Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, October 27, 2013

Ternyata, toga UII itu KEREN!

Saya kuliah di UII, jadi wajarlah saya bikin tulisan ini J . Kemarin, seorang kawan yang november besok wisuda mengatakan seperti itu. Dan MEMANG, saya akui kebenaran maknanya. Toga kampus kami memang keren! U’ve to see this!

Tolong, anda cukup lihat toganya, bukan orangnya. J

Jadi, menurut saya ini bukan sembarang toga. Lihatlah lambang UII terpasang jelas sebagai listnya. Lihatlah kepala kita tepat berada di inti dari lambang itu. Bagi mahasiswa UII yang lupa (atau tidak tahu) makna lambang UII, boleh deh saya share sedikit...

Jadi, sebelum dikenal lambang UII yang sekarang, sudah ada dua lambang resmi yang digunakan sebelumnya. Yang pertama berbentuk perisai dengan gambar masjid di tengahnya yang digunakan resmi sejak 1962. Kemudian ada pula lambang yang lebih sederhana yang digunakan lembaga kemahasiswaan seitar tahun 1970, dan yang terakhir adalah lambang yang sekarang digunakan yang telah dipakai sejak tahun 1977. Nah, yang perlu diingat adalah sejarah penciptaan lambang tersebut. Pada waktu itu, UII membuat tim khusus yang ditugaskan untuk “menemukan” lambang yang tepat untuk kampus. Maka jadilah mereka membuat sayembara, “barang siapa dapat membuat lambang UII maka akan mendapat sejumlah hadiah”. Serius, sayembara. J

Meskipun saya juga tidak mengenalnya, namun saya perkenalkan anda dengan Bapak Hajar Pamadhi. Beliaulah “otak” dibalik labang UII. Beliau adalah mahasiswa IKIP Karangmaang (sekarang UNY) waktu itu. Lambang yang ia buat menurut saya terkesan simple, namun tahukah anda makna dibalik tiga warna yang menjadi dasar lambang serta rangkaian bentuk yang artistik tersebut begitu dalam.
Coba deh pahami ini:
Warna biru yang juga diidentikan dengan hijau merupakan simbol ketegasan dan kewibawaan UII dalam menghasilkan sarjana yang bijaksana. Warna kuning yang identik dengan emas berarti harapan. UII akan menghasilkan sarjana harapan bangsa yang terus menerus menyebarkan ilmu pengetahuan lewat syiar Islam. Warna putih berarti ketulusan, kejujuran, dan ketekunan. Ini dimaksudkan UII dapat menciptakan sarjana yang jujur, setia kepada bangsa dan negara, tekun dan bertawakal kepada Alloh SWT.

Ini baru warna, simbol lainnya; Bentuk perisai berarti pertahanan. UII akan mempertahankan namanya sebagai universitas yang mampu menghasilkan sarjana sesuai tujuan UII. Bunga di tengah yang distiler menjadi kubah masjid adalah simbol kebudayaan Indonesia sesuai dengan ajaran Islami. Bunga tersebut memiliki 5 mahkota yakni melambangkan Pancasila dan Rukun Islam. Pada putiksarinya membentuk trisula yang menggambarkan Tri Dharma perguruan tinggi. Mata trisula membentuk pena yang berarti pendidikan. Pada kelopak daun tengahnya adalah perlambangan dari buku yaitu Al- Qur’an. Kelopak daun paling bawah adalah penyangga, maksudnya syarat itu semua adalah dua kalimat syahadat. Jadi, lambang ditengah secara keseluruhan artinya tujuan UII yan berdasarkan ajaran Islam dan Pancasila. Sedangkan bentuk limas kapal sebagai pintu masjid di bawah kelopak maksudnya adalah unsur budaya islam.

Dan, segala makna persimbolan itu dilekatkan erat pada toga. Bukankan itu bermakna tanggungjawab lulusan UII untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip keUIIan? Bayangkan, hari dimana kita diwisuda kita menyatu dengan lambang UII. Tidak hanya gagah, tapi mengandung filosofi yang KAYA. 


