Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, September 15, 2012

Jarak itu (bukan) masalah


Siang tadi seorang teman kuliah memprotes tentang jauhnya letak kabupaten MBantul dari kabupaten Sleman. Apalagi Sleman wilayah UII yang lokasinya berada di Jl. Kaliurang Km. 14.5. Protes tersebut terdengan sangat rasional dan wajar bagi orang yang notabene bukan warga asli jogja. Terus, problemnya dimana? Adalah saya. Sebutlah waktu itu hari selasa pagi di semester 1. Semester awal yang menjadi fondasi IPK seorang mahasiswa. IPK? Lupakan! Mata kuliah waktu itu dimulai pukul 07.00. Entah apa yang membedakan antara bangku kuliah dengan bangku sekolah ketika pelajaran sama-sama dimulai pukul 07.00. Hitungannya adalah, butuh waktu kurang lebih 45-60 menit bagi saya untuk sampai ke kampus. Maklum saja saya tinggal di jarak 30 Km dari ruang kelas. Bantul. Kami lebih homy menyebutnya, MBantul. MBantul tanpa M di depannya terdengar sangat kota.
Dengan jarak sedemikian “wahai”nya, saya tempuh dengan sepeda motor. Bukan berarti tidak hemat BBM tapi memang harus demikian. Transportasi umum negara ini belum praktis dan masih berlibet. Maka teorinya adalah mau tidak mau jika kuliah pukul 07.00, saya harus tancap gas dari rumah pada pukul 06.00. Kecuali pagi itu, saya sangat terlambat. 06.30 saya baru keluar rumah. Maka tidak hanya gas yang saya pacu, otak saya juga. Katakanlah, 30 km ditempuh dengan kecepatan rata-rata 60km/jam berarti dibutuhkan setidaknya 30menit untuk sampai sehingga tepat pukul 07.00. Tapi tahukah anda, ada berapa banyak lampu merah di antara jarak 30 Km tersebut. Hitungan pasti saya menyebutkan ada 18 trafic light. Jika masing masing berhenti satu menit, berarti saya akan sampai pukul 07.18, maksimal 07.30. Masih sangat realistis untuk dimaklumi. Pikir saya saat itu.
Suara derit pintu melepaskan semua konsentrasi penghuni ruangan itu. Seseorang yang bergelar dosen yang tengah berdiri di depan sigap melirik jam. Memasang muka sangar. Bertanya dengan intonasi yang saya yakin agak sok-sok an, tapi saya akui itu sangat menciutkan nyali. Saya? Ragu-ragu masuk. Senyum masam. Tampang innocent total.
Benar-benar saya ingat kata beliau dosen. “Maaf mbak sudah lebih dari 15 menit, masuk minggu depan saja”
Dan saya juga ingat kata saya. “Saya berangkat paling awal dibanding teman lain, pak. Taruhan nyawa dengan naik motor pada kecepatan antara 80-100Km/jam. 30 Km. 18 traffic light”
Dan tahukan anda, jawaban meyakinkan yang sengaja saya campur dengan nafas terengah-engah waktu itu sangat efektif……  <( -,^ )>
Setelahnya, saya sangat benci dengan orang yang beralasan masalah jarak!!!

picture: original PHARMATOGRAPHY

1 comment:

  1. hahahahaaha, jadi mulai hitungan bensin kalau berbicara masalah jarak hehee

    ReplyDelete