Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, November 26, 2014

She is, Rachmawati Agustine Machtyas

one day...
In a deep silence forest...



Talent : Rachmawati Agustine Machtyas
Location : Wonosari, Special District of Jogjakarta
All pictures are original PHARMATOGRAPHY

Saturday, November 15, 2014

Takut Lupa !

Ketika orang banyak mengatakan "melawan lupa", justru aku ketakutan untuk menjadi lupa. Melawan adalah tindakan preventive, begitu pula takut. Tapi menurutku, bedanya ada pada waktu. Ketika seseorang melawan, ia otomats telah menjadi bagian dari sesuatu. namun ketika takut, ia masih terpisah dari sesuatu itu. Mudahnya, melawan kanker dan takut kanker. Yap, simpukanlah sendiri...

Akhir akhir ini atas nama "tuntutan pekerjaan", aku mengabiskan waktu dengan "duduk" di depan komputer, memeriksa report analisa produk, membagi sample, merilis produk, dll. Monoton, memang. Kegiatan semacam itu sangat memungkinkan menutup indra lain yang selama ini setengah mati kukembangkan. Sense of ART! Nyeni..

Disini aku jauh dari kanvas, cat minyak, kuas dan palet. Jauh juga dengan tempat digital printing yang bisa setiap saat kudatangi. Terlebih, aku jauh dari kamera yang telah melatihku membidik lewat lubang cahayanya..

dan...aku TAKUT LUPA!

Aku takut lupa rasanya menarikan jemari diatas kanvas, atau menggunakan mouse optik. Aku takut lupa beapa banyak minyak yang harus dicampurkan dalam cat. Aku takut lupa mengatur shutter sebelum menekan tombol rana....


Hand drawing dengan Corel Draw yang lumayan mengasah jari tangan. Kembali menarikan telunjuk diatas "mousepad". So, this is it! Hand drawing of Shofa Reza Chusnufam...

Nilai tambah diri kita bukan terletak pada keahlian terhadap hal yang menjadi mayor studi kita, namun pada hal lain yang bertolak belakang dengannya (Nurul)

Karena, menjadi ahli dibidang yang menjadi mayor studi kita itu terlalu normal... Ya nggak??! :)

Wednesday, October 8, 2014

HARDWORK !

Hai.
1 bulan 8 hari.
Kerja berangkat pukul 06.30 dan pulang sampai pukul 17.00 sangat menyita waktu.
Seharian memeriksa hasil analisa finish product, mengintepretasi hasil, dan mengirimkan data.
Membosankan?
No.
Hanya saja,
masih belum banyak hal yang ku tahu...


Sunday, September 14, 2014

Hello world !

11 September. Tanggal ini bagi sebagian orang menimbukan ingatan tentang kengerian peristiwa terorisme di Amerika. Runtuhnya gedung WTC akibat ditabrak pesawat yang kabarnya dibajak. 

Namun 11 september tahun ini, ingatan lain pun akan muncul. Saya disumpah! Sumpah sebagai Apoteker. Hari itu menjadi puncak perjuangan selama ini. Jungkir balik mengerjakan tugas, naik turun mengejar dosen, 30 Km bolak balik rumah-kampus. Ya, meskipun perjuangan belum usai sampai disini, namun hari itu saya bangga memersembahkan kelulusan dengan predikat cumlaude kepada orang tua dan kakak saya. Kelulusan yang juga dihadiahi dengan sebuah pekerjaan di sebuah industri farmasi. Alhamdulillah...

Meski tidak ada kesempatan foto bersama orang tua dan kakak saya, saya tetp bahagia.

So, Hello world, I'm PHARMACIST !

Sunday, September 7, 2014

KADO BERUNTUT

Sebuah kado, semestinya adalah sesuatu yang menyenangkan. Ketika taman kanak-kanak, bahagiaaa setengah mati ketia mendapat kado sepeda dari Bapak. Beberapa kali mendapat tas dari Ibuk ketika saya mendapat ranking kelas. Bahkan untuk sekedar makan yang sempurna saya habiskan, Iuk memberi hadiah meski itu sebuah kecupan. Hal yang paling saya ingat ketika mendapat sebuah kado adalah, perasaan senang.

Sekarang, ulang tahun tak lagi dirayakan. Kue tart terakhir saya? Saya pun lupa. Dulu kalau dirumah, Ibuk selalu menyiapkan nasi kuning lengkap dengan uborampenya dan membagikan ke tetangga. Masih sama menyenangkan buan? Jadi, apakah selalu yang dirayakan itu adalah menyenangkan? Apakah selalu, kado itu harus bahagia?

Let me say, it’s NOT ALWAYS!

Ketika wisuda S1, saya mendapat kado yang luar biasa yang tidak bisa saya lupakan. Kado itu adalah kepergian mbah putri. Ya, pernah saya ceritakan sebelumnya tentang itu. Sekarang, ketika sumpahan apoteker sudah di depan mata. Saya kembali mendapat kado. Abang menikah dengan seseorang lain. Tapi tak apa, garis hidup harus dijalani. Saya baik-baik saja. Sayapun mendapat kado lain berupa pekerjaan di industri farmasi, nilai cumlaude, dan bahagia bersama keluarga dan teman-teman saya.

Ya, kado adalah pemberian. Entah itu menyenangkan atau sebaliknya. Semua harus diterima.


Happy wedding Abang. I’m happy for u.

Saturday, September 6, 2014

STORY OF JOBSEEKER

Apa yang kau rancang untuk hidup? muda foya-foya tua bahagia mati masuk surga? bersenang senang selamanya? C'mon man, wake up!

Mr Hamran said: Wiwiting mulyo jalaran kuate doa lan wani rekoso. Kalau diterjemahkan kurang lebih “the beginning of a glory life start from a pray and try hard!”

So, I do praying and trying. Harder!

