Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, December 8, 2012

She is, RACHMAWATI AGUSTINE MACHTYAS

Traditional dance is seems like another art working...
Its compound of majesty, enchantmen, beauty, and many others...

black...

and white...

Talent : Rachmawati Agustine Machtyas
at Borobudur Tample, Centre of Java.
Original PHARMATOGRAPHY

We called it, soulmate...





She is, SYIFA ROHMAH TAQORINA




she always cheers me up...

"journalist" on duty... (part II)







so long mbah marijan...

kebijakan yang "MORAT - MARIT"

Melahirkan, adalah sebuah proses yang tidak biasa. Ada tawar menawar kehidupan, tarik ulur kematian, dan pertaruhan nyawa di dalamnya. Untuk itulah, Alloh "meletakkan" surga di bawah telapak kaki ibu... Subhanalloh...
Skenario Tuhan itu berawal dari nyeri hebat tiap 15 menit sekali, hingga continue di bagian perut (rahim). Kernyitan dahi itu terus menerus terbentuk, disertai erangan lirih serta cengkeraman erat di lengan sang suami.
"Sakit Ayah..."
Pasien itu tergeletak di salah satu bangsal di sebuah rumah sakit daerah di ujung kota DI Yogyakarta. Kamar kelas 2 yang disulap menjadi kelas 3 karena membeludaknya pasien bersalin/ melahirkan. Tak mengherankan jika kejadian seperti itu terjadi, pasalnya baru - baru ini masyarakat diayem-ayemi dengan sebuah jaminan kesejahteraan sosial khusus untuk ibu melahirkan yang diberi nama : JAMPERSAL (Jaminan Persalinan).
Apa dan bagaimana Jampersal ini???
Menurut beberapa sumber informasi yang saya kumpulkan, jampersal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi akibat persalinan yang berlaku untuk semua lapisan masyarakat. Hal ini tertera pada sambutan Mentri Kesehatan yang tertuang dalam Petunjuk Teknis yang mengatakan "Jaminan Persalinan ini diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemerikasaan nifas dan pelayanan KB oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga pada gilirannya dapat menekan angka kematian ibu dan bayi". Pada Petunjuk Teknis (Juknis) yang dirilis oleh Departemen Kesehatan RI itu dikatakan pula bahwa Jampersal menjamin seluruh biaya pengobatan ibu dan bayi selama melahirkan di Puskesmas atau RS Pemerintah. Pertanggungjawaban biaya tersebut berlaku untuk kelas 3 dan sarana pelayanan kesehatan.
Dana yang dikucurkan oleh pemerintah melalui APBN 2011 Kementrian Kesehatan cukup fantastis. Untuk Yogyakarta, dianggarkan sebesar 9,108,199,000 rupiah dengan perincian setiap kabupaten adalah sebagai berikut:
- Kab. Kulon Progo sebesar Rp 1,025,625,000
- Kab. Bantul sebesar Rp 2,402,298,000
- Kab. Gunung Kidul sebesar Rp 1,779,244,000
- Kab. Sleman sebesar Rp 2,877,167,000
- Kota Yogyakarta sebesar Rp 1,023,865,000
Jika dilihat dari besarnya dana yang dikeluarkan, maka terbayang betapa spesialnya peserta Jampersal nantinya, meskipun di kelas 3.
Namun, pada kenyataannya tak ada kebijakan yang tak cacat. Jaminan Persalinan yang terlihat cukup matang dalam penggodokannya, menuai pro kontra. Tak perlu saya jelaskan mendetail seperti apa pro kontra yang merebak di masyarakat, namun yang saya lihat dari apa yang saudara saya alami merupakan sebuah pelayanan buruk dari sebuah kebijakan yang mengatasnamakan kesejahteraan masyarakat.
Rumah sakit itu terletak di sebuah kabupaten di Yogyakarta. Pasangan suami istri itu memutuskan datang ke sana setelah sang istri merasakan nyeri hebat di rahimnya yang semakin lama semakin intens. Mereka datang sekitar pukul 23.00 WIB sehingga sesuai SOP rumah sakit, pasien masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Sang ibu diperiksa sebentar dan kembali didiamkan karena menurut tenaga medis di sana sang ibu belum waktunya melahirkan. Erangan kesakitan membuat sang suami semakin panik. Bukan berupaya untuk memotivasi pasien supaya lebih kuat menghadapi persalinan, namun tenaga medis disana hanya berupaya untuk menjalankan tugasnya. Ya, sebatas menjalankan tugas tanpa menggunakan nurani mereka. Pasien tetap dibiarkan menunggu dengan sakit yang kiat kerap datang.

