Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Sunday, November 25, 2012

birthday present


Mamo's birthday


Nuna's birthday


Mencoba membuat sesuatu yang berbeda, untuk mereka.
Yang lain? tunggu saja! :)

Anda tertarik? contact me! #promosi.

this's original PHARMATOGRAPHY

Tuesday, November 20, 2012

Bukan warnaku.


Sore itu aku melihat dress berwarna peach dengan hiasan manik-manik yang dengan indahnya membentuk ornament bunga dan beberapa ukiran. Warnanya menawan, perpaduan dari gold, merah, hijau, silver, dan beberapa warna lain yang atraktif. Cantik. Pelayan toko itu mendekat. Mmungkin ia sadar telah agak lama aku terpaku pada dress itu. Ya, cukup lama. Dengan kesopanan standart SOP department store itu, ia menyapa. Berujar banyak hal tentang produk di depanku. Tentang ukuran lain yang kiranya muat untukku, tentang pilihan modelnya, dan lain sebagainya. Professional. Tak banyak tanggapan yang kulontarkan.

“Gaun yang bagus, tapi ini bukan warna saya…”

Shit dejavu. Kejadian itu muncul kembali ke memori otakku setelah melihat trailer sebuah film. Film yang berlokasi shooting di korea. Agak heran, akhir-akhir ini banyak sekali sinetron atau film yang berkiblat ke sana. Padahal tempat di Indonesia masih banyak yang jauh lebih menawan, sayangnya belum terpromosikan dengan baik. Dialognya pun hampir sama. Wanita dalam film itupun berkata pada teman disampingnya, bahwa itu bukan warna untuknya.

Warna. Satu komponen penyumbang keindahan dunia yang justru menjadi sentral dari keindahan itu. Bayangkan saja dunia versi black and white. Suram. Mungkin seperti itu pula tanggapan orang tentang manusia yang gemar dengan satu dua warna. Manusia suram. Boleh lah aku tertawa sinis dan mengatakan dengan bijak bahwa warna mencerminkan kepribadian. Hitam. Selalu kukatakan pada kawanku, hitam itu warna yang berkarakter kuat, berprinsip. Tanggapan mereka pun tetap sama, kusam. Kesukaan pada hitam adalah sebuah proses yang mendewasakan. Proses pendewasaan yang alamiah dialami setiap manusia menuju usia matangnya. Ingat, tua itu pasti namun dewasa itu pilihan. Tergantung manusianya akan memilih menjadi dewasa atau hanya stag pada satu point kehidupan yang nyaman tanpa pembelajaran. Push into the limit, orang Barat mengatakannya demikian. Hitam menyimpelkan sebuah kehidupan yang rumit. Introvert. Bukankan tingkat kesempurnaan itu juga berwarna hitam? Ketika semua warna dicampurkan, dia akan menjelma menjadi hitam. Sabuk tertinggi dalam pencak silat juga hitam.

So, it’s a perfection.

Sunday, November 18, 2012

Lagu rindu


Malam hujan bembisukan alam. Lengang. Tak pernah kurasa setenang ini sebelumnya. Jiwa yang berpasrah pada keutuhan garis tanganNya. Ya, Dia tempatku menggantungkan segala asa. Asa tentang baik buruknya manusia. Dia, yang selalu kusebut diriNya Tuhan.

Tuhan, aku mengadu.
Tentang hujan sore ini yang mendatangkan rindu. Ya, rindu pada makhlukMu yang pernah Kau datangkan tanpa ku memintanya. Rindu yang terkumpul satu persatu kini telah menembus batas kuasaku. Ketika kutanya padaMu, harus kuapakan semua rindu itu. Kau jawab dengan hujan sore ini. Maka kuhanyutkan rindu itu, kularutkan setiap partikelnya pada tetesan air hujan, kuredam gemuruhnya ditiap bunyi rintikan, namun sia-sia. Tuhan, aku lupa. Rindu adalah energiMu, ia tak akan musnah, hanya wujudnya yang berubah…

Tuhan, aku mengadu.

Tentang perihnya merelakan, tentang sakitnya dicampakkan. Dia pergi dariku, itu yang kutahu. Bukan kuasaku untuk mendikteMu. Namun dia datang atas perintahMu, pergi sesuai inginMu. Maka bukan hal besar bagiMu untuk mendatangkannya tanpa harus pergi lagi... atau jusru menghapuskan semua tentangnya didiriku, sepenuhnya...