Start from many months ago, when I almost pass my bachelors degree at pharmacy, i force my self to get out from my comfort room. Just stay at home for a long waiting is too bored. So I get a job even i’m still student. Apothecary’s assistant. For the first time i got my official salary. I know it’s not much but it’s complacent! I forgot about how many rupiah that i get. Initially i’ll give it to my mother, but she refused it, she said: this is your own fee, yur own money. Have fun with this properly!

After become an apothecary student, i decided to quit from my job. The only reason is, i wanna be focuse. I’ve many targets. Cumlaude is one of them. I know better than everyone that my bachelors is out of “good end” criteria. So i don't wanna loose this moment. I again force my self to do more and more. And the result is, I got cum laude for my Apothecary Profession. You know, its not easy to get it.

So, what’s a life? Is it just let the time goes day by day or challenge your self and make it more then just predictable.

And now, i'm here. Far away from my hometown, this is Bandung! This is my new job journey. Start in about a week ago, i joined an interview of a pharmaceutical industry. And i got it. Now, im a part of Quality Control Supervisor of Finishing Product. How many times i’ll be here? God knows. J

Sunday, August 31, 2014

Im Here !

Hello world, i finally out from my sweet home.
Far away from Jogja.
This is Bandung.
This is my new part of my life.
This what i really want.
Challenge my self to do more than i know i can do
Meet new people
Meet other habits
Meet different situation
I know its not easy
But I do really know that God is always beside me.

Saturday, August 23, 2014

Tentang rasa

Kata bercinta melalui bahasa. Ketika ia sendirian tak dikenal, ia hanya ucapan tanpa makna. Sedang manusia bercinta melalui rasa. Setiap detilnya tak perlu banyak dimengerti. Rasa adalah bahasa paling universal. Rasa tak perlu diteriak. Ia cukup timbul tiba-tiba.

Atasnama rasa, seseorang itupun tetiba berujar;

“Bulan depan abang menikah dek, doakan ya.”

Selamat abang.

Biarkan sejenak Adek mencoba mencerna banyak rasa sesaat setelahnya...

Abang, ketika seorang pria pandai merangkai kata, seorang wanita pandai mengolah banyak rasa bahkan memutarbalikkannya. (Nurul, Agustus 2014)

Sunday, August 17, 2014

Merdeka !

Indonesia, hari ini berusia 69 tahun. Hampir semua lini masa berbicara tentang kemerdekaan. Melawan penjajahan modern lah, atau kemerdekaan dalam arti yang lainnya. Saya? Mari seikit mengulik makna lain dari kemerdekaan tepat di momentum 17 Agustus.
Merdeka dalam kamus besar bahasa indonesia berarti bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dr tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa. Kurang lebih seperti itu. Maka kebebasan itu dalam hal ini saya titik beratkan pada berdiri sendiri. Pada 17 Agustus ini saya mencoba berdiri sendiri. Menjauh dari tiap inchi kenyamanan rumah, keramahan tetangga, dan sepoinya angin pedesaan. Jauh dari itu semua, inilah Bandung. Ya, saya pacu lagi jiwa ini. Saya tempa lagi mental ini. Menjauh dari rumah bukan bermakna hengkang dari tanggungjawab sebagai anak. Justru saya mengambil tanggungjawab saya sebagai anak dari sisi mengembangkan diri seoptimal mungkin untuk membahagiakan orang tua saya kelak.
Ceritanya, selesai tahapan ujian kompre kemarin, PT Sanbe membuka walk in interview di kampus. Tanpa pikir panjang saya ikuti proses tersebut. Kami diminta menjalani psikotest yang melelahkan. Bagaimana tidak, selama 2 jam kami diminta maraton mengerjakan soal ya, psikotest bukan menuntut pada selesai atau tidaknya semua soal tersebut dikerjakan, namun lebih untuk melihat sejauh mana kita bisa mengontrol waktu, emosi, dan pribadi masing-masing. Pada awalnya tak begitu yakin namun pada akhirnya email yang menyatakan saya lolos tahap psikotest pun datang. Dan.....jadilah saya ke Bandung. Tepatnya, di PT Sanbe Farma Jl. Leuwigajah. Interview yang diharapkan berujung baik dan menggembirakan.
Akan jadi seperti apa nantinya? Saya optimis disertai usaha dan doa yang maksimal. Jika ini rezeki yang elah Alloh siapkan, itu tidak akan tertukar.
So, bagaimana kemerdekaan versimu??? Merdekalah dari kenyamanan rumah yang memanjakanmu!!!

Salam MERDEKA dari Cimahi, Bandung!

Tuesday, August 12, 2014

When we're in relaphoneship

I just missing our  time, sharing about anything
Talking without speaking

I just missing my heart that beating harder when your name appear
I’m a little bit shy but don’t wanna be fear

Hi You,
What about you?
What you named me on you?

My father said people are come and go
Sometimes they spent a little longer just to make we grow
Growing better not just growing old

Hi You,
One day when Im with you
And so you belong with me too
I know what will we do

Speaking... Laughting... Loving...
No more texting...


(Nurul, Juli 2014)

Tuesday, July 8, 2014

Ujian Komprehensif bidang Industri

Tanggal 5 kemarin saya menjalani ujian komprehensif apoteker bidang industri. Saya mendapat penguji senior yang sekarang bekerja untuk Sanbe Farma. Beliau, Bapak Purwadi. Penguji lainnya adalah dosen senior farmasi UGM yang sudah akrab dengan kampus kami, Bapak Mufrod.

Bagaimana rasanya? Tidak terlalu biasa saja, namun juga tidak bisa dibilang biasa. Saya dan teman-teman satu kelompok pernah memrediksikan ini sebelumnya.

