Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, October 20, 2012

Introducing, ARTSI.

Inilah ARTSI. Ajang Kreativitas dan Silaturahmi Mahasiswa Farmasi. Namun, saya lebih suka menuliskannya ARTsi. Ini bukan sebuah ajang kompetisi, bukan pula pagelaran atau open galery. Ini makrab. Penyambutan mahasiswa baru oleh kakak-kakak angkatan sebelumnya.
No seniority, No anarchy, just have fun!

Butuh persiapan yang luar biasa untuk menyelenggarakan event ini. Sebuah kebanggaan, saya bersama teman-teman lain pernah merasakan betapa dahsyatnya acara yang notabene adalah sebuah makrab. Berbaur dalam perbedaan konsep, bermain dengan dateline, berlelah-lelah merapatkan barisan, memutar otak untuk mencukupi anggaran. Kami. Kesuksesan itu karena kami, bukan aku.

Semangat ARTSI. Ibaratnya adalah sebuah semangat yang baru yang menggebu dari mahasiswa baru. Tujuannya jelas, membuat mereka akrab satu sama lain. Bagaimana membentuk karakter mahasiswa yang baik, tahu unggah ungguh tapi tanpa senioritas, tahu menghormati tapi tanpa kekerasan. Dalam ARTSI itu semua ditanamkan.

Logo di atas bukan logo permanen. berganti setiap tahunnya sesuai divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi yang membuatnya. Logo ARTSI 2010 itu, saya yang membuat. Masih terekam di memori otak saya, tengah malam waktu itu ketika kawan saya menelpon untuk mengingatkan bagaimana logonya. Agak memaksa dipercepat mengingat kepentingan surat menyurat membutuhkan kop berlogo. Buntu. Puluhan kali berbagai bentuk dan warna saya coba rangkai, puluhan kali pula tombol delete segera saya tekan. Tak mudah memang membuat sebuah logo yang mewakili tujuan, visi misi dari sebuah event. Dini hari kala itu, ketika azan subuh sudah tak sabar berkumandang, saya masih terjaga. Meliuk liukkan jemari diatas mouse, memeras sisa imajinasi, dan tentunya mengganjal sekuat tenaga mata yang mulai redup berjam-jam lalu. Itulah begadang. Itulah mengejar dateline.

Orang lain mana tahu cerita dibalik logo itu. Cukup melihat. Sekedar memuji. Sekenanya mengkritik. Berlalu. Tak mengapa.

Segitiga, adalah lambang kekuatan. Bisa dimaknai sebuah gunung yang kokoh berdiri. Mencerminkan sebuah persatuan. Kebersamaan. Persaudaraan.
Bagian dalam segitiga sedikit menyerupai pesawat, maka dengan kebersamaan dan persaudaraan ini kami akan melesat jauh. Menggapai mimpi atau apapun yang menjadi tujuan hidup kami.
Rekahan di bagian bawah, menyimbolkan enzim dan substrat yang saling berikatan. Masing-masing individu memiliki karakter masing-masing yang dapat dipersatukan dalam ARTSI. Semacam enzim dan substrat setelah mereka berikatan, maka akan banyak aksi dan reaksi yang tercetus.
Perpaduan dari semua itu menghasilkan kecemerlangan. Kewibawaan. Ketegasan. Tercermin dalam pilihan font yang saya gunakan.

Jangan mengeluh kawan...
Segala keringat yang bercucuran,
setiap kantuk yang tertahan,
setiap pikiran yang terperas,
akan terbayar lunas dengan senyum bahagia adik-adik kita...
rasakan bahagianya,
rasakan keharuannya,
rasakan air mata itu,
mengalir bersama dengan pelukan kepuasan,
merembes dibahu setiap kawan yang dibanggakan...
saat seperti itulah, rasakan kemenangan!

So, ARTSI tahun ini, akan seperti apa ya? 

Friday, October 19, 2012

I do move on, like u said...


I don’t even know how can it just happen...
May be both of us, not really understand why it’s must happen…

Rindu adalah ketika separuh jiwa ini merasa hampa. Rindu adalah ketika jiwa ini merasa ada namun tak ada. Rindu adalah …

Hujan pertama musim ini. Sepanjang jalan kubiarkan tubuh ini menggigil. Ada sensasi lain dari dinginnya angin yang menerpa wajah lelah ini. Wajah setelah seharian berkutat dengan skripsi. Speedo meter menunjukkan 40km/jam. Kecepatan yang tak biasanya ku pakai untuk menggerakkan roda belakang motor merahku. Untuk apa buru-buru sampai rumah, fikirku. Biar saja jiwa raga ini terhanyut dalam melankoli hujan dengan bau aspal yang menentramkan.

Hujan gerimis. Seorang pria tiba-tiba saja melepas jaketnya, dan memakaikan atau sekedar memayungkannya pada serang wanita. Sedikit berlari mereka menuju sebuah emperan toko untuk berteduh. Ada pula seorang ABG yang sedang melampiaskan emosinya pada seorang pria. Pacar, itu kemungkinannya. Pada akhir emosinya, ABG itu berlalu meninggalkan pria itu dengan berlinang air mata. Kejadian yang banyak diadopsi oleh sutradara. Atau justru sebenarnya itu hanya adegan yang lahir dari pemikiran sutradara yang tak pernah nyata di dunia. Hujan ada disegala adegan film. Entahlah. Semua terjadi di gerimis sore itu. Dipikanku.

Kenapa hujan turun sore ini. Ketika harapan itu tak lagi nyata. Ketika wajah itu tak lagi ramah menyapa. Selamat pagi, kopi? Apakabar spongebob pagi ini? Ya Tuhan aku lupa, bahwa hidupku ada dalam kendali skenario filmMu… Jadi biarkan hujan tetap menerpaku sepanjang perjalanan ini.

Now I do move on, like u said…