Coba, kampus mana yang seperti itu? J

Namun saya percaya setiap simbol dan warna yang disematkan pada toga masing-masing universitas bukan sebatas memperindah dan mepercantik saja, tapi pasti ada filosofinya. J

Tuesday, October 22, 2013

Tugas sistem informasi menejemen (SIM)

Bisa download disini

PBL atau problem based learning

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Untuk pertama kalinya, metode pembelajaran Problem Based Learnng (PBL) diperkenalkan di McMaster University pada tahun 1969 yang kemudian diikuti oleh 60 sekolah kesehatan dalam kurun waktu 20 tahun (1). PBL merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengatahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut (1). Penelitian terkait psikologis dan teoritis mengenai PBL menunjukkan bahwa seorang siswa yang belajar dengan cara memecahkan masalah akan mendapatkan dua hal sekaligus yakni konten materi dan strategi berfikir (2).
Ada empat tujuan utama dari sistem PBL menurut Barrows (3) yaitu:
1.         Penataan/ penyusunan pengetahuan dan konteks klinis
2.         Pemikiran/ penalaran secara klinis
3.         Kemampuan belajar mandiri
4.         Motivasi intrinsik
Metode yang dilakukan adalah dengan cara membagi siswa dalam kelompok kecil dan menggunakan sebuah kasus atau skenario sebagai sumber pembelajaran. Kasus yang diberikan adalah kasus nyata pada kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan siswa akan mendapat keahlian dalam mengevaluasi permasalahan pasien, menentukan permasalahan utama dan membuat keputusan yang tepat untuk mengatasinya (1). Ada beberapa keuntungan ketika pembelajaran dilakukan pada kelomok kecil antara lain,
1.         Meningkatkan persahabatan dikalangan siswa
2.         Memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi lebih dekat dengan pengajar dibanding pada sistem belajar di kelas dengan jumlah siswa yang banyak.
3.         Sistem tutorial yang teratur akan menumbuhkan suatu tekanan yang memacu siswa untuk lebih rajin belajar mandiri untuk memenuhi dateline yang telah disepakati (4).
Adapun beberapa kekurangan dari sistem ini antara lain, metode PBL dilakukan secara berkelompok sehingga akan membuat siswa yang malas menjadi semakin malas serta siswa akan merasa guru tidak banyak berperan/ tidak pernah menjelaskan karena model  pembelajaran ini menuntut peran aktif dari siswa (5).
Dalam sistem PBL, pengajar bertindak sebagai mentor yang akan mendampingi siswa dan tidak lagi banyak berperan sebagai pemberi informasi (6). Pengajar/ tutor dalam sistem PBL menjadi fasilitator yang meningkatkan fungsi dari kelompok dengan mengajak semua anggota kelompok untuk aktif berdiskusi, memantau jalannya diskusi serta menjaga arah diskusi sesuai dengan tujuan, dalam hal ini tutor diperbolehkan untuk mengintervensi jika diperlukan. Selain itu, seorang tutor dalam sistem PBL hanya mengarahkan siswa pada kerangka berfikir yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan pengetauan siswa secara mandiri (2,4). Prinsip dalam sistem ini adalah berpusat pada siswa (student centered) berbeda dengan metode tradisional yang lebih berorientasi pada pengajar (teacher-centered) (6).
Tahapan dalam melakukan sistem PBL menurut Schmidt (4) terbagi menjadi tujuh langkah yaitu:
1.         Mengklarifikasi dan menyepakati definisi istilah dan konsep yang tidak jelas.
2.         Mendefinisikan masalah, menyetujui fenomena/ hal mana yang memerlukan penjelasan.
3.         Menganalisa pengertian dari beberapa komponen, menjelaskan secara brainstorming (curah gagasan), dan mengembangkan hipotesa.
4.         Mendiskusikan, mengevaluasi, dan mengatur penjelasan yang tepat dalam hipotesa.
5.         Membuat prioritas tujuan pembelajaran
6.         Melakukan kajian dan penelitian terhadap tujuan pembelajaran diantara tutorial.
7.         Melaporkan kembali pada pertemuan tutorial berikutnya, mensintesiskan penjelasan secara komprehensif dari fenomena/ permasalahan dan menerapkan kembali informasi baru yang telah disintesis ke dalam permasalahan.

