Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Thursday, December 12, 2013

What am I waiting for?

did u know, what's the meaning of every second that left?
i do
I call it, a chance...


Chance never comes twice
Chance never comes it self
Chance should be sought
If we hold it, we should never let it go...


I gave u that chance
Even I know that u never come
Someone told me to be strong
Another told me to be brave
But you told me to give up
You said, this is the end story in this life... let's begin in another life...


So, what makes me wait?
What am i waiting for?
If you want to know, you have to believe
In fact, we're separate in a different life
But your soul is always be here...
Near beside me...


So, don't ask me to give up or force me to just let it go...
I'll come again someday
Of course not to meet you
just to remember you
or
just to tell somebody about you and your short life...

Thursday, November 28, 2013

Berani Mengubah !

Ronggowarsito punya kalimat hebat seperti ini,
Saiki jamane jaman edan
Yen ora edan ora keduman
sak bejo bejone wong kang edan
isih bejo wong kang eling lan waspada

Terserah orang akan merespek ini atau tidak, namun saya merasa harus menulisnya. Minggu lalu selepas ujian, saya jadi berfikir panjang. Jauh kedepan. Bahkan sampai hari ini. Mungkin hingga hari-hari kedepan. Bukan, ini bukan tentang soal ujian yang diluar dugaan. Soal ujian hanya separuhnya saya kerjakan dengan yakin. Sisanya, berdasar logika dan kuatnya feeling. Beruntungnya, Tuhan menghendaki saya lolos. Alhamdulillah...

Begini. Setiap orang, tentu pernah melewati sebuah ujian dalam arti ujian tertulis. Menjawab soal dengan tulisan dikertas. Hal yang sama yang saya rasakan dari semua situasi ujian itu adalah, kecurangan. Saya pernah curang, dulu bahkan sering. Membuat contekan panjang dan menyimpannya dikotak pensil, pernah. Menuliskan banyak rumus di selembar tisu, pernah. Memasukkan buku ke dalam laci, pernah. Menuliskan banyak kata kunci di meja, pernah. Melihat alfa-link dari lubang lubang dimeja, pernah. Membawa handphone dan menyebarluaskan jawaban, pernah. Ada yang salah dengan saya? Tidak ! apakah bisa disebut salah jika banyak orang melakukannya bahkan mengulangnya? Apakah dikatakan salah jika pengawas mendiamkan dan berpura-pura membaca koran? Apakah disebut salah jika aturan ujian tak pernah dibacakan dan sekedar dibiarkan, dibawa kesana-kemari, rapi di dalam map?

Saya yang kala itu pelaku, menganggapnya lumrah...
Kala itu. Ya, kala itu. Sejak memasuki bangku kuliah, segalanya saya paksakan berubah. Memang harus dipaksa, kawan. Kebaikan tidak datang begitu saja. Hei ingat, syurga itu di atas, butuh energi untuk mencapainya.

Anda pernah mendengar dosa berantai? Bukan dosa turunan. Mudahnya seperti ini, seorang anak SD curang waktu ujian kenaikan kelas (melanggar tata tertib ujian termasuk mencontek dan bekerjasama dengan teman) sehingga berhasil naik kelas. Ini dosa 1. Anak SD itu kembali curang ketika ujian nasional, sehingga dia lulus. Ini dosa 2. Ketika di SMP pun ia melakukan hal yang sama, curang saat ujian sehingga ia kembali membuat dosa 3 dan saat ujian nasional dia kembali membuat dosa 4. Pun sama ketika SMA ia membuat dosa 5 dan 6. Saat kuliah, tiap mid dan final testnya ia membuat dosa 7,8,9,10,11,12,13,14. Belum lagi ketika skripsi ia memanipulasi data, “membuahtangani” dosen pembimbing ataupun penguji dengan niat melicinkan. Jika memang si anak SD yang telah lulus menjadi sarjana dan “alhamdulillahnya” diterima kerja di tempat yang oke, apa pendapat anda? Jika orang itu terima gaji tiap bulannya, mungkin halal, tapi baikkah? Ingat bahwa islam menuntun kita menggunakan rizki yang halal dan baik. Kata “dan” disini bukan berarti salah satu, tapi keduanya sekaligus.

