekarno telah beristrikan Utari yang lebih ia anggap sebagai adik sendiri. Cinta soekarno pada utari memang berbeda, pernikahan yang menjadi kehendak orang lain namun atas dasar cinta kakak kepada adiknya. Namun cinta soekarno pada ibu inggit, adalah cinta seorang lelaki pada perempuan. Dengan ditalaknya ibu Inggit oleh kang Uci, soekarno diizinkan oleh kang uci untuk menikahi ibu inggit setelah “mengembalikan” Utari ke kedua orang tuanya dan setelah ibu inggit melewati masa idah. Maka, jadilah ibu inggit sebagai Ny. Soekarno. Kusno. Itulah panggilan sayang Ibu Inggit pada pemuda yang menjadi suaminya. Ibu Inggit rela bekerja untuk mendapatkan rupiah. Menjahit, membuat bedak, jamu, rokok dengan merk “Ratna Djuami” (nama anak angkat Ibu Inggit dan Soekarno) untuk dijual. Tidak hanya untuk kehidupan sehari-hari, rupiah yang Ibu Inggit kumpulkan juga untuk membiayai kehidupan Kusnonya. Kehidupan kuliah dan politik yang mahal. Biaya ke luar kota, biaya konsumsi untuk menjamu kawan Kusnonya yang datang berdiskusi, pertemuan yang hampir setiap hari di rumahnya, biaya lain-lain yang tentunya tak sedikit. Untuk semua itu, Ibu Inggit bekerja sendirian. Fokus Soekarno kala itu adalah kuliah dan berpolitik. That’s it. Pun setelah Kusnonya dinyatakan lulus dari ITB (sekarang), fokusnya tetap sama. Hanya sesekali ia mendapat honor dari tulisannya.
  
berbagai sumber

Tak berhenti di permasalahan finansial keluarga, ketangguhannya sebagai seorang perempuan Ibu Inggit tunjukkan melalui kesetiaan. Ia setia mendampingi Kusnonya untuk berpidato ke banyak tempat, ia bimbing Kusnonya untuk tetap tegar ketika hal buruk menimpanya, ia seka keringat Kusnonya, ia mendengarkan keluh kesah Kusnonya tanpa banyak bercakap, ia berjalan jauh berkilo-kilo meter bersama Ratna Djuami anak angkatnya untuk menjenguk Kusnonya di bui, ia masakkan makanan yang Kusnonya sukai, ia selundupkan berbagai surat kabar ke dalam bui agar Kusnonya tetap tahu perkembangan di luar, ia masukkan uang logam ke dalam makanan yang ia bawa untuk kusnonya, ia tandai huruf-huruf di Alquran untuk memberi kabar keadaan di luar bui pada Kusnonya, ia kodekan masakan tertentu sebagai penanda keadaan di luar bui, ia selundupkan banyak buku untuk Kusnonya di bui sehingga dapat tercipta pledoi “Indonesia Menggugat”, ia yang berjiwa bebas rela menemani Kusnonya di pengasingan flores dan di bengkulu, ia menembus hutan, ia menunggu, ia menangis dalam diamnya, namun pada akhirnya prinsip hidup mengharuskannya memilih berpisah... ya setelah semua yang ia lakukan...

“Itu mah pamali, ari di candung mah cadu (itu pantang, kalau dimadu pantang)”. Inggit Garnasih

Kata-kata itu beliau ucapkan ketika Kusnonya meminta izin untuk menikahi fatmawati yang sesungguhnya telah Ibu anggap anak sendiri. Fatmawati adalah teman Ratna Djuami ketika di berada di Bengkulu. Ibu Inggit yang berusia 53 tahun harus mendengar permintaan Kusnonya untuk menikah lagi demi keinginannya memiliki keturunan. Betapa menyakitkan membicarakan masalah keturunan pada perempuan 53 tahun yang sudah tentu tidak dapat memberikan keturunan... Dengan alasan itu, ibu Inggit tak dapat mengelak dari perpisahan.

Begitulah perempuan itu mengambil keputusan sesuai prinsipnya. Pantang dimadu. Meskipun ia tahu kehidupan dengan Kusnonya akan semakin jaya setelah kemerdekaan, ia samasekali tidak memperhatikan itu. Ia berprinsip, ia memutuskan. 20 tahun menapaki kehidupan penuh perjuangan, kesedihan, dan banyak pengorbanan, namun ibu inggit rela memberikan hasil buahnya kepada perempuan lain. Perempuan lain yang kemudian oleh bangsa ini dinobatkan menjadi ibunegara pertama.
Ibu Inggit, Soekarno, Ratna Djumi, Kartika (depan tengah) dan dua murid Soekarno
Ibu Inggit dan Soekarno memiliki dua anak angkat, Ratna Djuami yang meupakan anak dari saudara Ibu Inggit, serta Kartika yang ia rawat sejak di Ende, Flores. Mereka adalah saksi sejarah perjuangan Ibu Inggit untuk bangsa ini melalui pengabdiannya kepada Soekarno. Kasih sayang ibu Inggit pada keduanya benar-benar tulus. Ibu kepada anaknya.

21 April 2012, dihari kartini dua tahun silam, keduanya diperemukan kembali dalam Seminar Nasional pengusulan kembali Ibu Inggit sebagai pahlawan nasional. Seseorang dari Kompasiana mengabadikan kebersamaan beliau.
image image

Mungkin itulah pertemuan terakhir mereka, karena pada 23 Juni 2013, Ibu Ratna Djuami yang Soekarno panggil Omi itu berpulang ke Rahmatulloh...


Segala kisah tentang Ibu Inggit, peruangannya, ketegarannya, serta begitu berprinsipnya beliau... masih adakah yang tega tidak mengenalnya??? Jadi, apakah itu perempuan? Kami adalah makhluk lemah yang sangat tangguh...!

No comments:

Post a Comment