Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Monday, June 24, 2013

GRATIFIKASI A LA MAHASISWA

Judul tulisan ini muncul pada perjalanan saya pulang dari kampus. Hari itu saya menuntaskan urusan S1 saya, menyerahkan skripsi ke dosen pembimbing. Terhitung sangat telat memang mengingat seharusnya skripsi itu diserahkan sebelum wisuda yang mana bukti penyerahan skripsi tersebut dijadikan lampiran dalam dokumen pengajuan yudisium tutup study. Bukti tersebut berupa tanda tangan penyerahan yang alhamdulillahnya beberapa dosen sangat berkenan menandatangani pada revisi terakhir meskipun naskah akhir belum ditangan. Saya katakan alhamdulillah karena langkah ini sangat memudahkan mahasiswa mengingat begitu padatnya jadwal dosen sehingga untuk meminta tanda tangan beliau-beliau pun terasa perlu perjuangan, yakni menunggu. Sering saya melakukan proses menunggu ini selama berjam-jam, bahkan pernah seharian. Biasanya saya akan bawa buku bacaan untuk memroduktifkan waktu.
Bagi mahasiswa yang amanah, bisa dijamin akan menyerahkan naskah akhir skripsi yang telah dijilid cantik ke dosen pembimbing tepat waktu. Bagi yang tidak amanah, mereka akan menunda atau bahkan tidak menyerahkan sama sekali ke dosen pembimbing (seperti saya). Ya, hanya ada dua kategori dalam hal ini, amanah dan tidak amanah. Kenapa tidak ada kriteria kurang amanah atau mendekati amanah? Alasannya satu, ketegasan. Bangsa ini butuh ketegasan kawan. A ya A, B ya B. Nggak ada A mendekati B atau B yang sedikit A. Untuk ketegasan itu saya juga menyayangkan dengan sitem penilaian di kampus yang masih menganut toleran yang salah tempat. Di kampus saya, masih mengenal nilai A, A-, dan A/B. Bayangkan saya, untuk nilai A ada 3 macam. Itu semacam memberikan harapan palsu. Seolah olah dosen berkata “Nak, nilaimu tidak masuk kriteria A tapi mendekati A jadi ya A-“ . bukankan mendekati A itu artinya bukan A? Untuk apa di minuskan? Diakhirat besok yang ada hanya surga dan neraka, tidak ada golongan yang bertempat di depan pintu surga dan di tangga pintu surga. Meskipun amalnya kurang sedikit saja untuk masuk dalam kriteria masuk surga, ya dia tetap ke neraka. Itu analoginya. Tapi saya tetap bersyukur dengan sistem yang ada di kampus saya, karena itu lagi-lagi sangat membantu mahasiswanya terutama yang berurusan dengan IPK.
Mengapa saya berfikir tentang gratifikasi di perjalanan pulang? Ya karena ada seorang teman yang bertanya, “kamu ngasih apa ke dosen pas nyerahin skripsi?”. Sebuah kebiasaan yang saya rasa diawali dengan niat baik seringkali jika diteruskan ujungnya akan cenderung membelok arah jika niatnya tak sama lagi. Hadist pertama arba’in nawawi bilang, innamal a’malu binniyat (segala sesuatu itu berdasarkan niat). Apa salahnya dengan pemberian? Sekedar tanda terimakasih? Ya, semua itu TIDAK SALAH. Tapi membiasakan diri untuk yang seperti itu bisa SALAH. Biar saya jelaskan. Ada dua posisi dalam hal ini, dosen dan mahasiswa. Dosen adalah person yang membimbing mahsiswa dalam hal ini adalah skripsi. Mengarahkan, merevisi, dan memotivasi mahasiswa bimbingannya. Sedangkan mahasiswa adalah person yang diarahkan, direvisi, dan dimotivasi. Ketika mahasiswa memutuskan untuk mengambil tugas akhir, otomatis dia akan melakukan tahapan key-in. Jika dikampus saya, ada seminar dan skripsi. Seminar adalah pemaparan mengenai proposal penelitian secara terbuka yang dihadiri minimal 10 orang. Setelah lolos seminar, mahasiswa diizinkan untuk menjalankan penelitian. Dalam masa penelitian ini dilakukan pula revisi naskah hingga ahirnya disetujui dan disidangkan. Sampai pada tahapan ini, mahasiswa dikampus saya sudah membayar 1 SKS untuk seminar dan 5 SKS untuk skripsi hingga sidang. Biaya pendadaran pun dihitung sendiri, belum lagi ketika mengajukan surat bebas administrasi, mahasiswa akan diminta sejumlah uang untuk tambahan bimbingan. Saya bukan menyoal tentang banyaknya uang yang harus dibayarkan, namun kembali ke pertanyaan teman saya tentang bingkisan untuk dosen pembimbing. Tidak ada aturan mahasiswa diharuskan memberi “sesuatu” kepada dosen pembimbing. Ketika saya konfirmasi ke salah satu pembimbing saya pun beliau mengatakan justru kurang senang dengan gaya mahasiswa yang seolah “diadatkan” untuk memberi tanda terimakasih pada dosen baik berupa kue ataupun kain (ini yang sering). Boleh-boleh saja mahasiswa memberikan tanda terimakasih, tapi perlu diingat bahwa dari serangkaian pembayaran tugas akhir, pasti ada rupiah yang dikhususkan untuk pembimbing kita. Jadi, tanpa kita memberi tanda terimakasih pun universitas telah memberikan tanda terimakasih. Jangan khawatir...
Kebiasaan tanda terimakasih tersebut mungkin menurut budaya timur sangat baik. Tapi mari kita berandai-andai. What if. Ya, bagaimana jika dosen tersebut bermental sederhana dan mahasiswa bimbingannya bermental kurang ajar. Bisa jadi, tanda terimakasi tersebut menjadi tanda yang harus diartikan alat mempermudah, mempercepat, atau memperlancar. Bukan tidak mungkin mahasiswa “membayar dosennya” untuk sebuah gelar. Ada satu pengalaman yang sangat disayangkan ini terjadi di kampus saya, di fakultas yang menajdi core dari universitas ini. Ketika seorang adik menyampaikan keluhan tentang kakaknya yang belum juga menyelesaikan skripsi, staf di bagian akademik fakultas tersebut justru menawarkan diri untuk “menyelesaikan” skripsi si kakak. Bukankan itu tindakan yang merendahkan diri sendiri?
So, kembali pada anda masing-masing. Saya dua kali berterimakasih dengan kue, seminar dan pendadaran, dan ketika menyerahkan skripsi akhir saya, dengan tulus saya berterimakasih kepada pembimbing dan penguji saya dengan mencium tangan mereka. Membiasakan diri dengan budaya tanda terimakasih mungkin saja baik, tapi melakukan segala sesuatu tanpa pamrih jauh lebih juara (Nurul).


No comments:

Post a Comment