Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, October 22, 2013

PBL atau problem based learning

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Untuk pertama kalinya, metode pembelajaran Problem Based Learnng (PBL) diperkenalkan di McMaster University pada tahun 1969 yang kemudian diikuti oleh 60 sekolah kesehatan dalam kurun waktu 20 tahun (1). PBL merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengatahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut (1). Penelitian terkait psikologis dan teoritis mengenai PBL menunjukkan bahwa seorang siswa yang belajar dengan cara memecahkan masalah akan mendapatkan dua hal sekaligus yakni konten materi dan strategi berfikir (2).
Ada empat tujuan utama dari sistem PBL menurut Barrows (3) yaitu:
1.         Penataan/ penyusunan pengetahuan dan konteks klinis
2.         Pemikiran/ penalaran secara klinis
3.         Kemampuan belajar mandiri
4.         Motivasi intrinsik
Metode yang dilakukan adalah dengan cara membagi siswa dalam kelompok kecil dan menggunakan sebuah kasus atau skenario sebagai sumber pembelajaran. Kasus yang diberikan adalah kasus nyata pada kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan siswa akan mendapat keahlian dalam mengevaluasi permasalahan pasien, menentukan permasalahan utama dan membuat keputusan yang tepat untuk mengatasinya (1). Ada beberapa keuntungan ketika pembelajaran dilakukan pada kelomok kecil antara lain,
1.         Meningkatkan persahabatan dikalangan siswa
2.         Memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi lebih dekat dengan pengajar dibanding pada sistem belajar di kelas dengan jumlah siswa yang banyak.
3.         Sistem tutorial yang teratur akan menumbuhkan suatu tekanan yang memacu siswa untuk lebih rajin belajar mandiri untuk memenuhi dateline yang telah disepakati (4).
Adapun beberapa kekurangan dari sistem ini antara lain, metode PBL dilakukan secara berkelompok sehingga akan membuat siswa yang malas menjadi semakin malas serta siswa akan merasa guru tidak banyak berperan/ tidak pernah menjelaskan karena model  pembelajaran ini menuntut peran aktif dari siswa (5).
Dalam sistem PBL, pengajar bertindak sebagai mentor yang akan mendampingi siswa dan tidak lagi banyak berperan sebagai pemberi informasi (6). Pengajar/ tutor dalam sistem PBL menjadi fasilitator yang meningkatkan fungsi dari kelompok dengan mengajak semua anggota kelompok untuk aktif berdiskusi, memantau jalannya diskusi serta menjaga arah diskusi sesuai dengan tujuan, dalam hal ini tutor diperbolehkan untuk mengintervensi jika diperlukan. Selain itu, seorang tutor dalam sistem PBL hanya mengarahkan siswa pada kerangka berfikir yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan pengetauan siswa secara mandiri (2,4). Prinsip dalam sistem ini adalah berpusat pada siswa (student centered) berbeda dengan metode tradisional yang lebih berorientasi pada pengajar (teacher-centered) (6).
Tahapan dalam melakukan sistem PBL menurut Schmidt (4) terbagi menjadi tujuh langkah yaitu:
1.         Mengklarifikasi dan menyepakati definisi istilah dan konsep yang tidak jelas.
2.         Mendefinisikan masalah, menyetujui fenomena/ hal mana yang memerlukan penjelasan.
3.         Menganalisa pengertian dari beberapa komponen, menjelaskan secara brainstorming (curah gagasan), dan mengembangkan hipotesa.
4.         Mendiskusikan, mengevaluasi, dan mengatur penjelasan yang tepat dalam hipotesa.
5.         Membuat prioritas tujuan pembelajaran
6.         Melakukan kajian dan penelitian terhadap tujuan pembelajaran diantara tutorial.
7.         Melaporkan kembali pada pertemuan tutorial berikutnya, mensintesiskan penjelasan secara komprehensif dari fenomena/ permasalahan dan menerapkan kembali informasi baru yang telah disintesis ke dalam permasalahan.

Sebuah literatur (4) menyimpulkan tentang sistem PBL yaitu,
1.         Siswa yang belajar dalam situasi yang “tidak menguntungkan” akan cenderung mengompensasi dengan belajar lebih keras. Hal ini kemungkinan karena siswa cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan belajar mandiri.
2.         Angka drop out pada sistem PBL jauh lebih sedikit dibandingkan sistem konvensional. Hal ini kemungkinan karena siswa belajar dalam keompok kecil sehingga timbul perasaan “seakan-akan berada di rumah”/ “hommy”. Selain itu, siswa difokuskan pada interaksi antar individu yang mana satu persatu siswa menjelaskan pandangan mereka terhadap suatu permasalahan, belajar satu sama lain sehingga membuat siswa belajar secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Neville, A. J., 2009, Problem-Based Learning and Medical Education Forty Years On, Medical Principles and Prctice, 18:1-9.
2.       Silver, C. E. H., 2004, Problem Based Learning: What and How do Student Learn?, Educational Psychology Review, Vol 16:235-266.
3.       Barrows, H. S., 1986, A taxonomy of problem based learning methods, Medical Education, Vol 20:481-486.
4.       Schmidt, h. G., Rotgans, J. I., Yew, E. H. J., 2011, The Process of Problem Based Learning: what works and why, Medical Education, Vol 45:792-806
5.       Kusumaningsih, R., 2008, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Kemampuan menerapkan Nilai-nilai Sikap Berekonomi dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa Kelas X MAN Mojokerto, Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Malang.

6.       Kristiyani, T., 2008, Efektivitas Metode Problem Based Learning pada Mata Kuliah Psikologi Kepribadian I (Replikasi), Cakrawala Pendidikan, Vol 27: 286-294

No comments:

Post a Comment