Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, March 16, 2014

Ketika perempuan mengajak berbicara

Selalu saja simbah putri memintaku duduk disampingnya. Seperti biasa, ia mulai bercerita tentang masa kecil, masa sekolah, dan masa-masa lain yang ceritanya masih kuat diingatanku. Selalu sama. Entah sudah berapa kali namun sensasinya masih sama, menggebu. Memintaku merasakan tiap emosi dari tiap kisahnya. Entah pula berapa kali mbah kakung menertawakan sikapku yang selalu mau mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan sepenuh hati. Aku tahu kelak pada waktunya akupun akan berada diposisi itu, mengulang banyak cerita yang sama. Dan ketika masa itu tiba, aku ingin ada orang yang mendengarkan tak cukup sekali. Ia hanya mampu berbaring. Sendi yang menua telah kehilangan pelumasnya. Pun ditambah jatuh terakhir kali yang membuat lututnya bengkak. Simbah putriku yang dulu setiap hari selalu hingar dengan kehidupan pasar, harus ikhlas merasanya sunyi tinggal berdua dengan mbah kakung di rumah yang luas itu.

***
Dulu ketika kecil, sering sekali kuhitung berapa kali ia bunyikan klakson motor sepanjang jaan ketika kami bepergian. Keisengan yang membuatku sadar betapa “tenar” nya ibuku. Aku kecil selalu merasa senang ketika orang menyebutku “Putrane mbak umi”. Ibu orang biasa saja, bukan pejabat atau konglomerat. Keluarga kami biasa saja. Rumah kami biasa saja. Tapi hati ibu betapa besarnya. Temannya banyaaaaaaaaaaaaaakkk sekali. Itulah mengapa aku kecil selalu menghitung berapa kali ia bunyikan klakson saat dijalan. Itu menandakan berapa kali ia menyapa temannya. Ibu tak pernah memberiku petuah tentang bagaimana menjadi ini itu, ia terlalu repot untuk sekedar duduk berbicara tentang sebuah masalah. Ia banyak mengurus urusan lain, kantor, kelompok pengajian, atau perkumpulan lain. Namun jangan dikira ia tak peduli dengan anaknya. Atas semua yang ia lakukan, ia mengajari kami setiap harinya. Ia berbicara pada kami dengan berbuat. Ia mendidik kami dengan perbuatan. Ia tanamkan kemandirian. Sederhana saja, ketika ia tak sempat memasak sarapan maka ketika itu ia mengajarkan kami cara mengatasi kelaparan. Mau tidak mau kami memasak. Dan mau tidak mau kami akan terbiasa memasak. Dimana pelajarannya? Ada pada kebiasaan. Bahwa memasak bukan hanya pekerjaan ibu. Itulah mengapa ayah kami, kakakku pun bisa memasak. Bayangkan betapa kacaunya jika memasak menjadi tugas pokok ibu. Ibu juga tidak pernah punya waktu untuk sekedar bertanya bagaimana kehidupan sosial kami. Aku dan kakak tidak pernah secara khusus mengobrol tentang pergaulan kami. Apa itu salah? Tidak. Ketika ia tak banyak tanya tentang kehidupan luar rumah kami, ia sedang menanamkan kepercayaan. Adakah yang lebih berharga dari kepercayaan yang orang tua berikan kepada anaknya? Ketika orang tua percaya sepenuhnya, jika anak itu memang seorang anak dia akan merasa berharga mendapat kepercayaan orang tua. Dengan acuhnya ibu, sebenarnya ia berbicara kepada kami tentang agungnya sebuah kepercayaan, ia memperingatkan kami untuk jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan. Itulah mengapa aku diizinkan pulang malam, diizinkan melakukan banyak hal, bepergian ke banyak tempat. Tak sekalipun ia melarang. Karena kami sama-sama berpegang pada kepercayaan, kami berpegangan untuk tidak mengecewakan.

***
Aku mengenalnya cukup lama. Namun kami bertemu nyata hanya beberapa kali. Kami banyak bertukar obrolan, terkadang ia mengajariku banyak hal. Ia mendidikku tanpa menggurui. Bertahun pada posisi ini. Kebersamaan diantara dua jenis makhluk tuhan, mustahil “baik-baik” saja. Taukan ia tentang teori itu? Aku hanya bisa menerka. Ketika berhari-hari ia tak juga menyapa, kurelakan melanggar takdir perempuan untk menyapa terlebi dahulu. Ketika ia yang tiba-tiba berujar suatu hal, aku cukup tahu diri untuk menahan cerita yang ingin kusampaikan. Kupersilahkan waktuku untuknya. Tak mungkin kutempuh jalan tabu. Maka kupilih perantara Tuhan untuk menyampaikan. Kusampaikan segalanya pada Tuhan. Kuminta apa yang patut untukku. Menyebutnya dalam doa, itu caraku membicarakan semua pemikiranku yang tak tersampaikan. Biar Tuhan yang “membicarakan” padanya entah dengan cara apa. Ketika cinta selain kepada Tuhan dan Rosulnya adalah fana, maka cinta kepada makhluk yang mendekatkan cinta itu pada Tuhan dan Rosulnya...izinkanlah ini menjadi nyata. Aku percaya.

***

Ya, kami perempuan. Kami memiliki banyak bahasa. Bahkan setiap tingkah kamipun dapat membahasakan keinginan kami. Kami tahu, lelaki bukanlah cenayang, tapi kejelasan itu tak selalu gamblang.
Best regard, Nurul.

No comments:

Post a Comment