Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, October 22, 2013

DRUG MANAGEMENT CYCLE: SELECTION

LEARNING OUTCOME TUTORIAL I BLOK II
“SELECTION”


Nama        : Nurul Fatimah
NIM           : 13811118
Kelompok  : D


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013

1.       Mengetahui definisi dan tujuan seleksi obat serta pentingnya seleksi obat di RS.
a.    Definisi
Seleksi merupakan sekumpulan proses yang dilakukan sebagai upaya memberikan keuntungan bagi pihak RS maupun pasien yang mempertimbangkan kebutuhan, keselamatan, dan finansial (1), meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat (2).
b.    Tujuan
-       Menetapkan obat mana yang harus tersedia untuk diresepkan dan dipesan oleh praktisi pelayanan kesehatan. Keputusan ini didasarkan pada misi rumah sakit, kebutuhan pasien dan jenis pelayanan yang disiapkan.
-       Mengembangkan suatu daftar (formularium) dari semua obat yang ada di stok. Pemilihan obat adalah suatu proses kerjasama/kolaboratif yang mempertimbangkan baik kebutuhan dan keselamatan pasien maupun kondisi ekonominya (1).
c.       Pentingnya; Bagi RS Pemilihan obat berdampak langsung pada pasokan obat/ supply menjadi baik,  mendukung pengobatan rasional yang lebih baik, dan membuat biaya menjadi lebh rendah sehingga RS sangat perlu melakukan proses seleksi obat (1)
2.       Mengetahui kriteria seleksi obat menurut WHO dan DOEN.
Kriteria seleksi obat menurut WHO (1,3);
a.       Sesuai dengan pola penyakit.
b.      Memiliki data dan bukti ilmiah terkait efektivitas dan keamanan yang memadahi dari hasil uji klinis.
c.       Memiliki kualitas yang baik termasuk data bioavailabilitas, stabil dalam penyimpanan hingga penggunaan.
d.      Ketika terdapat dua atau lebih obat yang sama dalam hal khasiatnya maka dilipih dengan pertimbangan efikasi, keamanan, kualitas, harga, dan ketersediaannya.
e.      Memiliki cost-benefit rasio yang baik
f.        Lebih diutamakan obat dengan komposisi zat aktif tunggal
Sedangkan menurut DOEN didasarkan atas kriteria diantaranya:
a.    Memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita.
b.    Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.
c.     Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.
d.    Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan tenaga, sarana dan fasilitas kesehatan.
e.    Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita.
f.     Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung.
g.    Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa, pilihan dijatuhkan pada :
-       Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah;
-       Obat dengan sifat farmakokinetik yang diketahui paling menguntungkan;
-       Obat yang stabilitasnya lebih baik;
-       Mudah diperoleh;
-       Obat yang telah dikenal.
h.    Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria berikut :
-       Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap
-       Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih tinggi daripada masing-masing komponen
-       Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang tepat untuk sebagian besar penderita yang memerlukan kombinasi tersebut;
-       Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio);
-       Untuk antibiotika kombinasi tetap harus dapat mencegah atau mengurangi terjadinya resistensi dan efek merugikan lainnya (4).
3.       Mengetahui hal yang berhubungan dengan KFT
a.    Definisi
Panitia Farmasi dan Terapi/ Komite Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari Farmasi Rumah Sakit, serta tenaga kesehatan lainnya (2).
b.    Kedudukan KFT di RS
Sebagai promotor pengobatan rasional yang sesuai dengan perundangan dan prosedur juga mengedukasi pasien dan staf (3). Dalam struktur organisasi, KFT berada di bawah komite medik yang bertanggung jawab kepada direktur (5).
c.     Tujuan dan ruang lingkup kerja KFT
Tujuan;
-       Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya
-       Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan (2).
Fungsi dan ruang lingkup;
-       Mengembangkan formularium di Rumah Sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk dimasukan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama.
-       Panitia Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
-       Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam kategori khusus.
-       Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakankebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional.
-       Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan mengkaji medical record dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat secara rasional.
-       Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
