Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, July 13, 2013

Jogja Pardise !

Beberapa waktu lalu saya kawan saya menjajal tempat makan baru di Jogja, tepatnya di jalan magelang (depan rich shahid hotel). Jogja Paradise. Tempat ini terdiri dari bermacam-macam booth mulai dari minum sampai makanan berat, Jepang sampai yang Indonesia sekali. Ketika kita datang, kita tidak perlu repot memesan ke booth mana yang menjadi pilihan. Mbak dan mas pramusaji akan datang menghampiri bersama dengan buku menunya. Waktu itu kami mengambil tempat duduk di atas sehingga memang agak lama menunggu.
order

nasgor nanas
nasi goreng lumayan enak dengan potongan nanas dan abon sebagai topingnya

semacam pisang coklat (lupa)
pisang bakar dengan keju dan coklat diatasnya, rasanya ya pisang

bebek panggang
bebek ini sambalnya enak!

ramen
ini yg udah dimakan sebagian :) garnishnya ilang

thailand's food, lupa namanya
ini bersantan dengan potongan ayam kentang dan beberapa sayur. semacam kari.

fusion sushi
nasinya seperti nasi biasa, tapi lumayan.

semacam takoyaki, lumayan enak.

narsis dikit :)

Untuk minuman, g sempat difoto. Ya saran aja sih, kalau kesana jangan tanggal tua karena harga lumayan nguras kantong. Oya, bagi anda yang muslim, mushola ada di belakang di sebelah atas. Toilet bersih dan ada kolam ikannya.
Dan kamipun berencana buka puasa bareng disana... :)
Thanks for reading!

all pictures are original PHARMATOGRAPHY




Wednesday, July 10, 2013

Teman, ini cerita rinduku

Teman berkata, rindu adalah kegelisahan hati untuk bertemu dengan yang dicintai. Kerinduan tergantung dalamnya cinta. Ya, jiwa ini dilanda rindu. Rindu yang sepertinya bersarang di dada ini ingin segera menyeruak keluar menemui yang dirindukan. Seakan tak sabar dengan tiap detik yang berdentang, rasa rindu ini semakin memrovokasi mata untuk mengeluarkan cairan beningnya. Air mata, terjatuh perlahan menganak sungai di pahatan tulang pipi. Mengalir deras, menetes dilembaran sajadah. Biarkan itu menjadi bukti kelak dikemudian hari. Ketika tetesan air mata itu dapat bersaksi. Membela tuannya dihadapan persidangan Tuhan. 
Butiran bening itu mencoba membela. "Tuhan, makhlukmu yang ini memang penuh dosa, sering berdusta, lalai, dan yang lainnya. Tapi lihatlah, dalam setiap inchi kebodohan dan kejelekannya, aku bisa Engkau cipta. Engkau utus aku mengalisr disuninya malam, diberisiknya hati dan pikirannya. Sebagai kesimpulan dari perasaan yang Engkau berinama rindu..."

Ratusan hari lalu. Mulut ini berbahagia melepasnya, sukacita hati ini tak menghiraukan langkahnya yang semakin menjauh, bahkan alam seakan rela ia beranjak dari singgasana... Ia pergi, meskipun tidak untuk selamanya...

Tetesan air itu masih bersaksi, "Tuhan, seseorang engkau datang dan pergikan dari hidupnya, membawa bahagia maupun luka. Aku tak bosan membanjiri matanya, menyumbat hidungnya. Ia dirundung cinta, dirundung rindu yang tak tahu akankan sama. Ramadhanmu Tuhan. Ia merindukannya."

Ya, Ramadhan tak ingkar janji. Ia kembali lagi meskipun kutahu kelak ia akan pergi. Sampaikan usiaku untuk menemuinya lagi? Lagi-lagi itu rahasia penciptaku. Ramadhan selalu membuat skenario barunya, kali ini tak sama. Jika yang lalu ia mengujiku dengan kata setia, sekarang ia mengenalkanku pada senandung rindu. Tak hanya rindu padaNya, rindu ini bercabang pada lain penjuru. Memantik api rindu lain yang entah maukah ia menyala.  Secercah rasa yang masih menggeliat meminta untuk dipertanyakan. Apakabarmu, terlihat kau bahagia,  Teman.

