Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, June 26, 2013

Spanduk itu (tak) salah cetak !

Jogja. Makin panas dan semrawut. Ada yang bilang tata kota Jogja kalau tidak diperbaharui dari sekarang akan menjadi seperti Jakarta. Ya kan Jogja sama Jakarta emang beda di "Jog"nya aja..... (g penting!)
Oke, sistem ngelaju dari rumah ke kampus membuat saya sedikit jadi pengamat. Ya, baru sekedar pengamat. Tapi jangan salah, pengamat itu keren. Sering lihat di TV kan, kasus tertentu pasti akan ada komentar dari pengamat. Profesikah itu? kalau iya, nikmat sekali pasti kerjaannya. Apalagi pengamat film, tiap hari nonton euy!
Bukan, bukan itu bahasan tulisan ini. Yang saya amati akhir-akhir ini adalah baliho, poster, spanduk atau apalah yang "pating trempel" di jalanan mulai dari promosi produk, tempat, live concert, dan banyak event.
Berbicara tentang event, ada satu event yang sudah agak lama diselenggarakan namun posternya masih bisa dijumpai di beberapa tempat. acara tersebut diselenggarakan di sebuah gedung kebanggaan universitas terkemuka di Jogja. UGM. Sebuah acara stand up comedy yang mem-battle kan tokoh republik seperti Mahfud MD serta comic pandji pragiwaksono, dan beberapa jebolan stand up comedy Indonesia (yang diselenggarakan oleh Kompas TV) seperti Kemal Palevi. Saya memang tidak menyaksikan acara tersebut, tapi yang menarik adalah POSTERNYA.


source google[dot]com
Apa menariknya poster di atas? coba cermati. Seseorang yang saya kenal dengan sangarnya mengomentari poster tersebut. Dia bilang yang intinya adalah menyalahkan si pendesain poster atas ketidak telitian. Tidak teliti dimana? Yak, pasti sebagian akan terpusat perhatiannya pada tulisan Grha Sabha Pramana (GSP). Sebuah auditorium yang dimiliki oleh UGM. Secara meyakinkan sebagian dari anda pasti mengira penulisan GSP keliru pada Grha yang secara umum dikenal dan dibaca sebagai Graha. Nah, apa bedanya Grha dan Graha. Sangat jauh sekali perbedaannya. Okay, lets take a look..
Perlu dicatat bahwa GRHA dan GRAHA adalah dua kata yang berbeda dan dalam konteks ini Grha ataupun Graha digunakan untuk menamai sebuah tempat. Okay, dari penelusuran yag saya lakukan, Graha berasal dari bahasa sansekerta yang diserap ke dalam bahasa Jawa kuno. Menurut beberapa sumber, Graha memiliki beberapa arti antara lain:
1. gerhana, planit (yang menggenggam atau memengaruhi nasib manusia dengan cara supranatural), nama roh jahat.
2. Buaya, ikan besar, hiu, ular, kuda nil.

Dari dua arti kata diatas sudah terlihat betapa jauhnya makna Graha dengan sebuah gedung atau bangunan. Got it? Berbeda dengan Graha, Grha dalam kamus Jawa kuno diartikan sebagai rumah, tempat tinggal dan kediaman. So, sudah tau mana yang salah dan mana yang benar. Tepat. Penggunaan kata Graha untuk sebuah gedung adalah sebuah kesalahan.
Menurut sebuah situs arkeolog yang saya baca, kecenderungan pengucapan kata Graha terjadi akibat pengaruh dari sulitnya pelafalan kata Grha yang dalam penulisan aslinya menggunakan huruf "r" dengan satu titik di bawahnya.
Jadi, penulisan Grha Sabha Pramana sudah benar? Belum. Menurut sumber yang saya baca, memang Bahasa Indonesia memili kaidah penulisan DM atau diterangkan menerangan namun bahasa sansekerta memiliki kaidah MD atau menerangkan diterangkan. Jadi, sesuai kaidahnya, penggunaan kata Grha seharusnya diletakkan di belakang. Sabha Pramana Grha atau (SPG). Ya, mungkin terdengar aneh dengan bunyi singkatannya.
Seperti halnya kasus kata Grha, masih banyak kasus kebahasaindonesiaan kita yang jadi carut marut. Belum lagi populernya gaya bahasa alay. Mungkin saja generasi berpuluh-puluh tahun besok memiliki kasus kebahasaindonesiaan yang lebih complicated akibat bergabungnya huruf dan angka membentuk satu kalimat. :)
Ya, its just what i'm thinking... Bahasa itu indah, kawan...

No comments:

Post a Comment