Sesuai list absensi, saya berada di urutan 7 dari 8 mahasiswa yang mengantri diuji beliau berdua. Kampus menjadwalkan mahasiswa harus datang pukul 08.00. Maka konsekuensinya saya harus berangkat satu jam lebih awal dari ketentuan. 30Km bukan jarak yang cepat untuk dilalui.

Kurang lebih pukul 12.50, giliran saya tiba. Tak apa, menunggu dalam waktu lama untuk sekedar “diremehkan” penguji juga sebuah proses.

Kursi biru itu tepat berada di tengah meja. Menghadap dua kursi lain yang telah sempurna menjalankan tugasnya. Dalam konflik antara jantung yang semakin derap dan usaha mengingat setiap materi, satu penguji tersenyum memersilahkan saya duduk. Sempat saya berfikir andai ujian komprehensif dibuat menarik. Misal dengan format diskusi di alam terbuka, bukan di dalam ruangan yang tersetting mengintimidasi. Dari nama ruangannya pun sudah membuat mental ngeri, Ruang Sidang. Bukankah Sidang selama ini terkonotasikan dengan pengadilan, kriminal, dosa dan hukuman? Mental inipun juga tambah terbebani dengan ketentuan lain, baju setelan hitam putih. Lengkap sudah. Baju yang menunjukkan seserang berada dalam kuasa orang lain. Sebagai contoh, pegawai baru disebuah toko, apotek, supermarket, dll mereka mengenakan baju hitam putih sebagai penanda. Mahasiswa baru pun demikian. Sehingga baju hitam putih bukan menjadi penambah kepercayaan diri. Buktinya? Banyak teman datang mengenakan jaket, sweeter, atau sekedar cardigan untuk menutupi.

Well, what if. . .
Bagaimana jika, saya imajinasikan ujian komprehensif dilakukan di alam terbuka, tidak perlu jauh-jauh semisal di halaman depan gedung kuliah kami, dibawah pohon matoa yang rindang, atau di tangga depan lab kami, di halaman syare Mart yang rindang, di bangku taman herbal, atau dimana sajalah. Mahasiswa datang dengan pakaian sesuai ketentuan kampus dan sesuai kenyamanan mereka, ada yang datang dengan warna kuning, pink, atau hitam. Tentu mereka lebih tau mana yang akan meambah kepercayaan diri mereka. Kepercayan diri yang akan menyamankan hati dan pikiran, mengamankan jiwa dari gejolak berlebihan. Mahasiswa dan penguji duduk bersama, mahasiswa bercerita, penguji menjalankan tugasnya dengan bertanya, diselingi bercanda, dibuai semilir angin, sesekali kupu-kupu atau capung hinggap. Aahhh pasti menyenangkan.

Back to reality, memasuki ruangan sidang dengan denting jam yang tak tik tuk beraturan, yang mampu saya ingat adalah;

Pak mufrod sempat mencoba menghiangkan ketegangan dengan bercanda mengira saya bersaudara dengan mahasiswa sebelumnya. Kami memang memiliki fisik yang hampir sama, besar. Pak mufrod menanyakan semua singkatan yang ia temukan, HVAC? AHU? PPIC? HEPA? MRP? OOS? Dan lain sebagainya. Bisa? Yaaaa sebagian besar saya tahu. Setelahnya, beliau banyak menanyakan perihal regulasi di PPIC, beda ranah kerja QC dan QA, tugas QA dan QC dari proses awal hingga sebuah produk dinyatakan release, konsep mutu yang dibangun dalam produk, water system, dan yang mendetail perihal kualifikasi alat filling kapsul yang menjadi tugas khusus saya ketika praktik.

Berbeda dengan pembawaan pak mufrod yang terkesan merilekskan, Pak Purwadi adalah tipikal yang menuntut kami untuk tahu mendetil terkait hal yang beliau pertanyakan. Beliau sangat ideal dalam memaknai ujian komprehensif yang pada tujuan awalnya adalah untuk mengevaluasi hasil studi mahasiswa dari awal kuliah hingga akhir profesi. Ya, seperti itulah.

Bahasa yang beliau pergunakan adalah murni yang tertera di CPOB, ini bukti beliau sangat expert dalam bidang ini. Beliau tidak menerima jawaban seperti raw material, QC, atau QA. Versi beliau yang harus kita ikuti adalah bahan awal, pengawas mutu, dan penjamin mutu. Begitulah. Kami lama membahas tentang prosedur pemilihan vendor bahan baku, pengujian sample, audit mutu, dan yang menarik adalah ketika beliau memberikan pertanyaan “apa pentingnya personalia”. Kami cukup lama membahasnya. Saya coba bawa Pak Purwadi ke alam imajinasi saya dimana ruang produksi berisi robot semua, semua alat sudah automatic. Meskipun produksi dilakukan seperti itu, namun selama produk tersebut digunakan oleh manusia maka tetap membutuhkan manusia untuk menilai layak tidaknya hasil produksi tersebut digunakan. Peran itulah yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Daaaannn saya rasa itu jawaban terkeren yang saya miliki diantara jawaban atas pertanyaan teoritis pak purwadi yang hanya bisa saya jawab sekenanya.

Pada intinya adalah, bukan siapa yang menguji kita, namun seberapa serius kita memersiapkan. Saya menaruh hormat kepada beliau berdua, karena dalam ke”senior”an beliau berdua masih berkenan untuk berbagi dengan calon apoteker yang ilmunya masiiihhh sangaaattt terbatas ini. Bergbagi dengan cara masing-masing, mendidik dengan metode masing-masing, dan tentunya mendoakan dengan tulus untuk generasi apoteker baru yang akan dilahirkan.


Terimakasih pak pur... pak mufrod... anggukan dan senyuman bapak diakhir percakapan kita menjadi energi buat saya. Energi yang kita tahu tak akan dapat musnah, hanya wujudnya berubah suatu saat...