Sebuah literatur (4) menyimpulkan tentang sistem PBL yaitu,
1.         Siswa yang belajar dalam situasi yang “tidak menguntungkan” akan cenderung mengompensasi dengan belajar lebih keras. Hal ini kemungkinan karena siswa cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan belajar mandiri.
2.         Angka drop out pada sistem PBL jauh lebih sedikit dibandingkan sistem konvensional. Hal ini kemungkinan karena siswa belajar dalam keompok kecil sehingga timbul perasaan “seakan-akan berada di rumah”/ “hommy”. Selain itu, siswa difokuskan pada interaksi antar individu yang mana satu persatu siswa menjelaskan pandangan mereka terhadap suatu permasalahan, belajar satu sama lain sehingga membuat siswa belajar secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Neville, A. J., 2009, Problem-Based Learning and Medical Education Forty Years On, Medical Principles and Prctice, 18:1-9.
2.       Silver, C. E. H., 2004, Problem Based Learning: What and How do Student Learn?, Educational Psychology Review, Vol 16:235-266.
3.       Barrows, H. S., 1986, A taxonomy of problem based learning methods, Medical Education, Vol 20:481-486.
4.       Schmidt, h. G., Rotgans, J. I., Yew, E. H. J., 2011, The Process of Problem Based Learning: what works and why, Medical Education, Vol 45:792-806
5.       Kusumaningsih, R., 2008, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Kemampuan menerapkan Nilai-nilai Sikap Berekonomi dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa Kelas X MAN Mojokerto, Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Malang.

6.       Kristiyani, T., 2008, Efektivitas Metode Problem Based Learning pada Mata Kuliah Psikologi Kepribadian I (Replikasi), Cakrawala Pendidikan, Vol 27: 286-294

QUALITY MANAGEMENT

Bisa download disini

DRUG MANAGEMENT CYCLE: DISTRIBUTION

Bisa download disini

DRUG MANAGEMENT CYCLE: PROCUREMENT

LEARNING OUTCOME SKENARIO II
“PROCUREMENT”

Nama             : Nurul Fatimah
NIM                : 13811118
Kelompok       : D