Monday, July 8, 2013

Belajar Dutch

Dutch! Ya, negara kincir angin BELANDA mengalihkan perhatian saya dari Perancis dan sederet negara lainnya. Banyak negara yang masuk dalam "Journey of impian saya" namun Belanda sepertinya terlupakan, namun bukan karena mereka adalah negeri para kompeni yang menjajah tanah air ini selama (kabarnya) ratusan tahun tentunya. Akhir-akhir ini saya membaca sebuah novel yang awalnya sangat malas saya baca. Negri van Orenje. Novel tersebut ditulis oleh empat orang pelajar Belanda yang menceritakan pengalaman mereka studi di negri kompeni tersebut. Tentunya tidak 100% true story. Membaca kedetilan novel tersebut saya menjadi gatal ingin mengenal Utrecht, Leiden, Amersfoort, Den Hag, Wageningen, dan kota lain disamping Amsterdam. Kegatalan itu menuntun jemari ini untuk mengetikkan sejumlah kota di google. Dan, makin terpupuklah impian ini. Ya, oneday i'll be there. The Netherlands!
Prepare sebuah mimpi adalah langkah awal mewujudkan mimpi itu sendiri. Prepare apa? tentu bukan passport, visa, atau biaya. Jauh lebih penting dari itu semua adalah BAHASA. Kata "you can travel the world by English" itu tidak berlaku lagi. Memang benar English menjadi bahas dunia, tapi bukankah akan lebih menyenangkan menggunakan bahasa setempat? Maka pencarian pun kembali dimulai. Mulai dari situs resmi negara (sepertinya resmi) hingga merajuk ke wikipedia sampai akhirnya saya menemukan ini. Situs belajar online bahasa belanda. Wahaaaaiiiii, dreams come true! Maka jadilah saya pengunjung setia site tersebut. Meskipun terkendala tak tersedianya fasilitas audio pada site tersebut, kita bisa terbantu dengan adanya google translate (sedikit terbantu).
How do we get there? Tiba-tiba ingin jadi seorang "jumper". Uang sendiri? Ya Insya Alloh kalau Alloh memberi rezeki berlimpah ruang, bisa saja kita mandiri ke sana. Tapi ada cara lain yaitu beasiswa. Haha, I dont know how can i get scholarship, but you can visit here for more information.


Okay, one new dream means one new step. Bismillah... WE ONLY LIVE ONCE.!!
I really wanna travel the world !!! 

Saturday, July 6, 2013

Brotherhood (part 2)

Badranaya yoga. Itu nama sebuah tempat di Surabaya yang menyediakan jasa terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Saya mengenalnya dari sebuah perjalanan bersama kakak ke sebuah puncak di daerah Kulon progo. Suroloyo...
Puncak suroloyo berada di jajaran pegunungan menoreh yang terletak di ketinggian 1091 mdpl. tepatnya di desa Gerbosari, kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, berbatasan langsung dengan jawa tengah. Menurut cerita, suroloyo adalah tempat bertapanya Sultan Agung Hanykrokusumo yang mendapatkan wangsit untuk memerintah tanah jawa. Dari situ suroloyo juga dikenal sebagai Kiblat Pancering Bumi tanah jawa. Dimasa Hindu Belandapun, suroloyo dipercaya sebagai peraga kayangan. Tempat ini juga disakralkan oleh beberapa orang sebagai tempat istirahat semar. Jadi jangan heran kalau anda akan banyak menjumpai dup, kemenyan, atau sekedar taburan bunga. Seseorang yang belakangan saya ketahui sering berkunjung ke suroloyo ini pun menceritakan betapa ramainya orang berkunjung ketika bulan bulan tertentu dengan tujuan masing-masing.

Menapaki tiap pijakan anak tangga, semakin tinggi, semakin kuat aroma dupa yang dinyalakan oleh pengunjung lain. Untuk mencapai puncak, kita harus menaiki sekitar 290 anak tangga dengan kemiringan yang cukup ekstrem. Lelah dan keringat akan sirna begitu kita menapak anak tangga terakhir yang berarti, puncak. Puncak Suroloyo tak begitu lebar, ada satu pendopo kecil yang juga ada satu patung di sisinya...Jika beruntung, kita dapat menyaksikan view  megah borobudur, merapi, merbabu, sindoro, semua akan terlihat dari puncak suroloyo. Sunrise dan sunset pun menjadi bonus jika cuaca mendukung.