Friday, June 20, 2014

one day citytour

One day, after rain..

and after the sun getting tired

we round the downtown just to kill the time

 enjoy to break down the traffic jam


because we love being on road
starting a random journey
getting lost somewhere
find another meaning of life


and... you have to do the same thing sometimes

Thursday, June 12, 2014

Welcome Party from Surabaya..

I finally get out from my house 
a distance away from the good life 
forge myself looking for another meaning of life
and ... here's Surabaya
.
.
.

first sunset at Surabaya

moving to... Apotek WIPA

Meninggalkan team lama, saya bergabung dalam team baru yang akan tetap bersama dalam 5 bulan kedepan. Melanjutkan praktik kerja profesi apoteker, saya menuju destinasi kedua. Apotek WIPA.
apotek ini termasuk apotek "senior" karena sudah berusia lebih dari 30 tahun. Tidak mengherankan kalau menejemennya pun sudah tertata rapih. Di apotek ini kami dibagi sesuai jadwal shift yang berlaku di apotek yaitu pukul 08.00-14.00, 14.00-20.00. Shift yang pendek jika dibanding dengan shift di apotek tempat saya dulu bekerja.
Kami tidak sendiri, ada beberapa mahasiswa profesi apoteker dari universitas lain yang juga berpraktik disana. Jadi, kami tak hanya belajar bagaimana manajemen di apotek, pelayanan kefarmasian di apotek, tapi juga bagaimana berinteraksi dengan teman sejawat dari universitas lain. Meskipun tidak mudah, namun yaaaa kami cukup bisa membaur dengan baik. :)
Dua bulan di apotek ini saya lebih menitikberatkan untuk belajar tentang pembukuan, administrasi, dan pajak. Rumit, tapi ya hrus dipelajari.
Ketika berpraktik di WIPA, secara otomatis kami berpraktik di 3 Apotek yaitu WIPA, Mentari, dan Umbulharjo Kenapa? karena pemiliknya sama. :) Dari ketiga apotek tersebut, saya paling merasa nyaman di apotek mentari. Entah mengapa.
Well, terimakasih bu Endang dan segenap karyawan...

Saturday, June 7, 2014

Puskesmas Umbulharjo II

Lelah? Mmmm mungkin iya. Sejak Januari saya memulai praktik kefarmasian. PKPA, Praktik kerja profesi apoteker. Apa itu? Let's see...

Destinasi pertama adalah PUSKESMAS UMBULHARJO II. Letaknya dipusat kota Jogjakarta, tepatnya dibelakang Balaikota Jogjakarta. Selama 10 hari kami mengabdikan diri menjalankan profesi kefarmasian di tingkat pertama. Seperti kebanyakan puskesmas, pasien yang datang berobat rata-rata memiliki keluhan yang sama. Tidak jauh dari sakit batuk, pilek, flu, diare, rematik, dll. Sehingga, obat yang kami kenal pun hanya sebatas obat generik dan beberapa obat branded yang masuk. Apoteker di Puskesmas ini masih muda, sehingga idealisme profesi masih ia pegang teguh. Saya harap sih bisa selamanya karena dengan idealisme tersebut Apoteker dapat lebih menunjukkan jatidirinya, tidak dibayangi oleh profesi kesehatan lain.
Kegiatan kami di puskesmas bisa dikatakan monoton. Setiap hari kami hanya melakukan dispensing obat, tanpa diperbolehkan menyerahkan. Kenapa? Awalnya kami berfikir Apoteker di Puskesmas ini kurang memberikan kepercayaan terhadap mahasiswa PKPA, namun setelah di dua hari terakhir kami berpraktik, Apoteker memberikan kami kesempatan untuk menyerahkan obat sekaligus konseling dengan pendampingan.  Alasannya satu, penyerahan obat sesuai undang-undang harus diserahkan oleh Apoteker sedangkan kami baru menjalani studi profesi Apoteker. Inilah salahsatu idealisme Apoteker Pusk UH II yang saya suka.
Bekerja di Puskesmas tidak seharusnya diremehkan, karena puskesmaslah yang menjadi pintu gerbang utama sarana kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Menjadi Apoteker di Puskesmas pun pastinya memiliki tantangan sendiri.


This is my team.

and this is our team


Sunday, May 25, 2014

Pengagum Senja

masa dimana langit terlihat lebih berbicara
bumi menjadi  lebih bercerita
desir angin pun terasa lebih manja

ayah yang letih namun tetap menggendong anaknya
pemuda gagah berlari mengajak anjingnya
melewati sepasang kekasih yang duduk bercengkrama

senja membawa langkah pulang
mengepakkan setiap sayap si pipit kembali ke sarang
meronakan langit menjemput petang

di sudut lainnya
seseorang memejamkan mata
khusyuk mengucap sebuah nama
diantara angin yang ia harap dapat menyampaikan kerinduannya


(Nurul, Mei 2014)


Monday, May 19, 2014

salahkah?

Apasalahnya sebuah ingatan
Terkadang ia tiba-tiba muncul penuh keharuan
Mengenang masa atau sekedar sekelebat asa
Menampik kenyataan yang terkadang jauh dari rencana

Apasalahnya sebuah rindu
Membuncah tak tau malu
Meski kadang rindu muncul bukan karena rindu
Hanya kegilaan yang memuncak karena tak kunjung bertemu

(Nurul, Mei 2014)


Saturday, May 17, 2014

Unusual destination, Jogja Library!

Jogja Library. This place is on  the right side of Malioboro street. What will we find here? Books. Of course. But more than ordinary library, this place show us about history. I dont know how many books here but, its less than usually library. Most of the collections are codices or, the ancient draft.