Dan pada akhirnya Tuhan, inilah strata hidup baru yang Kau namakan kedewasaan…

Me, my self, and books.

"Ndut, seneng banget sih foto pake buku."
"Nggak usah sok2an baca buku gitu deh ndut.."
"Kamu suka baca?"

Hei, membaca adalah sebuah proses yang cerdas. Imagine the world word by word...
Hobby membaca adalah sesuatu yang klasik. Dulu waktu masih berada di jenjang sekolah dasar, ketika ditanya hobby pasti jawabnya membaca. Padahal saya yakin waktu itu jawaban muncul karena asas ketenaran bahwa membaca adalah sesuatu yang keren. Bacaan utama waktu kecil adalah Bobo. Ingat? Yak, majalah dengan tokoh sentral seekor kelinci berbaju merah. Banyak tokoh dalam Bobo yang saya suka, hasan dan paman kikuk, bona dan rong-rong, kisah dari negri dongeng. Aah, dulu saya tak sekedar membaca. Bahkan mengahfal setiap ceritanya! Entah bagaimana dulu bisa saya lakukan. Mungkin karena waktu itu saya membaca sambil mengeja dan dengan suara yang lantang, tepatnya berteriak-teriak. Majalah Bobo itu sekarang entah sudah kemana, terakhir saya ingat mereka dibendel dalam satu jilidan besar yang tebal. Ada beberapa jilidan waktu itu, dan ditumpuk begitu saja. Sebenarnya sayang, tapi tak terpikir sayang waktu itu.

Mungkin saya termasuk orang yang imajiner (istilah saya), senang membayangkan sesuatu. Buruknya, ketika teman-teman saya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut mistik, horror, imajinasi saya pun masih berputar-putar lama di kepala. Itu yang membuat saya terkesan penakut. Heeii, hanya terkesan. Aslinya mah saya pemberani. So, balik ke buku. Ayah saya, itulah sumbernya. Bertumpuk-tumpuk buku di almari dan rak-rak itu sudah habis dilalapnya. Kebanyakan tentang agama. Beliau selalu memrofokasi saya untuk membaca buku tafsir yang tebal dan berjilid2. Ya, itu belum saya lakukan. Saya lebih tertarik dengan imajinasi orang lain. Novel. Fiksi, ilmiah, sejarah, dll. Siapapun pengarangnya.

buku sejaran dan dinamika UII
One step forward, saya mulai menuliskan imajinasi saya ke dalam sebuah ketikan. Memang baru beberapa puluh lembar, we'll see apa jadinya besok. Bakal terbit kah? Hhhm, God knows!


kumpulan novel Ipung oleh Prie Gs

5 cm, by Dhoni Dhirgantoro


Sorry, agak narsis memang.. !

Brotherhood (part 1)


Tak ada jalan mulus yang kami lewati. Aspal rusak di sana-sini. Memperparah jalanan yang menanjak, menurun, berkelak-kelok semau si pembuatnya. Namun semuanya sebanding dengan view yang disajikan Tuhan. Terasiring di sepanjang perjalanan, bunga-bunga liar yang mulai semi setelah tersiram air hujan, dan senyum ramah warga yang kami lewati.

terasiring

First destination…

Petunjuk arah yang dibuat oleh mahasiswa KKN sebuah universitas swasta itu sangat membantu. Curug. Mungkin akan lebih familiar dengan istilah air terjun. Water fall. Terletak di sebuah desa Sumoroto, Sidoharjo, curug itu tak banyak dikenal orang. Ibaratnya masih perawan. Motor kami parkirkan di rumah Bapak Dukuh yang waktu itu tak berada di rumah. Menuju curug yang berjarak kurang lebih 500 meter dari kami memarkirkan motor, kami berjalan kaki. Jangan dikira sudah ada jalur khusus yang dibuat nyaman, akses menuju curug hanya jalan tanah yang berbatu, naik, turun, berbatu lagi. Bahkan tidak ada petunjuk harus berbelok kanan atau kiri. Maka, sepenuhnya kami patuh pada feeling. 500 meter yang cukup ngos-ngosan. Saat seperti inilah, akan terlihat siapa yang rajin berolahraga, siapa yang tidak. Sayangnya, saya termasuk kategori kedua.

