Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, February 1, 2013

Tentang diam


Tak semua masalah dalam kehidupan ini harus kita tahu penyebab dan cara pemecahannya. Terkadang diampun sudah menjadi solusi. Entah apakah akan menjadi semacam bom waktu yang semakin hari semakin matang untuk meletus, atau justru dapat meredamnya. Seperti pertanyaan klasik manusia pada usia “ingin tahu”nya. Pernah kudengar keponakanku bertanya, “Buk, gimana sih caranya bikin adik?”. Pertanyaan polos dari seorang anaka berusia 3 tahun itu sudah sempurna memusingkan kedua orang tuanya untuk menjawab. Ada dua kemungkinan, jujur atau berbohong. Semuanya berkonsekuensi. Ketika jujur, pastilah ketabuan akan menjadi hal yang dipertimbangkan. Namun ketika memilih berbohong, satu pendidikan sifat buruk manusia telah mereka wariskan pada anaknya. Kulihat kedua orang tua keponakanku itu memilih kemungkinan lain, diam. Menyibukkan diri mereka pada pekerjaan rumah. Bahkan si ibu kemudian menyuapkan sesendok penuh nasi pada si anak. Isyarat untuk diam. Talk less do more, bukankah itu juga sebuah isyarat untuk diam. Begitulah, kadang diam juga diartikan sebuah solusi. Namun bukan diam pasif, mencitrakan dirinya pasrah namun sesungguhnya menyerah. Banyak berdoa, berlinang airmata, mengaduh, mendikte Tuhan semaunya, namun hanya diam di kamar menanti pengabulan doa. Tindakan yang dapat diartikan mengakali Tuhan.
Dan, begitulah tentang diam.

5cm, new dreams, and a new me

5cm versi eki, ferdy, nurul, wendra, dan irfan :)


Selesai. Layar kembali menghitam meskipun masih terdengar soundtract yang mengalun perlahan. 25ribu rupiah menjadi tak ada artinya ketika mata ini disuguhkan sebuah realita perjalanan seonggok daging yang bernamakan manusia. Berbagi kasih dalam jalinan persahabatan. 5 orang itu, sempurna merobek batasan mimpi dan kenyataan dalam logikaku. Segalanya, adalah mungkin.
Tentu bukan egois ketika mengatakan segalanya mungkin, karena mutlak urusan Tuhan untuk menentukan nasib baik buruk makhluknya. Optimisme, mungkin itulah kekuatan terbesar yang dipunyai manusia dalam mewujudkan mimpinya. Optimisme pula yang akan menyeret alam bawah sadar untuk ikut meng-iya-kan rencana si logika. Maka membuat sebuah logika yang optimis adalah pe-er bagi logika itu sendiri.
Baiklah, ini semua berawal dari buku bercover hitam yang terjajar rapi di kios buku kawasan taman pintar. Kami menyebutnya, shopping. Warna yang biasanya di-disable-kan oleh beberapa orang karena ke”kumal”annya justru menjadi mencolok bagi mata saya. Ini buku tak biasa, dan dengan pertimbangan ketidak biasaan ala saya itu, saya membelinya. Baru ketika dirumah, saya melihat detil sampul itu tertulis banyak kata dengan tinta hitam pula, sehingga terkesan menyatu dengan background covernya. Desain yang cerdas. Bait pertamanya tertulis impian.harapan.cita-cita. Sebelum membacanyapun, sudah kusimpulkan bahwa ini memang buku tak biasa.
Tak perlu waktu lama untuk mengkhatamkan buku 377 halaman itu. Masih ingat saat lembar terakhir itu menuju titik, saya berada di teras depan rumah. Menghadap hamparan sawah, merasakan semilir angin. Saya terdiam lama. Ibarat mantra, buku ini berhasil menyeret saya kedalamnya. Maka bermainlah saya dengan dunia imajinasi ala saya. Menggambarkan setiap sosoknya, setiap detil settingnya. Undescriptable! Saya menemukan spirit saya, lain dari biasanya…
Hal yang sama saya lakukan 17 desember lalu. Saat novel yang saya beli lima tahun yag lalu diangkat ke layar lebar. Meski tak serupa dengan imajinasi saya, meski setiap tokohnya berbeda dengan tokoh versi saya, saya standing applause untuknya.
Well, ceremonial tentang ketakjuban atas motivasi sebuah film mungkin akan berulang pada film berikut-berikutnya. Tapi apa usaha kita, akankan hanya akan menjadi penikmat motivasi yang setiap saat akan berdecak kagum dan memberikan penghargaan tertinggi pada sutradara, pemain, maupun sinematografernya? Tentunya tidak untuk saya. Langkah saya semankin nyata, projek hidup saya kini telah membentang di dinding kamar. Mulai dari ujian akhir smester bulan ini hingga resolusi lainnya. Setahap demi setahap, film demi film, mari nyalakan hidup. Karena target adalah sebiah janji, maka kewajiban kita untuk menepati!
Thankyou dhoni dirgantoro…

