Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, June 14, 2013

Wis, sudah...

Ya,  akhirnya juni. Bulan yang diakhir mei sangat ku tunggu. Apalagi? Wisuda. Tepat 1 juni, kuncir ini berpindah dari sebelah kiri ke kanan. Sederhana saja, perpindahan kuncir. Namun hari itu tak berjalan sesederhana prosesinya. Ada prosesi lain yang lumrah terjadi namun sering diingkari. Mati. Lepasnya nyawa dari jasad menjadi akhir nafas seseorang. Siapapun itu. Tak peduli dia berkuasa terhadap negeri ini, sebesar apapun kekuasaan seseorang terhadap orang lain, sejatinya ia tidak berkuasa terhadap dirinya sendiri.

Malam dipenghujung bulan mei ini sibuk. Semua dipersiapkan. Baju, sendal, toga, topi, samir. Semua tertata rapi di kamar. Ini jawaban dari omelan ibu supaya tidak ada yang tertinggal. Ibu mana yang tak suka, anaknya akan diwisuda. Akan ada embel-embel gelar dibelakang namanya. Meski sebatas singkatan, tambahan itu adalah bukti perjuangan 4tahunan. Perjuangan mengesampingkan kebutuhan yang tak perlu untuk biaya kuliah. Perjuangan mendapat niai yang sesuai dengan persyaratan beasiswa. Semua berjuang.

Tidur pun tak nyenyak. Terbayang sudah make up menempel di wajah. Sungguh hal yang tak kusenangi. Oke, untuk satu hari memasang muka benar-benar wanita bukan maslah. Maka lampu tidur itupun menyala remang. Belum lama rasanya mata ini terpejam, seseorang mengetuk pintu kamar. Pikirku, betapa cepat pagi datang. Ya, ini memang pagi, sangat pagi untuk berangkat ke salon. Sangat terlalu pagi untuk mendengar isak tangis. Dini hari dihari wisudaku itu, mbah putri meninggal.

Motor putih itu dipacu lebih cepat meskipun sudah tergolong nekat. Pukul satu dinihari, jalanan begitu sepi. Sangat sepi meskipun hati ini ramai sekali. Harus bagaimana?

Pada akhirnya, rumah tua di belakang pasar itu terlihat lebih terang. Beberapa pemuda sibuk memasang tenda. Bapak, ibu, kakak, dan aku. Sebentar mematung entah apa maksudnya kemudian bergegas masuk. Kau tahu bagaimana situasinya? Simbah terbaring kaku diatas dipan, lengkap dengan jarit yang menutup seluruh tubuhnya. Tangan beliau begitu dingin kusentuh. Simbah, hari ini cucumu diwisuda...

Dulu mbah putri selalu berpesan untuk jangan lupa sholat lima waktu, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, nderes alquran... masih kuingat simbah yang selalu memberi tekanan pada kata Nu dari nama panggianku, bercerita semasa beliau sekolah dengan bahasa belanda, jajan dengan uang pecahan “kethip”, sering berhenti di sumur orang untuk minum ketika dalam perjalanan ke kota atau sekolah. Berkali-kali simbah bercerita, tak pernah satupun aku bosan mendengar...

Tahukah kalian bagaimana rasanya mendapat ucapan selamat yang diikuti dengan ucapan belasungkawa? Aku bingung mendeskripsikannya. Pagi itu sangat lengkap, pakde, bude, kakak, mbak, bulek, om dan tetangga berkumpul. Semua mengucapkan selamat, dan semua mengakhirinya dengan isak tangis. Mereka pun bingung bagaimana harus bersikap. Mungkin benar isyarat Bapakku beberapa hari sebelum hari itu. Bapak meminta pertimbanganku seandainya beliau tidak hadir di wisudaku. Dan ternyata, beliau memang benar-benar tidak hadir. Ingin marah kala bapak meminta pertimbangan, namun menjadi maklum ketika hari itu datang. Semua tergambar sangat jelas. Biarkan ini menjadi sederhana. Hanya ada aku dan ibu. Berdua saja.

Aku harus bahagia. Meskipun aku tahu lepas zuhur nanti aku akan sangat berduka. Maka sedari datang ke auditorium kampus, melakukan registrasi, bertemu kawan-kawan, berfoto bersama, maju kedepan untuk menerima ijazah, semua kulakukan dengan sempurna bahagia. Selepasnya, ibu memelukku erat, segera mengajak beranjak dari tempat yang sedang hingar itu. Ya, pemakaman menanti. Namun sulit bagiku, banyak teman datang memberi bunga, ucapan, dan berfoto. Ingin semua kuladeni. Mereka yang mengasihiku, mereka yang selalu menjabat tanganku, mereka yang berbahagia untukku. Ketika belum lengkap datang, kata inipun harus segera disampaikan.

Maaf teman, aku harus pulang...

Cantik. Begitu kata teman-temanku. Mbak salon teman ibu memang pintar. Dandanan tidak menor namun tetap elegan. Kebaya merah tanda bahagia segera kulepas, jilbab yang susah payah mbak salon pasang segera kurombak, dan make up itu segera kuhapus. Semua berjalan cepat. Ya, secepat kuncir itu dipindahkan, secepat mobil itu membelah jalan kaliurang menuju rumah tua dibelakang pasar.

Kaget. Kami tercengang dengan situasi di sekitar. Dari gang masuk sudah terparkir banyak mobil. Sempat sopir kami berdebat dengan petugas parkir karena mobil tetap melaju pelan masuk ke jalan yang telah ramai pelayat. Betapa banyaknya pelayat yang datang. Hati ini makin...entahlah. kugenggam tangan ibu, kami berjalan melewati pelayat yang tak segan menatap. Apa yang mereka fikirkan? Menantu dan cucu yang datang terlambat, atau keprihatinan dengan dua kondisi yang bertolak belakang namun terjadi bersamaan. Mungkin dua-duanya, karena tak semua tahu, tak semua paham.

Dari jauh kulihat mbah kakung duduk di depan keranda yang siap diberangkatkan. Saat itu pula, keluargaku menyalami. Kembali mengucapan selamat namun banyak yang tertahan. Hanya air mata yang jatuh bercucuran. Pikirku kala itu, mbah...cucumu datang dengan membawa kelulusan...

Ya, pada akhirnya semua akan kembali padaNya. Entah dalam situasi apa, tubuh ini tak akan mampu menolak. Nyawa yang selama ini melekat erat tiba-tiba terlepas...

Betapa adilnya Tuhan. Ketika kebahagiaan datang bersamaan dengan kesedihan, saat ituah Tuhan mengajarkan untuk tidak berlebihan. (Nurul)

Ilaahadloroti, simbah murtikayah... al-faatihah...

No comments:

Post a Comment