Untuk orang yang tak mengerti hukum, baik hukum agama maupun hukum sosial lainya sudah pasti dia disetarakan kedudukannya seperti orang gila yang akan dimaklumi dan dianggap tidak melanggar hukum. Kasusnya adalah ketika kita sudah menempuh jenjang pendidikan formal bahkan hingga perguruan tinggi, masihkah kita tutup mata dan dengan sadar diri menyamakan derajat dengan orang gila?

So, apa kesimpulannya? Jangan curang ! Kalau kata pandji, kita harus berani mengubah. Lawan kelumrahan yang tidak baik. Kerjakan semampu kita, ukur seberapa hebat kita. Tuhan mengajarkan kita kerja keras. Syaitan saja bersumpah untuk kerjakeras menggoda manusia. Manusia yang dinobatkan menjadi makhluk sempurna, hanya seperti inikah mentalnya??? Jadi, mari bekerja keras! Semua ini berkaitan dengan mental. Akan jadi apa Bangsa ini jikalau tiap generasinya lahir dari sebuah kecurangan ujian. Pemimpin bangsa yang lulus sekolah karena mencontek, betapa kotornya...

Ini jelas hanya ungkapan pikiran saya yang tertuliskan. Segala sudut pandang bersumber dari saya. Jadi, memang kembali pada pribadi masing-masing, jiwa masing-masing, dan ego masing-masing. Ada jiwa yang ingin benar tapi ego ingin mengejar nilai tinggi. Ada pribadi yang ingin lurus tapi jiwa belum mau diajak lurus hingga ego masih berorientasi pada hasil, bukan proses. Sejauhmana kita berproses, sekuat apa usaha kita berproses, yakinlah itu akan berpengaruh pada hasil. Kalaupan ada si anak SD yang hingga menempati jabatannya masih mulia dimata manusia, masih hingar kehidupannya, mungkin itu cara Tuhan membuatnya terlena... (Nurul)

Friday, November 1, 2013

How Are You, Teman?

Dear Teman,

Bukan wajahmu yang seharian ini menghantuiku
Tak pula kurindu sapaan atau sekedar suaramu
Buatku, tak penting lagi pesonamu

Tapi Teman,

Lukisan yang tak kuselesaian itu terlanjur kupajang
Sering beberapa lalat hinggap kemudian kembali terbang
Ah, mungkin lalat lebih tahu sebasi apa kisah kita untuk dikenang

Kisah kita?

Laba-laba menggantung rendah dan tertawa
Kupikir, ah aku terlanjur jumawa
Menerka rasa yang ternyata
Hanya sendiri ku yang punya...

original PHARMATOGRAPHY 

Sunday, October 27, 2013

Ternyata, toga UII itu KEREN!

Saya kuliah di UII, jadi wajarlah saya bikin tulisan ini J . Kemarin, seorang kawan yang november besok wisuda mengatakan seperti itu. Dan MEMANG, saya akui kebenaran maknanya. Toga kampus kami memang keren! U’ve to see this!

Tolong, anda cukup lihat toganya, bukan orangnya. J

Jadi, menurut saya ini bukan sembarang toga. Lihatlah lambang UII terpasang jelas sebagai listnya. Lihatlah kepala kita tepat berada di inti dari lambang itu. Bagi mahasiswa UII yang lupa (atau tidak tahu) makna lambang UII, boleh deh saya share sedikit...

Jadi, sebelum dikenal lambang UII yang sekarang, sudah ada dua lambang resmi yang digunakan sebelumnya. Yang pertama berbentuk perisai dengan gambar masjid di tengahnya yang digunakan resmi sejak 1962. Kemudian ada pula lambang yang lebih sederhana yang digunakan lembaga kemahasiswaan seitar tahun 1970, dan yang terakhir adalah lambang yang sekarang digunakan yang telah dipakai sejak tahun 1977. Nah, yang perlu diingat adalah sejarah penciptaan lambang tersebut. Pada waktu itu, UII membuat tim khusus yang ditugaskan untuk “menemukan” lambang yang tepat untuk kampus. Maka jadilah mereka membuat sayembara, “barang siapa dapat membuat lambang UII maka akan mendapat sejumlah hadiah”. Serius, sayembara. J