Ada yang berbeda ketika kami mencapai puncak hari itu. Seorang wanita paruh baya ditemani seorang pria yang nampaknya jauh terpaut lebih tua dibanding wanita tersebut sedang sibuk dengan sebilah bambu besar dan tali tampar. Awalnya kami takmenghiraukan, perhatian kami sedang terfokus pada panorama alam dari ketinggian yang meskipun sedikit berkabut namun tetap subhanalloh... 
Hingga pada akhirnya naluri manusia ini lebih berbicara ketika pria dan wanita tadi belum juga rampung dengan keruetan simpul tali pada bambu. Melalui obrolan singkat, kamipun mengenal mbak linda dan Badranaya-nya.
Mbak Linda. Wanita dengan rambut di cat coklat gelap itupun bercerita tentang nazarya. Ia memiliki beberapa murid berkebutuhan khusus yang ia asuh di lembaga yang ia dirikan, Badranaya. Beberapa waktu lalu, kondosi anak didiknya terus menurun. Mereka butuh semangat, mereka butuh contoh semangat. Itu yang mbak linda ungkapkan pada kami. Maka bambu dan tali itu menjadi cara bagi mbak linda untuk mengobarkan semangat anak didiknya. Sebuah bendera merah putih akan ia kibarkan di atas puncak Suroloyo. Tanpa perlu berfikir panjang, kami salurkan semangat kami pada mereka. Kami kibarkan semangat kami bersama kibaran sangsaka merah putih diterpa angin suroloyo.






Kami belajar sebuah pengorbanan, perjuangan, dan yang pasti pengabdian. Betapa "wahai"nya jika setiap guru  entah itu dalam konteks apapun mau berkorban demi anak didiknya, memberi contoh, memberi teladan dengan begitu baiknya. Negeri ini rindu pengorbanan tanpa pamrih, sebuah komitmen terhadap profesi...
Dear adik-adik di Badranaya, Banggalah kalian memiliki seorang guru yang luar biasa. Bersemangatlah.. hari esok akan indah menemui kita...! 

all pictures are original PHARMATOGRAPHY

Thursday, July 4, 2013

Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA ? ME !



Beruntung memiliki teman yang pengertian, senantiasaberbagi, dan tentunya saling mengerti dan menyayangi. Tanpa kuminta pun, sms tentang info pendaftaran Profesi Apotekerpun masuk ke inbox. Sebuah link ke situs resmi Profesi Apoteker yang akan kumasuki. Pengumuman itu selayaknya pengumuman pendaftaran siswa baru semua sekolahan, berisi jadwal dan syarat. Dalam point persyaratan disebutkan mahasiswa harus melampirkan surat keterangann sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA. So, jauh sebelum hari pendaftaran yang ditetapkan tanggal 11-17 Juli bersama syifa segera kuurus semuanya. Bukankah lebih nyaman ribet di depan namun agak santai di belakang?! Sama seperti bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian? Dan, proses pencarian surat yang akan membantu meyakinkan pihak universitas bahwa mahasiswanya sehat secara jasmani, rohani, serta bebas NAPZA pun dimulai...
Dengan memanfaatkan teknologi, smartphone pun beraksi. Bukan, bukan dengan cara me-mention akun [at]Jogja24jam ataupun [at]jogjaupdate atau yang lainnya. Pertama, dengan men-chat beberapa teman yang telah dulu masuk profesi, namun jawabannya amat beragam dan info tarif yang saya butuhkan pun mereka lupa. Sangat tidak akurat. Maka langkah kedua adalah, Googling. Search engine canggih itu pun mampu menemukan sebuah web resmi rumah sakit jiwa yang juga melayani pasien umum dengan lokasi yang sangat dekat dengan kampus. RSJ Grhasia. Web sederhana itu sangat update, selain fasilitas dan profil RSJ yang umum tertera pada setiap web, situs itu pun menampilkan TARIF. Ya, semua tarif dari mulai pendaftaran pasien baru, test kesehatan apapun, hingga pelayanan-pelayanan khusus. Check this out! Detil bukan? 