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013


1.    Untuk mengetahui definisi perencanaan dan pengadaan
Perencanaan adalah proses pemilihan jenis, jumlah, harga perbekalan farmasi sesuai kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan obat dengan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar yang telah ditentukan, sedangkan pengadaan adalah kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui (1) melalui pembelian, produksi ataupun hibah (2).
2.    Untuk mengetahui metode perencanaan dan pengadaan
Metode perencanaan meliputi:
a.         Metode konsumsi; perhitungan kebutuhan didasarkan pada data riel konsumsi perbekalan farmasi periode lalu dengan penyesuaian dan koreksi (2,3,4).
b.        Metode epidemiologi/ morbiditas; perhitungan kebtuhan didasarkan pada pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan, dan waktu tunggu/ lead time (2,3,4)
c.         Metode kombinasi konsumsi dan morbiditas; yaitu menggabungkan keduanya dengan melihat anggaran yang tersedia (2,3,4)
Metode pengadaan melalui pembelian, hibah, produksi (1,2)
Pembelian ada 4 metode:
a.         Tender terbuka; berlaku untuk semua rekanan yang terdaftar dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
b.        Tender terbatas/ lelang tertutup; hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan memiliki riwayat jejak yang baik.
c.         Negosiasi/ tawar menawar; dilakukan pendekatan langsung untuk item tertentu.
d.        Pembelian langsung; pembelian jumlah kecil yang perlu segera tersedia (2, 3, 4)
3.    Kelebihan dan kekurangan dari metode pengadaan dan perencanaan
Metode perencanaan:
Konsumsi
Kelebihan
Kekurangan
data yang diperoleh akurat, metode paling mudah, tidak memerlukan data penyakit maupun standar pengobatan, jika data konsumsi lengkap pola penulisan tidak berubah dan kebutuhan relatif konstan maka kemungkinan kekurangan atau kelebihan obat sangat kecil (3)
tidak dapat untuk mengkaji penggunaan obat dalam perbaikan penulisan resep, kekurangan dan kelebihan obat sulit diandalkan, tidak memerlukan pencatatan data morbiditas yang
baik (3)
Morbiditas
Kelebihan
Kekurangan
Perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran, standar pengobatan mendukung usaha memperbaiki pola penggunaan obat (3)
Membutuhkan waktu dan tenaga yang terampil, data penyakit sulit diperoleh secara pasti, diperlukan pencatatan dan pelaporan yang baik (3)
Kombinasi
Kelebihan
Kekurangan
Dapat untuk obat & alat kesehatan yang terkadang fluktuatif maka dapat menggunakan metode konsumsi dengan koreksi pola penyakit, perubahan, jenis/jumlah tindakan, perubahan pola peresepan, perubahan kebijakan pelayanan kesehatan (5).
Farmasis harus mengikuti perkembangan perubahan pola penyakit, dan perubahan-perubahan terkait dan secara terus menerus melakukan analisa data sehingga pekerjaan farmasis bertambah (5).

Metode pengadaan;
a.         Tender terbuka, butuh waktu namun harga lebih menguntungkan.
b.        Tender terbatas, waktu relatif namun harga masih dapat dikendalikan.
c.         Negosiasi, waktu dan harga berfariasi tergantung kesepakatan.
d.        Pembelian langsung, proses cepat namun harga lebih mahal (2, 3, 4).
4.    Untuk mengetahui tahap-tahap pengadaan
Tahapan pengadaan dimulai dari mereview daftar perbekalan farmasi yang akan diadakan, menentukan jumlah masing-masing item yang akan dibeli, menyesuaikan dengan situasi keuangan, memilih metode pengadaan, memilih rekanan, membuat syarat kntrak kerja, memonitor pengiriman barang, menerima barang, melakukan pembayaran serta menyimpan kemuian mendistribusikan (2)
5.    Untuk mengetahui analisis dan ketentuan prioritas
Analisis prioritas meliputi;
a.         Analisis ABC (Always Better Control), disebut juga sebagai analisis Pareto atau hukum Pareto merupakan salah satu metode yang digunakan dalam manajemen logistik untuk membagi kelompok barang menjadi tiga yaitu A, B dan C. Kelompok A merupakan barang dengan jumlah item sekitar 20% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 80% dari nilai investasi total, kelompok B merupakan barang dengan jumlah item sekitar 30% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 15% dari nilai investasi total, sedangkan kelompok C merupakan barang dengan jumlah item sekitar 50% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 5% dari nilai investasi total (2,3).
b.        VEN (Vital, Esensial, Non esensial), adalah suatu cara untuk mengelompokkan obat yang berdasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan (tesis). Kelompok V (vital) adalah obat yang harus ada dan diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, kekosongan obat kelompok ini dapat ditolerir kurang dari 48 jam; kelompok E (esensial) adalah obat yang terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit atau mengurangi penderitaan pasien, kelompok N (non esensial) adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang dapat sembuh sendiri atau yang diragukan manfaatnya dibandingkan obat lain yang sejenis (2,3).
c.         PUT (Prioritas, Utama, Tambahan), digunakan untuk menetapkan proiritas pengadaan obat dimana anggaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan dengan cara menggabungan analisa ABC dan VEN yang kan diklasifikasikan menjadi obat-obat yang prioritas (AV, BV, CV), utama (AE, BE, CE), dan tambahan (AN, BN, CN)(2).
Ketentuan prioritas
a.         Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas utama untuk dikurangi atau dihilangkan dari rencana kebutuhan, bila dana masih kurang, maka obat kategori NB menjadi prioritas selanjutnya dan obat NA selanjutnya (2).
Literatur lain mengatakan;
a.         Buang kategori  N, terutama NA
b.        Seleksi E yang termasuk slow atau fast moving.
c.         Ubah obat bermerek menjadi generic
d.        Ubah obat bermerk dengan merk lain yang lebih murah
e.        Komunikasikan dengan dokter dan direktur (5)
6.    Untuk mengetahui definisi dan rumus dari EOQ
Economic Order Quantity (EOQ) merupakan jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian karena merupakan kesetimbangan antara holding cost dan ordering cost (4)
EOQ dihitung berdasarkan rumus       (6)
EOQ adalah jumlah pembelian optimal yang ekonimis, D penggunaan per periode waktu, S adalah biaya pemesanan, H adalah biaya pemeliharaan per tahun, dan C adalah biaya perunit (6).
7.    Untuk mengetahui evaluasi procurement
Evaluasi procurement meliputi;
a.         Prosentase kesesuaian pembelian dg perencanaan awal tahunan
b.        Prosentase kesesuaian  dana pembelian dg perencanaan anggaran
c.         Prosentase kesesuaian perencanaan terhadap formularium (5).
d.        Kesesuaian dana pengadaan obat; jumlah dana anggaran pengadaan obat yang disediakan RS dibanding jumlah kebutuhan dana.
e.        Biaya obat per kunjungan kasus; besaran dana yang tersedia untuk setiap kunjungan kasus.
f.          Biaya obat per resep; dana yang dibutuhkan untuk setiap resep dan besaran dana yang tersedia untuk setiap resep
g.         Ketepatan perencanaan; perencanaan kebutuhan nyata obat untuk RS dibagi pemakaian obat per tahun.
h.        Persentase dan nilai obat rusak; jumlah jenis obat yang rusak dibagi total jenis obat (2)