When you enter this library, you will immediately feel entering a diffrent era. High building, not usual stair, quite, and... (come and feel by your self). Its like a hidden place. I reach to the second floor to see the collections, but i dont want to see anymore at the time because... i feel it. When u go to the second floor u’ll see malioboro street from above.

stairs

 Malioboro street from above

 terrace


reading room

reading chairs

photostory, history of jogja

pupet

Don't just read this (bad grammar) post. Come to see, sometimes...

Monday, May 5, 2014

Me and books



Me
My Self
and
Books
It's good enough !

menjauh sesaat dari kepenatan Praktik Kerja Profesi Apoteker.
memanjakan mata dengan barisan kata-kata
sesekali
sebelum stres kembali menghampiri

Sunday, April 20, 2014

Apa hebatnya seorang kakak?!

Kakak saya, dia tergolong cerewet untuk ukuran pria. Segala macam diatur, diberi SOP. Ia akan pergi kemudian sms panjang lebar ketika ribut dengan saya. Ketika kecil, kakaksaya sering mengatai saya kemayu, manja, galak, dll. Kesal? Tentu saja. Tapi kekesalan itu seketika sirna ketika kami bersama menerbangkan layang-layang di sawah yang barusaja dipanen, bermain petak umpet bersama anak tetangga, atau sekedar diajak main oleh bapak dan ibu nonton sirkus di alun-alun.

Kami sering pula cek-cok. Hal sepele sampai hal gede pernah kami perdebatkan. Dulu saya merasa kakak saya malu punya adik seperti saya. Ketika di depan teman lain, tak jarang kakak saya acuh, terkesan tak peduli ada ataupun tak adanya saya. Bahkan ia meminta pindah sekolah jika saya masuk ke SD yang sama dengannya dulu.

Lalu, kenapa saya begitu teramat menyayanginya?

Bukan hanya meng-iya-kan takdir bahwa ia adalah kakak saya, tapi cara Tuhan mendidik saya lewatnya. Kami seimbang dalam banyak hal. Ketika saya dibawah, ia mampu mengangkat saya, dan ketika saya berlebihan dia akan segera menyeimbangkan. Tak melulu soal materi, segala hal ia sering lakukan.

Lantas, apa hebatnya seorang kakak?!

Dari kacamata saya, kakak adalah pelindung. Dari awal titah kehidupannya, ia diberi missi untuk melindungi adiknya. Awal titah kehidupannya? Bisa apa dia? 

Oke, let’s think about this.

Rahim ibu, ia mencobanya terlebih dahulu. Ketika rahim tak kuat, maka ia gugur. Ia “pertaruhkan nyawa” untuk memastikan bahwa rahim wanita yang kelak ia panggil ibu cukup kuat sehingga kelahiranya menjadi bukti. Maka setelah ia lahir, jika ada janin lain yang kelak tumbuh di rahim yang telah ia coba sebelumnya, bisa dipastikan hidup. Janin lain itulah, sang adik.

Kehamian pertama, seorang ibu belum tahu apa saja yang harus dan jangan dimakan, supplemen apa saja yang baik untuk perkembangan bayinya, atau sekedar treatment khusus apa yang bisa si ibu lakukan untuk bayi di kandungannya. Bagaimana seorang ibu menyelesaikan semuanya? Coba-coba. Di Apotek tempat saya dulu bekerja, banyak ibu muda yang “coba-coba” supplement kehamilan. Pertanyaannya, siapa yang menjadi obyek percobaannya? Tentunya si janin anak pertama. Ketika treatment coba-coba itu hasilnya baik, janin itu akan lahir baik. Ketika treatment coba-coba itu keliru, wallohu a’lam... ya, janin pertama itu kembali “bertaruh nyawa”. Maka ketika ia terbukti lahir selamat dan tumbuh baik, banyak ibu akan mengulang treatment yang sama kepada janin berikutnya. Janin berikutnya itulah, sang adik.

Kelahiran pertama, apa yang terfikir di benak ibu? Sakit. Ia pasti akan berfikir banyak tentang kesakitan itu. Meskipun ia mendapat penjelasan dari banyak ibu lainnya tentang hilangnya rasa sakit setelah mendengar tangis pertama sang bayi, tetap saja fikiran tentang rasa sakit itu tak hilang. Bagaimana bisa hilang dan menjadi tenang kalau ia sendiri belum merasakannya. Janin pertama itupun kembali “bertaruh nyawa” ketika tiba masa dia harus menjadi manusia. Ini bukan kali pertama bagi janin itu, namun pertaruhan di tahap ini adalah yang menentukan. Ia harus mampu “mendobrak pintu keluar”. Memang ia tidak sendiri, sang ibupun turut membantu dan bertaruh. “pintu” yang tak selebar telapak tangan itu harus bisa dilewati kepala dan seluruh badan utuh bayi pertama. Hidupnya si bayi pertama menjadi bukti bahwa ibu itu mampu berjuang untuk melahirkan. Seluruh fikiran kesakitan di awal akan langsung hilang. Lalu dengan mudah ia akan berfikir, “O, begini rasanya melahirkan”. Maka suatu ketika jika ada janin lain siap untuk dilahirkan dari rahimnya, ibu itu telah 100% siap, dan janin lain itupun tak perlu “mendobrak”, ia cukup lewat. Janin lain itulah, sang adik.

Masih banyak hal lain yang seorang kakak (sadar ataupun tidak) rela mencoba dengan bertaruh nyawa demi adiknya. Anak pertama yang lahir pada kondisi keluarga yang masih belum stabil, ia diharuskan rela untuk ikut berpayah hidup sedang anak kedua dan seterusnya, tak perlu lagi berpayah karena kondisi keluarga yang sudah lebih baik. Maka bagaimana bisa saya membenci kakak saya, sebawel apapun ia. Ketika kami berselisih pendapat, saya selalu mencoba mengingat pemikiran saya diatas. Untuk banyak hal, ini sangat efektif. Saya ingin melebihkannya, saya ingin meninggikannya, saya ingin... *sayapun terisak. Kakak, hidup saya saat ini (sadar ataupun tidak) adalah hasil dari perjuanganmu “mendidik” ibu untuk dapat menjadi ibu seutuhnya...