Oke, step memperoleh surat-surat itu sangat mudah namun memerlukan kesabaran ekstra. Kenapa? Ya karena menunggunya sangat lama. Kami datang pukul 09.00 dan pulang pukul 12.30. Ngapain aja? Pertama datang adalah parkir. Parkiran terletak di sebelah selatan dengan tarif Rp 1000 dibayar dibelakang. Loket pendaftaran berada di bagian tengah, disana kita akan diminta mengisi form pendaftaran yang isinya data diri lengkap serta jenis pemeriksaan apa yang ingin dilakukan. Selanjutnya adalah proses menunggu tahap 1. Sekitar 15menit (tergantung jumlah pasien dan waktu kedatangan) kita akan dipanggil dan diberitahu harus kemana. Test pertama yang dilakukan adalah, test kesehatan yang dilakukan di ruang akupuntur (ya, akupuntur. Entahlah kenapa ruang itu.). Disana kita diberi form Surat Keterangan Dokter (SKD) yang harus diisi nama, umur, alamat, dan surat itu akan digunakan untuk apa. Setelah dikembalikan ke Bapak yang entah siapa namanya, kami menjalani proses menunggu tahap 2 yang kali ini agak lama karena sebelum saya sudah banyak yang antre. Itulah kenapa lebih baik datang pagi. Pemeriksaan kesehatan jasmani hanya meliputi tinggi dan berat badan, serta tekanan darah. That's it. Next, kita diberitahu untuk ke ruang selanjutnya untuk test rohani. Kali ini tidak menunggu, kita diminta masuk ke semacam ruang kelas dan diminta mengisi form SKD yang sama seperti sebelumnya dan diberi satu bendel soal. Ya, soal itu harus dikerjakan. Pertanyaan dalam soal itu hanya seputar pribadi seperti apakah kita takut jika dibentak, sering berhalusinasi apa tidak, punya perasaan ingin mebunuh atau tidak...semacam itu. Meskipun jawaban Ya atau Tidak dan sesuai dengan diri masing-masing, Bapak-bapak di depanku tengok sana-sini mencari jawaban!  Selesai mengumpulkan jawaban dan SKD, kita memasuki proses menunggu tahap 3 yang tidak terlalu lama.

ruang test kejiwaan

Kita akan dipanggil melalui sebuah loket, disana kita (lagi-lagi) diminta mengisi SKD. Setelah itu, barulah memasuki proses menunggu tahap 4 yang sangat lama. Sungguh! Mungkin ada sekitar satu jam kami dari berdiri, jongkok sampai lesehan di lantai menunggu panggilan. Dan, panggilanku pun datang, sangat sayang karena tidak diikuti dengan panggilan untuk syifa. Dari sini mulai kuragukan urutan pendaftaran yang berlaku. Panggilan itu memintaku memasuki ruang D.1 yang disana telah menunggu seorang dokter. Dokter itu tak banyak bertanya, hampir mirip dengan pertanyaan tertulis yang kukerjakan sebelumnya. 

Loket segala pemanggilan

Tak ada 10 menit ditanya Dokter, kembali ku keluar untuk memasuki proses menunggu tahap 5 yang super lama. Serius! Kali ini menunggu untuk test NAPZA. Saking lama dan laparnya, kurasa berat badan ini turun. haha...
w/ syifa

Okay, panggilan untukku yang tidak diikuti panggilan untuk syifa pun tiba. Petugas di loket segala panggilan memberikan struk pembayaran yang dibendel dengan sebuah form dan memintaku membawanya ke Laboratorium yang terletak di lantai 2 gedung selatan. Test NAPZA dilakukan dengan mengambil sample urine kita kemudian di test menggunakan pembanding benzodiazepin. Setelahnya, kita diminta membayar ke kassa yang terletak di bangunan yang sama di lantai 1. Semuanya tertotal Rp 146.800. Sesuai dengan apa yang tertera di web. Kali ini tanpa menunggu lama, hasil test bisa langsung diambil dan diserahkan kembali ke loket segala panggilan untuk mengambil surat lainnya. Untuk mengambil surat itu, kita tak perlu meunggu. Done. Selesai..
hasil Lab.

Jika dilihat dari pelayanan, rumah sakit ini hanya minus di proses menunggu yang lama. Entah karena antrean yang banyak atau sistem di dalamnya yang cukup ribet Tapi over all, pelayanannya memuaskan. Pasien tidak kebingungan harus kemana karena di setiap tahapnya kita diberitahu harus kemana selanjutnya. Good job!
Justru yang saya sayangkan adalah, keberadaan surat sehat jasmani dan rohani tersebut untuk kampus. Untuk apa jika mahasiswa yang mendaftar profesi adalah lulusan dari program S1 di universitas itu juga? Jika surat bebas NAPZA sangat bisa dimaklumi, tapi jika sehat jasmani dan rohani? bolehlah itu kusebut ironi, bolehlah kusebut kampus tak percaya dengan jasmani dan rohani lulusannya sendiri. That's what i'm thinking...