Meskipun saya juga tidak mengenalnya, namun saya perkenalkan anda dengan Bapak Hajar Pamadhi. Beliaulah “otak” dibalik labang UII. Beliau adalah mahasiswa IKIP Karangmaang (sekarang UNY) waktu itu. Lambang yang ia buat menurut saya terkesan simple, namun tahukah anda makna dibalik tiga warna yang menjadi dasar lambang serta rangkaian bentuk yang artistik tersebut begitu dalam.
Coba deh pahami ini:
Warna biru yang juga diidentikan dengan hijau merupakan simbol ketegasan dan kewibawaan UII dalam menghasilkan sarjana yang bijaksana. Warna kuning yang identik dengan emas berarti harapan. UII akan menghasilkan sarjana harapan bangsa yang terus menerus menyebarkan ilmu pengetahuan lewat syiar Islam. Warna putih berarti ketulusan, kejujuran, dan ketekunan. Ini dimaksudkan UII dapat menciptakan sarjana yang jujur, setia kepada bangsa dan negara, tekun dan bertawakal kepada Alloh SWT.

Ini baru warna, simbol lainnya; Bentuk perisai berarti pertahanan. UII akan mempertahankan namanya sebagai universitas yang mampu menghasilkan sarjana sesuai tujuan UII. Bunga di tengah yang distiler menjadi kubah masjid adalah simbol kebudayaan Indonesia sesuai dengan ajaran Islami. Bunga tersebut memiliki 5 mahkota yakni melambangkan Pancasila dan Rukun Islam. Pada putiksarinya membentuk trisula yang menggambarkan Tri Dharma perguruan tinggi. Mata trisula membentuk pena yang berarti pendidikan. Pada kelopak daun tengahnya adalah perlambangan dari buku yaitu Al- Qur’an. Kelopak daun paling bawah adalah penyangga, maksudnya syarat itu semua adalah dua kalimat syahadat. Jadi, lambang ditengah secara keseluruhan artinya tujuan UII yan berdasarkan ajaran Islam dan Pancasila. Sedangkan bentuk limas kapal sebagai pintu masjid di bawah kelopak maksudnya adalah unsur budaya islam.

Dan, segala makna persimbolan itu dilekatkan erat pada toga. Bukankan itu bermakna tanggungjawab lulusan UII untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip keUIIan? Bayangkan, hari dimana kita diwisuda kita menyatu dengan lambang UII. Tidak hanya gagah, tapi mengandung filosofi yang KAYA. 


Coba, kampus mana yang seperti itu? J

Namun saya percaya setiap simbol dan warna yang disematkan pada toga masing-masing universitas bukan sebatas memperindah dan mepercantik saja, tapi pasti ada filosofinya. J

Tuesday, October 22, 2013

Tugas sistem informasi menejemen (SIM)

