Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, February 1, 2013

Tentang diam


Tak semua masalah dalam kehidupan ini harus kita tahu penyebab dan cara pemecahannya. Terkadang diampun sudah menjadi solusi. Entah apakah akan menjadi semacam bom waktu yang semakin hari semakin matang untuk meletus, atau justru dapat meredamnya. Seperti pertanyaan klasik manusia pada usia “ingin tahu”nya. Pernah kudengar keponakanku bertanya, “Buk, gimana sih caranya bikin adik?”. Pertanyaan polos dari seorang anaka berusia 3 tahun itu sudah sempurna memusingkan kedua orang tuanya untuk menjawab. Ada dua kemungkinan, jujur atau berbohong. Semuanya berkonsekuensi. Ketika jujur, pastilah ketabuan akan menjadi hal yang dipertimbangkan. Namun ketika memilih berbohong, satu pendidikan sifat buruk manusia telah mereka wariskan pada anaknya. Kulihat kedua orang tua keponakanku itu memilih kemungkinan lain, diam. Menyibukkan diri mereka pada pekerjaan rumah. Bahkan si ibu kemudian menyuapkan sesendok penuh nasi pada si anak. Isyarat untuk diam. Talk less do more, bukankah itu juga sebuah isyarat untuk diam. Begitulah, kadang diam juga diartikan sebuah solusi. Namun bukan diam pasif, mencitrakan dirinya pasrah namun sesungguhnya menyerah. Banyak berdoa, berlinang airmata, mengaduh, mendikte Tuhan semaunya, namun hanya diam di kamar menanti pengabulan doa. Tindakan yang dapat diartikan mengakali Tuhan.
Dan, begitulah tentang diam.

No comments:

Post a Comment