Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, March 26, 2014

At the top of "Gunung Api Purba"

Pernah saya postingkan beberapa foto yang saya ambil di gunung api purba, cek di sini dan sini. Jika dilihat, keduanya baik-baik saja. Tetap cantik dan tersenyum menyenangkan. Namun tahukan anda betapa wahainya proses pengambilan foto itu. Kami mendaki setelah hujan, jalan tanah yang licin, tanjakan, turunan, dan yang lebih wahai adalah satu dari teman kami mendaki menggunkan wedges, tiga orang mengenakan rok.

Kami awali hari itu dengan berkumpul di rumah Mamo. Seperti biasa, kami yang telah beberapa hari dan bahkan ada yang beberapa bulan tidak bertemu menjadi tak terkendali ketika sudah berkumpul bersama.
sarapan dulu

welcome
lets start

step up








rasakan sensasinya kawan, bersujud disuasana seperti ini sangat terasa lain. Merasa manusia benar-benar makhluk kecil, merasa betapa agungnya Sang Maha Pencipta.

And finally, Puncak Mas Bro! tunggu, tak semudh itu mencapai puncak. Kita harus...
manjat. ini satu-satunya tangga yang membawa ke puncak.


 So, apa yang dilakukan setelah di atas? Termenung. Ini yang pertama akan dialami setiap orang yang berhasil menakhlukkan puncak. Puncak dimanapun itu.

Ya, kami termenung. Duduk merasakan hembusan angin. Meskipun Gunung ini tak seberapa tinggi, namun kami merasakan dengan seperti ini kami membawa persahabatan kita jauh lebih bermakna. Saling tolong-menolong, merasakan berjuang bersama, dan yang pasti menikmati hasil perjuangan bersama.


Kami tuliskan mimpi, rencana besar kita. Kita alihbahasakan segala perasaan ketika itu menjadi rangkaian kata. Kami berbicara tentang mimpi, tentang seseorang, tentang banyak hal. Apasaja. Itu sangat menyenangkan.
 Di atas semua itu, kami merasakan.....

FREEDOM!!!!!!!!

and PEACE......

Jangan remehkan perempuan. Dari segi apapun itu, hati pikiran, perkataan ataupun perbuatan. Jangan pernah remehkan kami. Seandainya anda para lelaki merasa jauh lebih hebat dan tangguh, takhlukkan Gunung api Purba dengan rok dan wedges! We are strong girls!
Gokuraku, minus 4

Thanks everyone, I always proud of our Gokuraku.. :* kiss

Yes, We Are! :)







Sunday, March 16, 2014

Ketika perempuan mengajak berbicara

Selalu saja simbah putri memintaku duduk disampingnya. Seperti biasa, ia mulai bercerita tentang masa kecil, masa sekolah, dan masa-masa lain yang ceritanya masih kuat diingatanku. Selalu sama. Entah sudah berapa kali namun sensasinya masih sama, menggebu. Memintaku merasakan tiap emosi dari tiap kisahnya. Entah pula berapa kali mbah kakung menertawakan sikapku yang selalu mau mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan sepenuh hati. Aku tahu kelak pada waktunya akupun akan berada diposisi itu, mengulang banyak cerita yang sama. Dan ketika masa itu tiba, aku ingin ada orang yang mendengarkan tak cukup sekali. Ia hanya mampu berbaring. Sendi yang menua telah kehilangan pelumasnya. Pun ditambah jatuh terakhir kali yang membuat lututnya bengkak. Simbah putriku yang dulu setiap hari selalu hingar dengan kehidupan pasar, harus ikhlas merasanya sunyi tinggal berdua dengan mbah kakung di rumah yang luas itu.