Bisa download disini

PBL atau problem based learning

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Untuk pertama kalinya, metode pembelajaran Problem Based Learnng (PBL) diperkenalkan di McMaster University pada tahun 1969 yang kemudian diikuti oleh 60 sekolah kesehatan dalam kurun waktu 20 tahun (1). PBL merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengatahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut (1). Penelitian terkait psikologis dan teoritis mengenai PBL menunjukkan bahwa seorang siswa yang belajar dengan cara memecahkan masalah akan mendapatkan dua hal sekaligus yakni konten materi dan strategi berfikir (2).
Ada empat tujuan utama dari sistem PBL menurut Barrows (3) yaitu:
1.         Penataan/ penyusunan pengetahuan dan konteks klinis
2.         Pemikiran/ penalaran secara klinis
3.         Kemampuan belajar mandiri
4.         Motivasi intrinsik
Metode yang dilakukan adalah dengan cara membagi siswa dalam kelompok kecil dan menggunakan sebuah kasus atau skenario sebagai sumber pembelajaran. Kasus yang diberikan adalah kasus nyata pada kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan siswa akan mendapat keahlian dalam mengevaluasi permasalahan pasien, menentukan permasalahan utama dan membuat keputusan yang tepat untuk mengatasinya (1). Ada beberapa keuntungan ketika pembelajaran dilakukan pada kelomok kecil antara lain,
1.         Meningkatkan persahabatan dikalangan siswa
2.         Memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi lebih dekat dengan pengajar dibanding pada sistem belajar di kelas dengan jumlah siswa yang banyak.
3.         Sistem tutorial yang teratur akan menumbuhkan suatu tekanan yang memacu siswa untuk lebih rajin belajar mandiri untuk memenuhi dateline yang telah disepakati (4).
Adapun beberapa kekurangan dari sistem ini antara lain, metode PBL dilakukan secara berkelompok sehingga akan membuat siswa yang malas menjadi semakin malas serta siswa akan merasa guru tidak banyak berperan/ tidak pernah menjelaskan karena model  pembelajaran ini menuntut peran aktif dari siswa (5).
Dalam sistem PBL, pengajar bertindak sebagai mentor yang akan mendampingi siswa dan tidak lagi banyak berperan sebagai pemberi informasi (6). Pengajar/ tutor dalam sistem PBL menjadi fasilitator yang meningkatkan fungsi dari kelompok dengan mengajak semua anggota kelompok untuk aktif berdiskusi, memantau jalannya diskusi serta menjaga arah diskusi sesuai dengan tujuan, dalam hal ini tutor diperbolehkan untuk mengintervensi jika diperlukan. Selain itu, seorang tutor dalam sistem PBL hanya mengarahkan siswa pada kerangka berfikir yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan pengetauan siswa secara mandiri (2,4). Prinsip dalam sistem ini adalah berpusat pada siswa (student centered) berbeda dengan metode tradisional yang lebih berorientasi pada pengajar (teacher-centered) (6).
Tahapan dalam melakukan sistem PBL menurut Schmidt (4) terbagi menjadi tujuh langkah yaitu:
1.         Mengklarifikasi dan menyepakati definisi istilah dan konsep yang tidak jelas.
2.         Mendefinisikan masalah, menyetujui fenomena/ hal mana yang memerlukan penjelasan.
3.         Menganalisa pengertian dari beberapa komponen, menjelaskan secara brainstorming (curah gagasan), dan mengembangkan hipotesa.
4.         Mendiskusikan, mengevaluasi, dan mengatur penjelasan yang tepat dalam hipotesa.
5.         Membuat prioritas tujuan pembelajaran
6.         Melakukan kajian dan penelitian terhadap tujuan pembelajaran diantara tutorial.
7.         Melaporkan kembali pada pertemuan tutorial berikutnya, mensintesiskan penjelasan secara komprehensif dari fenomena/ permasalahan dan menerapkan kembali informasi baru yang telah disintesis ke dalam permasalahan.

Sebuah literatur (4) menyimpulkan tentang sistem PBL yaitu,
1.         Siswa yang belajar dalam situasi yang “tidak menguntungkan” akan cenderung mengompensasi dengan belajar lebih keras. Hal ini kemungkinan karena siswa cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan belajar mandiri.
2.         Angka drop out pada sistem PBL jauh lebih sedikit dibandingkan sistem konvensional. Hal ini kemungkinan karena siswa belajar dalam keompok kecil sehingga timbul perasaan “seakan-akan berada di rumah”/ “hommy”. Selain itu, siswa difokuskan pada interaksi antar individu yang mana satu persatu siswa menjelaskan pandangan mereka terhadap suatu permasalahan, belajar satu sama lain sehingga membuat siswa belajar secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Neville, A. J., 2009, Problem-Based Learning and Medical Education Forty Years On, Medical Principles and Prctice, 18:1-9.
2.       Silver, C. E. H., 2004, Problem Based Learning: What and How do Student Learn?, Educational Psychology Review, Vol 16:235-266.
3.       Barrows, H. S., 1986, A taxonomy of problem based learning methods, Medical Education, Vol 20:481-486.
4.       Schmidt, h. G., Rotgans, J. I., Yew, E. H. J., 2011, The Process of Problem Based Learning: what works and why, Medical Education, Vol 45:792-806
5.       Kusumaningsih, R., 2008, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Kemampuan menerapkan Nilai-nilai Sikap Berekonomi dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa Kelas X MAN Mojokerto, Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Malang.

