Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, February 1, 2013

5cm, new dreams, and a new me

5cm versi eki, ferdy, nurul, wendra, dan irfan :)


Selesai. Layar kembali menghitam meskipun masih terdengar soundtract yang mengalun perlahan. 25ribu rupiah menjadi tak ada artinya ketika mata ini disuguhkan sebuah realita perjalanan seonggok daging yang bernamakan manusia. Berbagi kasih dalam jalinan persahabatan. 5 orang itu, sempurna merobek batasan mimpi dan kenyataan dalam logikaku. Segalanya, adalah mungkin.
Tentu bukan egois ketika mengatakan segalanya mungkin, karena mutlak urusan Tuhan untuk menentukan nasib baik buruk makhluknya. Optimisme, mungkin itulah kekuatan terbesar yang dipunyai manusia dalam mewujudkan mimpinya. Optimisme pula yang akan menyeret alam bawah sadar untuk ikut meng-iya-kan rencana si logika. Maka membuat sebuah logika yang optimis adalah pe-er bagi logika itu sendiri.
Baiklah, ini semua berawal dari buku bercover hitam yang terjajar rapi di kios buku kawasan taman pintar. Kami menyebutnya, shopping. Warna yang biasanya di-disable-kan oleh beberapa orang karena ke”kumal”annya justru menjadi mencolok bagi mata saya. Ini buku tak biasa, dan dengan pertimbangan ketidak biasaan ala saya itu, saya membelinya. Baru ketika dirumah, saya melihat detil sampul itu tertulis banyak kata dengan tinta hitam pula, sehingga terkesan menyatu dengan background covernya. Desain yang cerdas. Bait pertamanya tertulis impian.harapan.cita-cita. Sebelum membacanyapun, sudah kusimpulkan bahwa ini memang buku tak biasa.
Tak perlu waktu lama untuk mengkhatamkan buku 377 halaman itu. Masih ingat saat lembar terakhir itu menuju titik, saya berada di teras depan rumah. Menghadap hamparan sawah, merasakan semilir angin. Saya terdiam lama. Ibarat mantra, buku ini berhasil menyeret saya kedalamnya. Maka bermainlah saya dengan dunia imajinasi ala saya. Menggambarkan setiap sosoknya, setiap detil settingnya. Undescriptable! Saya menemukan spirit saya, lain dari biasanya…
Hal yang sama saya lakukan 17 desember lalu. Saat novel yang saya beli lima tahun yag lalu diangkat ke layar lebar. Meski tak serupa dengan imajinasi saya, meski setiap tokohnya berbeda dengan tokoh versi saya, saya standing applause untuknya.
Well, ceremonial tentang ketakjuban atas motivasi sebuah film mungkin akan berulang pada film berikut-berikutnya. Tapi apa usaha kita, akankan hanya akan menjadi penikmat motivasi yang setiap saat akan berdecak kagum dan memberikan penghargaan tertinggi pada sutradara, pemain, maupun sinematografernya? Tentunya tidak untuk saya. Langkah saya semankin nyata, projek hidup saya kini telah membentang di dinding kamar. Mulai dari ujian akhir smester bulan ini hingga resolusi lainnya. Setahap demi setahap, film demi film, mari nyalakan hidup. Karena target adalah sebiah janji, maka kewajiban kita untuk menepati!
Thankyou dhoni dirgantoro…

No comments:

Post a Comment