Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, September 15, 2012

Bahasa Logo (1)

Ramai sekali pembicaraan mengenai logo Palang Merah Indonesia (PMI) akhir-akhir ini. Twitter, TV, koran, mengulasnya secara mendetail. Bahkan petingggi negri ini, para anggota dewan yang terhormat itu "rela" terbang ke Denmark dan Turki untuk mengusutnya. Mulia sekali untuk sebuah logo. Permasalahan mendasarnya yang menurut saya dibesar besarkan adalah lambang red cross yang menjadi logo PMI diisukan mewakili golongan tertentu. Red cross yang menurut saya (lagi) distiller adalah salib diusulkan untuk digantikan dengan bulan sabit merah. Dalam hal ini, bukankan bulan sabit juga dapat diartikan mewakili golongan tertentu?
Penting atau tidak makna sebuah logo adalah tergantung person yang menilai. Pada sudut pandang keilmuan yang mana ia berfikir. Bayangkan saja dampaknya jika sedikit-sedikit disangkutkan dengan unsur SARA. Seperti "petuah" budayawan Sudjiwotedjo dalam sebuah pertunjukan wayangnya, beliau mengatakan jika benar diganti hanya karena seolah-olah mewakili golongan tertentu, maka anak SD akan repot belajar berhitung karena takut menuliskan tambah (+). Berarti, nama lembaga "perdarahan" Indonesia tidak bisa lagi disebut PMI. Ingat, PMI adalah PALANG MERAH INDONESIA. Berarti pula diperlukan pemugaran logo disetiap cabang PMI dari unit pusat sampai unit palang merah remaja (PMR) di tingkat sekolah. Pada akhirnya adalah segala bentuk simbol seakan harus melalui tahapan verivikasi untuk bisa digunakan. Bukankah hal ini menimbulkan masalah bagi si pembuat simbol/logo?. Para designer. Membatasi kreativitas mereka bukanlah hal yang bijak.
Seperti filosofi sebuah nama. Banyak pihak mengatakan "apalah arti sebuah nama" hingga baru-baru ini banyak muncul nama  nyleneh yang menurut si pemberi nama adalah unik. Terkadang nyleneh dan unik memang susah dibedakan. Banyak pula pihak yang mengatakan "Nama adalah sebuah doa". Dua hal yang sangat bertolak belakang. Pihak satu mengacuhkan, pihak lainnya menaruh harapan. Saya tertarik opsi kedua, nama adalah sebuah doa.
Masih tentang nama. Nama menjadi sebuah warisan dari orang tua yang pertama kali kita terima, bahkan tanpa kita minta. Nama akan menjadi buah pemikiran/ karya orang tua yang berlaku sepanjang usia kita. Jadi, bagaimana mungkin bisa dikatakan "apalah arti sebuah nama". Terlepas dari doa yang disiratkan pada sebuah nama, begitu juga sebuah logo, ia coba membahasakan apa harapan dan makna dari suatu yang diwakilinya. Kenapa simbol Indonesia garuda? simbol Sea games 2012 komodo? atau merk Nike dengan logo centangnya?
Jadi, buka kembali ensiklopedi (tidak perlu sampai ke denmark atau turki) mengenai red cross. Seandainya tidak punya, cukup akses wikipedia disana terdapat banyak informasi. #Kalem

No comments:

Post a Comment