6.       Kristiyani, T., 2008, Efektivitas Metode Problem Based Learning pada Mata Kuliah Psikologi Kepribadian I (Replikasi), Cakrawala Pendidikan, Vol 27: 286-294

QUALITY MANAGEMENT

Bisa download disini

DRUG MANAGEMENT CYCLE: DISTRIBUTION

Bisa download disini

DRUG MANAGEMENT CYCLE: PROCUREMENT

LEARNING OUTCOME SKENARIO II
“PROCUREMENT”

Nama             : Nurul Fatimah
NIM                : 13811118
Kelompok       : D

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013


1.    Untuk mengetahui definisi perencanaan dan pengadaan
Perencanaan adalah proses pemilihan jenis, jumlah, harga perbekalan farmasi sesuai kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan obat dengan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar yang telah ditentukan, sedangkan pengadaan adalah kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui (1) melalui pembelian, produksi ataupun hibah (2).
2.    Untuk mengetahui metode perencanaan dan pengadaan
Metode perencanaan meliputi:
a.         Metode konsumsi; perhitungan kebutuhan didasarkan pada data riel konsumsi perbekalan farmasi periode lalu dengan penyesuaian dan koreksi (2,3,4).
b.        Metode epidemiologi/ morbiditas; perhitungan kebtuhan didasarkan pada pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan, dan waktu tunggu/ lead time (2,3,4)
c.         Metode kombinasi konsumsi dan morbiditas; yaitu menggabungkan keduanya dengan melihat anggaran yang tersedia (2,3,4)
Metode pengadaan melalui pembelian, hibah, produksi (1,2)
Pembelian ada 4 metode:
a.         Tender terbuka; berlaku untuk semua rekanan yang terdaftar dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
b.        Tender terbatas/ lelang tertutup; hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan memiliki riwayat jejak yang baik.
c.         Negosiasi/ tawar menawar; dilakukan pendekatan langsung untuk item tertentu.
d.        Pembelian langsung; pembelian jumlah kecil yang perlu segera tersedia (2, 3, 4)
3.    Kelebihan dan kekurangan dari metode pengadaan dan perencanaan
Metode perencanaan:
Konsumsi
Kelebihan
Kekurangan
data yang diperoleh akurat, metode paling mudah, tidak memerlukan data penyakit maupun standar pengobatan, jika data konsumsi lengkap pola penulisan tidak berubah dan kebutuhan relatif konstan maka kemungkinan kekurangan atau kelebihan obat sangat kecil (3)
tidak dapat untuk mengkaji penggunaan obat dalam perbaikan penulisan resep, kekurangan dan kelebihan obat sulit diandalkan, tidak memerlukan pencatatan data morbiditas yang
baik (3)
Morbiditas
Kelebihan
Kekurangan
Perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran, standar pengobatan mendukung usaha memperbaiki pola penggunaan obat (3)
Membutuhkan waktu dan tenaga yang terampil, data penyakit sulit diperoleh secara pasti, diperlukan pencatatan dan pelaporan yang baik (3)
Kombinasi
Kelebihan
Kekurangan
Dapat untuk obat & alat kesehatan yang terkadang fluktuatif maka dapat menggunakan metode konsumsi dengan koreksi pola penyakit, perubahan, jenis/jumlah tindakan, perubahan pola peresepan, perubahan kebijakan pelayanan kesehatan (5).
Farmasis harus mengikuti perkembangan perubahan pola penyakit, dan perubahan-perubahan terkait dan secara terus menerus melakukan analisa data sehingga pekerjaan farmasis bertambah (5).