DAFTAR PUSTAKA
(1)    Anonim, 2004, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004, Jakarta
(2)    Arman, F., Lesilolo, M.S., dkk, 2008, Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
(3)    Maimun, A., 2008, Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi Metode Konsumsi dengan Analisis ABC dan Recorder Point Terhadap Nilai Persediaan dan Turn Of Ratio di Instalasi Farmasi RS Daru Istiqomah Kaliwungu Kendal, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.
(4)    Abert, C., Banneberg, W., Bates, J., Battersby, A., Beracochea, E., 2012, Managing Access to Medicines and Health Technologies, Management Science for Health Inc.,
(5)    Pradhana, D., 2013, Procurement, Bahan Ajar, Program Studi Profesi Apoteker Universitas Islam Indonesia.

(6)    Gonzalez, J.L., Gonzalez, D., 2010, Analysis of an Economic Order Quantity and Recorder Point Inventory Control Model for Company XYZ, A Senior Project Submitting, Degree of Bachelors of Science In Industrial Engineering, California Polytechnic State University, San Luis Obispo, available at: http:digitalcommons.calpoly.edu/cgi/, diakses tanggal 8 oktober 2013

DRUG MANAGEMENT CYCLE: SELECTION

LEARNING OUTCOME TUTORIAL I BLOK II
“SELECTION”