-       Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat (2).
d.    Tugas tiap anggota; Anggota KFT terdiri dari 3 komponen yaitu dokter (diutamakan dokter spesialis farmakologi klinik) sebagai ketua, Apoteker wakil dari IFRS sebagai wakil ketua atau sekretaris, perawat senior, bagian keuangan RS, dan laboran atau mikrobiologis yang jumlahnya menyesuaikan kebutuhan RS(3).
-       Tugas apoteker dalam KFT;
Menjadi salah seorang anggota panitia (Wakil Ketua/Sekretaris), Menetapkan jadwal pertemuan, Mengajukan acara yang akan dibahas dalampertemuan, Menyiapkan dan memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam pertemuan, Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan pada pimpinan rumah sakit, Menyebarluaskan keputusan yang sudah disetujui oleh pimpinan kepada seluruh pihak yang terkait, Melaksanakan keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam pertemuan, Menunjang pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, pedoman penggunaan antibiotika dan pedoman penggunaan obat dalam kelas terapi lain, Membuat formularium rumah sakit berdasarkan hasil kesepakatan Panitia Farmasi dan Terapi, Melaksanakan pendidikan dan pelatihan, Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat, Melaksanakan umpan balik hasil pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat pada pihak terkait (2).
-       Tenaga kesehatan lain berperan sebagai anggota yang memiliki hak suara yang sama (5).
4.       Mengetahui ha-hal yang berhubungan dengan sistem formularium
a.    Definisi
Merupakan sebuah prinsip, kriteria, prosedur, dan sumber untuk menghasilkan, memperbaharui, dan mempromosikan formularium (1,2,3).
b.    Hasil dari sistem formularium berupa standar terapi (standart treatment guidline), daftar formularium (formulary list), dan pedoman formularium (formulary manual) (1,3).
5.       Mengetahui hal-hal yang berhubunan dengan formularium
a.    Definisi; formularium adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh Panitia Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas waktu yang ditentukan (1,2,3,5).
b.    Proses penyusunan terdiri dari pengumpulan daftar penyakit dengan prevalensi tertinggi di RS, membuat standar terapi dengan pilihan utama terapi untuk masing-masing penyakit, membuat daftar obat yang digunakan, meminta pertimbangan dari masing-masing departemen untuk kemudian dibuat draft pasti (3), di cocokkan dengan DOEN (karena di Indonesia) (2), disebarluaskan (3).
c.     Indikator keberhasilan mencakup review formularium setiap 2-3 tahun atau sesuai ketentuan (3), obat yang tersedia dan penggunaan sesuai dengan formularium (2) dan resep yang keluar kecil (3).
6.       Mengetahui hal-hal terkait DUE
a.    Definisi; merupakan proses yang terus menerus, sistematis, sah secara organisasi terkait evaluasi untuk memastikan obat digunakan dengan tepat, aman, bermanfaat dan terjangkau oleh pasien (2,3,5).
b.    Latar belakang; Menggambarkan pola penggunaan obat, koreksi maslah penggunaan obat, memonitor penggunaan obat (3).
c.     Indikator keberhasilan meliputi indikator peresepan (rata-rata jumlah obat per resep, persentase peresepan menggunakan generik, antibiotik, injeksi, dan kesesuaiannya dengan formularium), indikator pasien (rata-rata waktu konsultasi, rata-rata waktu dispensing, persentase obat yang terlayani, persentase labeling yang tepat, dan pemahaman pasien terkait dosis dan penggunaan yang tepat)(3).
d.      Hubungan DUE dan seleksi obat adalah DUE dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam proses seleksi obet periode berikutnya untuk memperoleh pengobatan yang rasional serta sebagai dasar pengobatan selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan pasien dalam penggunaan obat secara efisien termasuk serta proses memastikan bahwa obat yang masuk dalam daftar formulari adalah obat dalam standart pengobatan terkini (3).
7.       Indikator untuk evaluasi seleksi obat di RS
Meliputi evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama (2).


DAFTAR PUSTAKA

(1)      Abert, C., Banneberg, W., Bates, J., Battersby, A., Beracochea, E., 2012, Managing Access to Medicines and Health Technologies Chapter 16, Management Science for Health Inc.,
(2)      Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/Sk/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit.
(3)      Green, T., Holloway, K., Edelisa, C., Hans, H., Richard, L., David, L., 2004, Drug and Therapeutics Committees A Practical Guide, World Health Organization.
(4)      Anonim, 2011, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor2500/Menkes/Sk/Xii/2011 Tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2011.
(5)      Siregar, C., 2003, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


No comments:

Post a Comment