Maka untuk anda anak pertama, berbahagialah karena Tuhan menitahkan anda ke dunia dengan “missi” besarNya. “Missi” yang tidak dimiliki anak kedua, ketiga, dan seterusnya... (Nurul)

Monday, April 14, 2014

welcome PKPA (late post)

Jadi, ceritanya sejak bulan januari kemarin saya sudah memulai praktik kefarmasian. PKPA, atau praktik kerja profesi apoteker. Diawali dengan 10 hari di puskesmas Umbulharjo II, dilanjutkan dengan 2 bulan di Apotik WIPA, dan mulai April hingga Mei nanti, saya resmi berpraktik di PKU Muhammadiyah Jogjakarta.
Mungkin tidak sekarang saya tuliskan, beberapa dateline masih menanti.

Wednesday, March 26, 2014

At the top of "Gunung Api Purba"

Pernah saya postingkan beberapa foto yang saya ambil di gunung api purba, cek di sini dan sini. Jika dilihat, keduanya baik-baik saja. Tetap cantik dan tersenyum menyenangkan. Namun tahukan anda betapa wahainya proses pengambilan foto itu. Kami mendaki setelah hujan, jalan tanah yang licin, tanjakan, turunan, dan yang lebih wahai adalah satu dari teman kami mendaki menggunkan wedges, tiga orang mengenakan rok.

Kami awali hari itu dengan berkumpul di rumah Mamo. Seperti biasa, kami yang telah beberapa hari dan bahkan ada yang beberapa bulan tidak bertemu menjadi tak terkendali ketika sudah berkumpul bersama.
sarapan dulu

welcome
lets start

step up








rasakan sensasinya kawan, bersujud disuasana seperti ini sangat terasa lain. Merasa manusia benar-benar makhluk kecil, merasa betapa agungnya Sang Maha Pencipta.

And finally, Puncak Mas Bro! tunggu, tak semudh itu mencapai puncak. Kita harus...
manjat. ini satu-satunya tangga yang membawa ke puncak.


 So, apa yang dilakukan setelah di atas? Termenung. Ini yang pertama akan dialami setiap orang yang berhasil menakhlukkan puncak. Puncak dimanapun itu.

Ya, kami termenung. Duduk merasakan hembusan angin. Meskipun Gunung ini tak seberapa tinggi, namun kami merasakan dengan seperti ini kami membawa persahabatan kita jauh lebih bermakna. Saling tolong-menolong, merasakan berjuang bersama, dan yang pasti menikmati hasil perjuangan bersama.


Kami tuliskan mimpi, rencana besar kita. Kita alihbahasakan segala perasaan ketika itu menjadi rangkaian kata. Kami berbicara tentang mimpi, tentang seseorang, tentang banyak hal. Apasaja. Itu sangat menyenangkan.
 Di atas semua itu, kami merasakan.....

FREEDOM!!!!!!!!

and PEACE......

Jangan remehkan perempuan. Dari segi apapun itu, hati pikiran, perkataan ataupun perbuatan. Jangan pernah remehkan kami. Seandainya anda para lelaki merasa jauh lebih hebat dan tangguh, takhlukkan Gunung api Purba dengan rok dan wedges! We are strong girls!
Gokuraku, minus 4

Thanks everyone, I always proud of our Gokuraku.. :* kiss

Yes, We Are! :)







Sunday, March 16, 2014

Ketika perempuan mengajak berbicara

Selalu saja simbah putri memintaku duduk disampingnya. Seperti biasa, ia mulai bercerita tentang masa kecil, masa sekolah, dan masa-masa lain yang ceritanya masih kuat diingatanku. Selalu sama. Entah sudah berapa kali namun sensasinya masih sama, menggebu. Memintaku merasakan tiap emosi dari tiap kisahnya. Entah pula berapa kali mbah kakung menertawakan sikapku yang selalu mau mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan sepenuh hati. Aku tahu kelak pada waktunya akupun akan berada diposisi itu, mengulang banyak cerita yang sama. Dan ketika masa itu tiba, aku ingin ada orang yang mendengarkan tak cukup sekali. Ia hanya mampu berbaring. Sendi yang menua telah kehilangan pelumasnya. Pun ditambah jatuh terakhir kali yang membuat lututnya bengkak. Simbah putriku yang dulu setiap hari selalu hingar dengan kehidupan pasar, harus ikhlas merasanya sunyi tinggal berdua dengan mbah kakung di rumah yang luas itu.