Nama        : Nurul Fatimah
NIM           : 13811118
Kelompok  : D


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013

1.       Mengetahui definisi dan tujuan seleksi obat serta pentingnya seleksi obat di RS.
a.    Definisi
Seleksi merupakan sekumpulan proses yang dilakukan sebagai upaya memberikan keuntungan bagi pihak RS maupun pasien yang mempertimbangkan kebutuhan, keselamatan, dan finansial (1), meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat (2).
b.    Tujuan
-       Menetapkan obat mana yang harus tersedia untuk diresepkan dan dipesan oleh praktisi pelayanan kesehatan. Keputusan ini didasarkan pada misi rumah sakit, kebutuhan pasien dan jenis pelayanan yang disiapkan.
-       Mengembangkan suatu daftar (formularium) dari semua obat yang ada di stok. Pemilihan obat adalah suatu proses kerjasama/kolaboratif yang mempertimbangkan baik kebutuhan dan keselamatan pasien maupun kondisi ekonominya (1).
c.       Pentingnya; Bagi RS Pemilihan obat berdampak langsung pada pasokan obat/ supply menjadi baik,  mendukung pengobatan rasional yang lebih baik, dan membuat biaya menjadi lebh rendah sehingga RS sangat perlu melakukan proses seleksi obat (1)
2.       Mengetahui kriteria seleksi obat menurut WHO dan DOEN.
Kriteria seleksi obat menurut WHO (1,3);
a.       Sesuai dengan pola penyakit.
b.      Memiliki data dan bukti ilmiah terkait efektivitas dan keamanan yang memadahi dari hasil uji klinis.
c.       Memiliki kualitas yang baik termasuk data bioavailabilitas, stabil dalam penyimpanan hingga penggunaan.
d.      Ketika terdapat dua atau lebih obat yang sama dalam hal khasiatnya maka dilipih dengan pertimbangan efikasi, keamanan, kualitas, harga, dan ketersediaannya.
e.      Memiliki cost-benefit rasio yang baik
f.        Lebih diutamakan obat dengan komposisi zat aktif tunggal
Sedangkan menurut DOEN didasarkan atas kriteria diantaranya:
a.    Memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita.
b.    Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.
c.     Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.
d.    Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan tenaga, sarana dan fasilitas kesehatan.
e.    Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita.
f.     Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung.
g.    Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa, pilihan dijatuhkan pada :
-       Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah;
-       Obat dengan sifat farmakokinetik yang diketahui paling menguntungkan;
-       Obat yang stabilitasnya lebih baik;
-       Mudah diperoleh;
-       Obat yang telah dikenal.
h.    Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria berikut :
-       Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap
-       Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih tinggi daripada masing-masing komponen
-       Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang tepat untuk sebagian besar penderita yang memerlukan kombinasi tersebut;
-       Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio);
-       Untuk antibiotika kombinasi tetap harus dapat mencegah atau mengurangi terjadinya resistensi dan efek merugikan lainnya (4).
3.       Mengetahui hal yang berhubungan dengan KFT
a.    Definisi
Panitia Farmasi dan Terapi/ Komite Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari Farmasi Rumah Sakit, serta tenaga kesehatan lainnya (2).
b.    Kedudukan KFT di RS
Sebagai promotor pengobatan rasional yang sesuai dengan perundangan dan prosedur juga mengedukasi pasien dan staf (3). Dalam struktur organisasi, KFT berada di bawah komite medik yang bertanggung jawab kepada direktur (5).
c.     Tujuan dan ruang lingkup kerja KFT
Tujuan;
-       Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya
-       Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan (2).
Fungsi dan ruang lingkup;
-       Mengembangkan formularium di Rumah Sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk dimasukan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama.
-       Panitia Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
-       Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam kategori khusus.
-       Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakankebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional.
-       Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan mengkaji medical record dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat secara rasional.
-       Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
-       Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat (2).
