Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, September 5, 2012

Lelaki itu,

Nafas sesaknya membuat hati ini semakin merasa iba ketika berada di dekatnya. Tubuhnya yang selama ini gagah menjadi terlihat sangat rapuh. Namun dibalik itu semua, bacaan ayat Al-Quran dalam shalatnya masih terdengar lantang. Sangat lantang.

"Jangan lupa sholat 5 waktu ya... Ojo nganti lali..."

Beliau, embah saya. Lelaki berusia lebih dari 80tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan semangatnya. Tubuh beliau yang sudah tak tegap lagi, bahkan cenderung membungkuk masih selalu mengerjakan shalat 5 waktu tepat waktu dan lengkap dengan sunahnya. Ketika tasyahud akhir, meskipun dengan tubuh yang hampir roboh ke kiri, beliau tetap berusaha bertahan tanpa menopang tubuhnya dengan tangan. Tangan itu baru akan tergerak menopang tubuhnya yang renta setelah salam terakhir.

"Jeng, arep dahar kapan?"

Kata itu selalu terucap dari mulut beliau ketika tiba jam makan. Menawari istrinya (yang berarti nenek saya) dengan lembut. Mbah Kayah. Beliau adalah istri kedua yang sangat menyayangi anak bawaan suaminya, termasuk ayah saya. Mbah Salamah, istri pertama mbah telah meninggal ketika melahirkan. Yang saya tahu, meskipun terbilang Ibu Tiri, mbah putri sangat jauh dari kesan "Ibu Tiri". Hingga sekarang, mbah menjalani hidup berdua. Berbagi dalam usia yang semakin bertambah, fisik yang semakin menurun. Mbah putri yang dulunya berdagang jamu pun sekarang hanya dapat terbaring di dipan. Kakinya sulit untuk berjalan. Romantisme di antara mereka selalu hadir. Dalam kepikunan masing-masing, dalam kurangnya pendengaran, dalam lemahnya fisik...
***

Berkulit hitam dengan beberapa bekas luka di kakinya. Bekas luka yang menjadi penanda penyakit diabetes bersarang di tubuhnya. Keturunan. Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan ia turut berkutat menjadi peminum setia metformin dan glibenklamid.
Pensiunan swasta. Banyak hal beliau kerjakan di waktu luangnya. Berkebun, membaca, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga. Mencuci baju, piring, berbelanja, dll. Jangan dikira ia wanita, beliau ayah saya. Komitmen bersama. Itulah yang ayah dan ibu saya lakukan. Ketika ibu harus setiap hari berada di kantor. Maka tugas keibuan itu sementara ayah kerjakan, tanpa mengeluh. Tak banyak ayah lain yang mau melakukan hal semacam itu. Keluarga kami mencoba menjalaninya.
Teras rumah kami selalu spesial. Sering kami menghabiskan waktu menjelang sore untuk bertukar fikiran. Mengobrolkan cita-cita, berbagi pengalaman, dan tentunya menghabiskan berlembar-lembar halaman buku (membaca). Saya suka membaca, sangat mungkin itu keturunan dari ayah saya. Ayah mengajarkan kesederhanaan hidup, kesetiaan, dan keteguhan. Dunia dan akhirat. Terkadang, ketika berbenturan prinsip keagamaan (golongan islam), ayah selalu menyikapi dengan bijak.

“Bu, aku posone Jumat. Ibu terserah arep kapan…”
“Aku Sabtu nggih pak”
“Iyo, rapopo…”

Hal sepele yang sering jadi gawe di negaraini adalah tentang perbedaan puasa dan lebaran bagi umat Islam. NU. Muhammadiyah. Meski di luar sana, banyak perdebatan yang berujung pada debat kusir, di rumah saya selalu di selesaikan dengan indah… Itulah ayah dengan tanpa pemaksaan, itulah ibu dengan tanpa penghianatan…

***
Berambut ikal dengan badan gagah tinggi besar. Sangat pantas menenteng tas gunung lengkap dengan sepatu dan alat lainnya. Kegarangan yang tampak di luar akan langsung sirna ketika senyuman itu tersungging di bibirnya. Manis. Sangat manis. Ia selalu bersemangat menceritakan setiap detil yang terjadi ketika ia melakukan pendakian. Hobi yang sangat berpengaruh pada kepribadiannya.

"Tan Lalana !!!"

Pekikan semangat yang kurang lebih berarti never give up itu sering Ia smskan ketika kegalauan menghampiri saya. Abang, saya memanggilnya Mas. Dengan jarak usia 5 tahun, kami sering berbagi pengalaman. Selera kita 11:12, lebih tepatnya saya yang sering meniru ala Mas. Entah kenapa, Masselalu menjadi trend center untuk saya. Musik, warna, film, dll. Berada di dekatnya selalu merasa nyaman dan aman, bercerita dengannya seakan saya ikut ambil andil dalam kejadian itu. Akhir-akhir ini, kami mulai terbuka masalah cinta. Mas telah menemukan cinta, saya menunggu kepastian cinta...

***
"Udahh siap?? Setengah satu aku jemput ya... :) "

Sebuah sms masuk ke ponsel saya. Tersenyum. Hati ini dalam keadaan yang tak menentu. Senang, senang yang tetap mencoba terkontrol. Kami pergi. Menyusuri keramaian. Angin menerpa wajah ini. Senyum. Bahagia. Cerita. Diam.
Beberapa hari setelahnya, sepi. Tak banyak lagi sapaan selamat pagi, candaan yang sekedar membesarkan hati. Kemana ??? 
Nama itu terselip dalam simpulan doa panjangku. Tuhanku... aku ikut mauMu...
...
Sehari sebelumnya,
Dirumah yang berbeda, situasi yang tak sama. Seorang gadis lain mengucapkan kata yang sama kepada lelaki yang sama...
"Terimakasih untuk hari ini... :) sudah ajak saya keliling jogja..."
...
Basah. Mata ini basah.
Tuhan, Mbah kung, Bapak, Mas...
Lelaki itu,
membuat saya menangis...

No comments:

Post a Comment