Metode pengadaan;
a.         Tender terbuka, butuh waktu namun harga lebih menguntungkan.
b.        Tender terbatas, waktu relatif namun harga masih dapat dikendalikan.
c.         Negosiasi, waktu dan harga berfariasi tergantung kesepakatan.
d.        Pembelian langsung, proses cepat namun harga lebih mahal (2, 3, 4).
4.    Untuk mengetahui tahap-tahap pengadaan
Tahapan pengadaan dimulai dari mereview daftar perbekalan farmasi yang akan diadakan, menentukan jumlah masing-masing item yang akan dibeli, menyesuaikan dengan situasi keuangan, memilih metode pengadaan, memilih rekanan, membuat syarat kntrak kerja, memonitor pengiriman barang, menerima barang, melakukan pembayaran serta menyimpan kemuian mendistribusikan (2)
5.    Untuk mengetahui analisis dan ketentuan prioritas
Analisis prioritas meliputi;
a.         Analisis ABC (Always Better Control), disebut juga sebagai analisis Pareto atau hukum Pareto merupakan salah satu metode yang digunakan dalam manajemen logistik untuk membagi kelompok barang menjadi tiga yaitu A, B dan C. Kelompok A merupakan barang dengan jumlah item sekitar 20% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 80% dari nilai investasi total, kelompok B merupakan barang dengan jumlah item sekitar 30% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 15% dari nilai investasi total, sedangkan kelompok C merupakan barang dengan jumlah item sekitar 50% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 5% dari nilai investasi total (2,3).
b.        VEN (Vital, Esensial, Non esensial), adalah suatu cara untuk mengelompokkan obat yang berdasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan (tesis). Kelompok V (vital) adalah obat yang harus ada dan diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, kekosongan obat kelompok ini dapat ditolerir kurang dari 48 jam; kelompok E (esensial) adalah obat yang terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit atau mengurangi penderitaan pasien, kelompok N (non esensial) adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang dapat sembuh sendiri atau yang diragukan manfaatnya dibandingkan obat lain yang sejenis (2,3).
c.         PUT (Prioritas, Utama, Tambahan), digunakan untuk menetapkan proiritas pengadaan obat dimana anggaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan dengan cara menggabungan analisa ABC dan VEN yang kan diklasifikasikan menjadi obat-obat yang prioritas (AV, BV, CV), utama (AE, BE, CE), dan tambahan (AN, BN, CN)(2).
Ketentuan prioritas
a.         Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas utama untuk dikurangi atau dihilangkan dari rencana kebutuhan, bila dana masih kurang, maka obat kategori NB menjadi prioritas selanjutnya dan obat NA selanjutnya (2).
Literatur lain mengatakan;
a.         Buang kategori  N, terutama NA
b.        Seleksi E yang termasuk slow atau fast moving.
c.         Ubah obat bermerek menjadi generic
d.        Ubah obat bermerk dengan merk lain yang lebih murah
e.        Komunikasikan dengan dokter dan direktur (5)
6.    Untuk mengetahui definisi dan rumus dari EOQ
Economic Order Quantity (EOQ) merupakan jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian karena merupakan kesetimbangan antara holding cost dan ordering cost (4)
EOQ dihitung berdasarkan rumus       (6)
EOQ adalah jumlah pembelian optimal yang ekonimis, D penggunaan per periode waktu, S adalah biaya pemesanan, H adalah biaya pemeliharaan per tahun, dan C adalah biaya perunit (6).
7.    Untuk mengetahui evaluasi procurement
Evaluasi procurement meliputi;
a.         Prosentase kesesuaian pembelian dg perencanaan awal tahunan
b.        Prosentase kesesuaian  dana pembelian dg perencanaan anggaran
c.         Prosentase kesesuaian perencanaan terhadap formularium (5).
d.        Kesesuaian dana pengadaan obat; jumlah dana anggaran pengadaan obat yang disediakan RS dibanding jumlah kebutuhan dana.
e.        Biaya obat per kunjungan kasus; besaran dana yang tersedia untuk setiap kunjungan kasus.
f.          Biaya obat per resep; dana yang dibutuhkan untuk setiap resep dan besaran dana yang tersedia untuk setiap resep
g.         Ketepatan perencanaan; perencanaan kebutuhan nyata obat untuk RS dibagi pemakaian obat per tahun.
h.        Persentase dan nilai obat rusak; jumlah jenis obat yang rusak dibagi total jenis obat (2)

DAFTAR PUSTAKA
(1)    Anonim, 2004, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004, Jakarta
(2)    Arman, F., Lesilolo, M.S., dkk, 2008, Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
(3)    Maimun, A., 2008, Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi Metode Konsumsi dengan Analisis ABC dan Recorder Point Terhadap Nilai Persediaan dan Turn Of Ratio di Instalasi Farmasi RS Daru Istiqomah Kaliwungu Kendal, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.
(4)    Abert, C., Banneberg, W., Bates, J., Battersby, A., Beracochea, E., 2012, Managing Access to Medicines and Health Technologies, Management Science for Health Inc.,
(5)    Pradhana, D., 2013, Procurement, Bahan Ajar, Program Studi Profesi Apoteker Universitas Islam Indonesia.

(6)    Gonzalez, J.L., Gonzalez, D., 2010, Analysis of an Economic Order Quantity and Recorder Point Inventory Control Model for Company XYZ, A Senior Project Submitting, Degree of Bachelors of Science In Industrial Engineering, California Polytechnic State University, San Luis Obispo, available at: http:digitalcommons.calpoly.edu/cgi/, diakses tanggal 8 oktober 2013