***
Dulu ketika kecil, sering sekali kuhitung berapa kali ia bunyikan klakson motor sepanjang jaan ketika kami bepergian. Keisengan yang membuatku sadar betapa “tenar” nya ibuku. Aku kecil selalu merasa senang ketika orang menyebutku “Putrane mbak umi”. Ibu orang biasa saja, bukan pejabat atau konglomerat. Keluarga kami biasa saja. Rumah kami biasa saja. Tapi hati ibu betapa besarnya. Temannya banyaaaaaaaaaaaaaakkk sekali. Itulah mengapa aku kecil selalu menghitung berapa kali ia bunyikan klakson saat dijalan. Itu menandakan berapa kali ia menyapa temannya. Ibu tak pernah memberiku petuah tentang bagaimana menjadi ini itu, ia terlalu repot untuk sekedar duduk berbicara tentang sebuah masalah. Ia banyak mengurus urusan lain, kantor, kelompok pengajian, atau perkumpulan lain. Namun jangan dikira ia tak peduli dengan anaknya. Atas semua yang ia lakukan, ia mengajari kami setiap harinya. Ia berbicara pada kami dengan berbuat. Ia mendidik kami dengan perbuatan. Ia tanamkan kemandirian. Sederhana saja, ketika ia tak sempat memasak sarapan maka ketika itu ia mengajarkan kami cara mengatasi kelaparan. Mau tidak mau kami memasak. Dan mau tidak mau kami akan terbiasa memasak. Dimana pelajarannya? Ada pada kebiasaan. Bahwa memasak bukan hanya pekerjaan ibu. Itulah mengapa ayah kami, kakakku pun bisa memasak. Bayangkan betapa kacaunya jika memasak menjadi tugas pokok ibu. Ibu juga tidak pernah punya waktu untuk sekedar bertanya bagaimana kehidupan sosial kami. Aku dan kakak tidak pernah secara khusus mengobrol tentang pergaulan kami. Apa itu salah? Tidak. Ketika ia tak banyak tanya tentang kehidupan luar rumah kami, ia sedang menanamkan kepercayaan. Adakah yang lebih berharga dari kepercayaan yang orang tua berikan kepada anaknya? Ketika orang tua percaya sepenuhnya, jika anak itu memang seorang anak dia akan merasa berharga mendapat kepercayaan orang tua. Dengan acuhnya ibu, sebenarnya ia berbicara kepada kami tentang agungnya sebuah kepercayaan, ia memperingatkan kami untuk jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan. Itulah mengapa aku diizinkan pulang malam, diizinkan melakukan banyak hal, bepergian ke banyak tempat. Tak sekalipun ia melarang. Karena kami sama-sama berpegang pada kepercayaan, kami berpegangan untuk tidak mengecewakan.

***
Aku mengenalnya cukup lama. Namun kami bertemu nyata hanya beberapa kali. Kami banyak bertukar obrolan, terkadang ia mengajariku banyak hal. Ia mendidikku tanpa menggurui. Bertahun pada posisi ini. Kebersamaan diantara dua jenis makhluk tuhan, mustahil “baik-baik” saja. Taukan ia tentang teori itu? Aku hanya bisa menerka. Ketika berhari-hari ia tak juga menyapa, kurelakan melanggar takdir perempuan untk menyapa terlebi dahulu. Ketika ia yang tiba-tiba berujar suatu hal, aku cukup tahu diri untuk menahan cerita yang ingin kusampaikan. Kupersilahkan waktuku untuknya. Tak mungkin kutempuh jalan tabu. Maka kupilih perantara Tuhan untuk menyampaikan. Kusampaikan segalanya pada Tuhan. Kuminta apa yang patut untukku. Menyebutnya dalam doa, itu caraku membicarakan semua pemikiranku yang tak tersampaikan. Biar Tuhan yang “membicarakan” padanya entah dengan cara apa. Ketika cinta selain kepada Tuhan dan Rosulnya adalah fana, maka cinta kepada makhluk yang mendekatkan cinta itu pada Tuhan dan Rosulnya...izinkanlah ini menjadi nyata. Aku percaya.

***

Ya, kami perempuan. Kami memiliki banyak bahasa. Bahkan setiap tingkah kamipun dapat membahasakan keinginan kami. Kami tahu, lelaki bukanlah cenayang, tapi kejelasan itu tak selalu gamblang.
Best regard, Nurul.

Mengenal Ibu Inggit

Bagi anda yang belum atau tidak familiar dengan nama tersebut, mari saya perkenalkan dengan beliau. Ibu Inggit Garnasih. Istri kedua Ir. Soekarno yang merupakan cinta pertamanya. The real first lady. Dalam hal ini saya lebih suka menyebutnya Ir Soekarno daripada presiden Soekarno karena menurut saya ketika menceritakan sosok ibu inggit, akan sedikit menyakitkan hati jika harus membahas kepresidenan beliau.

  
berbagai sumber

Saya mengenal ibu Inggit lewat program TV Menolak Lupa yang ditayangkan oleh Metro TV. Mencermati kisah ibu Inggit yang begitu mengesankan, sayapun melanjutkannya dengan googling. Banyak sekali cerita ibu inggit yang bisa dibaca di Internet, dari asal muasalnya, kesetiaannya, dan yang paling penting adalah, perjuangan beliau. Hingga pada akhirnya, terbelilah sebuah novel yang ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan ibu Inggit sebelum beliau wafat pada 13 April 1984 pada usia 96 tahun. Adalah Ramadhan K. H novelist yang menulis novel tersebut. Saya sempat membaca karya beliau sebelumnya, Rojan Revolusi. Namun karena buku milik bapak saya tersebut sudah “buluk” dan kumal maka saya tidak selesai membacanya. Buku tentang ibu Inggit tersebut berjudul, Soekarno: kuantar ke gerbang.
Bentang Pustaka
Mengapa “kuantar ke gerbang”? karena Ibu Inggit hanya mengantar, tidak ikut masuk apalagi menikmati apa yang ada di area setelah gerbang. Padahal yang kita tahu, gerbang adalah sebuah batas pertahanan untuk mencegah sesuatu yang buruh masuk ke dalam. Gerbang membatasi sebuah rumah mewah dengan lingkungan yang dapat mengancam ketentraman dalam gerbang. Gerbang membatasi kenyamanan dengan jalan terjal dan berbatu. Gerbang menjadi batas Ibu Inggit dengan prinsip yang ia pegang teguh. Prinsip seorang perempuan yang hebatnya tak goyah dengan iming-iming kehidupan di dalam gerbang.
Singkatnya, Ir Soekarno ketika berkuliah di ITB tinggal (kos) di rumah Ibu Inggit dan suaminya yag ia panggil Kang Uci. Saat itu memang hubungan antara kang uci dengan ibu inggit renggang. Sifat keibuan dan welas asih ibu inggit rupanya mampu membuat Soekarno jatuh hati. Meskipun kala itu soekarno telah beristrikan Utari yang lebih ia anggap sebagai adik sendiri. Cinta soekarno pada utari memang berbeda, pernikahan yang menjadi kehendak orang lain namun atas dasar cinta kakak kepada adiknya. Namun cinta soekarno pada ibu inggit, adalah cinta seorang lelaki pada perempuan. Dengan ditalaknya ibu Inggit oleh kang Uci, soekarno diizinkan oleh kang uci untuk menikahi ibu inggit setelah “mengembalikan” Utari ke kedua orang tuanya dan setelah ibu inggit melewati masa idah. Maka, jadilah ibu inggit sebagai Ny. Soekarno. Kusno. Itulah panggilan sayang Ibu Inggit pada pemuda yang menjadi suaminya. Ibu Inggit rela bekerja untuk mendapatkan rupiah. Menjahit, membuat bedak, jamu, rokok dengan merk “Ratna Djuami” (nama anak angkat Ibu Inggit dan Soekarno) untuk dijual. Tidak hanya untuk kehidupan sehari-hari, rupiah yang Ibu Inggit kumpulkan juga untuk membiayai kehidupan Kusnonya. Kehidupan kuliah dan politik yang mahal. Biaya ke luar kota, biaya konsumsi untuk menjamu kawan Kusnonya yang datang berdiskusi, pertemuan yang hampir setiap hari di rumahnya, biaya lain-lain yang tentunya tak sedikit. Untuk semua itu, Ibu Inggit bekerja sendirian. Fokus Soekarno kala itu adalah kuliah dan berpolitik. That’s it. Pun setelah Kusnonya dinyatakan lulus dari ITB (sekarang), fokusnya tetap sama. Hanya sesekali ia mendapat honor dari tulisannya.
  
