Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Tentang diam

Tak semua masalah dalam kehidupan ini harus kita tahu penyebab dan cara pemecahannya. Terkadang diampun sudah menjadi solusi. Entah apakah akan menjadi semacam bom waktu yang semakin hari semakin matang untuk meletus, atau justru dapat meredamnya. Seperti pertanyaan klasik manusia pada usia “ingin tahu”nya. Pernah kudengar keponakanku bertanya, “Buk, gimana sih caranya bikin adik?”. Pertanyaan polos dari seorang anaka berusia 3 tahun itu sudah sempurna memusingkan kedua orang tuanya untuk menjawab. Ada dua kemungkinan, jujur atau berbohong. Semuanya berkonsekuensi. Ketika jujur, pastilah ketabuan akan menjadi hal yang dipertimbangkan. Namun ketika memilih berbohong, satu pendidikan sifat buruk manusia telah mereka wariskan pada anaknya. Kulihat kedua orang tua keponakanku itu memilih kemungkinan lain, diam. Menyibukkan diri mereka pada pekerjaan rumah. Bahkan si ibu kemudian menyuapkan sesendok penuh nasi pada si anak. Isyarat untuk diam. Talk less do more, bukankah itu juga sebuah i…

5cm, new dreams, and a new me

Selesai. Layar kembali menghitam meskipun masih terdengar soundtract yang mengalun perlahan. 25ribu rupiah menjadi tak ada artinya ketika mata ini disuguhkan sebuah realita perjalanan seonggok daging yang bernamakan manusia. Berbagi kasih dalam jalinan persahabatan. 5 orang itu, sempurna merobek batasan mimpi dan kenyataan dalam logikaku. Segalanya, adalah mungkin. Tentu bukan egois ketika mengatakan segalanya mungkin, karena mutlak urusan Tuhan untuk menentukan nasib baik buruk makhluknya. Optimisme, mungkin itulah kekuatan terbesar yang dipunyai manusia dalam mewujudkan mimpinya. Optimisme pula yang akan menyeret alam bawah sadar untuk ikut meng-iya-kan rencana si logika. Maka membuat sebuah logika yang optimis adalah pe-er bagi logika itu sendiri. Baiklah, ini semua berawal dari buku bercover hitam yang terjajar rapi di kios buku kawasan taman pintar. Kami menyebutnya, shopping. Warna yang biasanya di-disable-kan oleh beberapa orang karena ke”kumal”annya justru menjadi mencolok ba…

Smartphone isn't always for smart people

Orang dulu mengatakan, malu bertanya sesat dijalan. Tapi jaman smartphone seperti sekarang, banyak bertanya justru memalukan. Bukan tanpa alasan saya mengatakan demikian. Beberapa minggu ini saya mengamati beberapa akun media social yang mengatasnamakan kota Yogyakarta. Bisa dicek di [at]JogjaUpdate, atau [at]jogja24jam. Beberapa model pertanyaan yang masuk ke akun tersebut memperlihatkan betapa si akun penanya kurang melek teknologi. Pertanyaan itu semacam, “makanan yang delivery selain KFC apa ya?” “les gamelan di jogja dimana ya?” “Yang jual coklat jago dimana ya? “yang jual mantel baju/celana yang bagus dimana ya?” Bukan meremehkan, namun bukankan pertanyaan semacam itu sangat mudah dicari jawabannya?! Tidak terbayang bagaimana admin dari akun tersebut membaca setiap mention yang masuk dengan pertanyaan sejenis itu. Baiklah, maju pesatnya teknologi yang juga turut menciptakan smartphone entah iPhone, blackberry, maupun rangkaian produk android telah mengenalkan sistem search engi…