Pagi hari berikutnya, belum ada tanda yang menginstruksikan segera dilaksanakan persalinan. Beberapa kali ada tenaga medis yang datang namun sekedar mengantarkan koas/ dokter muda yang sedang observasi atau praktek. Manusiawikah???? seorang yang sedang kesakitan dijadikan totonan???? atau karena sang ibu adalah peserta jampersal???

Ada sedikit kelegaan ketika pagi itu, ada tenaga medis yang mengatakan bahwa akan dilakukan proses operasi, bukan persalinan normal. Sang ibu bahagia, meskipun tidak sesuai dengan keinginannya untuk melahirkan normal sekaligus konsekuensi pembayaran proses opersi caesar yang tidak menjadi tanggungan jampersal. Namun lagi-lagi, kabar itu berakhir buntung hanya karena ada inspeksi mendadak dari dinas kesehatan setempat yang dilanjutkan dengan syawalan, semua operasi hari itu dibatalkan. Tindakan macam apa ini??? Syawalan memang berpahala, namun membatalkan operasi pasien hanya karena hal itu sungguh diluar pemikiran orang normal. Ya, sang ibu kembali dengan kesakitannya.

Akhir dari kesemua itu, lahirlah seorang bayi mungil berenis kelamin wanita yang sehat dan cantik berhidung mancung. Kelahiran yang melalui banyak proses. Bayi itu lahir normal dengan berat badan 2.9kg, Alhamdulillah...
Meskipun tetap terlahir normal, namun proses kelahiran itu dilakukan pukul 2 siang. Bayangkan, si ibu harus menahan sakit sejak pukul 23.00 pada hari sebelumnya.

Sungguh sangat pantas bahwa surga di bawah telapak kaki ibu...

Dengan jampersal itu, pasien seperti disepelekan. Tak ada fasilitas baju bayi, handuk, ataupun popok. Bahkan untuk kendi tempat ari-ari (plasenta, dll) pun, pasien beli sendiri. Tak ada penjelasan fasilitas yang akan didapat pada sosialisasi.

Seharusnya, ketika kita berbicara sebuah kebijakan harus dengan sikap yang bijak. Tidak boleh ada pihak manapun yang merasa dirugikan ataupun dipersulit. Transparansi serta kejelasan kebijakan itu harus sepenuhnya disampaikan pada pihak terkait.

Tuesday, December 4, 2012

Klinik Baru Mas Tumijo...

Pernah saya tuliskan seseorang yang bernama mas Tumijo. Hari ini, saya kembali berkunjung ke rumah beliau. Saya masih ingat, terakhir kali saya berkunjung waktu itu Ny. Tumijo dengan ramah menyuguhkan segelas teh. Teh yang sangat nikmat ditengah hujan sore itu.


Halaman belakang rumah mas tumijo sudah berbeda. Bangunan baru yang lebih modern. Ada teras kecil di depannya. Meskipun masih sekitar pukul 9, halaman itu telah diparkiri dua motor. Meskipun begitu, mas tumijo menyempatkan menengok dan memersilahkan saya masuk.

"Lama nggak kesini mbak?"
Begitu sapaan mas tumijo. Sebuah sapaan yang mengisyaratkan beliau tidak lupa dengan saya.

Sempat saya mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruagan sempit yang dulu terisi etalase yang dipenuhi dengan kamera itu sudah tak terlihat. Digantikan satu meja khas resepsionis didalam ruangan yang disetting semacam ruang tunggu. Jauh lebih lengang dan nyaman. Ya, jadi semacam klinik pengobatan dengan mas Tumijo sebagai dokternya.


Dengan cekatan mas Tumijo segera "membedah" Nikon D90 milik teman saya yang terendam air sungai dua hari yang lalu. Acara makrab pada waktu itu. Meskipun sebentar, air telah masuk ke bagian komponen kamera. Sudah ada beberapa karat di bagian PCBnya. Kejadian yang sungguh membuat teman saya risau. Jelas. Saya yang membantunya saja ikut deg-degan, berharap karat itu belum menjalar kemana-mana.


Pada akhirnya, saya hanya pasrah saja, berharap mas Tumijo bisa menyembuhkan pasien yang saya bawa...