Lelah menyusuri jalan menuju curuk yang sempat pula kami tersasar itu tidak terbayar lunas. Curug kering. Hujan beberapa hari yang lalu belum cukup mengembalikan kehidupan si curug. Tak apa, karena kami masih sempat berfoto di sekitarnya. Bayaran atas kelelahan itupun sedikit terlunasi. Keringnya curug itu kami jadikan satu alasan untuk kembali lagi lain suatu saat nanti. Harus!
Bunga liar
Kering



Thats my brother!

Saturday, November 17, 2012

Long weekend loh!

Hei, ini malam minggu. Entah apa sejarahnya, banyak orang berpacaran di malam ini. Plus, banyak pula yang sendirian. Haha, dunia memang selalu memasang homeostasisnya dengan pas. Nggak kurang, nggak lebih. So, aku termasuk golongan kedua. Sendirian di kamar, pasang headset beatsq tersayang (entah KW atau ori, namanya give ya diterima wae), daaaannn ngeblog. Eits, secangkir kopi juga. :)
Well, ini long weekend. Kamis, 15 November kemarin adalah 1 Muharam 1434 H. Happy Nu Years \(^^)/. Beda dengan malam minggu ini yang sialnya g turun hujan, kamis-jumat kemarin full hangout bareng Gokuraku. Kita ada sesi foto berkebaya. Ya, kebaya. Versi lebaynya kukatakan seperti ini, "Demi mereka ku rela..". Maka jadilah kamis kemarin adalah hari penyiksaan kedua setelah sesi foto pink pada semester awal. I dont really like pink! Tapi, begitulah pertemanan, selalu ada penekanan ego yang secara ikhlas dilakukan. Total ada 48 foto dengan 2 dresscode. 48 bukan jumlah yang banyak,  tapi memilih mana yang dicetak cukup membuat naik darah. Adalah satu teman saya yang egoisnya minta ampun, selalu melihat pose dia tok tanpa melihat yang lain. Bayangkan saja, kami bersebelas! Ada kata-kata dia yang pengen sekali kutimpali waktu itu, but didepan umum seperti kemarin bukan waktu yang tepat.
"Gara-gara kamu sih, ini fotonya jadi jelek." *Jiiitaaaaaaaaakkkk!!!
Hasilnya, 23 foto berhasil disortir dengan damai. Haha, kuambil alih proses sortir, agak anarkis memang.
Yak, mari berkebayaaa !! (w/ mae)

Banyak pose bikin lapar!
Sepanjang jalan kaliurang, banyak sekali tempat yang recommended untuk mengusir lapar. Pernah denger ayam goreng suka-suka? Bukan ngiklan sih, tapi tempat disana selain masakannya enakdan pelayanannya baik, tempatnya asik buat ngumpul. Sebenarnya, alasan pertama kami memilih tempat itu hanya karena dekat saja sih. Hehe. Seperti kebiasaan kita ketika memasuki sebuah tempat makan dengan konsep lesehan, kami selalu merepotkan. Ingat, bersebelas! tapi kami anti mengatasnamakan diri kami girlband (emang bukan). Kerepotan itu adalaaaah, ngobrak abrik meja. Tiga-empat meja selalu kami gabung jadi satu biar muat. Selain bersebelas, beberapa dari kami juga big size. ;)
Kan, 3 meja jadi 1.
Menjadi diri sendiri ketika makan adalah anugrah! Ada suatu kejadian tentang kebiasaan makan kami yang main comot sana sini, kasih sana sini. Ketuka itu di kantin kampus, ada teman diluar geng aneh kami yang ikut makan dan sepanjang kami makan dia hanya terbengong2. Setelah kami selesai makan pun dia belum selesai. Dengan lugunya dia bilang, "Kalian kok bisa makan kayak gitu sih?" jawaban kami kompak sekali, tertawa.
Dan, kantuk pun datang.. welcome... :)
Kosan di daerah pogung pun sempurna kami sabotase. Si pemilik kos, Endah hanya bisa pasrah kamarnya dimasuki 10orang yang sangat siap memenuhi setiap sudut kamarnya. No foto ya, pada nggak pake jilbab soalnya... :)
Well, seperti itulah kami ketika bersama. Entah apa namanya, edan gila atau sekedar ekspresif..tapi kami suka.