berbagai sumber

Tak berhenti di permasalahan finansial keluarga, ketangguhannya sebagai seorang perempuan Ibu Inggit tunjukkan melalui kesetiaan. Ia setia mendampingi Kusnonya untuk berpidato ke banyak tempat, ia bimbing Kusnonya untuk tetap tegar ketika hal buruk menimpanya, ia seka keringat Kusnonya, ia mendengarkan keluh kesah Kusnonya tanpa banyak bercakap, ia berjalan jauh berkilo-kilo meter bersama Ratna Djuami anak angkatnya untuk menjenguk Kusnonya di bui, ia masakkan makanan yang Kusnonya sukai, ia selundupkan berbagai surat kabar ke dalam bui agar Kusnonya tetap tahu perkembangan di luar, ia masukkan uang logam ke dalam makanan yang ia bawa untuk kusnonya, ia tandai huruf-huruf di Alquran untuk memberi kabar keadaan di luar bui pada Kusnonya, ia kodekan masakan tertentu sebagai penanda keadaan di luar bui, ia selundupkan banyak buku untuk Kusnonya di bui sehingga dapat tercipta pledoi “Indonesia Menggugat”, ia yang berjiwa bebas rela menemani Kusnonya di pengasingan flores dan di bengkulu, ia menembus hutan, ia menunggu, ia menangis dalam diamnya, namun pada akhirnya prinsip hidup mengharuskannya memilih berpisah... ya setelah semua yang ia lakukan...

“Itu mah pamali, ari di candung mah cadu (itu pantang, kalau dimadu pantang)”. Inggit Garnasih

Kata-kata itu beliau ucapkan ketika Kusnonya meminta izin untuk menikahi fatmawati yang sesungguhnya telah Ibu anggap anak sendiri. Fatmawati adalah teman Ratna Djuami ketika di berada di Bengkulu. Ibu Inggit yang berusia 53 tahun harus mendengar permintaan Kusnonya untuk menikah lagi demi keinginannya memiliki keturunan. Betapa menyakitkan membicarakan masalah keturunan pada perempuan 53 tahun yang sudah tentu tidak dapat memberikan keturunan... Dengan alasan itu, ibu Inggit tak dapat mengelak dari perpisahan.

Begitulah perempuan itu mengambil keputusan sesuai prinsipnya. Pantang dimadu. Meskipun ia tahu kehidupan dengan Kusnonya akan semakin jaya setelah kemerdekaan, ia samasekali tidak memperhatikan itu. Ia berprinsip, ia memutuskan. 20 tahun menapaki kehidupan penuh perjuangan, kesedihan, dan banyak pengorbanan, namun ibu inggit rela memberikan hasil buahnya kepada perempuan lain. Perempuan lain yang kemudian oleh bangsa ini dinobatkan menjadi ibunegara pertama.
Ibu Inggit, Soekarno, Ratna Djumi, Kartika (depan tengah) dan dua murid Soekarno
Ibu Inggit dan Soekarno memiliki dua anak angkat, Ratna Djuami yang meupakan anak dari saudara Ibu Inggit, serta Kartika yang ia rawat sejak di Ende, Flores. Mereka adalah saksi sejarah perjuangan Ibu Inggit untuk bangsa ini melalui pengabdiannya kepada Soekarno. Kasih sayang ibu Inggit pada keduanya benar-benar tulus. Ibu kepada anaknya.

21 April 2012, dihari kartini dua tahun silam, keduanya diperemukan kembali dalam Seminar Nasional pengusulan kembali Ibu Inggit sebagai pahlawan nasional. Seseorang dari Kompasiana mengabadikan kebersamaan beliau.
image image

Mungkin itulah pertemuan terakhir mereka, karena pada 23 Juni 2013, Ibu Ratna Djuami yang Soekarno panggil Omi itu berpulang ke Rahmatulloh...


Segala kisah tentang Ibu Inggit, peruangannya, ketegarannya, serta begitu berprinsipnya beliau... masih adakah yang tega tidak mengenalnya??? Jadi, apakah itu perempuan? Kami adalah makhluk lemah yang sangat tangguh...!