d.    Tugas tiap anggota; Anggota KFT terdiri dari 3 komponen yaitu dokter (diutamakan dokter spesialis farmakologi klinik) sebagai ketua, Apoteker wakil dari IFRS sebagai wakil ketua atau sekretaris, perawat senior, bagian keuangan RS, dan laboran atau mikrobiologis yang jumlahnya menyesuaikan kebutuhan RS(3).
-       Tugas apoteker dalam KFT;
Menjadi salah seorang anggota panitia (Wakil Ketua/Sekretaris), Menetapkan jadwal pertemuan, Mengajukan acara yang akan dibahas dalampertemuan, Menyiapkan dan memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam pertemuan, Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan pada pimpinan rumah sakit, Menyebarluaskan keputusan yang sudah disetujui oleh pimpinan kepada seluruh pihak yang terkait, Melaksanakan keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam pertemuan, Menunjang pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, pedoman penggunaan antibiotika dan pedoman penggunaan obat dalam kelas terapi lain, Membuat formularium rumah sakit berdasarkan hasil kesepakatan Panitia Farmasi dan Terapi, Melaksanakan pendidikan dan pelatihan, Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat, Melaksanakan umpan balik hasil pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat pada pihak terkait (2).
-       Tenaga kesehatan lain berperan sebagai anggota yang memiliki hak suara yang sama (5).
4.       Mengetahui ha-hal yang berhubungan dengan sistem formularium
a.    Definisi
Merupakan sebuah prinsip, kriteria, prosedur, dan sumber untuk menghasilkan, memperbaharui, dan mempromosikan formularium (1,2,3).
b.    Hasil dari sistem formularium berupa standar terapi (standart treatment guidline), daftar formularium (formulary list), dan pedoman formularium (formulary manual) (1,3).
5.       Mengetahui hal-hal yang berhubunan dengan formularium
a.    Definisi; formularium adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh Panitia Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas waktu yang ditentukan (1,2,3,5).
b.    Proses penyusunan terdiri dari pengumpulan daftar penyakit dengan prevalensi tertinggi di RS, membuat standar terapi dengan pilihan utama terapi untuk masing-masing penyakit, membuat daftar obat yang digunakan, meminta pertimbangan dari masing-masing departemen untuk kemudian dibuat draft pasti (3), di cocokkan dengan DOEN (karena di Indonesia) (2), disebarluaskan (3).
c.     Indikator keberhasilan mencakup review formularium setiap 2-3 tahun atau sesuai ketentuan (3), obat yang tersedia dan penggunaan sesuai dengan formularium (2) dan resep yang keluar kecil (3).
6.       Mengetahui hal-hal terkait DUE
a.    Definisi; merupakan proses yang terus menerus, sistematis, sah secara organisasi terkait evaluasi untuk memastikan obat digunakan dengan tepat, aman, bermanfaat dan terjangkau oleh pasien (2,3,5).
b.    Latar belakang; Menggambarkan pola penggunaan obat, koreksi maslah penggunaan obat, memonitor penggunaan obat (3).
c.     Indikator keberhasilan meliputi indikator peresepan (rata-rata jumlah obat per resep, persentase peresepan menggunakan generik, antibiotik, injeksi, dan kesesuaiannya dengan formularium), indikator pasien (rata-rata waktu konsultasi, rata-rata waktu dispensing, persentase obat yang terlayani, persentase labeling yang tepat, dan pemahaman pasien terkait dosis dan penggunaan yang tepat)(3).
d.      Hubungan DUE dan seleksi obat adalah DUE dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam proses seleksi obet periode berikutnya untuk memperoleh pengobatan yang rasional serta sebagai dasar pengobatan selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan pasien dalam penggunaan obat secara efisien termasuk serta proses memastikan bahwa obat yang masuk dalam daftar formulari adalah obat dalam standart pengobatan terkini (3).
7.       Indikator untuk evaluasi seleksi obat di RS
Meliputi evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama (2).


DAFTAR PUSTAKA

(1)      Abert, C., Banneberg, W., Bates, J., Battersby, A., Beracochea, E., 2012, Managing Access to Medicines and Health Technologies Chapter 16, Management Science for Health Inc.,
(2)      Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/Sk/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit.
(3)      Green, T., Holloway, K., Edelisa, C., Hans, H., Richard, L., David, L., 2004, Drug and Therapeutics Committees A Practical Guide, World Health Organization.
(4)      Anonim, 2011, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor2500/Menkes/Sk/Xii/2011 Tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2011.
(5)      Siregar, C., 2003, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.