Bahagia adalah ketika kita bisa tertawa dengan membawa serta hati, pikiran, dan perasaan kedalamnya (Nurul)


Friday, November 9, 2012

Life's hard, so beat it up!!!


Adalah Prie Gs yang sudah “meracuni” otak saya lewat anak SMA bernama Ipung. Ya, anak SMA tengil. Jauh dari kata ganteng, bahkan nyrempet ganteng pun tidak (menurut imajinasi saya). Saya dan sejumlah orang lainnya merelakan diri belajar tentang kehidupan yang majemuk ini melalui bocah ABG!
Saya mengenal Ipung dari Teman. Setelahnya, Ipung dengan bebasnya berkeliiaran di benak saya. Berujar tentang hidup yang seolah-olah selalu bisa dia kendalikan dengan bualannya. Negosiasi, lebih tepatnya. Keahliah yang agak maksa bagi seorang anak SMA. Bahkan urusan cinta pun, masih ia negosiasikan. Tarik ulur yang sangat manis. Ketika ia tahu seorang gadis tercantik di sekolahnya bisa jatuh cinta padanya (saya namakan ini musibah) ia tidak langsung gegabah menunjukkan rasa cinta yang sama. Ada semacam pembelajaran yang ia berikan secara tidak langsung kepada si gadis melalui sikap cueknya yang terlalu tak peduli. Tak peduli yang terlalu cuek. Mengajarkan kesabaran dalam mencinta, tidak grusa grusu. Cinta, bersabarlah…

“Cinta tak Cuma ditunggu, tapi direbut…” Ipung

Mempertahankan kehormatan. Itulah yang sering ia kerjakan, parahnya dengan cara yang terkadang tak biasa. Ipung memang siswa miskin dan ndeso, tapi selalu tampil tanpa minder meskipun hatinya terkadang dag dig dug juga. Satu hal yang Ipung andalkan, kemampuan berbahasa (baik verbal maupun tulisan).
Selain Ipung, ada tiga tokoh sentral lain yang kang Prie Gs suguhkan. Tiga karakter wanita dengan pola hidup dan pemikiran yang berbeda. Paulin. Surtini. Ayunda.  Ketiganya (masih menurut imajinasi saya) mewakili karakter wanita yang memiliki kecantikan luar dalam. Paulin adalah wanita kaya yang mencintai ipung dengan mengedepankan emosinya. Ia tidak sabar ketika ipung dengan sengaja menarik ulur kisah mereka. Ia selalu memberikan aksi namun tak sabar menunggu reaksi. Meskipun tidak sabar, ia tetap menunggu. Surtini. Ia cerminan wanita dalam artian yang sebenarnya (opini). Sesuai kodratnya. Jatuh hati sampai patah hati, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Gadis desa yang hanya bisa menunjukkan cintanya lewat sikap welas asihnya, tutur katanya, dan kemuliaan hatinya. Pengabdian. Ia mengabdi pada ibu ipung. Selalu merelakan waktunya untuk lebih sibuk membantu ibu ipung. Manis. Cinta semacam ini memang menyiksa batin, tapi sangat manis. Murni ia mengharapkan penakdiran Tuhan atas orang yang dicintainya. Bukan mendikte Tuhan untuk menakdirkannya. Ayunda. Tak berbeda dengan Paulin. Ayunda mewakili remaja kota yang dinamis, namun frontal. Nekat untuk mendapatkan cinta. Frontal.

Saya. Dari ketiga karakter, mungkin saya adalah Surtini. Lebih senang bercengkrama tentang cinta pada Tuhan. Pada Ia Yang Maha Cinta. Meskipun memang sakit hati tak bisa dielakkan. Bahkan ketika telah sedekat apapun hubungan saya dengan orang yang saya cintai. Biarlah saya menjadi Surtini, mengindahkan cinta dengan bermain intuisi.

Terimakasih Teman, telah mengenalkan kang Prie Gs...
Hidup ini keras,maka GEBUKLAH!


Hai Teman, finally saya punya... :)