***
Dulu ketika kecil, sering sekali kuhitung berapa kali ia bunyikan klakson motor sepanjang jaan ketika kami bepergian. Keisengan yang membuatku sadar betapa “tenar” nya ibuku. Aku kecil selalu merasa senang ketika orang menyebutku “Putrane mbak umi”. Ibu orang biasa saja, bukan pejabat atau konglomerat. Keluarga kami biasa saja. Rumah kami biasa saja. Tapi hati ibu betapa besarnya. Temannya banyaaaaaaaaaaaaaakkk sekali. Itulah mengapa aku kecil selalu menghitung berapa kali ia bunyikan klakson saat dijalan. Itu menandakan berapa kali ia menyapa temannya. Ibu tak pernah memberiku petuah tentang bagaimana menjadi ini itu, ia terlalu repot untuk sekedar duduk berbicara tentang sebuah masalah. Ia banyak mengurus urusan lain, kantor, kelompok pengajian, atau perkumpulan lain. Namun jangan dikira ia tak peduli dengan anaknya. Atas semua yang ia lakukan, ia mengajari kami setiap harinya. Ia berbicara pada kami dengan berbuat. Ia mendidik kami dengan perbuatan. Ia tanamkan kemandirian. Sederhana saja, ketika ia tak sempat memasak sarapan maka ketika itu ia mengajarkan kami cara mengatasi kelaparan. Mau tidak mau kami memasak. Dan mau tidak mau kami akan terbiasa memasak. Dimana pelajarannya? Ada pada kebiasaan. Bahwa memasak bukan hanya pekerjaan ibu. Itulah mengapa ayah kami, kakakku pun bisa memasak. Bayangkan betapa kacaunya jika memasak menjadi tugas pokok ibu. Ibu juga tidak pernah punya waktu untuk sekedar bertanya bagaimana kehidupan sosial kami. Aku dan kakak tidak pernah secara khusus mengobrol tentang pergaulan kami. Apa itu salah? Tidak. Ketika ia tak banyak tanya tentang kehidupan luar rumah kami, ia sedang menanamkan kepercayaan. Adakah yang lebih berharga dari kepercayaan yang orang tua berikan kepada anaknya? Ketika orang tua percaya sepenuhnya, jika anak itu memang seorang anak dia akan merasa berharga mendapat kepercayaan orang tua. Dengan acuhnya ibu, sebenarnya ia berbicara kepada kami tentang agungnya sebuah kepercayaan, ia memperingatkan kami untuk jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan. Itulah mengapa aku diizinkan pulang malam, diizinkan melakukan banyak hal, bepergian ke banyak tempat. Tak sekalipun ia melarang. Karena kami sama-sama berpegang pada kepercayaan, kami berpegangan untuk tidak mengecewakan.

***
Aku mengenalnya cukup lama. Namun kami bertemu nyata hanya beberapa kali. Kami banyak bertukar obrolan, terkadang ia mengajariku banyak hal. Ia mendidikku tanpa menggurui. Bertahun pada posisi ini. Kebersamaan diantara dua jenis makhluk tuhan, mustahil “baik-baik” saja. Taukan ia tentang teori itu? Aku hanya bisa menerka. Ketika berhari-hari ia tak juga menyapa, kurelakan melanggar takdir perempuan untk menyapa terlebi dahulu. Ketika ia yang tiba-tiba berujar suatu hal, aku cukup tahu diri untuk menahan cerita yang ingin kusampaikan. Kupersilahkan waktuku untuknya. Tak mungkin kutempuh jalan tabu. Maka kupilih perantara Tuhan untuk menyampaikan. Kusampaikan segalanya pada Tuhan. Kuminta apa yang patut untukku. Menyebutnya dalam doa, itu caraku membicarakan semua pemikiranku yang tak tersampaikan. Biar Tuhan yang “membicarakan” padanya entah dengan cara apa. Ketika cinta selain kepada Tuhan dan Rosulnya adalah fana, maka cinta kepada makhluk yang mendekatkan cinta itu pada Tuhan dan Rosulnya...izinkanlah ini menjadi nyata. Aku percaya.

***

Ya, kami perempuan. Kami memiliki banyak bahasa. Bahkan setiap tingkah kamipun dapat membahasakan keinginan kami. Kami tahu, lelaki bukanlah cenayang, tapi kejelasan itu tak selalu gamblang.
Best regard, Nurul.