Smartphone isn't always for smart people


Orang dulu mengatakan, malu bertanya sesat dijalan. Tapi jaman smartphone seperti sekarang, banyak bertanya justru memalukan.
Bukan tanpa alasan saya mengatakan demikian. Beberapa minggu ini saya mengamati beberapa akun media social yang mengatasnamakan kota Yogyakarta. Bisa dicek di [at]JogjaUpdate, atau [at]jogja24jam. Beberapa model pertanyaan yang masuk ke akun tersebut memperlihatkan betapa si akun penanya kurang melek teknologi. Pertanyaan itu semacam,
“makanan yang delivery selain KFC apa ya?”
“les gamelan di jogja dimana ya?”
“Yang jual coklat jago dimana ya?
“yang jual mantel baju/celana yang bagus dimana ya?”
Bukan meremehkan, namun bukankan pertanyaan semacam itu sangat mudah dicari jawabannya?! Tidak terbayang bagaimana admin dari akun tersebut membaca setiap mention yang masuk dengan pertanyaan sejenis itu. Baiklah, maju pesatnya teknologi yang juga turut menciptakan smartphone entah iPhone, blackberry, maupun rangkaian produk android telah mengenalkan sistem search engine jauh sebelumnya. Sebut saja google yang saking “merakyatnya” hingga kata “googling” masuk dalam  kamus Concise Oxford. Dari satu mesin pencari itu kita dapat menemukan jutaan informasi yang dibutuhkan. Betapa manusia ini dimudahkan dengan teknologi.
Justru karena terlalu dimudahkannya manusia melalui teknologi, menimbulkan kemalasan dalam berfikir. Terkesan malas berusaha mencari informasi yang dibutuhkan, malas melakukan riset, malas berusaha akhirnya pertanyaan pertanyaan yang semacam contoh di atas dengan mudah di share.
Mungkin banyak yang kurang setuju dengan tulisan ini, saya maklumi. Kita memliki standart pola hidup masing-masing. Namun buat saya, ada tahapan yang bisa dilakukan seseorang sebelum bertanya. Contoh saja, seminggu yang lalu saya dan beberapa teman merancang perjalanan ke goa pindul dengan berpedoman sebuah blog. Mulai dari jalur menuju lokasi, harga sewa mobil, tips berwisata di goa pindul, biaya masuk, siapa pemandunya, dan lain-lainnya saya temukan jawabannya di banyak blog. Ketika sudah berada di lokasi, semua informasi yang saya kumpulkan memang benar adanya sehingga planning kami tepat sasaran dan justru bisa menggali informasi yang lebih dalam lagi tentang lokasi.
Jadi, kenapa harus sedikit-sedikit bertanya kalau itu hanya menunjukkan kebodohan manusia dalam menggunakan teknologi. Percuma berponsel Smartphone kalau yang menggunakan tidak smart! So,  bertanyalah sesuai kebutuhan.