Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Friday, November 9, 2012

Life's hard, so beat it up!!!


Adalah Prie Gs yang sudah “meracuni” otak saya lewat anak SMA bernama Ipung. Ya, anak SMA tengil. Jauh dari kata ganteng, bahkan nyrempet ganteng pun tidak (menurut imajinasi saya). Saya dan sejumlah orang lainnya merelakan diri belajar tentang kehidupan yang majemuk ini melalui bocah ABG!
Saya mengenal Ipung dari Teman. Setelahnya, Ipung dengan bebasnya berkeliiaran di benak saya. Berujar tentang hidup yang seolah-olah selalu bisa dia kendalikan dengan bualannya. Negosiasi, lebih tepatnya. Keahliah yang agak maksa bagi seorang anak SMA. Bahkan urusan cinta pun, masih ia negosiasikan. Tarik ulur yang sangat manis. Ketika ia tahu seorang gadis tercantik di sekolahnya bisa jatuh cinta padanya (saya namakan ini musibah) ia tidak langsung gegabah menunjukkan rasa cinta yang sama. Ada semacam pembelajaran yang ia berikan secara tidak langsung kepada si gadis melalui sikap cueknya yang terlalu tak peduli. Tak peduli yang terlalu cuek. Mengajarkan kesabaran dalam mencinta, tidak grusa grusu. Cinta, bersabarlah…

“Cinta tak Cuma ditunggu, tapi direbut…” Ipung

Mempertahankan kehormatan. Itulah yang sering ia kerjakan, parahnya dengan cara yang terkadang tak biasa. Ipung memang siswa miskin dan ndeso, tapi selalu tampil tanpa minder meskipun hatinya terkadang dag dig dug juga. Satu hal yang Ipung andalkan, kemampuan berbahasa (baik verbal maupun tulisan).
Selain Ipung, ada tiga tokoh sentral lain yang kang Prie Gs suguhkan. Tiga karakter wanita dengan pola hidup dan pemikiran yang berbeda. Paulin. Surtini. Ayunda.  Ketiganya (masih menurut imajinasi saya) mewakili karakter wanita yang memiliki kecantikan luar dalam. Paulin adalah wanita kaya yang mencintai ipung dengan mengedepankan emosinya. Ia tidak sabar ketika ipung dengan sengaja menarik ulur kisah mereka. Ia selalu memberikan aksi namun tak sabar menunggu reaksi. Meskipun tidak sabar, ia tetap menunggu. Surtini. Ia cerminan wanita dalam artian yang sebenarnya (opini). Sesuai kodratnya. Jatuh hati sampai patah hati, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Gadis desa yang hanya bisa menunjukkan cintanya lewat sikap welas asihnya, tutur katanya, dan kemuliaan hatinya. Pengabdian. Ia mengabdi pada ibu ipung. Selalu merelakan waktunya untuk lebih sibuk membantu ibu ipung. Manis. Cinta semacam ini memang menyiksa batin, tapi sangat manis. Murni ia mengharapkan penakdiran Tuhan atas orang yang dicintainya. Bukan mendikte Tuhan untuk menakdirkannya. Ayunda. Tak berbeda dengan Paulin. Ayunda mewakili remaja kota yang dinamis, namun frontal. Nekat untuk mendapatkan cinta. Frontal.

Saya. Dari ketiga karakter, mungkin saya adalah Surtini. Lebih senang bercengkrama tentang cinta pada Tuhan. Pada Ia Yang Maha Cinta. Meskipun memang sakit hati tak bisa dielakkan. Bahkan ketika telah sedekat apapun hubungan saya dengan orang yang saya cintai. Biarlah saya menjadi Surtini, mengindahkan cinta dengan bermain intuisi.

Terimakasih Teman, telah mengenalkan kang Prie Gs...
Hidup ini keras,maka GEBUKLAH!


Hai Teman, finally saya punya... :)

No comments:

Post a Comment