Mengenal Ibu Inggit

Bagi anda yang belum atau tidak familiar dengan nama tersebut, mari saya perkenalkan dengan beliau. Ibu Inggit Garnasih. Istri kedua Ir. Soekarno yang merupakan cinta pertamanya. The real first lady. Dalam hal ini saya lebih suka menyebutnya Ir Soekarno daripada presiden Soekarno karena menurut saya ketika menceritakan sosok ibu inggit, akan sedikit menyakitkan hati jika harus membahas kepresidenan beliau.

  
berbagai sumber

Saya mengenal ibu Inggit lewat program TV Menolak Lupa yang ditayangkan oleh Metro TV. Mencermati kisah ibu Inggit yang begitu mengesankan, sayapun melanjutkannya dengan googling. Banyak sekali cerita ibu inggit yang bisa dibaca di Internet, dari asal muasalnya, kesetiaannya, dan yang paling penting adalah, perjuangan beliau. Hingga pada akhirnya, terbelilah sebuah novel yang ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan ibu Inggit sebelum beliau wafat pada 13 April 1984 pada usia 96 tahun. Adalah Ramadhan K. H novelist yang menulis novel tersebut. Saya sempat membaca karya beliau sebelumnya, Rojan Revolusi. Namun karena buku milik bapak saya tersebut sudah “buluk” dan kumal maka saya tidak selesai membacanya. Buku tentang ibu Inggit tersebut berjudul, Soekarno: kuantar ke gerbang.
Bentang Pustaka
Mengapa “kuantar ke gerbang”? karena Ibu Inggit hanya mengantar, tidak ikut masuk apalagi menikmati apa yang ada di area setelah gerbang. Padahal yang kita tahu, gerbang adalah sebuah batas pertahanan untuk mencegah sesuatu yang buruh masuk ke dalam. Gerbang membatasi sebuah rumah mewah dengan lingkungan yang dapat mengancam ketentraman dalam gerbang. Gerbang membatasi kenyamanan dengan jalan terjal dan berbatu. Gerbang menjadi batas Ibu Inggit dengan prinsip yang ia pegang teguh. Prinsip seorang perempuan yang hebatnya tak goyah dengan iming-iming kehidupan di dalam gerbang.
Singkatnya, Ir Soekarno ketika berkuliah di ITB tinggal (kos) di rumah Ibu Inggit dan suaminya yag ia panggil Kang Uci. Saat itu memang hubungan antara kang uci dengan ibu inggit renggang. Sifat keibuan dan welas asih ibu inggit rupanya mampu membuat Soekarno jatuh hati. Meskipun kala itu soekarno telah beristrikan Utari yang lebih ia anggap sebagai adik sendiri. Cinta soekarno pada utari memang berbeda, pernikahan yang menjadi kehendak orang lain namun atas dasar cinta kakak kepada adiknya. Namun cinta soekarno pada ibu inggit, adalah cinta seorang lelaki pada perempuan. Dengan ditalaknya ibu Inggit oleh kang Uci, soekarno diizinkan oleh kang uci untuk menikahi ibu inggit setelah “mengembalikan” Utari ke kedua orang tuanya dan setelah ibu inggit melewati masa idah. Maka, jadilah ibu inggit sebagai Ny. Soekarno. Kusno. Itulah panggilan sayang Ibu Inggit pada pemuda yang menjadi suaminya. Ibu Inggit rela bekerja untuk mendapatkan rupiah. Menjahit, membuat bedak, jamu, rokok dengan merk “Ratna Djuami” (nama anak angkat Ibu Inggit dan Soekarno) untuk dijual. Tidak hanya untuk kehidupan sehari-hari, rupiah yang Ibu Inggit kumpulkan juga untuk membiayai kehidupan Kusnonya. Kehidupan kuliah dan politik yang mahal. Biaya ke luar kota, biaya konsumsi untuk menjamu kawan Kusnonya yang datang berdiskusi, pertemuan yang hampir setiap hari di rumahnya, biaya lain-lain yang tentunya tak sedikit. Untuk semua itu, Ibu Inggit bekerja sendirian. Fokus Soekarno kala itu adalah kuliah dan berpolitik. That’s it. Pun setelah Kusnonya dinyatakan lulus dari ITB (sekarang), fokusnya tetap sama. Hanya sesekali ia mendapat honor dari tulisannya.
  
