Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Thursday, July 4, 2013

Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA ? ME !



Beruntung memiliki teman yang pengertian, senantiasaberbagi, dan tentunya saling mengerti dan menyayangi. Tanpa kuminta pun, sms tentang info pendaftaran Profesi Apotekerpun masuk ke inbox. Sebuah link ke situs resmi Profesi Apoteker yang akan kumasuki. Pengumuman itu selayaknya pengumuman pendaftaran siswa baru semua sekolahan, berisi jadwal dan syarat. Dalam point persyaratan disebutkan mahasiswa harus melampirkan surat keterangann sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA. So, jauh sebelum hari pendaftaran yang ditetapkan tanggal 11-17 Juli bersama syifa segera kuurus semuanya. Bukankah lebih nyaman ribet di depan namun agak santai di belakang?! Sama seperti bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian? Dan, proses pencarian surat yang akan membantu meyakinkan pihak universitas bahwa mahasiswanya sehat secara jasmani, rohani, serta bebas NAPZA pun dimulai...
Dengan memanfaatkan teknologi, smartphone pun beraksi. Bukan, bukan dengan cara me-mention akun [at]Jogja24jam ataupun [at]jogjaupdate atau yang lainnya. Pertama, dengan men-chat beberapa teman yang telah dulu masuk profesi, namun jawabannya amat beragam dan info tarif yang saya butuhkan pun mereka lupa. Sangat tidak akurat. Maka langkah kedua adalah, Googling. Search engine canggih itu pun mampu menemukan sebuah web resmi rumah sakit jiwa yang juga melayani pasien umum dengan lokasi yang sangat dekat dengan kampus. RSJ Grhasia. Web sederhana itu sangat update, selain fasilitas dan profil RSJ yang umum tertera pada setiap web, situs itu pun menampilkan TARIF. Ya, semua tarif dari mulai pendaftaran pasien baru, test kesehatan apapun, hingga pelayanan-pelayanan khusus. Check this out! Detil bukan? 


Oke, step memperoleh surat-surat itu sangat mudah namun memerlukan kesabaran ekstra. Kenapa? Ya karena menunggunya sangat lama. Kami datang pukul 09.00 dan pulang pukul 12.30. Ngapain aja? Pertama datang adalah parkir. Parkiran terletak di sebelah selatan dengan tarif Rp 1000 dibayar dibelakang. Loket pendaftaran berada di bagian tengah, disana kita akan diminta mengisi form pendaftaran yang isinya data diri lengkap serta jenis pemeriksaan apa yang ingin dilakukan. Selanjutnya adalah proses menunggu tahap 1. Sekitar 15menit (tergantung jumlah pasien dan waktu kedatangan) kita akan dipanggil dan diberitahu harus kemana. Test pertama yang dilakukan adalah, test kesehatan yang dilakukan di ruang akupuntur (ya, akupuntur. Entahlah kenapa ruang itu.). Disana kita diberi form Surat Keterangan Dokter (SKD) yang harus diisi nama, umur, alamat, dan surat itu akan digunakan untuk apa. Setelah dikembalikan ke Bapak yang entah siapa namanya, kami menjalani proses menunggu tahap 2 yang kali ini agak lama karena sebelum saya sudah banyak yang antre. Itulah kenapa lebih baik datang pagi. Pemeriksaan kesehatan jasmani hanya meliputi tinggi dan berat badan, serta tekanan darah. That's it. Next, kita diberitahu untuk ke ruang selanjutnya untuk test rohani. Kali ini tidak menunggu, kita diminta masuk ke semacam ruang kelas dan diminta mengisi form SKD yang sama seperti sebelumnya dan diberi satu bendel soal. Ya, soal itu harus dikerjakan. Pertanyaan dalam soal itu hanya seputar pribadi seperti apakah kita takut jika dibentak, sering berhalusinasi apa tidak, punya perasaan ingin mebunuh atau tidak...semacam itu. Meskipun jawaban Ya atau Tidak dan sesuai dengan diri masing-masing, Bapak-bapak di depanku tengok sana-sini mencari jawaban!  Selesai mengumpulkan jawaban dan SKD, kita memasuki proses menunggu tahap 3 yang tidak terlalu lama.

ruang test kejiwaan

Kita akan dipanggil melalui sebuah loket, disana kita (lagi-lagi) diminta mengisi SKD. Setelah itu, barulah memasuki proses menunggu tahap 4 yang sangat lama. Sungguh! Mungkin ada sekitar satu jam kami dari berdiri, jongkok sampai lesehan di lantai menunggu panggilan. Dan, panggilanku pun datang, sangat sayang karena tidak diikuti dengan panggilan untuk syifa. Dari sini mulai kuragukan urutan pendaftaran yang berlaku. Panggilan itu memintaku memasuki ruang D.1 yang disana telah menunggu seorang dokter. Dokter itu tak banyak bertanya, hampir mirip dengan pertanyaan tertulis yang kukerjakan sebelumnya. 

Loket segala pemanggilan

Tak ada 10 menit ditanya Dokter, kembali ku keluar untuk memasuki proses menunggu tahap 5 yang super lama. Serius! Kali ini menunggu untuk test NAPZA. Saking lama dan laparnya, kurasa berat badan ini turun. haha...
w/ syifa

Okay, panggilan untukku yang tidak diikuti panggilan untuk syifa pun tiba. Petugas di loket segala panggilan memberikan struk pembayaran yang dibendel dengan sebuah form dan memintaku membawanya ke Laboratorium yang terletak di lantai 2 gedung selatan. Test NAPZA dilakukan dengan mengambil sample urine kita kemudian di test menggunakan pembanding benzodiazepin. Setelahnya, kita diminta membayar ke kassa yang terletak di bangunan yang sama di lantai 1. Semuanya tertotal Rp 146.800. Sesuai dengan apa yang tertera di web. Kali ini tanpa menunggu lama, hasil test bisa langsung diambil dan diserahkan kembali ke loket segala panggilan untuk mengambil surat lainnya. Untuk mengambil surat itu, kita tak perlu meunggu. Done. Selesai..
hasil Lab.

Jika dilihat dari pelayanan, rumah sakit ini hanya minus di proses menunggu yang lama. Entah karena antrean yang banyak atau sistem di dalamnya yang cukup ribet Tapi over all, pelayanannya memuaskan. Pasien tidak kebingungan harus kemana karena di setiap tahapnya kita diberitahu harus kemana selanjutnya. Good job!
Justru yang saya sayangkan adalah, keberadaan surat sehat jasmani dan rohani tersebut untuk kampus. Untuk apa jika mahasiswa yang mendaftar profesi adalah lulusan dari program S1 di universitas itu juga? Jika surat bebas NAPZA sangat bisa dimaklumi, tapi jika sehat jasmani dan rohani? bolehlah itu kusebut ironi, bolehlah kusebut kampus tak percaya dengan jasmani dan rohani lulusannya sendiri. That's what i'm thinking...

No comments:

Post a Comment