berbagai sumber

Tak berhenti di permasalahan finansial keluarga, ketangguhannya sebagai seorang perempuan Ibu Inggit tunjukkan melalui kesetiaan. Ia setia mendampingi Kusnonya untuk berpidato ke banyak tempat, ia bimbing Kusnonya untuk tetap tegar ketika hal buruk menimpanya, ia seka keringat Kusnonya, ia mendengarkan keluh kesah Kusnonya tanpa banyak bercakap, ia berjalan jauh berkilo-kilo meter bersama Ratna Djuami anak angkatnya untuk menjenguk Kusnonya di bui, ia masakkan makanan yang Kusnonya sukai, ia selundupkan berbagai surat kabar ke dalam bui agar Kusnonya tetap tahu perkembangan di luar, ia masukkan uang logam ke dalam makanan yang ia bawa untuk kusnonya, ia tandai huruf-huruf di Alquran untuk memberi kabar keadaan di luar bui pada Kusnonya, ia kodekan masakan tertentu sebagai penanda keadaan di luar bui, ia selundupkan banyak buku untuk Kusnonya di bui sehingga dapat tercipta pledoi “Indonesia Menggugat”, ia yang berjiwa bebas rela menemani Kusnonya di pengasingan flores dan di bengkulu, ia menembus hutan, ia menunggu, ia menangis dalam diamnya, namun pada akhirnya prinsip hidup mengharuskannya memilih berpisah... ya setelah semua yang ia lakukan...

“Itu mah pamali, ari di candung mah cadu (itu pantang, kalau dimadu pantang)”. Inggit Garnasih

Kata-kata itu beliau ucapkan ketika Kusnonya meminta izin untuk menikahi fatmawati yang sesungguhnya telah Ibu anggap anak sendiri. Fatmawati adalah teman Ratna Djuami ketika di berada di Bengkulu. Ibu Inggit yang berusia 53 tahun harus mendengar permintaan Kusnonya untuk menikah lagi demi keinginannya memiliki keturunan. Betapa menyakitkan membicarakan masalah keturunan pada perempuan 53 tahun yang sudah tentu tidak dapat memberikan keturunan... Dengan alasan itu, ibu Inggit tak dapat mengelak dari perpisahan.

Begitulah perempuan itu mengambil keputusan sesuai prinsipnya. Pantang dimadu. Meskipun ia tahu kehidupan dengan Kusnonya akan semakin jaya setelah kemerdekaan, ia samasekali tidak memperhatikan itu. Ia berprinsip, ia memutuskan. 20 tahun menapaki kehidupan penuh perjuangan, kesedihan, dan banyak pengorbanan, namun ibu inggit rela memberikan hasil buahnya kepada perempuan lain. Perempuan lain yang kemudian oleh bangsa ini dinobatkan menjadi ibunegara pertama.
Ibu Inggit, Soekarno, Ratna Djumi, Kartika (depan tengah) dan dua murid Soekarno
Ibu Inggit dan Soekarno memiliki dua anak angkat, Ratna Djuami yang meupakan anak dari saudara Ibu Inggit, serta Kartika yang ia rawat sejak di Ende, Flores. Mereka adalah saksi sejarah perjuangan Ibu Inggit untuk bangsa ini melalui pengabdiannya kepada Soekarno. Kasih sayang ibu Inggit pada keduanya benar-benar tulus. Ibu kepada anaknya.

21 April 2012, dihari kartini dua tahun silam, keduanya diperemukan kembali dalam Seminar Nasional pengusulan kembali Ibu Inggit sebagai pahlawan nasional. Seseorang dari Kompasiana mengabadikan kebersamaan beliau.
image image

Mungkin itulah pertemuan terakhir mereka, karena pada 23 Juni 2013, Ibu Ratna Djuami yang Soekarno panggil Omi itu berpulang ke Rahmatulloh...


Segala kisah tentang Ibu Inggit, peruangannya, ketegarannya, serta begitu berprinsipnya beliau... masih adakah yang tega tidak mengenalnya??? Jadi, apakah itu perempuan? Kami adalah makhluk lemah yang sangat tangguh...!